SELAQ

SELAQ
Episode "Pemuda Ambisius" (17)



Raden Mas Panji mengayunkan gada ke segala penjuru. Menghantam ruang kosong dan memicu suara angin menderu kencang.


“Dhuarrrr!”


Gada seberat dua kuda jantan meluluhlantakkan batu besar berkeping-keping. Menghasilkan suara ledakan dahsyat yang memekakkan telinga. Sementara Ngeres Beaq kembali selamat dari senjata mengerikan itu.


Di lain kesempatan, Ngeres Beaq memburu Raden Mas Panji dengan jari-jarinya yang dipenuhi kuku panjang dan setajam pisau. Namun seakan dilapisi kulit baja, cengkeraman Ngeres Beaq selalu gagal merobek kulit Raden Mas Panji.


“Mana kekuatan yang kau bangga-banggakan?!” pekik Raden Mas Panji. “Kuku-kukumu hanya membuatku geli!”


Ngeres Beaq mulai terpojok. Ia baru tahu bila kakaknya itu memiliki kekuatan sedahsyat itu. Inilah kali pertamanya Ngeres Beaq mengadu kesaktian langsung dengan Raden Mas Panji.


Gerakan Raden Mas Panji, luwes dan lincah sekalipun berpostur raksasa. Gada seberat dua kuda jantan diayunkannya dengan mudah, serupa mengayunkan ranting pohon saja.


Sekalipun belum mengeluarkan ilmu pamungkas Ngeres Beaq berupaya menghindari terkena hantaman gada. Suara gada meraung membelah udara memicu kengerian bila sampai terkena badan.


“Bisa pecah badanku terkena gada itu,” ujar Ngeres Beaq dalam hati. Ngeri.


“Mana kehebatanmu wahai anak pangeran Jin? Gadaku tidak sabar untuk membuktikannya!” lantangnya.


Suatu ketika, Ngeres Beaq melihat kesempatan bagus. Saat itu, Raden Mas Panji baru saja membalikkan badannya usai mengayunkan gada yang kembali menerpa ruang kosong.


Ngeres Beaq dengan cepat mengubah wujud menjadi anjing tinggi besar. Lalu menerkam leher Raden Mas Panji.


Terkaman itu begitu telak. Sekalipun tidak membuat luka, tapi gigitan sekuat tenaga itu mengakibatkan leher Raden Mas Panji tercekat kesulitan bernafas.


Lambat laun, Raden Mas Panji megap-megap kehabisan nafas. Segala usahanya membuka kuncian gigi anjing selalu gagal.


“Anak iblis!” makinya di sela nafas yang tersisa.


Kesadaran Raden Mas Panji mulai hilang. Dalam keadaan serba terdesak, sekuat tenaga Ia menghantam gada ke arah lehernya, memburu kepala anjing jadi-jadian itu.


“Buuum!!!”


Raden Mas Panji berikut Anjing terpental sangat jauh. Menghantam rumah warga yang telah ditinggalkan penghuninya.


Dengan terseok Raden Mas Panji berupaya berdiri. Ngeres Beaq telah kembali ke wujud aslinya tapi dalam keadaan pingsan.


Mopol Ngeros yang tengah menghadapi Raden Sigar melompat cepat. Lalu dengan ususnya yang terburai panjang, menyambar tubuh Ngeres Beaq dari hantaman gada Raden Mas Panji sekuat tenaga.


“Dhuarrrr!!!”


Dentuman hebat kembali terjadi. Manakala gada menghempas alas rumah yang terbuat dari kayu.


Tapi sekali lagi gada gagal menamatkan riwayat Ngeres Beaq. Mopol Ngeros berhasil menarik tubuh Ngeres Beaq sebelum gada **********.


Hantaman itu menjadi tenaga terakhir yang tersisa sebelum Raden Mas Panji ikut roboh pingsan.


Melihat situasi tidak seimbang, Mopol Ngeros melesat meninggalkan arena pertarungan menyelamatkan rekannya.


“Tidak akan aku biarkan kau kabur!” pekik Raden Sigar.


Ia melompat memburu bayangan Mopol Ngeros yang berkelebat membawa Ngeres Beaq.


Sementara itu, Kembang Tereng masih bertarung melawan Raden Rumasih.


“Apa kau berencana kabur juga?” sindir Raden Rumasih pada Kembang Tereng seraya melempar senyum bernuansa hinaan.


“Kabur? Sebaiknya kau menakar pertanyaan untukmu. Tidakkah tanganmu hanya tersisa satu lagi? kau harusnya tahu siapa yang diunggulkan saat ini!” ujar Kembang Tereng enteng.


Sosok patih para Selaq itu baru mengeluarkan separo kemampuannya.


“Tangan kiriku saja, sudah cukup menamatkan riwayatmu sekarang juga,” sahut Raden Rumasih.


“Bhahaha.... Jangan ngigau Rumasih. Nada bicaramu seolah kau ada diposisiku. Ajalmu sudah dekat tapi kau masih memasang wajah angkuh. Kau tidak bisa membohongiku. Wajahmu pucat, itu sudah cukup menggambarkan kau sangat takut bertemu malaikat maut. Aku sengaja tidak menghabisimu lebih cepat, karena itu akan mengakhiri penderitaanmu pada rasa takut!”


“Bangsat!” maki Raden Rumasih.


Jauh di lubuk hatinya untuk kali pertama ia merasakan ketakutan. Sekalipun ia sudah berusaha menyembunyikannya dengan memasang tampang beringas.


“Sudahlah Rumasih. Mau kau pasang segarang apapun wajahmu, garis ketakutan bisa terlihat di wajahmu. Aku menikmati saat-saat kau tersiksa oleh bayang-bayang maut seperti saat ini, Bhahaha....”


“Ia tahu isi pikiranku,” batin Rumasih.


“Nikmatilah. Nikmati ketakutan itu Rumasih. Selama ini wajah angkuh itu selalu berhasil membenamkan rasa takutmu, bukan? Biarku tunjukkan, arti ketakutan yang sesungguhnya!”


Raden Rumasih membisu. Perkataan Kembang Tereng menelanjangi isi hatinya. Rasa percaya dirinya goyah, seiring tak ada lagi kerahasiaan yang mampu disembunyikan dalam hatinya.


“Gemetarlah tubuh yang lemah. Bergetarlah karena malaikat maut sebentar lagi menjemput. Buat apa jiwa yang rapuh itu bersembunyi terus dalam kepura-puraan? Bergetarlah, bila perlu kaburlah seumpama kecoa yang takut pada cahaya, larilah! Bhahaha....”


Ucapan Kembang Tereng seperti kalimat mantra. Menyeret keluar jiwa Raden Rumasih yang rapuh. Dan yang terjadi kemudian, kaki dan tangan Raden Rumasih benar-benar gemetaran.


“Aku ... Aku ... takut, aku takut mati,” ucapnya pelan di ujung bibir yang memucat.


Sejurus kemudian, Raden Rumasih sulit menggerakkan tubuhnya. Badannya serasa berubah jadi patung batu dengan persendian dan otot terkunci.


Kembang Tereng, melangkah mendekat. Hingga sekarang hanya sejarak satu langkah dengannya. Hanya dengan sekali tusuk maka keris Mirah Adi di tangan Kembang Tereng dapat mengakhiri hidupnya saat itu juga.


Tapi Kembang Tereng yang menjebak Raden Rumasih dalam ilusi kematian masih ingin menyiksa jiwa Raden Rumasih lebih menderita lagi.


“Kau takut Rumasih?” bisik Kembang Tereng persis di daun telinga Raden Rumasih.


“Tidak, aku tidak takut ...,” jawab Rumasih dengan bibir bergetar. Tatapannya menerawang kosong lurus ke depan.


“Lepaskan ketakutan itu Rumasih. Ia sudah terlalu lama terpenjara dalam keangkuhanmu yang keropos. Tidak ada gunanya membohongi diri sendiri kecuali menambah ketersiksaan jiwamu,”


“Zrrrreeekkk!!”


Darah segar mengalir deras. Begitu pedang di tangan kiri Raden Rumasih tertancap ke paha.


Kembang Tereng terkejut lalu melompat menjauh.


Dari tempatnya berdiri, Ia melihat usaha keras Raden Rumasih melepas ilusi kematian yang diciptakannya.


“Keras kepala dia berusaha melepaskan ilmu Samber Nyawe,” geram Kembang Tereng.


Rasa sakit akibat tebasan pedang sendiri, membuat kesadaran Raden Rumasih perlahan kembali. Ia kembali memutar pedangnya lalu untuk kedua kalinya, menusuk pahanya sendiri hingga mengenai tulang.


“Aaaaaaa!!!”


Raden Rumasih memekik kesakitan. Usahanya membuahkan hasil. Rasa sakit luar biasa akibat tusukan pedang membuatnya terbebas dari Ilusi ilmu Samber Nyawe.


“Aku masih belum selesai, Bajilah!” nafas Raden Rumasih terengah-engah. Peluhnya bercucuran di sekujur tubuhnya. Ia seperti baru terbebas dari teror kematian yang mengerikan.


“Hebat. Hebat Rumasih. Tak salah banyak yang menyebut kau lebih sakti daripada Darwire. Bahkan jiwamu yang aku ikat mampu kau lepaskan sendiri,” puji Kembang Tereng takjub.


***