
Pancalita tinggal selama pemulihan di sebuah gubuk kecil. Di atas tanah lapang yang tersembunyi. Di sisi utara, barat, dan selatan berdiri angkuh pohon-pohon tua berumur ratusan tahun. Sedangkan di sisi timur terdapat tebing yang cukup dalam.
Pohon-pohon itu, tumbuh rapat menyerupai benteng yang kokoh. Di baliknya terbentang hutan belantara yang gelap dan pekat. Hanya angin yang sesekali menerobos benteng, membawa kabar tentang kemisteriusan hutan.
Rasanya tidak ada orang yang tahu keberadaan gubuk itu. Sebuah gubuk yang nelangsa saat siang tiba dan matahari berpijar di atas kepala. Lalu meringkuk kedinginan ketika tirai malam dibentangkan.
Jalan setapak yang dilalui para pengembara atau petapa berada di bawah tebing. Sementara tangga berlumut menuju tanah lapang itu, tersembunyi di antara semak belukar yang rimbun dan penuh duri.
Di bawah tebing ini terdapat sebuah gubuk kecil lagi. Di mana Puq Amet dan Artha Prana tinggal jauh dari pusat desa. Gubuk itu sekaligus seperti rumah penjaga bagi gubuk yang tersembunyi di atas tebing.
Artha Prana hanya mengunjungi Pancalita di gubuk pemulihan pada waktu pagi saat matahari setinggi tiga tombak di ujung timur, dan sore, ketika ayam hutan dengan pongahnya memamerkan suara kejantanannya.
***
Ubi di atas meja lapuk itu telah dibuang Pancalita. Diam-diam. Melemparkannya ke dalam perut hutan yang disesaki pohon-pohon purba yang berdiri perkasa melawan usia.
Hanya dengan itu, Pancalita dapat memaksa Artha Prana datang saban pagi dan senja. Mengantarkan ubi yang sebenarnya tak disukainya.
Bibir indahnya tidak mungkin meminta pemuda itu menemani setiap saat. Sekalipun hatinya seperti pemabuk yang tak bisa jauh dari cawan-cawan berisi tuak. Bibirnya terlalu angkuh dan berwibawa untuk mengucapkan kata memalukan namun memabukkan,
“Temani aku. Jangan pergi lagi,”
Tandangnya selalu mengesankan wibawa dan ketinggian kasta. Gerakan anggun dan terpuji layaknya putri yang saban hari dijejali doktrin adab tata-krama. Gerakan tangan dan tubuh mengesankan wanita berperadaban tinggi setara raja-raja.
Tapi di pagi yang perlahan beranjak siang itu, Pancalita seperti gembel yang bodoh. Segala keanggunan dan wibawa yang dikemas di telaga kecil dengan air jernih di belakang gubuk, kehilangan pesona. Tubuhnya tak lagi tegak, tetapi membungkuk seperti rumput pakis yang diterpa angin kehampaan.
“Mengapa kau belum juga datang,” lirihnya dengan wajah bimbang.
Pancalita hampir-hampir menangis tak karuan. Kalau saja bukan karena wibawa dan seperangkat keangkuhan yang melekat dalam kutukan wanita berdarah biru, ia ingin menjerit:
“Mengapa kau belum datang juga?”
Tapi terkutuklah ia, jika sampai nekat melakukan itu. Bahkan para Dewata penjaga kehormatan akan menistanya menjadi manusia yang amat rendah dan hina.
“Aku mohon datanglah,” bisiknya.
Bibirnya yang seindah belahan manggis bergetar. Hidungnya yang mancung mengeluarkan cairan sebening embun. Pancalita tak kuasa bertahan dalam kepongahan wibawa.
Ia mulai tertekuk lutut dalam dahsyatnya pendar-pendar cinta.
“A... Apa kau merasakan apa yang aku rasakan?” lirihnya terbata-bata.
Dan siang pun datang dengan sangat lambat. Pancalita masih memahat dirinya di bawah pohon beringin berjambang lebat. Ia sampai tak percaya melakukan perbuatan bodoh itu hanya demi seorang pemuda yang belum sepekan dikenalnya.
Pohon dan belukar bergoyang di terpa angin. Melabai tetapi terlihat mengejek, bersorak, menertawakannya yang membeku seperti arca Aphrodite dalam mitologi cinta Yunani.
Malu dan rindu berkecamuk jadi satu memenuhi ruang hatinya.
“Mengapa aku masih di sini,” Lamurnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Nyaris tak kuasa lagi menahan sembab air mata yang mengembang di pelupuk mata.
“Oh Sang Hyang Agung, mengapa tak kau ciptakan saja hati bisa dicerabut. Kan ku masukan dalam peti lalu kularung dalam derasnya sungai Kokoq Putiq, membiarkannya hanyut nun jauh hingga ke samudra dan terombang-ambing di antara amukan gelombang dahsyat laut selatan,” guramnya mendayu-dayu. Pilu.
Dalam keputusasaan yang menyiksa itu, sekonyong-konyong, satu-persatu kepala prajurit bersenjata lengkap muncul di balik tangga jurang. Wajah mereka menyiratkan lelah dan harapan yang mulai menyala. Jejak langkahnya kasar dan tergesa-gesa. Nafasnya menderu-deru menyaingi bunyi angin di antara bukit-bukit yang berjejer membentuk gugusan serupa punggung kura-kura.
“Dende!” jerit seorang wanita.
“Dende, kaukah itu Dende Pancalita?” seru wanita itu dengan suara serak.
Pancalita mengenal sangat baik wanita itu. Wajah kusut, bercak hitam tipis di dahi dan wajahnya. Jelas sudah itu bekas keringat mengering diterpa angin yang menerbangkan debu halus.
“Inaq Bangkol,” lirih Pancalita.
Wajahnya memerah. Menahan ledakan perasaan yang menumpuk, menggunung, membebani setiap jengkal penderitaannya di gubuk itu. Begitu banyak orang yang ternyata mencemaskan nasibnya. Sekalipun, ia sadar tak akan ada yang berdiam diri dengan musibah yang menimpanya.
Dan pertemuan itu seperti menegaskan satu hal yang teramat istimewa. Ia begitu berharga hingga banyak orang berlintang-pukang, mencarinya ke seluruh pelosok hutan.
Dua wanita beda usia itu berpelukan. Sesaat kemudian pundak mereka berguncang. Larut dalam tangis haru-biru.
Pancalita memeluk erat Inaq Bangkol. Melingkarkan tangannya di pinggang dan leher seperti singa yang menjerat mangsa.
“Dende Pancalita,” lirih para prajurit. Mereka menghela nafas lega. Hingga tak sedikit yang berlutut di tanah lapang itu saking bahagianya.
Mereka melipat bibir, tersenyum gembira. Walau dari sorot-sorot matanya, bila dipandang lebih dalam, terlihat kelelahan yang mendera-dera.
Tangis Inaq Bangkol melengking. Hatinya meriuh. Gembira dan sedih berkelindan jadi satu.
Sedih? Iya sedih. Inaq Bangkol, seperti melihat penderitaan berderit-derit dari tubuh Pancalita yang kurus, rambut yang semburat, tak tersisir rapi. Hingga pakaian yang menempel sungguh jauh dari kata layak, bahkan bagi seorang gembel paling miskin sekalipun di desa Lolo.
Kain lusuh warna hitam, berlubang sana-sini. Melilit tanpa bentuk. Hanya menutupi bagian tubuhnya yang tak seharusnya terbuka.
***
“Dende, kita harus segera pergi dari sini,” ujar Inaq Bangkol dengan raut wajah gelisah dan takut.
“Kita baru saja bertemu, prajurit juga terlihat kelelahan, istirahatlah dulu sebentar Inaq,” ujar Pancalita menenangkan perasaan Inaq Bangkol.
“Tanah lapang ini tanah siluman!” ujar Inaq Bangkol dengan suara ditahan. Bola matanya bergetar menyimpan kengerian.
Pancalita mengerutkan dahi. Ia tak mengerti ketakutan seperti apa yang membuat ibu asuhnya, ngeri bukan main.
“Hampir sepekan aku di sini Inaq Bangkol dan tidak ada yang terjadi padaku?” ujar Pancalita heran.
“Sang Hyang Agung melindungimu Dende, tapi sekarang kita harus segera pergi dari sini,” desak Inaq Bangkol lagi. Wajah panik itu belum hilang dari wajah tuanya.
“Apa yang Anda takutkan, bukankah puluhan prajurit bersama kita?” tanya Pancalita lagi.
“Ini bukan tentang bahaya dari manusia, tapi dari bangsa jin dan siluman, Dende,” jawab Inaq Bangkol.
Wanita berambut perak itu lalu menceritakan para ahli nujum desa Lolo dikerahkan saat hilang terseret arus. Mereka ditugasi melacak keberadaannya. Tapi yang aneh, dalam penerawangan mata batin, semua bercerita tentang dinding api yang misterius dan tak tertembus mata hati.
“Lembah ini diselimuti api hitam,” bisik Inaq Bangkol dengan suara bergetar.
Pancalita tercenung. Memikirkan apa yang baru saja dikisahkan Inaq Bangkol. Ia nyaris tidak percaya, karena selama tinggal di gubuk itu baik-baik saja. Tapi penerawangan para ahli nujum tak bisa diabaikannya.
“Saatnya menyudahi resah yang menggelayuti hati penduduk desa. Kepulangan Dende, juga akan menjadi penyembuh lara warga desa yang tak tidur siang malam menanti kabar,” imbuh Inaq Bangkol.
Angin meriuh di lembah itu. Diselingi suara desisan seakan keluar dari ribuan ular siluman. Suaranya sampai menggetarkan hati. Mengayun jantung secara metafisika hingga terasa ngilu.