SELAQ

SELAQ
Episode "Pemuda Ambisius" (14)



Sebenarnya pasukan pertahanan dan para murid Perguruan Desa Bunge dapat mengimbangi gempuran ribuan zombie. Mereka terlatih menghadapi banyak musuh sekaligus.


Namun kombinasi serangan ular, kalajengking, dan lipan api, ditambah zombie yang terus bergerak menyerbu tanpa putus-putus membuat pasukan pertahanan keteteran. Banyak yang akhirnya jatuh bergelimpangan, karena entah bagaimana, binatang berbisa itu sudah menggigit leher, keluar dari telinga, hidung, dan mulut mereka.


“Siganse mule-mule sere ning gangse!”


Suara lantang berseru dari arah tak jauh dari area pertempuran. Suara itu memerintah ribuan binatang berbisa berhenti menyerang.


Benar saja, ular, kalajengking, dan lipan api tak lagi menyerang. Semuanya tunduk pada pemilik suara, layaknya tunduknya rakyat pada rajanya.


Mopol Ngeros kaget. Ia mencari arah suara dan mendapati sosok yang sangat dikenalinya.


“Sigar!” geramnya.


Berikutnya suara lantang tak kalah menggelegar kembali terdengar. Dan menghentikan ribuan zombie menyerang.


“Mayit Alle aran kamu!”


“Kurang ajar, ini pasti perbuatan Panji!” geram Ngeres Beaq.


Tebakannya tidak salah. Raden Sigar memang muncul dengan Raden Mas Panji.


“Tadinya aku sangat marah saat Darwire menyebut ada warga Desa Tunggak ikut campur dalam pemberontakan ini. Susah payah aku menjaga harkat dan kehormatan desa dari perbuatan hina mencampuri urusan desa lain. Tapi kini aku harus dibuat malu oleh seorang pemuda goblok yang merasa dirinya hebat. Dan lebih memalukannya lagi Ia adalah adik kandungku sendiri! Kau tidak mampu menjaga kehormatan keluarga!”


Suara Raden Mas Panji menggelegar.


“Wahai Raden Mas Surya, malam ini juga aku Raden Mas Panji keturunan dari yang mulia Ibunda Ratu Daranjani, memutuskan hubungan darah denganmu!” pekiknya. “Malam ini juga tamat riwayatmu!”


Ngeres Beaq tak langsung menjawab. Nafasnya berubah tak beraturan menahan amarah.


Sorot matanya tajam menatap Raden Mas Panji yang ternyata kakak kandungnya.


Barulah setelah menguasai emosinya, Ngeres Beaq berujar lantang “Akulah yang sebenarnya berhak menjadi kepala Desa Tunggak. Bukan kau!”


Raden Mas Panji, tak menjawab. Amarahnya membakar ubun-ubunnya karena malu dan kecewa.


“Kau bukan keturunan ibunda Ratu Daranjani. Kau hanya keturunan Daranjani. Akulah yang keturunan Sang Ratu. Jangan sembunyikan fakta kalau kau lahir sebelum ibunda mempelajari Lontar Betaljemur Bireng. Tapi aku lahir setelah ibunda menguasai Lontar Betaljemur Bireng dan menikah dengan pangeran dari bangsa Jin!” seru Ngeres Beaq dengan suara tinggi.


“Bagiku tak ada bedanya Ibunda sebelum dan sesudah mempelajari lontar Betaljemur Bireng,” sahut Raden Mas Panji.


“Jelas beda. Di darahku mengalir darah bangsa Selaq. Kekuatan Selaq. Ilmu Selaq. Sedangkan kau tidak mewarisi apapun. Kau mendapat gelar Raden karena Ibunda menikah dengan pangeran dari bangsa manusia. Sementara aku mendapat gelar Raden, karena lahir dari pernikahan Ibunda dengan pangeran bangsa Jin. Kau dan aku bagai langit dan bumi. Kau terlahir saat ibu masih menjadi manusia. Sedangkan aku terlahir setelah ibunda berevolusi menjadi Selaq! Apa kau mau disamakan dengan anak yang terlahir dari monyet? Aku pun sama, tidak sudi disamakan dengan anak yang terlahir dari manusia. Derajatku lebih tinggi! Kastaku lebih mulia!” Seru Ngeres Beaq bertubi-tubi menumpahkan kekesalannya.


“Kau tersesat dalam pemikiran Surya,” kata Raden Mas Panji. Suaranya kini terdengar datar.


“Siapa yang tersesat kau atau aku? Siapa yang licik, kau atau aku? Kau cekoki aku dengan pelajaran agama, mengiming-imingiku sejak kecil kelak aku akan jadi tokoh agama, panutan desa, menjadi resi yang diagungkan. Padahal itu cara licikmu menjauhkanku dari lingkaran kekuasaan. Kau tahu akulah sebenarnya yang akan menjadi putra mahkota di desa Tunggak. Tapi kau mau keluargamu yang menguasai kekuasaan dan menikmati segala fasilitas kemewahan desa!” seru Ngeres Beaq sengit.


Setelah mengatur nafas, Ngeres Beaq melanjutkan kata-katanya, “Asal kau tahu, aku telah meninggalkan agama yang kau tanamkan sebagai racun dalam pikiranku. Dan sekarang aku membawa agama baru, agama Boro yang diturunkan Dewa Belate. Agama yang nanti menjadi penuntun bangsa Selaq ke peradabannya yang tinggi!”.


“Kau salah mengira, aku memang menginginkan kau menjadi panutan agama Budi, karena ...”


Belum usai Raden Mas Panji berkata, Ngeres Beaq langsung memotong.


“Jangan usik tentang kehidupan ayahku!” suara Raden Mas Panji, meninggi.


“Apa perlu aku katakan sekali lagi? Ayahmu pangeran yang terbuang dari istana. Majulah, biar kita buktikan siapa sebenarnya yang berhak menyandang keturunan ibunda Ratu Daranjani,”


Tanpa berpikir panjang Raden Mas Panji melesat menyerang Ngeros Beaq. Diikuti Raden Sigar yang menerjang Mopol Ngeros.


“Berarti kau adalah bagianku,” ujar Kembang Tereng pada Raden Rumasih.


Komandan Petahanan Desa itu tak menggubris. Dia tetap berdiri di tempatnya menunggu Kembang Tereng menyerang lebih dahulu.


“Mari kita mulai lagi!” pekik Kembang Tereng.


Gerakannya cepat melesat ke arah Raden Rumasih.


Pertempuran hebat dengan ilmu kanuragan tinggi kembali pecah. Raden Rumasih menghadapi Kembang Tereng, Raden Mas Panji melawan Ngeres Beaq, dan Raden Sigar bertarung melawan Mopol Ngeros.


Sementara pasukan yang tersisa beberapa puluh orang saja memilih menyingkir. Menyaksikan dari jauh para kesatria dengan kemampuan di atas rata-rata itu mengadu kesaktian.


***


Campuran air panas dan cuka dibungkus plasma berukuran mili, melesat turun bagai hujan menuju Desa Bunge.


Ilmu Tijuh Melekat dalam hitungan detik lagi, akan membuat rata Desa Bunge dengan ledakan super masif tanpa api.


Sementara Baloq Darwire hanya bisa membungkuk pasrah dengan air mata mengalir di kerutan wajahnya.


Dipandanginya baik-baik desa Bunge terakhir kali sebelum rata lenyap dalam sekejap.


“Wusssshh!!!”


Angin topan bertiup dahsyat. Menyapu bulir-bulir bom air, sebelum menyentuh apapun di atas Desa Bunge.


Dan, ....


“Dhuarrrrrr!”


Bom air meledak masif di luar Desa Bunge. Menghasilkan guncangan hebat seperti gempa bumi.


Dua bayangan berkelebat ke langit. Satu mendekati Baloq Darwire yang masih bersimpuh. Satu lagi, berdiri berkacak pinggang di hadapan Selaq Bunge.


“Untung tepat waktu,” Kata sosok yang berdiri di depan Selaq Bunge. Dia adalah Kepala Desa Daun, Kertaji. “Bagaimana, aku sudah terlihat keren?”


Kertaji meminta pendapat ke pria di samping Baloq Darwire yang ternyata Kepala Desa Akah, Nursiwan.


“Lumayan,” sahut Nursiwan datar.


“Terima kasih, sudah datang tepat waktu,” ujar Baloq Darwire.


“Saatnya Anda istirahat. Biar kami yang hadapi Selaq Bunge,” ujar Nursiwan.