
Inilah yang dirasakan Bolo. Melayang ringan sekalipun badannya serupa ular sanca yang baru saja menelan kambing! Tapi hasrat ingin makan enak itu, mengalahkan segalanya. Termasuk kemalasan yang bersemayam dalam lemak-lemak tubuhnya yang menggumpal.
Justru, Blokpentes yang kewalahan. Ia tak menduga, godaannya pada paha rusa itu membuat Bolo, seperti kesetanan. Langkahnya beberapa kali tertinggal dan ia hanya bisa merintih dengan nafas tersengal “Pelan-pelan Bolo, tunggu,” rintihnya dengan pandangan berkunang-kunang.
“Jalanmu sudah persis ibu-ibu hamil,” ejek Bolo.
Setelah perjalanan panjang, berliku, dan menerobos semak belukar itu, keduanya tiba di pinggir jurang yang curam.
Padahal sebagian besar tenaga di dalam tubuh mereka telah dihabiskan untuk mencapai tempat itu, tapi ternyata perjalanan menyedot adrenalin itu seakan baru saja dimulai.
Di hadapan mereka, tebing itu hanya menyediakan jalan kurus dengan lebar kurang dari satu jengkal. Sementara ujung jalan tak terlihat entah di mana. Kabut tebal tak hanya menghalangi pandangan di depan, tapi juga menutupi bagian bawah jurang yang dalam.
Sekalipun tak terlihat, namun ratusan tombak di bawahnya telah menganga jurang dengan dasar danau segara Anak.
Jatuh berarti mati!
Melewati jalan kurus itu, tak bisa cuma mengandalkan tumpuan kaki. Tangan harus pandai memilih tempat berpegang yang kokoh. Entah itu bebatuan kecil yang menonjol di dinding tebing ataupun rumput-rumput yang tumbuh seadanya.
“Eee ... Apa tidak ada jalan lain?” ujar Bolo dengan nafas tersengal. Wajahnya tegang. Nyali menciut, sebesar biji kacang hijau. Lutut gemetar. Tangan dan telapak kakinya dingin dan berkeringat.
“Jangan hiraukan jalannya, tapi pikirkan paha rusa di rumah itu,”
Blokpentes mencoba memompa semangat Bolo kembali. Sayang, usahanya tak banyak berguna. Bolo terhuyung, pusing. Lalu terduduk, takut ketinggian!
“Kau saja yang pergi,” ujar Bolo dengan wajah pucat pasi.
Samar-samar di kejauhan, istana itu terlihat di antara kabut tipis yang perlahan tersapu angin.
“Jadi dari sana sumber cahaya semalam,” gumam Blokpentes.
Istana itu ada di seberang jauh tebing curam itu. Aura keangkuhan bangunan terasa dari tempat Blokpentes berdiri.
Atap dan dinding bangunan istana, berkilat-kilat disambar cahaya mentari pagi yang menerobos dari sela-sela daun yang rimbun.
Semakin tinggi sang Surya menapaki langit, semakin jelas rupa istana tersembunyi itu.
Sebuah bangunan dengan warna putih dominan. Dan atap warna abu gelap.
Di antara atap Istana yang menjulang menyaingi bukit-bukit kecil di punggung Gunung Rinjani, sebuah menara lebih tinggi tak kalah perkasa, terpancang menantang langit.
Istana itu tak kurang terdiri dari empat lantai. Terlihat dari jendela yang tersusun dan dapat dihitung dari luar bangunan. Sepintas bangunan itu telah menyaingi maha karya Raja Bavaria Ludwig II yang telah membuat Istana Neuschwanstein di puncak pegunungan dekat Hohenschwangau, Jerman.
Tampak panjang mengular tembok mengelilingi dengan kokoh. Dalam keangkuhannya, istana itu diselimuti rerimbun pohon. Seperti, Kayu Jakut, Menang/Garu, Sentul, hingga Cemara Gunung.
Memukaunya istana tampak dari luar, tak sebanding misteri yang tersembunyi di dalamnya. Bahkan burung-burung yang riang tawaf di atas bangunan, sama sekali tak mengurangi keangkerannya.
“Kau yakin tak akan ikut?” Blokpentes memperbaiki kain yang melilit di pinggangnya. Tekadnya bulat, harus sampai menjejakkan kaki di istana itu.
“Sa ... saat kembali, jangan lupa bawa paha rusanya,” kata Bolo terbata-bata. Nafasnya masih tersengal kelelahan.
Tak ada lagi liur di sudut bibirnya yang kecil. Tenggorokannya mengering. Matanya kejap-kejap, menahan lapar. Kini kepalanya seperti sebesar labu dan hanya bisa menggigil menahan perutnya yang melilit-lilit kelaparan.
Blokpentes, sadar sahabatnya itu mencapai batas akhir tenaganya.
Bolo terlalu bersemangat dan lupa menyisakan tenaga untuk melewati tebing curam. Kini ia mengalami situasi sulit: nafasnya memendek. Tersengal. Perutnya seperti dikocok, hingga terasa perih dan mual. Dan ...
“Huaakss ... Huaakss!” Bolo, muntah. Tapi tak ada yang keluar. Kecuali liurnya mengental. Wajahnya semakin pucat dan lelah.
“Aku ... Aku mau tidur, capek, lelah,” rintihnya.
Blokpentes mengeluarkan sebuah wadah dari tembaga yang terselip di pinggangnya. Wadah itu sebesar telapak tangan dan seketika menebarkan aroma harum manis.
“Minumlah madu ini untuk memulihkan tenaga,” ujar Blokpentes menyodorkan wadah itu.
“Gleg ... Gleg...!”
Bolo meminum madu seperti meneguk air putih. Kentalnya madu segera melewati tenggorokannya yang kering. Sekalipun lehernya dibuat panas dan serasa tercekik, ia terus saja meneguknya.
Tak berselang lama, Bolo merasakan tenaganya pulih dengan cepat.
“Sisakan separo,” ujar Blokpentes yang masih menerawang kabut. Mencari ujung tebing yang akan dilaluinya.
“Eh ...,” celetuk Bolo lalu memandang dengan raut wajah bersalah ke Blokpentes.
Madu di wadah itu habis dan ia tengah memburu beberapa tetes yang tersisa dengan telunjuknya.
Blokpentes tak kalah kaget. Ia berpaling dari kabut dan mendapati wadah itu telah bersih.
“Mengapa tak kau sisakan?!” Blokpentes gusar.
“Aku pikir semua untukku,” kata Bolo, bingung.
“Kembalikan sedikit saja!” seru Blokpentes, mencekik leher Bolo.
Bolo megap-megap. Berusaha membuka cekikan Blokpentes. Saat terlepas, ia mendorong tubuh Blokpentes ke samping hingga terpental ke semak belukar.
“Uhuk ... Uhuk!” Bolo terbatuk-batuk. Meski begitu, ia tetap mengaku salah. Lalu mencoba merayu Blokpentes agar memaafkannya, “Tunggu aku di sini, aku akan pulang ke desa dan segera kembali ke mari sambil membawakan madu, minuman, dan makanan untukmu,”
“Tidak perlu!” sahut Blokpentes kesal.
Ia segera merayap di tebing curam itu. Meninggalkan Bolo yang menatap kepergiannya semakin jauh dengan rasa bersalah.
***
Cinta adalah cinta. Tak perlu diartikan. Keangkuhan para pujangga mendefinisikan artinya, justru menyerabut pendar-pendarnya yang sangat halus.
Faktanya setiap orang memiliki pengalaman rasa yang berbeda tentang cinta. Seperti rasa manis pada gula yang sesungguhnya bereda-beda di setiap lidah.
Definisi hanya menjadikannya makna manis dan cinta semakin jauh dari hakikat wajahnya.
Jalaluddin Rumi di dalam Diwan Shamsi Tabriz, pernah berkata:
Sekalipun Cinta telah ku uraikan dan ku jelaskan panjang lebar,
Namun jika cinta ku datangi, aku jadi malu pada keteranganku sendiri,
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan,
Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya,
Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai kepada cinta,
Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya.
Bagaikan keledai terbaring dalam lumpur,
Cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan percintaan.
Maka sungguh, tak ada yang bisa dijelaskan, mengapa Pancalita nyaris menjadi gila hanya karena seorang pemuda. Malam terasa panjang menanti datangnya pagi, sekadar untuk mencuri-curi pandang pada keponakan Puq Amet.
Begitu juga siang berselimut malam dengan cepat, ketika pemuda itu menyediakan waktu menemaninya.
“Oh, tidakkah dia merasakan rasa yang sama?”
Pertanyaan yang amat dibencinya. Sebab bagaimanapun, ia kepala desa lebih-lebih seorang wanita. Tidak mungkin pertanyaan itu, ditanyakan langsung pada pemuda itu.
“Siapa namamu?” tanya Pancalita, suatu ketika.
“Ampun tuan putri. Nama saya Artha Prana,” jawab pemuda itu.
Pancalita kaget. Darahnya berdesir. Ia memandangi lekat-lekat wajah pemuda itu. Semakin dekat. Dan kian lekat. Kini wajah mereka hanya sejarak tiga jengkal. Sangat dekat!
Cara memandang Pancalita membuat pemuda itu salah tingkah dan gugup. Ia seperti dihadapkan pada hakim yang akan memutuskan nasibnya: hidup atau mati!
“Apakah saya pantas dipandang seperti ini tuan putri?” kata pemuda terbata-bata.
Pancalita tersentak kaget. Ia segera memperbaiki sikapnya dan membalik badannya. Melempar pandangannya jauh-jauh ke bunga-bunga yang tumbuh liar di punggung-punggung bukit.
“Namamu, mengingatkanku pada seseorang, dia kepala Desa Pusuk. Namanya sama sepertimu Artha Prana,” ujar Pancalita, lalu mengerutkan mata. Menggigit bibirnya.
Jantungnya berdebar, sangat kencang. Semakin lekat ia memandang pemuda itu, semakin jelas garis pesonanya. Lalu dalam hati melirih, meringis, “Oh Sang Hyang Kuase, dewakah yang kau kirim ke bumi ini?”
“Saya pikir cuma saya yang punya nama seperti ini, Tuan Putri,” jawab Artha Prana dengan wajah polos.
“Haha...” Pancalita menyambut jawaban Artha Prana dengan tawa yang renyah.
Menggambarkan suasana hatinya hadir dalam kebahagiaannya pagi ini. Ia menyukai sikap polos dan lugu Artha Prana. Lalu kembali membatin, “Dia juga mungkin belum tahu, apa itu cinta,”
“Maukah namamu aku ganti?” tanya Pancalita kemudian.
“Untuk apa, tuan putri?” tanya Artha Prana kebingungan.
Pancalita kelabakan. Ia tak menduga pemuda itu akan menanyakan alasannya ingin mengganti namanya. Dalam benaknya, ia menduga pemuda itu akan menurut saja. Bukankah ia kepala desa?
“Mmm... Eee, maksudku sekadar panggilan saja. Ya untuk membedakan antara Artha Prana kepala desa Pusuk dengan Artha Prana, keponakan Puq Amet,” kata, Pancalita lalu melirik diam-diam, mencuri pandang ke wajah Artha Prana yang masih berdiri dengan kepala tertunduk hormat.
Pria itu tersenyum.
Dan lagi-lagi menghantam jantung Pancalita hingga berdebar kencang. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak ikut sekedar tersenyum.
“Mohon ampun tuan putri. Saya hanya orang kampung biasa dan Artha Prana yang satu lagi adalah Kepala Desa, cukuplah garis nasib membedakan kami dan membuat saya kalah, jadi saya tidak perlu mengalah lagi dari nama,” jawabnya, santun.