
Selendang putih, balutan terakhir terlepas di tubuh putih nan mulus itu. Gemercik air, bergelombang seiring tubuh molek, sedikit demi sedikit terbenam di air sungai yang jernih.
Tubuh polos tanpa sehelai benang, menggeliat menahan dinginnya air.
“Byuurrr!” air menderu, begitu tubuh itu terbenam beberapa saat.
Mentari pagi, mengintip malu dari balik dedaunan. Tersipu menyaksikan indahnya tubuh Pancalita.
Tapi itu tak lama. Sang Surya, tiba-tiba berubah muram. Tenggelam di balik awan hitam bergelayut kian pekat.
Diiringi tiupan angin, seharum nafas bayi yang masih suci, hujan berderai. Menandai usai sudah musim kemarau di Lombok.
Mendung yang memekat tak membuat Janda Rawilih puas membersihkan tubuhnya. Di sungai yang melintasi tak jauh dari kediamannya. Di sana ada Tibu. Sisi sungai yang airnya menggenang seperti telaga oleh tumpukan batu disusun sedemikian rupa menyerupai tanggul.
Tempat itu terlarang bagi warga desa.
Hanya keluarga kepala desa yang boleh menggunakannya. Posisinya di hulu sungai dekat dengan mata air. Kebersihan dan kesucian air terjamin dari noda.
“Kanda Raden Rawilih,” lirih Pancalita dengan rona wajah muram.
Ingatannya kembali terkenang, saat-saat masih bersama. Memadu cinta di Tibu asmara. Bebatuan itu saksi bisu, betapa Rawilih adalah pemilik seutuhnya setiap jengkal tubuhnya. Tanpa sisa.
Sebelas purnama berlalu. Pancalita, menyadari melupakan Rawilih begitu sulit. Wajah Rawilih masih hidup dalam ingatannya yang tak lekang oleh waktu.
“Dende, apa belum selesai?” Inaq Bangkol, menunggu dengan cemas di bibir sungai.
Kepalanya celingukan melihat dari sela-sela pohon bambu. Lalu dengan suara lembut berujar lagi, “Cuaca tak bagus Dende, ayo pulang,”
Wanita paruh baya itu setia menggamit pakaian Pancalita. Dari tempatnya berdiri, ia tak bisa melihat jelas sang kepala desa.
Rimbunnya pohon bambu yang tumbuh di bibir sungai, membuat Tibu seperti bilik mandi yang luas.
Tapi telinganya jelas mendengar suara air yang berkecipuk oleh hentakan tangan atau saat wanita cantik itu membenamkan sekujur tubuhnya.
“Sebentar Inaq,” sahut Pancalita, lembut.
“Hujan turun semakin deras, Dende. Tak baik mandi di sungai pada situasi seperti saat ini,” ujarnya cemas.
“Aku tahu, tunggulah sejenak,” jawab Pancalita.
Sebenarnya Pancalita bukannya belum puas membersihkan tubuh. Namun hujan itu justru membuka kenangan manisnya dengan Rawilih.
Hujan mempertemukan dia dengan Rawilih untuk pertama kalinya. Saat hujan juga, Rawilih meminangnya untuk hidup bersama. Dan di Tibu itu ketika hujan selalu menjadi ranjang kedua, menikmati madu-madu asmara.
Lalu apa mungkin ia akan melewati waktu istimewa itu?
“Oh tidak, aku merasakan Kanda Rawilih datang menghampiriku dari tempat yang jauh,” lirihnya, mengulum senyum. Hingga bunga-bunga kuncup enggan bermekaran. Malu, kalah pesona dengan senyum Pancalita.
“Datanglah kanda, aku merasakan kehadiranmu yang datang dari tempat yang jauh,” lirihnya lagi.
Pancalita hanyut dalam imajinasinya. Merasakan pendar-pendar tubuh imajiner Rawilih datang dengan bahasa cintanya yang hangat.
“Peluk aku,” desahnya.
Hujan yang semakin deras tak disadarinya. Inaq Bangkol semakin cemas. Namun ia tak bisa berbuat lebih dari itu.
“Duh Dende, hujan semakin deras,” katanya memberanikan diri, memperingatkan sekali lagi.
Tapi jawaban Pancalita membuatnya bungkam dan tak berani lagi bicara. Nada suara Kepala Desa Lolo itu bahkan berubah lantang, “Jangan ganggu aku lagi. Kalau ingin pulang, pulanglah. Aku baru saja bertemu dengan suamiku, tapi suaramu membuatnya pergi menjauh lagi,”
Pancalita kembali memejamkan mata. Ia menggigit bibirnya, lalu perlahan menengadahkan wajah ke langit. Ia biarkan rambutnya terurai basah oleh derai hujan.
“Kemarilah kanda. Jangan hanya berdiam diri di semak-semak itu,” desahnya.
“Duk... Duk ... Duk ...!!”
Pancalita merasakan bumi bergetar. Gelombang air kian kencang. Tapi dalam kerinduan yang tak terbahasakan, Pancalita meyakini itu pertanda arwah suaminya benar-benar datang menyapa.
“Aku merasakan getar langkah kakimu,” lirihnya, masih terpejam.
“Segaralah mendekat. Peluk aku. Gantikan sinar matahari yang tak bisa menyaingi hangatnya pelukanmu. Begitu juga cahaya purnama gagal menggantikan lembutnya belaianmu,” desahnya.
Getaran bumi semakin kencang. Tapi Pancalita semakin takut membuka mata. Ia tak ingin suaminya lenyap lagi oleh suara-suara yang mengganggu.
Tapi yang terjadi berikutnya, tubuhnya berputar terseret arus deras sungai. Air yang tadinya jernih, berubah hitam pekat dilamuri lumpur!
Pancalita panik bukan kepalang. Ia sadar air sungai semakin deras. Bumi yang bergetar itu bukan hendak langkah suaminya yang datang.
Tetapi bebatuan gunung yang terseret air!
“Tolong Inaq Bangkol!” pekiknya.
Jeritan itu membuat Inaq Bangkol sadar sang Kepala Desa dalam bahaya. Wanita paruh baya itu, berlari tergopoh-gopoh masuk ke dalam kawasan Tibu dengan tangan masih menggenggam pakaian Pancalita.
Betapa kagetnya ia menyaksikan tubuh telanjang bulat Pancalita diamuk gelombang air. Menyeret bebatuan, menggelinding tak karuan.
“Tolong!” pekik Inaq Bangkol berulang-ulang.
Sayang suaranya tak mampu menembus deru hujan. Lebih-lebih Tibu jauh dari pemukiman warga. Inaq Bangkol yang panik, berlari ke sana-kemari.
“Ulurkan tanganmu Dende!” Serunya sambil menjulurkan ranting bambu panjang untuk membantu Pancalita menepi.
Pancalita berhasil menangkap ujung ranting bambu. Tapi baru saja menarik diri dari pusaran air, arus air lebih besar datang dan tak ayal menyeret Pancalita jauh meninggalkan Tibu!
Inaq Bangkol, mengejar pontang-panting. Ia sudah tak peduli dengan kain selendang milik Pancalita dan membuangnya di jalan. Sementara ia sekuat tenaga berlari mengejar Pancalita yang megap-megap, timbul tenggelam diamuk arus deras.
Tolong-tolong!” pekiknya berulang-ulang, tangis Inaq Bangkol pecah dalam penyesalan yang dalam.
Di tengah nafasnya yang menderu dan kakinya yang berlari cepat, ia terus berteriak, “Dende, bertahanlah!”
***
“Ssssspppttt, ah ... nikmatnya hidup,” Blokpentes meneguk tuak manis hingga tandas di cawan tembikar. Matanya terpejam membayangkan puluhan gadis cantik bermanja di sekitarnya. Ia sudah tidak peduli dengan orang yang memandanginya di kedai itu. Mirip seperti bapak-bapak yang tak peduli dengan utang, sekalipun tukang tagih mengepung rumahnya.
“Biarkan aku melayang jauh,” racau Blokpentes, lalu membanting tubuhnya di tikar pandan yang lusuh. Masih terpejam, Blokpentes meliuk-liuk seperti ular sanca yang kekenyangan.
Tapi kemudian Blokpentes buru-buru bangkit. Mendorong kasar kepala Bolo yang menyender di dadanya. Mirip seperti perempuan yang kaget dan panik ulat hinggap di dadanya.
“Apa yang kau lakukan?!” seru Blokpentes panik.
Dorongan Blokpentes yang kencang membuat, pria gemuk itu terjengkang.
“Dhuuuk!” Kepala Bolo terbentur di lantai. Ia meringis menahan sakit hingga membuat kepalanya berputar-putar.
“Kau jangan coba-coba nodai keperjakaanku,” sungut Blokpentes, menutup erat kedua dadanya dengan telapak tangan.
Bolo masih meringis kesakitan. Tapi ia tak dapat menolak perlakuan Blokpentes padanya. Ia tadi hanya ikut terbawa suasana ucapan Blokpentes. Hingga tak sadar ikut menyender di dada Blokpentes.