SELAQ

SELAQ
Episode “Pancalita Dimabuk Asmara” (44)



***


Putri Indarsasih yang duduk di sebelah Raden Sigar mengulum senyum. Mengangguk anggun, selayaknya putri raja Jawa yang telah diajarkan tata krama dan adab luhur.


“Kakanda Doyan Medaran, oh maksudku Kakanda Kayunada,” Putri Indarsasih gugup, menyebut nama panggilan Kayunada ketika masih menjadi pengembara.


“Tidak apa-apa Adinda, kau boleh memanggilku Doyan Medaran,” timpal Kayunada. Ia tak membiarkan Putri Indarsasih merasa bersalah terlalu lama.


“Saya ingin tahu bagaimana kabar Ayunda Putri Mas Sari Kencana?” tanya Putri Indarsasih, santun. Lembut.


“Ayundamu Putri Mas Sari Kencana dalam keadaan baik. Dia tengah menggantikanku membangun desa,” Kayunada menarik nafas, lalu mendesah perlahan.


“Sepertinya ada yang membebani pikiranmu Kakanda?” timpal Raden Sigar Penyalin, menyelidik. Memperhatikan nafas Kayunada yang berat.


“Oh tidak, aku cuma terpikir bagaimana keadaan Ayundamu sekarang,” ungkap Kayunada.


Puteri Indarsasih mengerutkan dahi. Seperti masih menyimpan pertanyaan di pikirannya. “Mengapa Kakanda tidak mengajaknya serta ke mari?”


Kayunada menarik nafas panjang. Lalu menghelanya perlahan. Ada beban pikiran yang ingin diceritakan pada dua sahabat yang sudah seperti adik baginya. “Saat ini aku tengah membangun desa di wilayah timur. Desa itu aku beri nama Selaparang, tapi ...”


Kayunada memutus ceritanya. Membuat Raden Mas Sigar Penyalin dan Putri Indarsasih bertukar pandangan penasaran.


“Tapi apa Kakanda?” timpal Raden Sigar Penyalin.


“Aku ingin membangun desa Selaparang menjadi lebih besar lagi, menjadi sebuah kerajaan di wilayah Timur,” ungkapnya masygul.


“Wah... wah... wah, bukankah itu bagus Kakanda. Kau selalu selangkah di depanku. Saat aku saja masih berusaha menyejahterakan rakyatku, kau telah bercita-cita membangun kerajaan, aku iri padamu,” ujar Raden Sigar dengan mata berbinar.


“Tapi desa-desa yang tumbuh di sekitar Desa Selaparang belum mau bergabung,” jelasnya.


“Apa masalahnya kakanda? Perlukah aku mengerahkan pasukan menggempur desa-desa yang tak mau bergabung itu?” tanya Raden Sigar Penyalin. Wajahnya tak sabar mendengar penuturan saudaranya.


Kayunada tersenyum kecut. Ia menggeleng tidak setuju dengan ide Sigar Penyalin. “Aku tak mau seperti itu,”


“Lalu?”


“Itulah sebabnya aku datang ke lembah ini. Berguru pada Maha Guru Raden Aryadi bagaimana membangun kerajaan tanpa harus dengan perang,”


“Hahaha!” Tawa Raden Sigar meledak.


Sorot mata Kayunada berubah bingung. Rasanya ia tak mengucapkan kata yang salah.


“Apa ada yang salah dengan ucapanku?”


“Bukan begitu Kanda. Tapi sejak kapan bertobat perang?” timpal Raden Sigar masih dengan gelak tawa.


Kayunada tersenyum ringan. Lalu berujar, “Aku berpikir lama adinda Sigar Penyalin. Perang hanya menyisakan penderitaan dan dendam yang tak berkesudahan. Pengembaraan kita dulu, mengatakan banyak hal dalam hidupku. Segala sesuatu yang diraih dengan jalan perang, hasilnya adalah kutukan,”


Raden Sigar berpikir keras. Belum dapat memahami maksud Kayunada.


“Bagaimana mungkin Kanda akan menghindari perang untuk meraih kekuasaan besar?” sergahnya.


“Aku tidak mengatakan akan menyudahi berperang. Perang bisa kapan saja, di mana saja, dan bila itu terjadi aku tak bisa menghindarinya. Tapi mencapai segala keinginan dengan perang itu keliru dan aku tak mau membangun mimpi tentang kerajaan Selaparang dimulai dari perang,”


“Bagaimana caranya, bukankah kerajaan yang besar itu lahir dari penaklukan-penaklukan?” sahut Raden Sigar. Ia menangkap kesan sangat serius, apa yang diungkapkan Kayunada. “Aku tak pernah berpikir sejauh yang kanda pikirkan, bahwa ada jalan lain meraih mimpi selain jalan perang,”


“Itulah yang kukatakan tadi. Aku datang ke desa Bunge dan bertemu dengan Maha Guru Raden Aryadi dan mempelajari jalan lain membangun kerajaan selain perang,”


***


Lampu minyak di dinding batu. Satu-satunya yang menghangatkan ruangan pengap itu. Tak ada suara selain desah nafas teratur.


Ruangan bawah tanah itu benar-benar lengang. Hanya sekali waktu, kesunyian diselingi suara batuk penjaga di ujung lorong yang jauh.


Jumindri duduk merenung. Ia tak tahu di mana dirinya saat ini. Sejak siuman dari pingsan, tiba-tiba saja ia berada di ruangan pengap dengan tangan dan kaki dirantai baja.


“Di mana ini,” lirihnya.


Entah berapa kali pertanyaan itu diucapkan. Tapi tak ada jawaban kecuali pertanyaan serupa yang terdengar dari pantulan batu-batu. Selain itu, aroma tanah basah yang kental menemani perasaannya yang bingung.


“Tap ... Tap ... Tap ...”


Suara langkah besar dan sekadar mendekati ruangannya. Terdengar jelas sekalipun masih jauh di ujung lorong.


Namun Jumindri tidak terkejut. Ia hafal siapa pemilik langkah itu. Sesosok pria bertubuh gempal dengan jari tangan dan kaki sebesar pisang. Pria yang selalu datang membawakan baki berisi makanan dan minuman yang dimasak asal-asalan.


Jumindri tak beringsut dari tempat duduknya. Menekuk kepala, memandangi rantai baja yang menjerat dua pergelangan kakinya.


Bahkan ketika pintu baja itu dibuka dengan kasar disertai tendangan ke pintu baja, memicu gema memekakkan telinga, Jumindri tak beringsut. Ia sudah biasa menghadapi pria tinggi besar, galak itu.


“Prakkk!”


Tak ada yang berubah. Ia masih diperlakukan seperti anjing hina yang terluka. Makanan di dalam baki itu dilempar di depannya.


Dan kembali isinya semburat tumpah ke tanah. “Waktunya makan siang, monster!” serunya dengan nada menyepelekan.


“Paman ... ” lirih Jumindri.


Tapi belum saja ucapannya selesai, pria itu menyeringai. Memperlihatkan gigi-giginya yang besar.


Lalu dengan wajah bengis, ia menghardik kasar. “Suka-sukaku. Mau ku lempar atau ku tendang akulah yang berkuasa. Masih untung aku mau membawa makanan. Kalaupun tidak, tak ada yang peduli kau masih hidup atau sudah mampus!”


Pria itu seperti tahu apa yang ingin dikatakan Jumindri.


Namun gadis itu menggeleng. Mengisyaratkan bukan itu maksudnya.


“Lalu apa?” tanya penjaga itu.


“Paman, apa kau punya anak perempuan?” tanya Jumindri datar.


Pria itu mendelik. Melebarkan kelopak matanya. Mencari tahu maksud Jumindri lewat ekspresi yang nampak sedih.


Setelah yakin, tak akan ada yang terjadi bila menjawab Jumindri, pria itu berujar lantang. “Punya, tapi dia cantik. Tidak sepertimu terlihat lugu tapi di dalam dirimu ada monster jahat!” balasnya, masih dengan raut wajah menjengkelkan.


“Apakah dia menyayangimu paman?” tanya Jumindri.


“Bhahaha!” pria itu tertawa terbahak-bahak. Membuat ruangan itu bising oleh gema suaranya.


“Jawab saja paman, tak perlu menertawaiku,” lirih Jumindri.


Penjaga itu manggut -manggut. Jawaban pertanyaan itu sudah ada di kepalanya dan ia berkata, “Tentu saja. Tak ada alasan dia tidak menyayangiku. Setiap pulang, aku selalu membawakan makanan kesukaannya. Dan asal kau tahu, ibunya bercerita bila hampir setiap malam putriku memimpikanku,” Sorot matanya berubah. Menyimpan amarah. “Tapi karena kau, aku tidak bisa pulang setiap hari lagi. Di ruang bawah tanah sialan ini bersama puluhan penjaga lain, kami diminta menjaga seorang anak terkutuk. Setiap hari mengantarkan makanan, berjalan menyusuri lorong sempit, dan tidur di tempat yang sangat diingin!”


“Kau ayah yang bertanggung jawab. Anak perempuan itu pasti senang sekali punya ayah sepertimu, paman,” suaranya berubah serak. Menahan tangis yang mencekat lehernya.


“Sudah ku katakan, ia tak punya alasan untuk tidak menyayangiku,” ujarnya bangga.


“Bagaimana bila anak perempuanmu disakiti orang lain?” tanya Jumindri lagi.


Lalu dengan mata melotot, seakan hendak melompat keluar, pria itu berkata, “Dia tidak akan selamat!”


“Kau hebat paman. Ayah yang didamba setiap anak perempuan,” puji Jumindri lagi.


“Tentu saja,” ujarnya bangga. Senyum di bibirnya kembali mengembang puas, lantas berkata, “Ayo apa lagi yang ingin kau tanyakan. Mumpung aku lagi berbaik hati,”


Jumindri menoleh. Melempar senyum pada pria galak itu. Lalu dengan riang berujar, “Tidak ada paman, tapi tadi aku berpikir betapa bahagianya memiliki seorang ayah yang masih hidup. Apalagi yang peduli sepertimu. Aku doakan semoga waktu liburmu segera tiba. Cepatlah pulang, lindungi putrimu, jangan sampai ada pria jahat melukainya,”


Pria bengis itu tersentak. Untuk pertama kalinya ia melangkah pergi tanpa marah-marah. Wajahnya datar memikirkan ucapan Jumindri.


Sampai menutup dan mengunci kembali pintu baja ruangan itu, sepintas ia mendengar suara Jumindri, berkata lirih, “Sepertiku ...,”