SELAQ

SELAQ
Episode "Pemuda Ambisius" (15)



“Darwire, kau harus mengucapkan terima kasih secara khusus padaku. Baru saja aku memperlihatkan energi masa mudaku,” sahut Kertaji, tanpa menoleh.


Tatapannya mewaspadai Selaq Bunge yang masih melayang di depan.


“Iya terima kasih sahabat,”


“Jangan panggil aku sahabat, panggil aku rival,” celetuknya.


Baloq Darwire mengulum senyum. Memperhatikan pria berbalut kain hitam mirip mumi itu dari belakang.


“Setua ini aku sudah tidak punya tenaga untuk menjadi rivalmu seperti dulu,” ujar Baloq Darwire.


“Cepatlah sebut aku rival. Itu akan membuat energi masa mudaku meledak,”


Baloq Darwire sekali lagi melihat Kertaji dari belakang. Kepala Desa Daun itu kini telah bersiap dengan kuda-kuda menyerang Selaq Bunge.


“Baiklah. Rival,” sahut Baloq Darwire.


“Cukup,” tubuh Kertaji tiba-tiba menegang. Lalu dengan sekuat tenaga berteriak. “Aku ingin meledaaaaaak!” pekiknya.


Namun itu bukan pekikan biasa. Melainkan telah dilambari ilmu “Surak Siu”.


Pekikan Kertaji membuat Selaq Bunge terpental cukup jauh di udara. Kalau saja ia tidak segera menutup telinganya kuat-kuat maka gedang telinganya pasti telah pecah.


Selaq Bunge kaget bukan kepalang dengan kesaktian Kertaji. Telinganya sampai mengeluarkan darah akibat dahsyatnya ilmu “Surak Siu”.


“Pantas Ia bisa menghalau ilmu Tijuh Melekat,” ujarnya terpukau.


“Aku baru tahu ada orang yang memiliki ilmu seperti ini. Pantas saja Ia dijuluki kepala desa dengan kemampuan paling misterius. Ternyata ia menyimpan kesakitan yang tak terduga. Aku harus waspada, jangan-jangan ia masih memiliki ilmu pamungkas yang belum siap aku hadapi,”


“Waaaaaa!!!!”


Kertaji kembali memekik dengan kekuatan penuh. Memicu gelombang suara yang kasar. Bersamaan dengan itu muncul angin menderu membentuk tornado.


Selaq Bunge, terpental jauh. Tangannya dengan rapat menutup telinga dan mata. Dahsyatnya pekikan Kertaji tidak hanya membuat Selaq Bunge keluar darah dari telinga. Tapi juga membuat jantung, hati, dan organ di dalam tubuhnya ikut bergetar nyeri.


“Bangsat, ilmu macam apa ini!” makinya marah.


***


Monster merah mengamuk menghancurkan apa saja di depannya. Rumah, pohon, pagar, semua dibuat rata!


Pasukan panik berhamburan ke segala arah. Berlari menyelamatkan diri masing-masing.


Saat kepanikan luar biasa itu terjadi, dua sosok berkelebat ringan mendekati monster.


“Jadi ini bentuk perubahan gadis itu?” ujar Kepala Desa Lolo Rawilih.


Di samping Rawilih, berdiri Kepala Desa Pusuk Artha Prana.


“Apa rencanamu Artha Prana?”


“Tetaplah waspada. Ia dapat menyerang siapapun,” sahut Artha Prana.


“Apakah tuan-tuan ada yang tahu bagaimana cara mengembalikan gadis ini ke wujud manusia?” seru Rawilih.


Tidak ada yang menyahut. Sampai Raden Sentane datang mendekat.


“Paman Darwire pernah bilang, Jumindri hanya dapat kembali bila boneka kayu ini dipegangnya,”


“Kalau begitu lemparkan saja,” ujar Rawilih.


“Tidak semudah itu. Boneka ini harus dipegangnya,” jawab Raden Sentane.


“Artinya?” tanya Rawilih kembali.


“Kita harus memaksanya memegang boneka ini,” jelas Raden Sentane.


“Artha Prana, apa rencanamu. Sedari tadi kau hanya diam,” kali ini Rawilih melemparkan pertanyaan ke Artha Prana yang berdiri menyilangkan tangan di depan dada.


“Bukankah sudah jelas, kita harus memaksa monster itu memegang bonekanya?” kata Arta Prana datar.


“Kalau begitu bantu aku,”


Artha Prana hanya mengangguk pelan. Rawilih dan Raden Sentane kemudian melompat menyergap. Tapi belum saja mampu menyentuh, monster itu mengibaskan tangannya hingga membuat keduanya terpental jauh.


“Gila, kuat sekali!” cetus Rawilih.


Rawilih lantas menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Mulutnya komat-kamit merapal mantra.


Sesaat kemudian, tanah tempat monster itu berdiri berubah menjadi rawa lumpur dan dengan cepat menghisap monster hingga sedada.


Raden Sentane buru-buru melompat. Seutas rantai dikeluarkan dari balik jubahnya. Lalu dengan gerakan cepat dililitkan ke monster.


“Sekarang!” Seru Raden Sentane dan Rawilih hampir bersamaan.


“Cepatlah, aku sudah tidak tahan!” pekik Raden Sentane.


Tapi baru saja Arta Prana hendak menaruh boneka kayu di tangan monster yang terbuka, rantai baja itu retak dan putus oleh amukan monster.


“Anda terlalu lambat tuan!” Raden Sentane kecewa pada Artha Prana.


“Maaf, bagaimana kalau kita coba ulangi lagi?” ujar Artha Prana.


“Cara yang sama tidak akan berhasil. Kita harus buat rencana lain,” sahut Rawilih.


Nafasnya terengah-engah. Ia perlu waktu memulihkan tenaga lagi untuk bisa menggunakan ilmu Serep Irek sekali lagi.


“Kita coba lagi tuan-tuan,” sahut Raden Sentane.


“Kali ini jangan sampai telat Artha Prana,” pekik Rawilih.


Sekali lagi Rawilih menangkupkan tangannya di depan dada. Mulutnya komat-kamit membaca mantra. Lalu tanah di bawah kaki monster kembali berubah menjadi rawa lumpur.


Monster itu dengan tangkas melompat menghindari jebakan lumpur rawa.


“Kena kau!” pekik Raden Sentane.


Di saat yang sama puluhan pasukan telah membentangkan jaring di atas kepala monster yang melayang.


Tapi Monster itu mengamuk. Menyemburkan api dari mulutnya. Membakar jaring besi hingga meleleh.


Belum saja semburan api padam, sesosok bayangan tiba-tiba muncul dari balik gumpalan api dan asap. Berkelebat ringan, menjerat sekujur tubuh monster. Untuk kedua, kalinya monster itu kembali masuk perangkap, tapi kali ini dengan jumlah rantai baja yang berlapis-lapis.


Saat itulah Artha Prana maju membawa boneka kayu. Namu Artha Prana tiba-tiba mengeluarkan pedang besar dari balik jubahnya. Lalu membuat gerakan yang membuat siapapun yang ada di tempat itu tercengang.


 “Zreeeng!!!”


Rantai baja yang mengikat monster terlepas.


“Apa yang kau lakukan?” Rawilih menatap tajam ke Artha Prana.


Tak ada jawaban dari Artha Prana. Tatapannya yang dingin diarahkan bergantian ke Rawilih dan Raden Sentane.


“Habisi mereka,” kata Artha Prana datar.


Seketika itu juga belasan pasukan elite Desa Pusuk menyerbu ke arah pasukan Krame Desa dan sebagian lain menyerang Raden Rumasih dan Rawilih.


“Penghianat!” pekik Rawilih.


Ia mencabut keris pusakanya dan segera memerintahkan juga pasukan elite-nya bertarung melawan pasukan elite Artha Prana.


“Akhirnya, kau tunjukkan juga belangmu!” pekik Rawilih. Ia melompat menyerang Artha Prana yang masih berdiri dengan tatapan dingin.


***


Guru Besar Perguruan Desa Bunge, Raden Aryadi mendapat laporan dari pimpinan para teliksandi. Bahwasanya terpantau pergerakan pasukan dalam jumlah besar menuju Desa Bunge.


"Berapa jumlah mereka?"


"Menurut teliksandi di wilayah Barat, Perkiraan jumlah mereka sekitar seribu Maha Guru," jawab teliksandi itu.


"Dari mana?"


"Mereka mengenakan pakaian serba hitam. Sulit mengetahui dari mana asalnya,"


"Tidak adakah ciri-ciri khusus yang mereka kenakan?" tanya Raden Aryadi lagi.


"Mohon ampun Maha Guru, teliksandi yang lain masih mencari informasi yang bisa digunakan sebagai petunjuk,"


Raden Aryadi kemudian memberi perintah, "Terus pantau mereka dan laporkan setiap perkembangan,"


"Laporan juga datang dari teliksandi di wilayah Utara dan Timur, bahwa ada pergerakan pasukan dalam jumlah besar dari dua arah itu,"


"Apa mereka juga belum diketahui dari mana asalnya?"


"Sudah diketahui. Mereka berasal dari Desa Buaq dan Desa Tunggak,"


"Berapa jumlah mereka?"


"Perkiraan lebih dari seribu pasukan," jawab pimpinan teliksandi itu.


"Hhmm... Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Darwire meminta bantuan pasukan penuh? Seharusnya hal ini dibahas dengan dewan tetua desa," gumamnya sendiri.


"Saya minta empat kelompok bergerak cepat menuju empat penjuru gerbang Desa. Ingatkan para penjaga gerbang, jangan sampai ada yang masuk sebelum mendapat perintah dari Kepala Desa. Kalau ada yang memaksa habisi saja!" tegasnya.


***