
***
Raden Sentane dan pasukan yang tersisa selesai menyusun rencana untuk menarik monster keluar dari desa.
“Intinya cara ini memerlukan kerja sama tim,” ujarnya setengah berbisik di hadapan pasukannya.
“Siap Raden,” jawab mereka kompak.
“Sedikit saja kesalahan, taruhannya nyawaku. Jadi aku sangat tergantung pada kemampuan terbaik kalian,” imbuh Raden Sentane.
“Percayakan pada kami Raden,” salah satu di antara mereka meyakinkan Raden Sentane rencana ini dapat berjalan baik.
“Iya, aku percaya pada kalian semua,” jawab Raden Sentane datar.
Tangannya meraih pundak salah satu pasukan. Lalu menatap berputar ke semua pasukan yang mengelilinginya.
Raden Sentane menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan. Mengurangi debar jantung yang memompa darah dengan cepat ke sekujur tubuhnya.
“Mari berdoa, semoga Tuhan yang maha kuasa melindungi kita semua,” ujarnya.
Usai berdoa, mereka berpencar. Menempati posisi masing-masing sesuai rencana. Sementara Raden Sentane melompat ke hadapan monster itu.
“Bukankah kau haus darah? Kemarilah, nikmati darahku kalau kau bisa!”
Tangan Raden Sentane melambai lalu direntangkan silih berganti. Seakan meminta monster itu hadir dalam pelukannya.
“Hrrrrggghh!!!”
Monster terpancing. Hidungnya yang besar mendengus seperti banteng. Memicu angin menderu, menggoyang rumput dan ilalang di sekitarnya.
Lutut monster tertekuk mengambil ancang-ancang. Lalu sesaat kemudian, sosok warna merah itu mencelat bagai busur panah di udara menerjang Raden Sentane.
Komandan Krame Desa melompat menghindar sekuat tenaga. Tapi gerakan monster lebih cepat dan dengan mudah menjangkau kakinya.
“Wuzzhh!!”
“Zrrrekkk!!”
Tangan monster terpental ke belakang sebelum menyentuh kulit kaki Raden Sentane. Mengikuti dorongan puluhan panah api yang mengenai telapak tangannya.
Pasukan Krame Desa dan sejumlah murid perguruan Bunge yang tersisa rupanya pemanah jitu. Mereka dapat menbidik panah dengan tingkat akurasi tinggi.
“Hrrrrggghh!!!”
Monster mendengus marah. Mencari arah datangnya anak panah.
Namun baru saja bersiap melompat memburu para pemanah, Raden Sentane kembali menggodanya.
“Urusanmu belum selesai denganku. Ayo, tangkap aku, hanya itukah kemampuanmu?”
Raden Sentane memancing amarah monster. Tangannya melambai-lambai dan sekali waktu direntangkan lagi
Monster kembali terpancing, lalu melompat menbuka kuku-kuku yang tajam untuk merobek tubuh komandan Krame Desa.
“Wuzzhh!!”
“Zrrrekkk!!”
Puluhan panah api lagi-lagi menepis tangan monster yang gempal. Padahal nyaris saja leher Raden Sentane mampu disambarnya.
Sekalipun panah-panah itu tidak berhasil melukai, namun api di ujung anak panah membuat monster meringis kesakitan.
“Arrrrgghhh!!!!”
Monster itu, memekik. Memperlihatkan gigi dan taring besar nan tajam. Air liur yang kental tersembur keluar deras dari mulutnya.
Tampak dengan jelas lidahnya menggelepar haus darah.
Namun sekali lagi, ketika hendak melompat mengejar para pasukan pemanah, Raden Sentane, memancing emosi monster dengan jarak yang sangat dekat.
“Ayolah dari tadi kau hanya meraung-raung tak jelas. Tangkap aku kalau bisa!” goda Raden Sentane.
Begitulah. Raden Sentane dan para pemanah menggiring secara perlahan monster keluar menuju gerbang barat.
“Kau tetaplah makhluk yang tak bisa berpikir,” lirih Raden Sentane dengan mata awas memperhatikan setiap gerakan monster.
Kecepatan monster itu selalu berhasil diperlambat dengan panah-panah api. Alhasil, Komandan Krame Desa selalu lolos dari serangannya.
“Aaaaaa!!!”
Pasukan Krame Desa dan sejumlah murid perguruan Bunge yang menjaga Raden Sentane dengan panah tiba-tiba bertumbangan.
Situasi itu terjadi saat monster telah berhasil mendekati gerbang barat.
Dari semak belukar muncul pasukan berpakaian serba hitam. Merekalah yang merobohkan pasukan Krame Desa dan murid perguruan Bunge yang melindung Raden Sentane dengan panah beracun.
“Ra ... Raden maafkan ka ... kami,” salah satu pasukan terbata-bata sebelum akhirnya meregang nyawa.
Raden Sentane terkejut. Ia menoleh dan melihat pasukannya sudah bertumbangan.
Belum saja otaknya mencerna apa yang terjadi, monster menyergap dan mencabik-cabik tubuhnya hingga terbelah menjadi beberapa bagian!
Raden Sentane tak sempat menjerit. Kepalanya lebih dahulu terputus, disabet kuku tajam monster.
Darah bercucuran membasahi tanah. Mata Raden Sentane melotot, lalu perlahan terkatup untuk selama-lamanya.
Dan malam itu, satu lagi 'bintang jatuh' di Desa Bunge. Setelah sebelumnya Kepala Desa Lolo, Rawilih pergi ke alam keabadian.
***
Di sebuah tempat yang gelap. Sudut desa yang tak tertebak.
Empat orang tengah berlutut dengan kaki kanan di hadapan sesosok tubuh berjubah.
Mereka adalah Kepala Desa Pusuk Artha Prana yang didampingi para teliksandi atau mata-mata. Artha Prana memegang selembar kulit domba yang memuat peta Desa Bunge.
“Gerbang timur sudah berhasil kami provokasi dan kini Aryadi dan muridnya diamuk seribu pasukan tempur Desa Tunggak,” kata seorang teliksandi yang ditugasi di wilayah timur.
“Hmm,” Arta Prana mengangguk puas.
“Begitu juga gerbang Utara, pasukan Desa Buaq mengamuk setelah kami provokasi,” ujar teliksandi yang lain.
“Siapa yang memimpin di Gerbang Utara?”
“Menurut informasi dipimpin seorang pemuda, namanya Kayunada. Ia salah satu murid berprestasi di perguruan Bunge,” ujar teliksandi itu.
“Oh, menarik,” gumamnya. “Apa informasi dari gerbang barat?”
Teliksandi yang lain segera menjawab, “Gerbang Barat dijaga oleh sekitar 70 pasukan tuanku. Mereka dipimpin juga oleh salah satu murid berprestasi perguruan Bunge, Jayengrana,” jelasnya.
“Jayengrana,” gumamnya, sambil mengelus dagu dengan telunjuk kirinya.
“Benar, tuanku,” ujar teliksandi itu segera.
“Setelah pertempuran malam ini aku tugaskan pada kalian kumpulkan informasi sedetail-detailnya tentang dua pemuda itu. Silsilah keluarga, sahabat, hingga pola makan dan waktu tidur mereka. Masukan keduanya daftar Lontar Putih,” bola mata Artha Prana membulat. Senyum di wajahnya tergurat. Rona wajahnya menyiratkan siasat penuh rahasia yang sulit diungkap.
“Siap laksanakan perintah!” jawab dua teliksandi yang memantau gerbang Utara dan Barat.
“Apa laporan dari Selatan?” tanya Arta Prana pada teliksandi yang memata-matai wilayah Selatan desa Bunge.
“Sejauh ini tidak ada pergerakan seorang pun keluar masuk ataupun menuju desa Lolo, tuanku,” jelasnya.
Artha Prana mengangguk puas. “Ingat, pastikan jangan ada yang tahu kalau aku yang membunuh Rawilih. Dan yang lebih penting kabar kematiannya jangan sampai tersiar dulu ke desa Lolo, paling tidak sampai besok siang. Sebab akan menyulitkan kita menjalankan rencana B,”
“Siap tuanku, perintah akan kami jalankan sebaik-baiknya,” tegas teliksandi wilayah selatan.
“Mohon ampun tuanku, prajurit kita di perbatasan Desa Bunge menunggu perintah,” ujar teliksandi wilayah barat.
“Sesuai rencana B, bagi dua pasukan. Sekitar lima ratus pasukan geser membantu Aryadi di gerbang Timur. Lewati jalur tepian sungai ini,” ujar Artha Prana menunjuk jalur di peta kulit domba.
“Sisinya putar pasukan ke arah Utara. Bantu Kayunada melawan pasukan Desa Buaq. Lewati perkebunan warga desa Bunge. Ini jalan pintas yang paling cepat,” kata Artha Prana.
“Mengapa kita tidak lewat gerbang Barat saja tuan dan menyampaikan maksud kita membantu Desa Bunge?”
“Tidak mungkin. Aturan desa ini melarang pasukan dalam jumlah besar masuk ke wilayahnya. Kalau kita memaksa, itu dapat memicu peperangan dengan Jayengrana dan kawan-kawannya,” ujar Artha Prana.
“Baik tuanku!” para teliksandi mengangguk paham.
“Malam ini kita memang gagal merebut Desa Bunge sesuai rencana A karena Panji dan Sigar ikut campur. Tapi rencana B harus berhasil membuat Desa Pusuk menjadi pahlawan bagi Desa Bunge. Kita harus pandai mengambil keuntungan dalam kondisi seburuk apapun. Kepercayaan pimpinan Desa Bunge harus tetap dijaga pada Desa Pusuk sampai waktu tiba untuk merebut desa ini!”
Empat teliksandi Desa Pusuk, mengangguk paham. Setelah mengaturkan salam penghormatan mereka melesat ke empat penjuru desa.
***