
***
Ratusan Tumban mencelat bagai busur panah. Menikam mayat-mayat di bawah pengaruh kekuatan gaib ritual Agama Boro.
Daging-daging busuk dipenuhi belatung dirobek! Semakin menambah keras bau kengerian tak terbayang.
Alam Desa Bunge terkunci dalam kebisuan. Melindungi penghuni malam dari kutukan gerhana merah darah!
Mayat-mayat bertumbangan. Laksana buih yang disapu ombak besar.
“Kau memang pengguna Tumban yang hebat, Darwire,”
Selaq Bunge melontarkan pujian takjub. Tubuhnya sampai menggelinjang, puas menyaksikan teman seperguruannya itu memamerkan ilmu pamungkas warisan guru mereka.
“Lihatlah Ngeres Beaq, Itulah kehebatan Ilmu Tumban tingkat tiga,” wajah Selaq Bunge riang bukan main.
“Paduka, aku tidak mengerti,”
Ngeres Beaq bingung. Ia Tidak tahu di pihak mana rajanya itu kini berdiri. “Mengapa, paduka senang pasukanku dikalahkan?”
Selaq Bunge menoleh pelan, melempar sorot mata tajam ke arah Ngeres Beaq. Mata yang telah dilambari Senjerit -- ilmu mata -- itu membuat Ngeres Beaq tak berkutik.
“Jika saja kau yang menang, maka malam ini kau yang aku habisi!”
Tubuh Ngeres Beaq bergetar hebat. Ia terperangkap dalam ilusi yang diciptakan Selaq Bunge.
Ngeres Beaq melihat tubuhnya menggelepar menahan panas. Mengerang sejadi-jadinya menahan api dari perut bumi.
“Tidak ada yang boleh mengalahkan Darwire kecuali aku,”
Ngeres Beaq ambruk, menubruk bumi, setelah Selaq Bunge memalingkan pandangan lagi ke pertarungan di tanah lapang.
Peluh membasahi sekujur tubuhnya. Nafas tersengal. Senjerit itu lebih mengerikan dari efek yang digunakan pasukan elite tadi.
“Seperti mimpi di neraka jahanam!” batinnya.
“Lalu buat apa kami diperintah melawan Darwire?” Susah payah Ngeres Beaq bangkit dari tempatnya terjerembab.
“Aku rindu dengan guruku. Kemampuan Darwire persis sepertinya. Sayang dia mati dengan mengagumi Darwire. Bukan mengagumiku. Padahal kini aku berhasil membuka gerbang ke lima, jauh di atas kemampuannya yang gagal membuka gerbang ke empat sampai akhir hayatnya,”
Selaq Bunge, menitikkan bulir-bulir kristal yang mengkilat disaput cahaya merah dari kening Ngeres Beaq.
“Seandainya guru masih hidup, akanku buat kesakitan tujuh hari tujuh malam, tulang-tulangmu aku tarik satu persatu dari ujung kaki hingga kepala. Kau pasti kagum padaku, Aku rindu guru,”
“Sadis,” ujar Ngeres Beaq parau.
“Tapi bukankah kemenangan adalah tujuan kita?” giliran Mopol Ngeros memperjelas tujuan peperangan malam ini.
Selaq Bunge mendengus lagi. Lalu berkata,
“Menang-kalah! Kalian berdua masih terjebak pada cara berpikir manusia. Senang oleh kemenangan dan sedih oleh kekalahan,”
“Lalu apa yang kita cari?"
“Pengakuan!” tegas Selaq Bunge.
Ngeres Beaq dan Mopol Ngeros berpandangan. Sementara, Kembang Tereng tak sekalipun menyela.
“Pengakuan bahwa kita bangsa terkuat di muka bumi di jagat ini. Pengakuan bahwa Selaq adalah evolusi selanjutnya manusia, setelah dari bangsa kera. Pengakuan bahwa jalan menuju keabadian itu adalah kekuatan. Siapa yang memiliki kekuatan terbesar dialah penguasa!”
"Di desa ini Darwire yang terkuat. Membunuhnya akan mendekatkanku pada gerbang keabadian. Tapi kalau kau yang bisa mengalahkan Darwire, maka tangga keabadian itu adalah membunuhmu!” tegas Selaq Bunge..
Ngeres Beaq mundur beberapa langkah, mengurungkan niat menjadikan pria sepuh itu persembahan, untuk agama Boro. Kini ia sadar, pria sepuh itu tidak mungkin dikalahkan.
Baloq Darwire disebut sebagai 'tangga keabadian’. Itu berarti, Ia satu dari tujuh manusia yang harus dibunuh sesuai petunjuk dalam Naskah Duntan Bireng.
“Bangsa manusia, menuding kita para Selaq kelompok tersesat. Ketahuilah, mereka yang berkata seperti itu seperti kera bodoh yang tak bisa melepas rantai, walaupun kunci diberikan padanya,”
“Kau tahu artinya Darwire?”
Selaq Bunge memekik melempar suara ke arah seberang di mana Darwire masih berdiri tegar.
“Selaq adalah Ideologi pembebasan menuju kekuatan sesungguhnya. Inilah kunci menuju keabadian. Ajaran manusia tentang surga dan neraka hanya belenggu yang membuat kalian tidak bisa ke mana-mana!”
“Selaq Bunge,” suara Baloq Darwire parau, kepalanya menunduk.
Apa kau sudah menyadarinya?” timpal Selaq Bunge.
“Kau terlalu banyak bicara. Aku bosan!” sahut Baloq Darwire.
Setelah berkata begitu, ratusan Tumban dikerahkan menyergap Selaq Bunge. Secepat kilat!
“Wusss!”
***
“Apa?” sahut yang lain.
“Gerhana merah itu, kok gak selesai-selesai. Begitu juga dengan malam ini, seharusnya, sudah siang. Tapi kok malam terus ya?”
“Iya, aku juga merasa begitu. Perkiraanku sekarang siang menjelang sore. Ada yang aneh dengan malam dan gerhana yang tak kunjung selesai,” sahut warga lain.
“Duh Sang Hyang Kuasa, petaka apa menimpa desa ini?” ujar warga lain dengan wajah tak kalah panik.
Warga membawa keluarga dan bekal masing-masing. Bergerak dengan langkah cepat menuju alun-alun.
“Ayo bapak ibu jangan banyak bicara, semua fokus bergerak. Waktu kita tidak banyak,” seru salah seorang anggota Krame Desa, memberi penjagaan dengan sebilah pedang panjang.
“Bagaimana kau tahu sekarang sudah siang atau menjelang sore?” tanya yang lain penasaran.
“Apa kau tidak merasa, malam ini sangat panjang, udara juga harusnya basah bila malam hari. Tapi coba rasakan, kering seperti siang hari. Lagipula perutku tidak pernah bohong, rasa lapar ini tanda waktunya makan siang,”
Pasukan Krame Desa di bawah pimpinan Raden Sentane telah mulai melakukan evakuasi.
Setelah dikumpulkan di alun-alun, warga dibagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok dijaga 10 pasukan Krame Desa.
“Pembagian kelompok ini untuk memudahkan penjagaan,” seru Raden Sentane.
Usai pembagian kelompok, warga mulai bergerak menuju lorong rahasia ke Desa Akah.
Tampak di antara mereka seorang ibu yang terus menangis. Dia adalah Ibu Kerimasih yang anaknya diculik para Selaq.
“Izinkan saya tinggal di sini, menunggu anak saya pulang,”
“Percayakan pada pasukan keamanan desa,” bujuk salah satu anggota Krame Desa.
“Nanti kalau Serinah kembali, dia tidak akan menemukan sesiapapun di sini,”
“Ibu dengarkan saya,” Raden Sentane mendekat.
“Saya tidak mau pergi Raden, saya mau menunggu di sini saja,” tangisnya getir.
“Maukah kau menolong anakmu?”
"Bagaimana caranya Raden, matipun aku bersedia asal anakku selamat," ujarnya.
“Jika ingin anakmu selamat, maka tim penyelamat harus fokus bekerja menyelamatkannya. Kalau ibu tetap diam di sini, maka konsentrasi tim penyelamat akan terbagi dua, tahu artinya?”
Ibu Kerimasih menggeleng pelan.
“Kalau Anda tetap di sini, itu sama artinya Anda akan mengurangi setengah peluang keselamatan anakmu. Itu karena perhatian pasukan penyelamat terbagi menjadi dua, separo untuk ibu dan separo untuk anakmu,”
Wanita tua itu termenung. Sampai akhirnya ia bangkit, kemudian ikut berjalan dalam rombongan pengungsi yang bergerak meninggalkan desa.
“Raden, selamatkan anak saya,” mohonnya lagi, lalu melangkah pergi.
***
Jumindri mengelak ringan. Serangan kilat Ngeres Koneng dihindari dengan enteng.
“Setiap kali menghadapi bahaya, tenanglah. Jangan sampai marah, sebab amarahmu dapat sangat berbahaya,”
Pesan Baloq Darwire begitu kuat tertambat di ingatan Jumindri.
Ngeres Koneng ngos-ngosan. Nafasnya berpacu dengan detak jantung yang berdegup kencang.
“Ka... Katakan kau siapa bocah. Mengapa tubuhmu ringan sekali?”
“Kata Baloq Darwire, kalau mau berkenalan, sebutkan nama diri sendiri dulu terlebih dahulu,”
“Aku Ngeres Koneng, warga dari Desa Tunggak, kalau kau siapa?”
“Desa Tunggak?”
“Iya,"
“Buat apa, warga desa lain malam-malam ke desa kami?” tanya Jumindri penasaran.
“Bocah. Belum lama tadi kau bercerita tentang Kepala Desamu yang mengajarkan Tata Krama pada orang tua. Sebutkan dulu siapa namamu?”
“Aku Jumindri,”
Mopol Koneng terbelalak kaget. Dia hampir tidak percaya dengan pengakuan bocah itu.
“Yang dicari rupanya di sini,” batinnya, bersiap menyergap. Kali ini tanpa sepengetahuan Jumindri, boneka pahatan dari kayu yang telah diisi ruh gaib, menyelinap melalui semak belukar.