
“Tenanglah,” Selaq Bunge ikut meredam emosi Ngeres Koneng.
Hidung Ngeres Koneng kembang kempis, mengikuti dadanya yang timbul tenggelam. tangannya gemetar ingin menghajar tiga pria itu.
“Anda harus mendukung rencana saya,” ujar Selaq Bunge. Tatapannya tajam ke tiga pria oportunis.
“Ucapanmu membuatku takut Tarumbie,” ujar pria di tengah, tersenyum dingin.
“Bedebah!” Ngeres Koneng bangkit lagi dengan kasar. Kakinya kanan naik ke atas meja dan siap melompat menyerang.
Para penjaga tak kalah sigap. Masing-masing mencengkeram senjata tajam berkilat-kilat.
Mereka tak segan memotong-motong tubuh Ngeres Koneng bila sekali lagi berani melangkah.
Tapi ucapan Kembang Tereng membuat wajah Ngeres Koneng semakin menyerupai kepiting rebus. “Kau bisa apa, selain merusak suasana?”
“Keluar saja dari kelompok Selaq,” ucapan Mopol Ngeros tak kalah sengit.
Ngeres Koneng berang. Darahnya mendidih Kembang Tereng dan Mopol Ngeros malah menyalahkannya. Tatapannya tajam bersiap menyerang dua temannya. Sebelum memorak-porandakan seisi ruangan.
Kembang Tereng dan Mopol Ngeros tak kalah garang. Bangkit dan hendak membekuk Ngeres Koneng yang keras kepala!
“Pok... Pok... Pok ...!”
Saat puncak ketegangan nyaris pecah menjadi pertempuran, pria yang duduk di tengah, bertepuk tangan.
Ia berujar girang, “Menarik-menarik. Aku suka. Duduklah Ngeres Koneng. Aku hanya bergurau,”
Semua Selaq balik memandang. Wajah mereka bingung dengan perubahan sikap pria oportunis itu dalam sekejap.
“Maksudmu?” tanya Selaq Bunge mendahului bertanya.
“Kalian punya karakter yang tak bisa ditawar. Terutama kau, Ngeres Koneng. Sangat cocok menjadi rekan bisnis kami. Anggap saja tadi itu ujian sebelum kita mulai bekerja sama,” ujarnya mengulum senyum. Setelah itu ia kembali berkata, “Baiklah, bisnis apa yang bisa kita kerjasamakan?”
“Persoalan ini sudah selesai?” tanya Ngeres Beaq bingung.
Tiga pria itu mengangguk hampir bersamaan. Rona wajah mereka terlihat serius. Tentu saja, perubahan sikap tiga pria kaya raya itu membuat para Selaq senang. Begitu pun Ngeres Koneng yang akhirnya kembali duduk dengan lega.
“Aku ingin membangun kerajaan Selaq," ungkap Selaq Bunge.
"Kerajaan?" tanya pria di tengah, tertarik. Badannya condong ke depan. Dua tangannya menyangga dagu dan siku yang menopang di atas meja.
"Kerajaan di mana penghuninya adalah mereka yang setuju dengan ideologi Selaq," imbuh Selaq Bunge.
"Terdengar mengerikan," timpal pria di kanan. Ia mengibas-ngibaskan kipas menghamburkan angin ke dahinya yang panas.
"Tapi sepertinya menarik," sahut pria di sebelah kiri.
"Apa peran kami?" sahut pria yang di tengah.
"Donatur," jawab Selaq Bunge.
"Kami tak pernah bekerja sama sekalipun dengan Selaq. Jujur saja ini terdengar menakutkan, tapi sebagai pebisnis tawaran ini terdengar menantang," ujar pria itu lagi.
"Bersekutu dengan Bangsa Selaq dan Bangsa Manusia sama saja. Sama-sama ingin kesejahteraan," ujar Selaq Bunge. ia juga menopang sikunya di atas meja. Lalu berkata, "Bedanya, kami hanya sedikit lebih bersemangat dan tak terlalu peduli dengan larangan baik-buruk ala manusia. Satu lagi, kami tidak memakan manusia yang masih hidup,"
Lalu dengan sorot mata berkilat, pria itu bertanya, "Lalu apa keuntungan yang bisa kami dapatkan?"
“Pengamanan bisnis,” jawab Selaq Bunge.
Tiga pria itu saling bertukar pandangan. Ragu dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Apa yang kau tahu tentang bisnis kami?” tanya pria di tengah. “Kami hanya menjual beras dan hasil bumi lainnya, pengamanan yang kami miliki sudah cukup. Tidak ada bisnis yang perlu dilindungi melibatkan orang-orang hebat dan sakti seperti kalian,”
“Bisnis prostitusi, opium, dan minuman keras,” kata Selaq Bunge. Kalimatnya terang. Seterang matahari di siang bolong.
“Kami tak menjalankan bisnis hitam,”
“Tak ada artinya menutup-nutupi,” jawab Selaq Bunge.
Giliran para Selaq bertukar pandangan. Kecuali Selaq Bunge yang masih tenang dengan sorot mata tajam. Ia berkata, “Aku tak memaksa kalian mengakuinya. Tapi informasi penting bila tujuh desa tengah membangun kekuatan, memberangus bisnis hitam kalian,"
“Dugaanmu sangat berbahaya, itu bisa merusak reputasi usaha kami," jawab pria yang duduk di tengah.
“Ide membangun kerajaan itu sangat menarik. Terlebih kau orang hebat dan berpengaruh. Jika kerajaan Selaq berhasil dibangun di lembah ini kami akan punya lahan baru untuk berdagang,” ujar pria yang di tengah menimpali, “Tapi jangan menuduh kami di balik bisnis hitam. Itu terdengar seperti ancaman,"
"Buang pikiran buruk tentang kami dan mari kita bekerja sama untuk bisnis yang resmi," sambung pria di sebelah kiri.
“Kami bukan mengancam. Juga bukan mengemis bantuan. Sangat penting penting bagi kami untuk menjaga kehormatan organisasi Selaq," lugas Selaq Bunge. lalu dengan perlahan ia berujar, "Kami datang untuk menawarkan solusi bisnis hitam kalian," ujar Ngeres
“Kalau begitu tak ada yang bisa kita kerjasamakan,” ujar pria yang duduk di tengah dengan raut wajah kecewa.
Selaq Bunge bangkit. Diikuti para Selaq yang lain. Lalu dengan suara datar berujar, “Kami pamit,”
“Silakan,” jawab pria yang duduk di tengah.
Selaq Bunge, Kembang Tereng, Mopol Ngeros, Ngeres Beaq, dan Ngeres Koneng beranjak pergi. Meninggalkan tiga pria kaya yang masih membeku di kursi masing-masing.
Di luar, Ngeres Koneng masih bingung. “Mengapa paduka, tak menerima penawaran mereka. Bukankah kita hanya perlu mengubah pandangan kita dan mereka bersedia mendanai mimpi-mimpi kita,”
Selaq Bunge menghentikan langkahnya. Tanpa menoleh ke Ngeres Koneng yang bertanya ia menjawab, “Tak ada yang bisa membeli keyakinanku, sekalipun harus dibayar dengan mimpiku sekalipun,”
“Bagaimana kalau keyakinan paduka salah?” tanya Ngeres Koneng lagi. Ia melanjutkan, “Kita telah melewatkan kesempatan mendapatkan donatur kaya untuk mimpi besar membangun kerajaan Selaq,”
“Dengar baik-baik, membangun kerajaan butuh keyakinan, jika kau sudah tak yakin dengan apa yang kau dengar dan lihat, itu awal dari kegagalan,” tegas Selaq Bunge.
Tak ada lagi perbincangan lagi di antara mereka. Lima Selaq itu berjalan tanpa tujuan pasti menjauhi istana yang bersembunyi di balik kabut yang tebal dan dingin.
“Brrrrrrfff!!!”
Sekelebat bayangan melayang ringan di atas kepala mereka. Sosok itu segera membungkuk hormat. Lalu menyerahkan gulungan kertas.
“Dari siapa?” tanya Selaq Bunge.
“Bacalah tuan,” jawab sosok misterius berpakaian serba gelap itu. “Saya hanya diperintahkan menyerahkan ini dan tidak diperkenankan menjawab apapun,”
Selaq Bunge meraih gulungan kertas yang disodorkan sosok itu. Lalu membuka dan membaca isinya.
Wajah Selaq Bunge berubah cerah. Lalu berkata, “Bila kau yakin, benteng yang kokoh sekalipun bisa tembus dengan sebatang jarum,”
Kembang Tereng meraih gulungan kertas yang telah terbuka dari tangan Selaq Bunge. Sedangkan para Selaq lain ikut membaca, pesan di dalam gulungan.
Di dalam gulungan itu tertulis,
“Jaga rahasia yang kau ketahui itu. Sebagai imbalannya, kami setuju membiayai berdirinya kerajaanmu. Tiga Serangkai”
***
Malam telah memuntahkan pagi. Ketika kabut tebal terlihat malas berenang di antara lembah-lembah. Tebing bukit gunung wayang di lembah Gunung Rinjani, membeku menahan dingin.
Tangan dan kaki dengan mudah kebas. Mematikan jaringan syaraf dari ujung kaki hingga rambut. Rasanya tempat terbaik adalah berendam di telaga Selandir, sisi bawah tebing Danau Segara Anak.
Oh, tapi sebaiknya janganlah di sana.
Airnya saja sampai bergolak. Jangankan daging ayam hutan yang butuh sekali celup untuk membuatnya matang. Keris-keris berbahan baja disepuh di telaga itu.
Telaga Umar Maye yang jauh lebih ramah. Setidaknya bagi yang memiliki ilmu tenaga dalam. Atau Raden Maktal, atau Tamtanus-tamtanus. Tingkat panasnya air, semakin turun seiring telaga yang semakin ke bawah.
***
Entah apa yang dipikirkan Blokpentes dan Bolo ketika tahu-tahu sudah menggigil di salah satu tebing. Tak jauh dari pemandian sakral itu. Berawal dari kejar-kejaran Blokpentes yang kesal pada Bolo, tahu-tahu mereka sudah di tebing itu.
“Lapaaar!” pekik Bolo seperti kesurupan. Ia merangkak, layaknya biawak mencari sesuatu yang bisa dimakan di antara semak belukar.
Tapi Blokpentes bergeming. Matanya terganggu dengan cahaya terang di salah satu sisi antara puncak Rinjani dan danau segara anak.
“Cahaya apakah itu,” lirihnya. Teka-teki yang membuat matanya sulit terpejam hingga mentari terbangun dari peraduannya.