SELAQ

SELAQ
Episode "Bintang Jatuh" (20)



SELAQ


Episode "Bintang Jatuh" (21)


***


“Maaf kami tidak bisa mengizinkan kalian masuk,” Maha Guru Perguruan Bunge, Raden Aryadi berdiri kokoh di depan gerbang timur.


Tangannya tersilang di depan. Kaki melebar sedada. Rambut peraknya bergerak di sapu angin malam. Wibawa terpancar dari suaranya yang mengalir tenang.


Di belakang puluhan murid mendampingi. Sedangkan di atas tembok desa dan puncak gerbang bersiaga pasukan dengan busur panah.


Di depan Raden Aryadi seribu pasukan Desa Tunggak bersenjata lengkap berdiri dengan wajah tanpa senyuman. Jumlah mereka meluber ke dalam hutan yang gelap tanpa seberkas cahaya menerangi.


“Maha guru, Kepala Desa Tunggak Raden Mas Panji memerintahkan kami berjaga di sisi luar Desa Bunge. Namun kami mohon izinkan lima puluh pasukan tempur masuk,”


Pria yang berkata itu memperkenalkan diri dengan nama Sawung Galih, komandan Pasukan Tempur Desa Tunggak.


“Aku tak bisa meluluskan permintaanmu. Bukan titah kepala desa kalian yang mengatur kami. Sekalipun niat kalian mulia tetap saja harus menaati aturan di sini,” ujar Raden Aryadi.


“Kami harus masuk karena kabarnya Raden Mas Panji pingsan usai bertempur. Jadi mohon izinkan kami memastikan keselamatan Kepala Desa kami,” nada suara Sawung Galih lebih tegas.


“Percayalah pada pasukan pertahanan kami, kepala Desa Anda di bawah perlindungan pasukan-pasukan terbaik Desa Bunge,” Raden Aryadi, meyakinkan Sawung Galih dan sejumlah pimpinan pasukan di bawah komandonya.


“Kami percaya tapi kami ingin memastikan,” ujar Sawung Galih.


Raden Aryadi diam sejenak. Ia menarik ulur nafas dengan berat. Memanglah benar aturan desa melarang pasukan luar masuk dalam jumlah besar.


Aturan itu terpatri sejak lama. Tujuannya adalah untuk memastikan tidak ada jalan pengerahan pasukan dari luar yang dapat berakibat mengancam keselamatan desa.


Tapi kini situasi begitu dilematis. Petinggi pasukan tempur itu ingin tahu keadaan pimpinan desa mereka dan Raden Aryadi dapat memahami keresahan hati Sawung Galih dan teman-temannya.


“Baiklah, tapi kami izinkan sekitar lima orang saja,” ujar Raden Aryadi.


Sawung Galih meminta izin ke Raden Aryadi berdiskusi dengan pimpinan pasukan di bawahnya. Setelah memutar badan dan berjalan beberapa langkah, pria bertubuh tinggi, tegap, perkasa itu terlibat dalam perbincangan serius dengan bawahannya.


Sejurus kemudian, Ia telah kembali ke hadapan Raden Aryadi.


“Maha guru, sekali lagi bukan kami tidak percaya pada kemampuan pasukan Desa Bunge. Tapi akan sangat tidak efektif bila hanya mengutus lima orang. Sementara tidak ada yang tahu persis kondisi di dalam desa Bunge. Bagaimana kalau lima orang itu mengalami sesuatu yang berdampak pada meningkatnya ancaman keselamatan bagi Kepala Desa kami?” perkataan Sawung Galih menyiratkan belum sependapat dengan penawaran Raden Aryadi. Tapi pria perkasa itu, tetap menampilkan gestur hormat setiap kali menyampaikan kata-katanya.


“Saat ini kami seperti berjudi dengan waktu, mengulur waktu bisa berarti memberi ruang lebih panjang keselamatan kepala desa kami terancam,” imbuhnya.


“Saya paham tanggung jawab Anda pada Kepala Desa Tunggak. Tapi Raden Mas Panji juga datang ke sini disertai dengan belasan pasukan elite. Apa Anda tidak percaya kemampuan mereka?” ujar Raden Aryadi.


“Justru kami memaksa ingin masuk karena kami mendapat laporan dari salah satu pasukan elite yang menyebut kondisi Raden Mas Panji dalam keadaan pingsan,” tegas Sawung Galih.


“Mohon maaf, anak muda. Ini adalah aturan. Kami tak bisa memberi izin melebihi dari itu,” tegas Raden Aryadi.


Melihat Raden Aryadi bergeming dengan sikapnya, Sawung Galih mulai tak sabaran. Sebagai pimpinan pasukan tempur, ia dihadapkan pada situasi sulit: tetap menghormati Raden Aryadi sebagai orang tua atau keselamatan jiwa kepala desanya terancam.


“Kalau begitu, baiklah. Anda sepertinya tidak memberi pilihan bagi kami selain harus memaksa masuk,” tegas Sawung Galih.


“Maju!” Sawung Galih memerintahkan pasukannya merangsek masuk.


Raden Aryadi, melompat mundur. Lalu memerintahkan penjaga gerbang desa dan beberapa murid perguruan menyiapkan busur panah.


Melihat Raden Aryadi membuat perintah yang mengancam keselamatan anak buahnya, raut wajah Sawung Galih berubah. Ubun-ubunnya bergolak panas. Jiwa mudanya mulai terbakar!


“Bila sampai anak murid Anda melepaskan anak panah, kami artikan itu sebagai deklarasi perang pada Desa Tunggak!” tegasnya.


Situasi begitu rumit. Hawa kematian berkelindan di sekitar gerbang Timur. Keringat dingin bercucuran di tubuh dua kelompok pasukan yang tak seimbang kekuatannya itu.


“Wusss!”


“Aaaaaa!” jeritan kesakitan salah seorang pasukan tempur Desa Tunggak memecah ketegangan.


Tak berselang lama pasukan itu ambruk, lalu menggelepar menahan sakit, setelah anak panah menebus jantungnya. Darah segar segera mewarnai tanah yang berdebu.


“Kurang ajar, hilang rasa hormatku padamu Raden Aryadi!” Sawung Galih menggeram. Matanya melotot, wajahnya merah padam.


Ia mencabut keris sepanjang satu tombak dari pinggangnya. Dengan tangan gemetar di bawah pengaruh amarah, Sawung Galih mengangkat kerisnya, lalu memerintahkan semua pasukan menyerbu gerbang timur.


“Gempuurrr!!!” pekiknya disambut teriakan ribuan pasukan yang merangsek maju.


Raden Aryadi dan muridnya saling pandang. Mencari tahu arah panah pemicu petaka itu.


“Ini provokasi!” seru Raden Aryadi.


Ia berusaha menghentikan gelombang gempuran ribuan pasukan Desa Tunggak. Sayang, suaranya tenggelam dalam pekikan garang ribuan pasukan kalap dengan senjata terhunus.


Perang pun pecah!


***


Segera setelah itu, pertempuran di Gerbang Utara juga tak terelakkan. Anehnya, pemicu perang sama.


Anak panah yang diselatkan sosok misterius mengakibatkan satu orang prajurit Desa Buaq roboh seketika itu juga.


Panah itu dilamuri racun mematikan. Tidak butuh waktu lama, prajurit Desa Buaq tewas di tempat.


Kayunada bersama puluhan rekan dibantu penjaga gerbang Utara keteteran menghadapi gempuran seribu pasukan terlatih. Mereka menggempur gerbang, memanjati tembok, hingga berupaya membobol tembok desa setinggi tiga tombak dengan senjata tajam.


“Serbu ... Seru ... Serbu !!!” pekik mereka sahut-menyahut.


Situasi begitu rumit. Kacau. Dan membingungkan.


Kayunada dan rekannya, masing-masing harus menghadapi belasan pasukan desa Buaq. Pertarungan jauh dari kata seimbang itu dengan cepat membuat siapa saja mudah menyimpulkan hasilnya.


Meski demikian, Kayunada tak mau menyerah. Pemuda dengan tenaga setara lima banteng itu mengamuk bagai banteng terluka.


Lima pasukan menyergap, lima-limanya ditumbangkan dengan cepat. Sekalipun dengan tangan kosong, Kayunada memiliki kesakitan pukulan dan tenaga yang dahsyat.


Tameng diseruduk hingga beberapa pasukan tempur Desa Buaq terpental. Tombak, pedang, dan keris silih berganti menerjang. Namun bisa dihindarinya dengan mudah.


"Gerakan kalian bahkan lebih lambat dari nenekku menyapu!" serunya.


Meski sangat digdaya, gelombang pasukan yang tak putus-putus, akhirnya membuat Kayunada kewalahan. Gerbang desa yang dijaganya dengan susah payah bersama murid lain, akhirnya bobol!


"Bruuuakk!!!"


“Aaaaaa!!!”


Jerit kesakitan anak manusia berkali-kali merobek keheningan malam. Situasi sungguh memilukan dan mencekam.


Iblis-iblis haus darah tengah bergentayangan di seluruh pelosok desa, sambil menenteng senjata bermandikan darah segar!


***