
Angin menderu kencang. Menampar-nampar tubuh Blokpentes seperti tangan raksasa yang tak kasat mata. Di atas tebing yang tinggi, di antara bekas ledakan dahsyat gunung Samalas – sebelum akhirnya menjadi Rinjani – Blokpentes merayap seperti laba-laba.
Sementara Matahari di timur sudah mulai meninggi. Membakar dengan perkasa, setiap jengkal lekuk bumi di sana. Anehnya, sekalipun sinarnya membara, hawa di tebing itu, terasa lebih dingin.
Sulit untuk menjelaskan dengan rinci bagaimana syoknya Blokpentes di setengah perjalanan merayap tebing. Kakinya ngilu. Tangannya, pun tak kalah kelu.
“Pentes-pentes, apa sih yang sebenarnya kau cari ke sini?” tanyanya pada diri sendiri. Nafasnya terengah-engah. Pandangannya berkunang-kunang. Lengah sedikit saja, Danau Segara Anak yang menganga jauh di bawahnya akan menelannya begitu saja.
Ia berhenti sejenak. Menatap wajah tebing yang lebar.
Tangannya masih memegang erat rumput yang tumbuh di sela-sela bebatuan tebing. Sedangkan ujung kakinya, bertengger di tonjolan batu dan secuil rongga tebing.
Di titik itu jalan setapak itu terputus.
“Baiklah. Tenang-tenangkan dirimu Blokpentes. Bayangkan di depan ada jalan yang lebar. Ya, lebar. Dan kau bisa berlari dengan aman dan tenang,”
Setelah itu perlahan ia menata nafasnya. Mengatur degup jantung yang berdentam-dentam. Setelah sedikit lebih tenang, Ia menggeser tatapannya perlahan. Melihat ke bawah, melihat lagi tebing yang akan dijejaki berikutnya.
Tapi buru-buru ia menarik lagi mukanya. Mengerutkan wajahnya. Menutup mata rapat-rapat. “Huu ... masih mengerikan,” keluhnya meringis.
Nafasnya kembali sesak. Lehernya tercekat. Tiba-tiba saja, ia merindukan seteguk air, mengguyur tenggorokannya yang gersang.
“Apakah riwayatku akan tamat di sini? Siapa peduli. Kalaupun aku akhirnya terjatuh dan hilang di telan mulut Segara Anak. Tidak ada yang akan menangisiku. Ah, paling hanya Bolo yang menangis sesaat. Setelah itu ia akan mencari teman baru lagi. Bahagia dan melupakanku selama-lamanya. Atau dia akan senang aku mati? Tidak mungkin. Aku belum membayar utangnya yang lima kepeng. Dia pasti mengutukku sampai akhirat,”
Blokpentes meracau. Pikirannya kacau. Kepalanya sakit. Berderit-derit. “Aku tak akan membiarkan dia memburuku sampai akhirat, hanya untuk bayar utang,”
Setelah mengumpulkan sisa tenaga, Blokpentes kembali merayap. Menjejak tonjolan bebatuan tebing. Menyusupkan kaki di antara celah-celah bebatuan tebing. Menerobos angin yang menderu dan membisikan kematian yang mengerikan!
“Tidak, aku belum mau mati,” ia menyugesti dirinya. Membayangkan tubuhnya seringan kapas. Dan meyakinkan diri, rumput-rumput yang tumbuh tipis dan jarang-jarang itu sekokoh kawat baja yang akarnya tertancap hingga perut bumi, lalu berujar, “Meret det!”
Dan saat, matahari mulai lelah bertengger di puncak langit, lalu perlahan berlabuh ke ujung barat, Blokpentes sampai di ujung tebing.
“Hap!”
Dengan sisa-sisa tenaga, ia melompat. Membuang tubuhnya menghindari tantangan terakhir yakni sisi tebing yang curam. Tanpa pegangan. Tanpa tempat kaki menjejak. Jaraknya cukup jauh. Sekitar tiga tombak!
Ia meyakin-yakinkan diri mampu melewati rintangan itu. Walau hati kecilnya membantah sejadi-jadinya.
“Omong kosong!” seru batinnya.
Blokpentes tak punya pilihan. Kembali juga percuma. Tenaganya hanya tersisa dua genggam. Itu pun di dua tangannya yang bergelantungan di bebatuan tajam.
Ujung tangannya memerah berlumur darah. Begitu juga dua kakinya kebas. Juga menitikkan darah-darah segar dari kulit dan daging yang tersayat bebatuan tajam.
“Wusshhh!”
Tubuh Blokpentes terhempas ke bawah. Tangannya gagal meraih dahan yang menjulur di ujung tebing. Jarak tiga tombak itu terlalu jauh untuk dilompati dengan sisa tenaga.
“Mati, akhirnya kau datang juga,”
Blokpentes pasrah. Ia memejamkan mata. Membiarkan saja badannya terhempas semakin dalam ke dasar jurang!
***
Tak ada alasan yang masuk akal bagi Pancalita untuk tetap berada di gubuk itu. Gubuk reyot. Dengan lubang di sana-sini. Nyamuk dan serangga yang begitu berutal menyedot darahnya yang manis.
Oh ya, bau kambing itu juga. Mengapa pula Puq Amet menyiapkannya kamar di sana. Kamar yang tak jauh dari kandang kambing. Tidakkah ia lupa, bahwa dirinya adalah tuan putri? Kepala desa yang terhormat?
Bagaimanapun ia merindukan kasih sayang Inaq Bangkol yang saban hari menyapanya dengan lembut. Selembut tepung terigu. Menyiapkannya makanan pagi berupa sepiring nasi beras bulu yang wanginya membuat terlena. Belum lagi daging rusa yang dimasak empuk, menebar aroma harum yang menggoda.
Setelahnya anggur atau tuak manis, terhidang di dalam cawan tembaga yang mewah!
Bila malam tiba tentu tak kalah berwibawa hidangannya. Juru masak desa, menghidangkan makanan yang dibumbui rempah-rempah rahasia. Lalu dihidangkan dengan penataan makanan khas pemujaan yang agung.
Sekali lidah mencecap menu utama seperti ikan, ayam, angsa, domba, lembu, hingga rusa, nikmatnya masih terasa hingga bangun keesokan harinya. Para juru masak desa tahu saja, bagaimana memanjakan para pembesar desa. Menghidangkan makanan yang nikmatnya hanya bisa diceritakan lidah yang peka.
Makan malam ditutup dengan buah-buahan terbaik hasil bumi desa Lolo. Pisang, Salak, Delima, Anggur, Buni, Cempedak, Gandaria, Genitu, Kemang, Jamblang, Matoa, Dewandaru, Rumbia, Sawo, silih berganti mengisi perjamuan dengan para pembesar Desa.
Jadi kalau saat ini ia sudah sampai di titik terendah bertahan di tempat itu, Pancalita bukan lagi tidak betah. Tapi bosan. Bosan se bosan-bosannya.
Seminggu berlalu dan ia mengawali pagi di gubuk reyot itu dengan ubi, ubi, dan ubi. Lalu malam datang dengan ubi lagi, ubi, dan ubi. Oh, rasanya lidahnya baru pertama mengenal arti syukur yang sejujurnya tentang kehidupan serba mewah di balai desa.
Di sana ada beragam buah, makanan dan kue yang manis-manis, hingga daging-daging hasil buruan yang dengan bangganya para pemburu menyerahkan daging terbaiknya bagi kepala desa. Seperti kebanggaan seorang pemuda menyerahkan bunga terbaik bagi kekasih yang amat dicintainya.
“Kalau bukan karena dia,” bisiknya di dalam hati. Di relung jiwanya yang terdalam. Pancalita bahkan malu menggerakkan bibirnya yang indah bagai belahan manggis, menyuarakan pengkhianatan hatinya yang sulit dimaafkannya.
Hatinya itu.
Berdentam-dentam indah bila pemuda itu ada di dekatnya. Segala penderitaan di gubuk reyot sirna seketika. Gubuk itu berubah menjadi istana yang megah dan menawan dengan pilar-pilar besar yang kokoh berwarna putih. Seputih awan. Walaupun kenyataannya rapuh termakan rayap dan berlumut.
Rumput-rumput liar dan ilalang ikut berubah. Secantik rerimbunan bunga dahlia, menur, hingga asana. Lalu pohon-pohon beringin besar itu. Yang besar dan berjanggut lebat, berubah cantik seperti pohon Rajasa yang berbunga cantik, wungu, hingga Campaka.
Begitulah jika cinta telah membutakan mata para penghamba getar-getar hati. Iblis pun akan terlihat gagah, berwibawa dan dipuja-puja, sekalipun jalan cintanya penuh noda dan dosa.
“Mengapa dia belum datang?” lirih Pancalita. Ia membeku di bahwa pohon beringin dengan jambang lebat menjuntai. Sejak pagi buta ia telah duduk seperti patung togok yang tak bernyawa di sana. Menunggu kehadiran pria yang membuatnya terlena seperti seorang peneguk madu.