SELAQ

SELAQ
Episode "Pengadilan untuk Baloq Darwire" (30)



***


Hawa dingin membelai gerbang Barat. Membawa serta bulir-bulir embun ke segala penjuru lembah. Sepasang mata burung hantu mengintip dari pohon pinus. Tatapannya tajam memperhatikan gerak-gerik puluhan anak manusia yang mengelilingi seorang gadis tergeletak tak berdaya.


Dinginnya malam tak mampu membilas hati para pemuda yang panas. Wajah mereka tegang menghakimi seorang pemuda yang berbeda pilihan dengan mereka.


“Dia mengaku lahir dari ayah seorang kesatria, itu bohong!” ujar Gonde dengan suara tinggi.


Tangan kanannya berkacak pinggang. Dada timbul tenggelam mengikuti deru nafasnya. Sedang tangan kiri berulang kali menunjuk Jayengrana atau kini disebut Blokpentes.


Matanya melotot garang. Lalu dengan nada meledek berujar, “Pria ini hanya keturunan pengemis!”


Riangse menyela ucapan Gonde. Ia tak sabar, ingin tahu alasan Maha Guru Raden Aryadi mengangkat Blokpentes sebagai pemimpin mereka.


“Kalau memang Jayengrana, eh, maksudku Blokpentes, bukan seperti yang kita dengar selama ini, mengapa Maha Guru menunjuknya sebagai pimpinan kita. Apa Raden Aryadi semudah itu dikelabuhi?”


Gonde tertawa terbahak-bahak. Melihat keluguan rekan-rekannya ditipu Blokpentes. “Sebenarnya ini bukan tentang siapa yang dikelabuhi, tapi kebohongan yang memang diinginkan Kepala Desa dan Maha Guru Raden Aryadi,” ujarnya setelah tawanya mereda.


Semua murid perguruan kaget. Mendengar Kepala Desa dan Kepala Perguruan terlibat dalam kebohongan desa.


“Hati-hati bicara. Tuduhan itu sangat serius,” kata Riangse memperingatkan.


Namun Gonde tak peduli. Pundaknya kembali berguncang menertawakan raut wajah rekan-rekannya yang panik.


“Masih ingatkah kalian, kisah orang yang dihukum mati pertama kali di desa ini?” tanyanya kemudian.


“Pengemis yang mencuri,” gumam salah satu di antara mereka.


“Betul. Betul sekali. Dulu, ada pengemis di desa ini. Hidupnya mengandalkan belas kasih orang lain. Suatu saat pengemis nekat mencuri di Bencingah Desa. Aksinya ketahuan dan si pengemis diganjar hukuman sangat berat karena kelancangan dan kebodohannya. Ia dihukum gantung!”


Kisah pengemis yang digantung memang tidak asing. Ketika masih kecil, orang tua mereka sering mendongengkan kisah itu berulang-ulang menjelang tidur.


Tentu tidak ada orang tua yang ingin anaknya kelak menjadi pencuri. Apalagi hidupnya berakhir di tiang gantungan. Maka cerita itu diulang-ulang agar anaknya menjauhi perbuatan tercela itu.


“Sebagai permintaan terakhir sebelum digantung, pengemis memohon anak laki-lakinya dipelihara desa. Permohonan itu dikabulkan tapi istri dan anaknya harus meninggalkan desa selama satu dasawarsa untuk membayar kebodohan ayahnya. Kelak, anak yang bernama Blokpentes tumbuh dewasa dan kembali ke desa ini dengan nama Jayengrana. Menyembunyikan nama pemberian ayahnya yang seorang pengemis sekaligus pencuri!” nada suara Gonde menukik tajam menghujam relung hati Blokpentes.


“Benarkah itu?” tanya Riangse sambil memalingkan wajahnya ke Blokpentes.


Tak ada jawaban. Kepala Blokpentes masih tertunduk menghadap tanah.


“Apa kalian tidak sadar sedari awal Blokpentes menunjukkan bukti tidak layak menjadi pemimpin kita?” ujar Gonde lagi.


“Maksudmu?” tanya yang lain.


“Blokpentes sebenarnya telah menunjukkan ketidakmampuan menjadi pemimpin. Coba ingat-ingat lagi saat monster memburu kita semua, bukannya melawan dan menunjukkan kehebatan sebagai pimpinan pasukan, dia malah ikut lari tunggang langgang,”


Murid-murid berdengung. Mereka memang belum melihat sama sekali kesaktian Blokpentes sehingga layak menjadi pemimpin kelompok.


Sampai salah satu di antara mereka berujar, “Tapi bukankah dia berhasil membuat strategi yang cocok melawan monster tadi?”


Gonde mengangkat kepala. Mencari wajah pemuda yang mencoba memberikan pembelaan pada Blokpentes.


“Apa bangganya menang dengan jurus tikus sawah? Kita diatur agar timbul tenggelam dalam lubang seperti ingus bocah. Lalu semua bersorak riang, seolah-olah telah mengalahkan monster melalui pertarungan kesatria, padahal monster hanya kelelahan!”


Tak ada yang menyahut. Mereka kompak diam, menunggu perkataan Gonde berikutnya.


“Strategi itu berhasil cuma kebetulan. Beruntung saja di sini ada banyak lubang bekas perangkap pemburu. Bagaimana kalau lubang ini tidak ada, apa kita bisa menang? Ia hanya pemuda bermulut besar,” sebutnya.


Lalu dengan dada membusung, Gonde berjalan mendekati Blokpentes. Tepat sejarak tiga langkah, ia berhenti lalu berkacak pinggang, sambil bersuara lantang, “ Katanya dia punya ilmu Melebu Bumi, kalau kalian berpikir, mengapa ilmu itu tidak digunakannya? Dia dapat dengan mudah mengalahkan monster dengan menariknya ke perut bumi!”


“Lalu apa alasan Maha Guru Aryadi mengangkat dia sebagai pimpinan?” tanya yang lain masih penasaran.


Gonde melirik sinis memandangi wajah Blokpentes. “Blokpentes diangkat sebagai pemimpin kelompok ini, hanya karena Maha Guru Aryadi menganggapnya sebagai manusia yang diliputi keberuntungan. Itu saja. Bukan karena alasan dia memiliki kecerdasan atau ilmu yang tinggi!”


Bolo melangkah perlahan mendekati Blokpentes dengan gugup. Ia masih belum percaya dengan ucapan Gonde. Lalu dengan suara terbata-bata, bertanya pada Blokpentes.


Blokpentes tak langsung menjawab. Ia memalingkan wajah pada Bolo yang berharap ucapan Gonde bohong semua. “Kau boleh tidak membayar utang lima kepeng itu. Tapi katakan apa yang dikatakan Gonde semuanya bohong,” lirih Bolo. Ia tidak terima, kebenaran itu datang dari Gonde.


Sekali lagi, Blokpentes memalingkan wajah pada Bolo. Sorot mata pemuda bertubuh bulat itu masih menyiratkan harapan masih percaya pada Blokpentes.


“Nada suaramu sepertinya tidak suka aku mengungkap kebenaran,” tanya Gonde, kesal pada Bolo.


Bolo menekuk wajahnya ke bawah. Ia takut beradu pandangan dengan Gonde. Wajah pria itu beringas, membuat lututnya gemetar.


“Kau berdiri di pihak mana, pembohong ini atau dipihakku?” tanya Gonde tajam lagi.


Bolo tak menjawab. Tapi dengan gugup ia melangkah ke belakang Blokpentes sebagai jawaban di posisi mana ia saat ini.


Darah Gonde naik ke ubun-ubun. Setelah meremas jari-jemarinya, ia bersiap melangkah mendekati Bolo. Tapi Blokpentes menghalangi langkahnya dengan tangan kanan yang terangkat sebahu ke samping.


“Ayahku adalah kesatria dan aku bisa menggunakan ilmu Melebu Bumi,” lirihnya.


Gonde menghentikan langkah. Ia tertarik dengan ucapan Blokpentes. Lalu dengan sinis berujar, “Tunjukkan pada kami,” tantangnya.


Bolo menjulurkan kepalanya ke dekat telinga Blokpentes. Lalu dengan suara berbisik, “Jangan berbohong lagi. Aku ikut denganmu. Tolong jangan buat aku babak belur,”


Blokpentes melengos memperhatikan wajah Bolo yang panik. Kemudian kembali menatap Gonde yang berdiri sejarak tiga langkah di depannya.


“Mari bertaruh,” ujar Blokpentes. Matanya ia picingkan lalu dada ditegakkan. Air muka memancarkan keyakinan yang besar dapat memenangkan taruhan.


“Kalau aku tidak bisa Melebu Bumi, kalian semua, boleh memukuliku sepuasnya,” ujar Blokpentes. Lalu dengan tatapan yakin bakal memenangkan taruhan, ia bertanya pada Gonde, “Tapi kalau aku bisa masuk ke Dalam Bumi, apa hadiah untukku?”


Gonde gugup melihat perubahan wajah Blokpentes. Tapi ia kadung mempermalukannya di hadapan rekan-rekannya yang lain. Kini ia harus bisa membuktikan tuduhannya.


“Hmm... paling dia hanya gertak saja,” bisiknya dalam hati.. Tapi kemudian wajahnya berubah ragu lagi. “Bagaimana kalau benar dia sudah mempelajari ilmu itu? Berengsek, ini seperti judi,” sungutnya.


Saat Gonde sibuk menimbang, Blokpentes berjalan riang mendekati rekan-rekan yang lain. Seakan telah memenangi pertaruhan, ia beradu tangan, hingga berangkulan, bahkan berpelukan.


Aksinya disambut riang murid yang lain. Situasinya berbalik, para pemuda, mendukung Blokpentes membuktikan kesaktiannya.


“Baiklah, kalau bisa Melebu Bumi, kau boleh menamparku,” ujarnya dengan suara berat.


“Apa, cuma sebuah tamparan untuk membayar pertunjukan ilmu langka?” Blokpentes mencibir, lalu menoleh ke rekan-rekan yang lain sambil mencari dukungan. “Ilmu Melebu Bumi hanya dimiliki dua orang di muka bumi ini, Raden Jayengrana dan Raden Umar Maye. Itu pun, hanya dalam kisah pewayangan. Tapi aku akan memperlihatkan secara nyata!”


“Betul yang dikatakan Blokpentes. Kau seharusnya paling tidak berani mengimbangi tawarannya,” ujar Riangse pada Gonde.


“Lalu apa maumu?” tanya Gonde, kali ini gilirannya yang gugup.


“Aku mau, kau, ayah, ibumu, nenekmu, kakekmu, dihajar ramai-ramai oleh kami semua. Di alun-alun, pada siang bolong. Sampai mereka malu memiliki anak atau keturunan sepertimu. Merusak harkat dan martabat keluarga sampai tujuh turunan!!!”


Saat mengucapkan keinginan itu Blokpentes sampai meronta-ronta. Ia terbawa suasa hati, bertaruh dengan Gonde. Untung beberapa rekannya sigap menahan tubuhnya supaya tak lepas kendali.


Gonde kena mental. Semangat Blokpentes menggebu-gebu bertaruh membuatnya ragu pada keyakinan yang diucapkan tadi. “Jangan-jangan ia sudah mempelajari ilmu itu pada seseorang,” batinnya.


“Gonde, kau berani atau tidak?” tanya salah satu di antara mereka.


Gonde terdiam. Wajahnya merah, malu. Tapi ia benar-benar takut mengiyakan taruhan gila itu.


“Atau begini,” Blokpentes berupaya mencairkan suasa. “Bagaimana kalau kita ganti taruhan?”


“Apa pentingnya taruhan?” tanya murid yang lain.


“Sebenarnya ini terserah Gonde,” Blokpentes melirik diam-diam ekspresi Gonde yang lesu. “Kalau mau taruhan Melebu Bumi, permintaanku seperti tadi. Tidak bisa ditawar. Tapi kalau ganti taruhan, tentu ada syarat kalian harus melupakan rencana membunuh gadis ini,”


“Taruhan apa?” tanya Gonde tertarik. Ucapan Blokpentes seperti memberi angin segar untuk menutupi rasa malunya.


***