SELAQ

SELAQ
Episode “Derai Hujan di Waktu Senja” (8)



***


“Jangan lengah, bocah manis!”


Dua boneka kayu menyergap dari arah semak belukar. Memburu lengan kanan dan kiri Jumindri yang berdiri menantang sejarak lima tombak dari tempat berdiri Ngeres Koneng.


Jumindri mengelak cepat. Sayang, gerakan boneka di bawah pengaruh roh iblis itu lebih kilat.


“Tertangkap kau!”


Ngeres Koneng cekikan girang bukan main. Mendekati Jumindri yang tak bisa berkutik di bawah kuncian dua boneka iblis.


Tapi, wajah Ngeres Koneng berubah heran. Tubuh Jumindri yang tertangkap justru terlihat tenang, tidak meronta sedikit pun.


Sebaliknya, tangan kanan dan kiri Jumindri balik mencengkeram kuat dua boneka kayu itu.


“Sialan, ini Tumban!”


Wajah Ngeres Koneng merah padam. Boneka iblisnya, terjebak kuncian Tumban.


“Lepaskan!” perintahnya pada dua bonekanya.


Tapi sekuat tenaga boneka itu meronta, cengkeraman tangan Tumban, semakin kokoh.


Ngeres Koneng melompat ke depan. Membantu dua boneka seninya lepas dari cengkeraman tangan Tumban. Tapi tendangan dan pukulan Ngeres Koneng yang telak mengenai kepala dan dada Tumban, tak ubahnya kapas yang hinggap di batu cadas.


“Kenapa paman, kok Panik?” sosok Jumindri kini muncul di tempat lain. Bocah itu berkacak pinggang tenang dengan tatapan waspada.


Ngeres Koneng gusar. Ia merasa dipermainkan bocah kemarin sore yang kencing saja belum bisa lurus.


“Aku baru saja mulai bocah!” serunya.


Ujung kuku Ngeres Koneng kembali memanjang. Menyerupai pisau-pisau kecil yang sangat tajam.


Lalu segera mencengkeram pergelangan tangan Tumban yang mengunci boneka iblisnya.


“Plak!”


Tangan Tumban patah. Begitu terjatuh ke tanah, berubah menjadi sepotong ranting. Dua boneka iblisnya akhirnya bebas.


Ngeres Koneng kemudian mencabik-cabik muka, badan, hingga kaki Tumban. Dalam sekejap tumbal itu kembali ke wujud asli sepotong ranting.


“Hebat juga. Sekecil ini telah menguasai ilmu Tumban. Tapi aku tidak heran, Darwire pasti telah mengajarimu banyak hal untuk melindungi diri. Pria bau tanah itu pasti sudah tahu, malam ini akan datang,” ujarnya.


“Ayo bocah tengik, jangan hanya bermain-main dengan Tumban. Level Tumbanmu baru tingkat satu, mudah sekali dikalahkan!”


“Kau sendiri sembunyi di balik boneka kayumu. Sini maju kalau berani,”


Harga diri Ngeres Koneng seperti diinjak-injak. Ia kemudian mundur beberapa langkah, bersiap melompat lebih jauh.


“Aku tidak pernah sembunyi. Ini boneka kayu karya seni yang ingin aku perlihatkan kemampuannya padamu!”


Lompatan Ngeres Koneng diikuti dua boneka iblis di belakangnya. Menyergap Jumindri yang bersiap menghadapi gempuran selanjutnya.


Pertempuran sengit pecah antara Jumindri dengan Ngeres Koneng. Tendangan, sepakan dan tinju, silih berganti dilayangkan.


Pada suatu ketika, cakar Ngeres Koneng berhasil mencabik lengan kiri Jumindri. Seketika itu juga darah segar mengalir dari gadis manis itu.


“Harum dan gurih sekali bau darahmu, bocah manis,”


Jumindri mengaduh kesakitan.


Kali pertama, Ia menghadapi pertempuran hidup mati. Sekalinya berperang, langsung menghadapi Selaq yang telah kesohor kesaktian dan kengeriannya.


Selama ini, Ia hanya berlatih bela diri dengan Baloq Darwire. “Ia bernafsu sekali ingin membunuhku,” gumam Jumindri di antara derai nafasnya yang turun naik dengan cepat.


“Aku sebenarnya ingin membunuhmu, lalu menyantap dagingmu dengan tambahan merica dan rempah-rempah yang banyak. Sialnya, tugasku menangkapmu hidup-hidup. Jadi sebelum aku kalap, sebaiknya kau menyerah!”


Jumindri diam sejenak. Ia menimbang dalam pikirannya.


Gerakan Ngeres Koneng sangat cepat dan bertenaga. Dada, kaki, dan lengannya nyeri, akibat tendangan dan pukulan makhluk dengan sinar kuning di keningnya itu.


Belum lagi, dua boneka kayu yang terus bergerak mendampinginya.


“Warna merah apa itu?” ujarnya kaget.


Dari arah pemukiman warga, berkas sinar merah semakin terang menyala. Ngeres Koneng cekikan tertawa riang.


“Tamat sudah Desa Bunge,”


“Maksudmu?”


“Sesuai rencana, kami akan mengambil alih desa ini dan menjadikannya sebagai bumi para Selaq. Di desa inilah kita para Selaq akan memenuhi takdir evolusi manusia yang tertunda lama,”


“Kita?, Heh kau saja. Siapa peduli dengan rencana kalian,” sungut Jumindri.


“Termasuk kau!” timpal Ngeres Koneng tajam.


“Aku?”


“Iya,”


“Baloq Darwire juga?”


“Tidak. Tapi kau, aku, Selaq Bunge, Kembang Tereng, Mopol Kesur, Ngeres Beaq, Mopol Ngeros, dan semua bangsa Selaq yang bersembunyi dalam kegelapan!”


“Kenapa harus aku?”


“Karena kau juga Bangsa Selaq!”


Jumindri termangu. Ia tidak percaya dengan apa yang diucapkan Mopol Koneng. Matanya berkunang-kunang. Pikirannya tiba-tiba menjadi sangat rumit.


***


“Darwire, sampai kapan kau akan bertahan. Aku kasihan padamu, di usia setua ini, kau harus menghadapi penderitaan yang berat,”


Selaq Bunge mencoba menunjukkan rasa belas kasihannya pada sahabat seperguruannya itu. Meskipun itu lebih terdengar di telinga Darwire seperti cibiran.


“Kau berbeda sekarang. Lebih banyak bicara. Jangan-jangan kau memang tidak berani melawanku, Tarumbie!”


Baloq Darwire menyebut nama asli Selaq Bunge. Tapi rekan seperguruannya itu malah tertawa nyaring.


“Tarumbie... Tarumbie, aku bahkan sudah lupa kalau itu namaku. Itu hanya nama masa lalu saat aku belum berevolusi menjadi Selaq. Tapi ucapanmu membangkitkan kenangan masa laluku. Sungguh aku akan merasa lebih terhormat dipanggil Selaq Bunge,”


Selaq Bunge menarik nafas panjang. Rupanya, Baloq Darwire berhasil membangkitkan kenangannya tentang masa lalunya yang kejam. Ia sampai memejamkan mata, berusaha mengusir satu-persatu lembaran masa lalu yang terbuka dalam ingatannya.


“Evolusi. Kau percaya sekali tentang evolusi?” tanya Baloq Darwire.


“Mengapa aku harus tidak percaya? Faktanya aku sekarang berhasil berevolusi menjadi Selaq. Manusia hanya masa lalu bagi kami. Sama seperti kalian yang menganggap monyet sebagai masa lalu manusia,” Selaq Bunge diam sejenak menarik nafas.


“Bukankah sebelum menjadi manusia, kalian dulunya monyet? Dan berkat monyet-monyet yang pintar dan berpikiran revolusioner mereka akhirnya berhasil memisahkan diri dan membentuk bangsa manusia. Inilah yang sedang kami perjuangkan sekarang. Menghadirkan bangsa yang lebih baik dari bangsa manusia yakni bangsa Selaq!”


“Aku sampai hafal rencanamu ini Tarumbie, berulang kali kau mengatakan itu padaku,” ujar Baloq Dariwire.


“Bolehkah aku meminta kau berhenti memanggilku dengan nama Tarumbie? Panggil aku Selaq Bunge, sebelum kau mati di tanganku sesaat lagi,”


“Sampai kapan kau meyakini teori sesat itu?”


“Darwire, tidaklah kau melihat ini bukan teori lagi? Lihatlah aku telah berevolusi menjadi Selaq. Berkat evolusi ini, walau umur kita sama, tapi lihat, aku jauh lebih muda darimu. Kulitku masih kencang seperti bayi yang baru lahir. Tenagaku besar seperti pemuda perkasa yang baru bangun dari tidur. Inilah bukti evolusi menjadi Selaq itu nyata! Mengapa kau menyebut ini sekadar teori?”


“Oh itu risiko evolusi, Darwire!”


“Risiko macam apa yang menyantap sesamanya hanya untuk mendapat kekuatan iblis macam itu!?”


“Lalu apa bedanya, dengan monyet yang telah berevolusi menjadi manusia? Saat masih menjadi monyet mereka hanya makan pisang. Tapi setelah menjadi manusia bukan hanya pisang, tapi isi hutan dan laut kalian kuras tanpa sisa!” sergah Selaq Bunge.


“Itulah sempitnya cara berpikirmu. Menganggap segala sesuatu harus diasosiasikan sebagai makanan yang semestinya dikuras untuk dijadikan kekuatan. Kalian terlalu memuja kekuatan dan tidak memahami arti tatanan peradaban. Alam ini memang harus dikelola manusia tetapi tentu untuk diperbaiki lagi. Kalian tidak mengerti apa itu jalan cinta dan kasih sayang yang akan melahirkan keseimbangan antara manusia dengan alam,”


“Darwire, kau pandai sekali mengolah kata. Bagaimana kau menutupi manusia perusak hutan yang menyebabkan banyak pohon terbabat, perusak lautan yang menyebabkan banyak ikan mati?”


“Tidak semua manusia seperti itu,” tepis Baloq Darwire.


“Jangan bohongi naluri manusiawi itu Darwire. Pada akhirnya kalian para manusia yang kelak mendapat kekuatan dan kekuasaan pasti akan melakukan hal yang sama. Mengeruk isi bumi ini untuk memenuhi dahaga nafsumu. Naif sekali!”


“Kau tidak akan pernah mengerti. Hatimu telah buta oleh pemujaanmu pada kekuatan dan kekuasaan,” ujar Baloq Darwire datar.


“Aku memang tidak ingin mengerti. Dan selamanya tidak mau tahu dengan kerumitan cara berpikirmu!”


Usai berkata demikian, Selaq Bunge menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Mulutnya komat-kamit merapal mantra.


Lalu secara tiba-tiba rambutnya berubah menjadi api. Kemudian turun ke muka, leher, badan, hingga akhirnya sekujur tubuhnya menyala-membara.


Baloq Darwire bersiap-siap menghadapi gempuran raja Selaq. Bibirnya komat-kamit, mengerahkan seluruh kekuatannya menggerakkan Tumban-Tumbannya menggempur Selaq Bunge.


Namun belum lagi Tumban-Tumban itu menyentuh kulit Selaq Bunge yang terbungkus api, tiba-tiba tanah lapang, berubah menjadi lautan tak bertepi. Tanpa daratan sejauh mata memandang.


Seluruh Tumban Baloq Darwire tenggelam. Usaha beberapa Tumban berenang gagal sebab seperti ada kekuatan lain yang menarik kaki Tumban tersedot ke perut bumi!


“Rupanya dia yang mencuri lontar Tumban Segare milik guru,” batin Baloq Darwire, ngeri melihat kehebatan Tumban Segare itu.


Baloq Darwire melesat terbang menghindari daratan yang berubah jadi lautan. Selaq Bunge dengan cepat melesat memburunya ke angkasa.


Dua sosok pendekar itu pun bertarung di langit di bawah cahaya Gerhana Merah yang tak kunjung selesai.


Selaq Bunge, terus melancarkan tendangan, sepakan, dan tinju ke arah Baloq Darwire. Sebisa mungkin pria sepuh itu menangkis.


Namun setiap kali tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Baloq Darwire, maka langsung melepuh terbakar!


Sekali waktu tendangan Baloq Darwire, mengujam tajam leher Selaq Bunge.


“Brak!!!”


Tendangan yang telah dilambari ilmu Batu itu, menghantam leher Selaq Bunge dengan dahsyat.


Tak ayal, tubuh Selaq Bunge terpental jauh. Tapi akibatnya, punggung kaki Baloq Darwire melepuh terbakar.


Ilmu batu adalah ilmu mengeraskan bagian tubuh yang digunakan untuk menyerang. Entah itu kaki atau tangan, akan mengeras seperti batu. Serta memiliki daya hantam yang hebat, sekeras bebatuan besar di gunung.


Selaq Bunge memegang lehernya yang nyeri bukan main. Kalau saja tadi ia tak segera melompat, maka kepalanya pasti putus.


“Pertarungan sepertinya akan semakin menyenangkan!” seru Selaq Bunge.


“Ngeres Beaq, Mopol Ngeros, dan Kembang Tereng, kalian pergi ke Desa. Hanguskan Desa Bunge sampai ke lubang-lubang semut. Dari atas sini, aku melihat sepertinya Ngeres Koneng dan Mopol Kesur telah memulai pesta api di Desa!” perintahnya.


“Darwire, akan menjadi bagianku dan tidak boleh ada yang mengganggu!” ujarnya menggeram.


Usai diperintah sang raja, tiga kasta Selaq itu bergerak menuju arah desa. Lautan yang menenggelamkan Tumban Baloq Darwire telah kembali menjadi daratan.


“Darwire, sungguh di alam baka, guru akan menyesal telah membanggakanmu melebihiku dulu!”


Tubuh Darwire bergetar hebat. Menahan nyeri dan panas di bagian yang terbakar karena bersentuhan dengan Selaq Bunge.


Tapi pria tua itu tetap berusaha bertahan. Tekadnya bulat menghadang Selaq Bunge masuk ke desa, sampai titik darah penghabisan.


Pertempuran kembali terjadi di langit. Darwire diserang dengan kecepatan tinggi. Mata Darwire tidak mampu lagi menangkap cepatnya gerakan Selaq Bunge.


Tahu-tahu tendangan telah menghantam punggung, dagu, kepala, dan perutnya dengan sangat kuat.


“Aaaaaaa!!!!” Darwire mengerang kesakitan.


Tubuhnya terpental, terjungkal, dan roboh, berkali-kali. Pria tua itu merasa pintu kematian sudah sangat dekat. Mulutnya menumpahkan darah segar yang hangat!


***


Pasukan lapis dua Krame Desa bersiap. Menunggu aba-aba dari Raden Sentane. Sedangkan pasukan lapis pertama tinggal beberapa orang saja. Mereka yang tersisa menjadi bulan-bulanan lidah Mopol Kesur yang menjijikkan!


“Mengapa kita terus bersembunyi seperti tikus di sini Raden?” geramnya dengan suara tertahan.


Seorang pasukan Krame Desa sudah tak bisa menahan amarah. Melihat seorang pasukan disiksa Mopol Kesur.


“Sabarlah, sampai waktunya tepat,”


“Raden, itu adik saya!” geramnya menyaksikan pasukan yang disiksa secara keji. Air matanya keluar antara marah, kecewa, dan sedih.


“Aku paham perasanmu ingin menyelamatkan adikmu. Tapi ini adalah perang. Jika kau ceroboh, maka semua orang yang telah berjuang sejauh ini, akan sia-sia usahanya!”


“Buuuk!”


Pasukan itu meninju batu cadas di depannya sekuat tenaga. Tak ayal tangannya berdarah!


Raden Sentane meraih tangan prajuritnya itu. “Kau tidak seharusnya meninju batu yang tak bersalah, hingga melukai tanganmu,”


“Hantamlah ini, aku ingin berbagi sakit yang kau rasakan,” kata Raden Sentane dengan tatapan tajam ke pasukannya itu.


Raden Sentane meletakkan tangan yang bercucuran darah itu ke perutnya.


Tubuh pasukan itu bergetar. Lututnya lemas. Kepalanya tersungkur persis di kaki Raden Sentane.


“Ampun Raden, maafkan aku. Aku tidak tahan melihat adikku disiksa!” suaranya tertahan antara jeritan dan tangisan.


Raden Sentane menepuk-nepuk pundak pasukannya. Berusaha menenangkan hatinya yang tersayat-sayat.


“Sesaat lagi, waktu itu akan tiba,” kata Raden Sentane.


Waktu yang dimaksud pun tiba. Kewaspadaan Mopol Kesur menurun, karena asyik mempermainkan tubuh seorang pasukan Krame Desa yang bersimbah darah.


Saat itulah, Raden Aryadi, guru besar Perguruan Bunge memberi aba-aba ke muridnya melepaskan panah api ke Mopol Kesur.


“Wus... Wus ... Wus ...” ratusan anak panah membawa api, melesat cepat menerjang kepala, usus, dan lidah Mopol Kesur.


Sadar ada serangan, Selaq itu berusaha menghindar. Tapi terlambat panah-panah api menyergapnya lebih cepat.


Tubuh pasukan Krame Desa yang terlilit lidah akhirnya terlepas. Sementara Mopol Kesur meronta kesakitan sejadi-jadinya.


Saat itulah, Raden Sentane memerintahkan pasukan lapis dua Krame Desa menyerang Selaq itu.


Dalam keadaan meronta kesakitan dan lidah terjuntai ke mana-mana, pasukan lapis dua mencoba lagi membabat lidah Mopol Kesur yang kenyal dan kebal.


“Berhasil putus!” teriak seorang pasukan.


Semangat pasukan kian membara. Diikuti pekikan pasukan lain yang juga berhasil mencincang lidah Mopol Kesur.


“Hajar terus, jangan kasih angpau! Eh ampun!” Seru pasukan yang lain lagi.


Mopol Kesur meronta kesakitan. Ia berusaha lari dari tempat itu, tapi panah api berikutnya langsung menerjang. Begitu juga pasukan lapis dua Krame Desa tidak mau memberi kesempatan Mopol Kesur kabur.