SELAQ

SELAQ
Episode "Pengadilan untuk Baloq Darwire" (33)



SELAQ


Episode "Pengadilan untuk Baloq Darwire" (34)


***


(Pembawa Cerita) ~ Begitulah.


Malam itu juga Desa Lolo menyiarkan pada seluruh warganya. Pancalita didaulat sebagai Kepala Desa Lolo menggantikan suaminya Rawilih yang gugur dalam perang di Desa Bunge.


Keesokan harinya, warga Desa Lolo berbondong-bondong ke pemakaman umum desa. Membawa jenazah Rawilih dan semua pasukan elite. Wajah mereka diliputi kesedihan yang dalam.


Mendung bergulung-gulung di atas langit Desa Lolo. Sesaat kemudian hujan deras ikut mengiringi kepergian Rawilih dan pasukan elite ke peristirahatan terakhirnya.


Selang tujuh hari, para petinggi Desa menggelar ritual sakral penobatan Pancalita sebagai Kepala Desa. Alun-alun desa dipadati warga desa. Mereka lalu memanjatkan doa pada Sang Hyang Kuasa, agar kepemimpinan Pancalita mampu membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi rakyatnya.


Pembaca cerita yang budiman, sejenak kita beralih ke Desa Pusuk. Di mana Arta Prana, tengah mengumpulkan para petinggi desa ~


Arta Prana duduk di kursi kebesarannya. Seperti biasa pemuda gagah itu mengelus dagu dengan telunjuk dan ibu jari kiri. Kebiasaan yang entah sejak kapan dimulainya.


Di bawahnya sekitar dua puluh para pembesar duduk berjejer dengan kepala tertunduk. Tak terkecuali, pasukan yang mengiringi dalam misi rahasia ke Desa Bunge.


Raut wajah mereka tegang. Tak berani mengangkat wajah apalagi beradu pandangan dengan Artha Prana. Bagi mereka Arta Prana sudah seperti dewa.


“Bagaimana mungkin dua rencana gagal semua. Padahal aku sudah menyusun dengan sangat rapi?”


Artha Prana berbicara pada dirinya sendiri. Dan itu disadari dengan baik oleh para petinggi desa. Maka tak ada satu pun yang berani menyela pemuda berdarah dingin itu.


“Kalau rencana A gagal harusnya rencana B berhasil. Tinggal menyusupkan pasukan perdamaian dan Desa Bunge bisa dibusukkan dari dalam, tapi sepertinya ada yang sudah tahu niatku,” gumamnya. “Atau ada yang telah membocorkan rencana ini?”


Ia menyusupkan tangannya ke dalam jubah. Meraih bunga cempaka yang dirampas dari Rawilih. Bunga itu diputar-putar dengan ujung jari telunjuk dan ibu jari.


“Bunga yang indah,” gumamnya sambil tersenyum tipis. “Mengapa tak layu, padahal tuanmu telah membusuk dalam tanah?”


Artha Prana lalu menebar pandangannya ke para petinggi yang menunduk. “Aku mencium bau pengkhianat di sini,”


Ucapan Artha Prana yang datar, terdengar seperti geledek di siang bolong bagi para pembesar desa. Keringat dingin merembes keluar dari dahi dan tengkuk mereka.


Bukan kabar ada penghianat yang membuat jantung berdegup sangat kencang. Tapi bagaimana bila tuduhan itu menyasar ke salah satu di antara mereka?


Bagaimana bila Artha Prana dibisiki informasi yang salah? Kesetiaan mereka bisa berakhir kematian di tangan pemuda yang terbiasa membunuh sambil tersenyum manis itu.


“Tap ... Tap ... Tap,”


Artha Prana turun dari kursinya. Lalu melangkah di antara para petinggi. Langkah demi langkah, seperti malaikat maut bagi mereka yang posisi duduknya didekati. Tapi bukan berarti juga kelegaan bagi yang dilewati. Jantung mereka tak tenang sampai Artha Prana menyebut nama yang bukan salah satu dari mereka.


“Rana Palugon,” ujar Artha Prana. Ia berdiri di hadapan Komandan Pertahanan Desa Pusuk.


Pria berkulit gelap namun berotot itu terkejut. Peluhnya deras bercucuran. Matanya terbelalak menghadap lantai. Ia masih belum berani mengangkat wajahnya.


“Ampun, tuan. Sembah baktiku, senantiasa untukmu,” ujarnya dengan suara bergetar.


“Ohaaam ...” Arta Prana menguap. Lalu dengan santai bertanya. “Kau tahu kesalahanmu?”


Rana Palugon menggigil ketakutan. Sementara yang lain ikut tegang. Mereka ingin tahu kesalahan macam apa yang dilakukan sang Komandan Pertahanan itu.


“Ampun beribu ampun tuanku. Sudi kiranya menyebutkan kesalahan apa yang saya perbuat. Sungguh semua tugas dan amanat telah saya kerjakan tanpa sedikit pun menyisakan kelalaian,” jawabnya.


“Srek ...”


Artha Prana meletakkan pedang panjangnya di leher Rana Palugon. Pedang itu baru saja keluar dari warangka yang tersembunyi di balik jubah.


Komandan Pertahanan Desa itu bergeming. Sekalipun ia tak tahu apa kesalahan yang diperbuat, pantang baginya menolak keinginan Artha Prana sekalipun itu nyawa.


Tak ada jawaban dari Rana Palugon. Ia hanya mengangguk menyediakan lehernya dipenggal. Suasana semakin mencekam. Para petinggi lainnya menelan ludah yang mengering di tenggorokan.


“Jawablah, kau mau mati atau tidak?” tanya Arta Prana. “Ohaaam..!” ia kembali menguap ngantuk.


“Ti... tidak tuanku,” jawab Rana Palugon, terbata-bata.


“Mengapa?” tanya Artha Prana.


“S... Saya masih ingin mendampingi tuanku, sampai menjadi pemimpin dunia,”


“Hmmm ... baiklah, kau tak jadi mati,” ujarnya enteng.


Semua pembesar desa bingung. Mereka belum mengerti maksud dari Kepala Desa Pusuk.


“Perang di Desa Bunge membuatku tak pernah tidur. Aku ngantuk sekali,” ujar Artha Prana, seperti tak merasa sudah membuat bawahannya takut setengah mati.


Rana Palugon memberanikan diri bertanya. “Lalu siapa penghianatnya tuanku?”


Artha Prana mengulum senyum. “Aku memang tak suka kegagalan. Tapi kali ini aku benar-benar bingung, mengapa bisa gagal,”


Para pembesar itu, perlahan memberanikan diri mengangkat wajah. Melihat ke arah Artha Prana yang kembali mengelus dagunya.


“Sudahlah. Selera humor kalian jadi sangat rendah setelah perang yang melelahkan ini. Tadi, aku cuma menguji mental kalian. Mana tahu benar-benar ada yang berkhianat dan kabur dari balai desa ini,” Artha Prana membalikkan badannya, lalu berjalan lagi menuju kursinya, sambil berujar. “Sepertinya ada hal lain yang lepas dari perhitunganku, aku berharap suatu saat dapat mengetahui penyebabnya,”


Setelah duduk di kursi dan menikmati sebutir anggur, Artha Prana kembali berkata, “Lagi pula, kita tak sepenuhnya gagal, aku punya rencana lain,”


“Rencana apa tuanku?” tanya Adhinatha, kepala para Teliksandi Desa Pusuk.


Artha Prana tak langsung menjawab. Ia menjulurkan lagi tangan kiri mengusap dagunya yang lancip. Lalu dengan tatapan berkilat-kilat, ia berujar, “Dengarkan baik-baik. Ini akan jadi rencana besar kita selanjutnya, Desa Pusuk akan aku ubah menjadi kerajaan,”


“Bukankah sudah ada perjanjian dengan semua desa, syarat membangun kerajaan, paling tidak diisi sepuluh ribu rakyat tuanku?” ujar Dewandaru, tetua Adat Desa Pusuk.


Artha Prana mengulum senyum. Seakan sudah menebak pertanyaan itu akan muncul. “Itu sudah aku pikirkan. Setiap Desa memiliki rata-rata lima ribu penduduk. Kalau kita bisa menaklukan satu desa lagi, jalan membangun kerajaan terbuka lebar!"


“Apa kita akan menggempur Desa Bunge lagi tuanku?” tanya Rana Palugon bersemangat.


“Tidak,” kata Artha Prana. “Kita sudah membuktikan melalui perang dua rencana kita gagal,”


“Tapi pasukan kita belum bertempur semua, aku rasa situasi sekarang ini waktu yang tepat untuk menghajar Desa Bunge,”


“Itu terlalu vulgar. Tak ada taktik dan seni perangnya,” ujar Artha Prana. “Lagi pula desa lain tak akan tinggal diam. Kau lihat sendiri bagaimana Desa Tunggak dan Desa Buaq ikut campur di perang Desa Bunge,” ujarnya.


“Lalu apa ide tuanku?” tanya Rana Palugon.


“Bunga Cempaka milik Rawilih ini memberiku ide bagus. Aku tertarik menggabungkan Desa Pusuk dengan desa Lolo,” ujar Artha Prana.


Para pembesar saling melempar pandangan. Desa Lolo saat ini tengah dilamuri amarah atas kematian kepala Desanya.


Jika Artha Prana ketahuan adalah pelaku pembunuh Rawilih, maka seluruh kekuatan Desa Lolo akan dikerahkan memburu kepala Artha Prana.


“Apa itu tidak terlalu berisiko tuanku?” ujar Dewandaru memperingatkan. “Jika kita menggempur Desa Lolo, mereka akan cepat mencurigai desa Pusuk di balik kematian Rawilih,”


Artha Prana, menjulurkan tangan kanannya ke depan. Di ujung jarinya ada bunga Cempaka milik Rawilih.


“Dengarkan baik-baik, Rawilih punya dua bunga yang indah nan cantik. Satu di tanganku ini dan satu lagi masih di Desa Lolo. Bila bunga yang satu lagi itu bisa aku miliki, maka kita tak perlu berperang untuk mendapatkan Desa Lolo,” ujar Artha Prana penuh siasat.


Para petinggi desa terkejut. Tapi kemudian wajah mereka berubah cerah, setelah mengerti maksud Artha Prana.


“Tak ada keraguan, rencana itu pasti berhasil tuanku,” kata Rana Palugon gembira.


***