SELAQ

SELAQ
Episode "Pancalita Dimabuk Asmara" (43)



***


“Kita harus bergabung dalam organisasi,” tatapan mata Bolo serius saat mengucapkan kata-kata itu.


Blokpentes menoleh. Menatap raut wajah sahabatnya dengan saksama. Keresahan jelas terpancar dari Bolo.


“Kau takut?” lirih Blokpentes.


Bolo mengangguk lemas. Ia berharap kali ini Blokpentes mau mengikuti sarannya.


(Pembawa Cerita) ~ Sejak kepemimpinan Raden Rumasih peta politik desa Bunge berubah. Cara rezim menata keamanan desa jauh berbeda dengan rezim Baloq Darwire.


Era kepemimpinan Raden Rumasih dinamai era Gugur Mayang. Era di mana yang rapuh harus tersingkir dan yang kokohlah yang berkembang. Tak ada narasi pembelaan bagi yang lemah. Tergilas seperti sampah bila tak mampu mencari perlindungan.


Organisasi atau geng tubuh subur. Bersaing berebut pendukung. Bahkan tak jarang saling gulung. Hingga air mata dan daerah tercucur.


Jerit dan tangis warga dianggap hanya angin lalu. Mereda hanya bila sudah putus asa tak tahu lagi harus berbuat apa. Tak terhitung sudah berapa nyawa yang tumbang karena perang antar organisasi. Hanya demi pengakuan dari rezim Raden Rumasih merekalah yang terhebat!


Bila perang antar organisasi pecah, mereka menghancurkan apa saja. Tidak ada yang bisa dilakukan warga. Selain pasrah bersembunyi di balik kolong-kolong rumah. Memeluk erat istri dan anak hingga perang usai.


Dan begitu keluar, semua porak-poranda. Bahkan, tak jarang menemukan mayat yang tergeletak bersimbah darah.


Saat malam menjelang tak kalah ngeri dan menegangkan. Warga memilih tak keluar rumah sepenting apapun urusan di luar sana. Lampu buru-buru dimatikan, pintu-pintu dikunci rapat. Anak-anak disuruh tidur cepat.


Setelah itu, suara-suara menciutkan nyali mulai menghiasi kesunyian. Teriakan pilu dari nyawa yang berpisah dengan badan. Mereka orang-orang yang dituduh Selaq lalu dieksekusi pasukan Revolusi.


Pasukan Revolusi bekerja sama dengan organisasi-organisasi mencari data pada Selaq. Empat organisasi yang tumbuh besar yakni Macan, Kobra, Kala Hitam, dan Elang.


Inilah cara Raden Rumasih memburu para Selaq yang bersembunyi di antara penduduk. Sesuai isi Bebet Dese Tiga dan Empat yang telah diikrarkannya. Memberangus Selaq di desa hingga ke akar-akarnya.


Maka penduduk berlomba-lomba bergabung dengan organisasi supaya tidak dituduh Selaq. Tapi ternyata tidak semua orang bisa bergabung. Syaratnya harus mempunyai kemampuan bela diri yang mumpuni. sedangkan bagi yang tidak bisa bela diri harus menjadi penyumbang dana untuk menjadi anggota. ~


“Ratusan orang dibunuh pasukan Revolusi hanya karena dituduh Selaq. Dan aku tidak mau menjadi korban berikutnya,” lirihnya. Lalu dengan sorot mata melebar, ia bertanya pada Blokpentes. “Apa keputusanmu?”


“Dengar baik-baik, kita tidak akan menjadi anggota. Tapi kita akan jadi pimpinan organisasi,” jawab Blokpentes, percaya diri.


“Belasan kali kau katakan itu,” sungut Bolo.


“Jadi kau tidak percaya aku mampu menjadi pemimpin organisasi yang besar?” tanya Blokpentes dengan mimik jengkel.


Bolo menggeleng. Pertama kali ia mengungkapkan langsung keraguannya pada Blokpentes. Sekalipun sebenarnya perasaan itu sudah lama membuncah di dadanya.


“Beraninya meragukan kemampuanku. Kelak jika aku telah sempurna menguasai ilmu Melebu Bumi, akulah yang akan menjadi pemimpin organisasi terhebat di lembah ini!” kata Blokpentes sembari melotot.


“Kau tidak punya ilmu itu,” sahut Bolo, kepalanya tertunduk.


“Aku punya!” balas Blokpentes sengit.


“Tidak, kau tidak punya,” lirih Bolo.


“Bhuuuk!”


Blokpentes meninju perut Bolo. Pria bertubuh bulat itu meringis kesakitan. Tapi ia tak beranjak dari tempatnya duduk. Tangan kanan Blokpentes yang membulat sama sekali tak memuatnya gentar.


“Sekali lagi berani meragukan kesakitanku, tinjuku akan mengirimmu ke alam baka!” hardik Blokpentes.


“Kau memang tidak punya kemampuan apapun!” jerit Bolo. Ia kesal, Blokpentes terus saja mengesankan dirinya sakti, padahal lihat kadal saja kabur.


Bolo merapatkan kelopak mata. Berisap dipukul kedua kalinya.


Bolo terdiam. Ia tak membantah itu. Tapi ia juga tak tahu alasan Maha Guru Raden Aryadi menunjuk Blokpentes sebagai lulusan murid perguruan Bunge. Sampai ia tiba pada kesimpulan lamanya, “Ya, tapi itu keberuntungan,”


Kali ini Blokpentes yang tak bisa berkata apa-apa. Ia sepenuhnya setuju dengan perkataan Bolo. Entah apa sebabnya Maha Guru Aryadi menunjuknya sebagai lulusan terbaik. Ia sendiri merasa tidak punya kemampuan bertarung apalagi olah kanuragan.


Sialnya, predikat murid terbaik jadi beban hidupnya. Gelar itu seperti kutukan yang membuat setiap orang menaruh harapan besar padanya. Tapi begitu diminta menunjukkan kemampuan menghadapi petani saja ia tak sanggup bertarung lebih lama.


Selama di perguruan Blokpentes sudah belajar bela diri seperti murid lainnya. Tapi dalam penguasaan materi jurus, selalu kalah. Entah mengapa ia merasakan otaknya paling bebal.


Tapi soal mengkhayal, ia juaranya. Apakah karena khayalannya itu ia lantas menjadi murid terbaik? Ia yakin Maha Guru Raden Aryadi tidak seburuk itu dalam membuat penilaian. Ataukah ini cara gurunya menghukum kebodohannya? Entahlah. Itu juga belum tuntas menemukan jawabannya.


Ia sudah bicara tentang menguasai Ilmu Melebu Bumi. Padahal, kuda-kuda dasar yang menjadi prinsip dasar pertahanan fisik saja dengan mudah dikalahkan murid baru.


Sebenarnya, Ilmu Melebu Bumi yang selalu diceritakannya hanya mulut besarnya saja. Menutupi kelemahan yang tak sanggup ditutupinya. Hidupnya setelah predikat lulusan terbaik itu seperti cemoohan yang tak berkesudahan yang membuatnya lelah.


“Kau kupecat jadi anggotaku!” gusarnya menunjuk kesal ke arah Bolo.


Bolo sadar. Perkataannya melukai perasaan Blokpentes. Ia segera meminta maaf.


“Maaf, aku tak bermaksud membuatmu marah,”


“Dasar beban!” sungut Blokpentes dongkol.


Blokpentes bangkit. Melangkah pergi meninggalkan Bolo. Tapi Bolo segera mengikuti langkahnya. Sadar diikuti, ia melangkah lebih cepat. Bolo memburunya dengan langkah cepat pula. Berikutnya Blokpentes berlari sekencang-kencangnya.


“Jangan ikuti aku!” hardiknya.


Tapi Bolo tak peduli. Ia merasa tidak punya kawan lebih baik dari Blokpentes. Maka ia berlari sekuat tenaga memburu Blokpentes kemanapun.


***


Mentari berpijar dengan gagah di puncak langit. Menyebar cahaya ke seluruh lekuk bumi. Burung-burung terbang rendah. Menepi dari panas yang mendidihkan ubun-ubun.


Desa Buaq hanya bisa terkapar disengat panas. Melepuh sampai terlihat bias asap fatamorgana. Benar-benar siang yang terik. Hanya siulan atau seruling penggembala yang melunakkan sedikit panas yang membakar.


Kayunada bertandang ke kediaman Raden Sigar di desa Buaq. Dua sahabat lama itu bersua lagi setelah perang di Desa Bunge. Kayunada ingin melepas rindu yang lama bersemayam dalam pendar getar hati yang syahdu.


“Puluhan tahun aku tak bertemu denganmu Kakanda Kayunada, mengapa kau tak memberi kabar jika selama ini berada di desa Bunge?” tanya Raden Sigar Penjalin dalam perjamuan siang yang terik itu.


“Aku sebenarnya sempat mendengar namamu. Tapi sebutan Raden di depan namamu membuatku ragu, benarkah kepala desa Buaq itu adalah kau,” jawab Kayunada, kemudian meneguk secawan tuak manis yang harum.


“Warga yang memberiku gelar itu kakanda. Aku tak bisa menolak. Mereka menempatkan para pemimpin sebagai penyambung kalimat suci dari Sang Hyang Kuase,” jawab Raden Sigar. Ia pun meneguk secawan tuak manis di depannya.


“Aku tak menyalahkanmu adinda Sigar Penyalin. Kau memang pantas mendapat gelar Raden. Pernikahanmu dengan Putri Indarsasih yang merupakan keturunan raja Jawa menegaskan itu,”


(Pembawa Cerita) ~ sekadar diketahui, dalam petualangan Doyan Medaran atau Kayunada, membebaskan tiga putri di pulau Raksasa, Doyan Medaran, Sigar Penyalin, dan Tambing Muter berhasil membebaskan tiga orang putri dari tiga kerajaan. Tiga putri itu yakni Putri Mas Sari Kencana salah satu putri di Kerajaan Majapahit, Putri Indarsasih putri kerajaan di tanah Jawa, dan Ni Ketir seorang putri dari salah satu kerajaan di Madura.


Doyan Medaran kemudian menikah dengan Putri Mas Sari Kencana, Sigar Penyalin dengan Putri Indarsasih, dan Ni Ketir dengan Tambing Muter.


Ketiganya, berpisah dalam misi yang diberikan Doyan Medaran. Oleh Doyan Medaran, ia memerintahkan Sigar Penyalin membangun desa di kawasan Sembah Ulun.


Sedangkan Tambing Muter diperintahkan membangun kawasan Jero Baru (penulis belum mendapat referensi yang kokoh terkait penyebutan Jero Baru, apakah merujuk pada kawasan Jerowaru atau ada daerah lain).


Sedangkan Doyan Medaran ke kawasan Suwela, Lombok Timur. Lalu membangun sebuah Desa Selaparang, sebelum akhirnya menjadi kerajaan Selaparang.


Pada kesempatan lain penulis akan mengisahkan perjalanan Doyan Medaran, Sigar Penyalin, dan Tambing Muter. ~


***