
***
“Maaf kanda. Aku benar-benar tidak mengenalimu. Aku akan mengutuk diri dalam jeratan rotan seperti dulu bila sampai mencelakimu,”
“Mengapa kau jadi angkuh?” lirih Kayunada.
“Kanda, kau jangan menghakimiku seperti ini. Prajuritku adalah tanggung jawabku. Apa yang harus aku ceritakan pada anak dan istri mereka di desa nanti, begitu mengetahui suami mereka pulang tanpa nyawa?”
Raden Sigar masih memeluk Kayunada dengan sangat erat. Melepas kerinduan yang sudah lama terpendam.
“Setelah perpisahan di pulau Raksasa, aku dan adinda Putri Indarsasih, pergi ke wilayah Sembah Ulun, Rinjani dan mulai membangun negeri di sana sesuai perintahmu. Sebuah desa aku bangun dengan nama Buaq. Besar harapanku kelak desa itu tumbuh makmur dan dipenuhi buah-buahan hasil bumi,”
Raden Sigar menghentikan sejenak ucapannya. Matanya berkaca-kaca. Setelah nafasnya lebih teratur, ia kembali melanjutkan ucapannya.
“Aku berdiri di atas gerbang itu, lalu meluapkan kemarahan atas kematian prajuritku, semata-mata karena tanggung jawab yang kau berikan agar aku membangun desa dan menjaga rakyat sebaik-baiknya,”
Kayunada yang tadinya hanya berdiri mematung, luluh. Ia mengangkat tangannya, lalu memeluk erat adik angkatnya. Melepas kerinduan yang sudah terpendam di hatinya juga.
“Adik durhaka, kau ingin aku celaka,” Tangannya lalu menampar pipi Sigar Penyalin.
“Tindak kanda. Tidak. Terkutuklah aku, Sigar Penyalin, bila berani mencelakai orang yang telah menyelamatkan hidupku,” katanya sambil melepas pelukan.
"Kanda, ayo pulang. Rumahmu di Desa Buaq. Di mana yunda Putri Mas Sari Kencana? ajak serta dia. Aku akan merawat luka-lukamu sebagai bilas dosaku pada pecahnya perang ini,"
"Maaf. Aku tak bisa ikut serta denganmu. Masih banyak yang harus aku pelajari dari Maha Guru Raden Aryadi demi tujuanku di masa yang akan datang. Desa Bunge ini juga lebih membutuhkanku. Setidaknya membantu membangun desa ini lagi setelah perang," Kayunada menolak halus permintaan Raden Sigar.
"Tidak bisakah kau ubah keputusan itu kanda?" tanya Raden Sigar.
"Jika waktunya tiba, aku akan mengunjungimu ke Sembah Ulun. Aku berharap waktu itu tiba saat kita jadi besan," ujar Kayunada mengulum senyum.
Semua yang melihat drama itu menarik nafas lega. Pelukan Raden Sigar dan Kayunada, sudah cukup sebagai isyarat perang usai di gerbang Utara.
"Pulanglah Sigar Penyalin. Bawa semua pasukanmu. Obati prajurit yang terluka. Kubur baik-baik yang telah meninggal dunia," saran Kayunada.
Air Muka Raden Sigar berubah serius. Ia mengingat sesuatu yang penting. Lalu dengan suara pelan, berujar "Maaf kanda, bukannya adinda tidak mau patuh pada perintahmu. Akan tetapi penting sekali malam ini aku bertemu dengan Kepala Desa Bunge Darwire. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padanya terkait perang ini," ujar Raden Sigar.
Tetapi wajah Kayunada tetap tidak berubah. Air mukanya tenang sekalipun Raden Sigar mengisyaratkan sesuatu yang sangat penting dan mendesak.
Ucapan Kayunada berikutnya, bahkan membuat Raden Sigar terkejut. "Aku tahu maksudmu. Pasti tentang Artha Prana,"
"Kau tahu di balik semua kekacauan ini kanda?" tanya Raden Sigar dengan wajah tegang.
"Percayalah, kami tidak bodoh. Panah beracun yang menewaskan prajuritmu, bukan kami pelakunya,”
“Beritahu aku, apa yang kau tahu kanda. Agar aku bisa mengambil keputusan yang bijak,” ujarnya masih dengan tatapan serius.
Tangan Raden Sigar menggenggam erat penyalin atau rotan pusaka. Matanya memincing menyiratkan amarah. Geraham berderit, seakan ingin ******* daging Artha Prana.
Hatinya panas. Mengingat bagaimana Artha Prana pandai memutar kata dan mempermalukan ia dan Raden Mas Panji di hadapan kepala desa lain saat pertemuan di Paseban Agung.
“Aku dan kakanda Raden Mas Panji ingin membuktikan Artha Prana itu ular berbisa. Darwire, sepertinya sudah terlena pada ucapan Artha Prana. Darwire harus tahu, bahwa Artha Prana berniat merebut desa ini. Dia juga harus tahu, Selaq yang berasal dari desa kami, dihasut oleh Artha Prana, semua kebenaran ini harus didengarnya!” tegasnya.
Kayunada menjamah pundak Raden Sigar yang turun naik oleh nafas memburu dengan cepat. Menenangkan hatinya agar tidak larut dalam pekatnya amarah.
“Mengapa kanda menyebut ini bukan waktu yang tepat? Gampang saja, kita tangkap salah satu dari pasukan Artha Prana dan paksa ia mengakui niat busuk kepala desanya. Paksa mengakui bahwa, tadinya mereka akan menyerang desa Bunge yang porak-poranda akibat pemberontakan para Selaq, tapi mengubah rencana setelah mengetahui Desa Tunggak dan Desa Buaq mengirim bala bantuan!” suara Raden Sigar meninggi.
“Bisakah kau mendengar penjelasanku sampai selesai?” Kayunada meminta Raden Sigar menahan rasa gusarnya.
“Maaf kanda, aku terbawa perasaan,” suara Raden Sigar kembali merendah.
Setelah menghela nafas dan melihat Raden Sigar lebih tenang, Kayunada menjelaskan suatu yang penting.
“Sigar Penyalin, situasi desa Bunge saat ini sangat rapuh. Jika pasukanmu masih ada di sekitar sini, itu akan jadi alasan Artha Prana mengirim Pasukan Perdamaian,"
"Pasukan Perdamaian?" dahi Raden Sigar terangkat.
"Kau tahu bukan?" tanya Kayunada kemudian.
"Tentu saja. Pasukan Perdamaian adalah aturan yang dibuat dalam Perhimpunan Kepala Desa. Sebuah desa yang dilanda konflik perang wajib membuka diri dan mau menerima Pasukan Perdamaian,” ujar Raden Sigar.
“Kau ingat siapa yang mengusulkan aturan itu?”
“Artha Prana,” gumam Raden Sigar. Dahinya kembali berkerut. Kemudian berkata, “Tapi bukankah tujuannya bagus kanda?” wajahnya menyiratkan belum paham sisi lain Pasukan Perdamaian.
“Secara narasi aturan ini terlihat bagus. Tapi seperti pisau bermata dua, bisa jadi celah masuk mendekati dan mempengaruhi penduduk desa yang mengalami konflik,” ujar Kayunada.
Ia melanjutkan, “Artha Prana sengaja membuat Pasukan Perdamaian sebagai aturan. Di balik narasinya yang bagus, aturan ini menyimpan maksud lain untuk memberi akses masuk pasukan militer dari desa lain ke desa konflik. Mereka terlihat seperti pahlawan, tapi dapat menjadi musuh dalam selimut. Jika pasukan Artha Prana bebas keluar masuk ke desa Bunge, itu akan memudahkan mereka memasukkan paham-paham perlawanan,”
"Paham-paham perlawanan?" Tanya Raden Sigar kembali.
"Mereka bisa dengan mudah mengumpulkan warga. Lalu mendoktrin mereka menggunakan paham-paham pemberontakan agar berani melawan pemerintah yang sah. Di tahap berikutnya warga akan dipersenjatai dan akhirnya seperti yang mereka inginkan, perang saudara pecah,"
Raden Sigar termangu. Ia sama sekali tidak pernah curiga aturan yang diusulkan Artha Prana itu menyimpan maksud tersembunyi.
Dulu, para kepala desa bersepakat membangun Perhimpunan Kepala Desa. Tujuan besarnya, sebagai jembatan persaudaraan semua desa di lembah gunung Rinjani.
"Sejauh itu Artha Prana merancang strategi ini," gumam Raden Sigar.
"Artha Prana bukan pemuda biasa. Ia jenius. Itulah mengapa saya sangat ingin tetap berada di desa ini,” ungkapnya.
"Lalu apa arahanmu pada kami, kanda?"
"Tarik mundur semua pasukanmu. Dengan begitu, Artha Prana tidak akan punya alasan mempertahankan pasukannya di Desa Bunge,"
"Bagaimana kalau saat kami pergi, Artha Prana menyerang Desa Bunge? Sedangkan kau tahu posisi pasukan mereka sangat dekat. Bahkan di balik tembok desa ini, pasukan Artha Prana masih bertahan?”
"Aku pikir, Artha Prana tidak akan berani melakukan itu. Ada tiga alasannya. Pertama, mereka sudah tidak punya alibi karena para Selaq mundur. Kedua, jumlah pasukan mereka berkurang cukup banyak, setelah bertempur melawan pasukanmu. Ketiga, Artha Prana masih ingin terlihat suci dan tentu tidak ingin sebagai penggagas Perhimpunan Kepala Desa malah dikeluarkan," ujar Kayunada.
“Hmm, jadi begitu. Baik kanda. Aku percaya padamu. Saat ini juga aku akan menarik semua pasukan dari Desa Bunge,"
Raden Sigar kemudian melompat ke atas tembok gerbang Utara. lalu dengan lantang berseru, "Mundur!"
***