SELAQ

SELAQ
Episode "Pengadilan untuk Baloq Darwire" (28)



***


Artha Prana berdiri sejarak tiga tombak dari tempat Baloq Darwire berbaring. Tatapannya dingin dengan separuh wajah tenggelam di balik kerah jubah hitam.


“Kabar apa?,” ujar Nursiwan datar menanggapi ucapan Artha Prana.


Sejujurnya ia tidak suka dengan polah kepala desa muda itu. Apa beratnya, Artha Prana ikut bersimpuh di samping Baloq Darwire sebelum membuka percakapan dan menceritakan informasi apa yang diketahuinya.


Tapi Nursiwan merasa, saat itu bukan waktu yang tepat bicara tentang adab. Sekalipun dari jabatan sama-sama menyandang status kepala desa.


Artha Prana memejamkan mata. Tangan kirinya terjulur menyibak jubah hitamnya. Lalu, Pemuda 25 tahun itu mengulangi lagi kebiasaan mengelus dagu dengan telunjuk dan ibu jari.


Barulah dengan nada datar ia berujar, “Kabar baiknya, Jumindri sudah kembali ke wujud manusia,”


Baloq Darwire menarik nafas lega. Begitu juga Nursiwan yang langsung tersenyum sambil memandang Baloq Darwire. Pilihnya Jumindri menandai usainya prahara dan segala kekacauan di desa Bunge.


Mereka tidak perlu berusaha payah memikirkan cara mengendalikan monster merah itu.


“Lalu apa kabar buruknya?” tanya Nursiwan, tak sabaran.


Arya Prana melirik ke arah Baloq Darwire. Matanya berkilat menyimpan siasat. Namun Kepala Desa Bunge itu tak menyadari sorotan misterius itu. Kondisi yang masih lemah menyulitkan Baloq Darwire menangkap maksud di balik wajah Artha Prana yang dingin.


“Sekitar seribu pasukan tempur Desa Tunggak menyerang pasukan pertahanan di gerbang timur. Begitu juga seribuan prajurit tempur Desa Buaq menyerbu gerbang Utara,”


Nursiwan dan Kertaji saling berpandangan kaget. Sementara Baloq Darwire terlihat menatap kosong.


Baloq Selasih yang bersimpuh di sampingnya mengelus dada Baloq Darwire agar segera dapat mengendalikan perasaanya.


“Duh, Sang Hyang Jagad, masalah apa lagi ini?” lirih Nursiwan. “Bicaralah sesuatu Kertaji, jangan hanya diam saja. Apa yang terjadi, mengapa Panji dan Sigar malah menyerbu gerbang Desa Bunge?”


Sebenarnya pertanyaan itu diarahkan Nursiwan pada Artha Prana. Tapi kepala Desa Pusuk itu belum juga mau duduk membuatnya dongkol bukan main.


Kertaji menoleh. “Apa wajahku terlihat mengetahui banyak hal? Bahkan aku bingung mau berkata apa sekarang,” ujar kepala Desa Daun itu.


Nursiwan balik memandang wajah Kertaji yang tertutup kain hitam. Hanya mata kanannya yang terlihat kejap-kejap. “Yang satu berdiri tanpa adab, satu lagi tidak jelas wajahnya seperti apa,” keluh Nursiwan dalam hati.


Wajahnya berkerut masam. Lalu dengan kasar menghembuskan nafas. “Huh!”


“Dan satu lagi,” ujar Artha Prana memecah kebuntuan pikiran mereka. “Rawilih dan  Sentane gugur di medan laga,”


Baloq Darwire, Nursiwan, dan Kertaji membeku. Tubuh mereka seperti tersihir dan berubah menjadi patung kayu.


Kematian Kepala Krame Desa itu cukup membuat kepala mereka pusing. Tapi Artha Prana juga menyebut kepala desa Lolo, Rawilih juga gugur berkalang tanah. Kutukan macam apa sebenarnya yang tengah menimpa Desa Bunge?


“Apa masih ada kabar buruk yang lain?” ujar Baloq Darwire dengan bibir bergetar. Mulutnya yang telah lusuh membuat getaran semakin jelas terlihat.


Jantungnya berdegup kencang. Ia ingin bangkit, tapi tubuh yang lemah memasungnya di pembaringan. 


Artha Prana tak menjawab. Ia menundukkan kepala, membenamkan separo wajahnya di balik kerah jubah hitam. Lalu menutup mata pelan.


Tak ada yang sadar, Artha Prana tengah menyembunyikan senyum tipis.


“Apa langkah kita selanjutnya?” tanya Nursiwan pada Kertaji.


“Otakku masih belum bisa berpikir jernih,” jawab Kepala Desa Daun itu datar. “Apa sebenarnya rencana Panji dan Sigar? mengapa Sigar membantu kita melawan para Selaq kalau memang mau menyerbu Desa Bunge? Itu semua, tidak tuntas aku temukan jawabannya,”


"Memang ada yang mengganjal. Sigar di pertarungan terakhir datang membantu kita mengusir para Selaq," Nursiwan merenung. Sebelum melanjutkan lagi ucapannya. "Tapi setelah itu Sigar pergi dengan alasan Panji pingsan dan harus ditolongnya. Apa mungkin setelah itu ia mengatur siasat gempuran ke desa Bunge?


"Jangan berandai-andai, sesuatu yang belum jelas buktinya," Kertaji memperingatkan Nursiwan.


Suasana di balai desa kembali hening. Mereka sibuk dengan alam pikiran masing-masing. Mencari strategi apa membendung gempuran dari desa Tungga dan Buaq.


Sampai Artha Prana memecah keheningan lagi. “Ada dua orang yang memiliki hak veto di Perhimpunan Kepala Desa. Aku dan Darwire,”


Mereka menoleh bersamaan memandangi Artha Prana yang belum bergeming dari tempatnya berdiri.


“Apa rencanamu?” tanya Nursiwan.


Nursiwan menoleh menatap Baloq Darwire. Kepala Desa Bunge itu terlihat sudah mulai menguasai diri.


"Pertama, kerja sama antara desa Bunge dengan desa Akah sudah terlalu lama menguntungkan desa Tunggak. Setiap tahun Panji mendapat setoran besar dari kalian untuk menjaga keamanan lorong rahasia. Jadi sudah saatnya perjanjian itu diveto. Kedua, aku juga butuh dukungan Darwire memveto semua rencana dagang yang melibatkan desa Tunggak dan Desa Buaq. Dengan cara itu kita bisa memiskinkan Desa Tunggak dan Desa Buaq. Akj berharap kau setuju Darwire,” ujar Artha Prana terdengar memaksa.


“Usul bagus. Sudah saatnya, dua kepala desa itu diberi pelajaran,” gusar Nursiwan.Ia kembali meminta persetujuan Kertaji. “Bagaimana kau setuju?”


Kertaji menghela nafas. “Kalau Artha Prana dan Darwire sebagai pemilik veto satu suara, semua desa harus ikut. Cuma aku masih sangsi ini efektif atau tidak, sebab yang kita hadapi dua desa sekaligus. Apa mungkin empat desa dapat mempersulit dua desa berdampingan itu?”


“Secara geografis Desa Tunggak dan Desa Buaq memang berdampingan. Mereka bisa memanfaatkan sisi timur laut untuk berhubungan, karena hanya dibatasi hutan bukan wilayah desa lain. Tapi tujuan kita bukan mengisolir pergerakan mereka. Namun melemahkan ekonominya,” ujar Artha Prana.


“Sudahkah nasib Desa Bunge masuk dalam pertimbangan?” tanya Kertaji. “Langkah veto bisa membuat Panji dan Sigar marah besar. Darwire dapat dituduh biang keladi persoalan. Lebih-lebih Desa Bunge diapit Desa Buaq dan Tunggak si sisi Utara dan Timur,”


“Sudah,” jawab Artha Prana enteng. Ia menyelipkan senyum kembali di balik kerah jubah hitamnya. “Aku akan mengerahkan pasukan perdamaian menjaga desa Bunge,"


Nursiwan manggut-manggut paham. Rencana Artha Prana sempurna melindungi Desa Bunge sekaligus menghukum Raden Mas Panji dan Raden Sigar.


“Sekarang giliranmu,” kata Nursiwan sambil menatapi Darwire.


Baloq Darwire, diam cukup lama. Menimbang baik-buruk keputusan veto. Suasana Balai Desa kembali hening. Hanya deru nafas mereka yang sekali waktu terdengar bersahutan.


Hati Baloq Darwire sebenarnya berat menghukum Raden Mas Panji dan Raden Sigar. Bukan cuma dua kepala desa itu yang akan sengsara, tapi rakyat jelata bakal ikut menderita.


Tapi siasat pengerahan pasukan tempur Desa Tunggak dan Desa Buaq jauh lebih membahayakan bagi desa Bunge.


“Baiklah, aku putuskan ...”


Belum saja, kata-katanya tuntas, dua sosok bayangan bergerak cepat mendekati balai desa.


“Aryadi, Kayunada,” lirih Baloq Darwire dengan senyum terkembang di bibirnya. Mengenali siapa yang datang.


“Bagaimana keadaanmu?” Raden Aryadi, maha guru perguruan Bunge dan Kayunada segara mengambil tempat bersimpuh.


“Sudah lebih baik, berkat mereka,” kata Baloq Darwire sambil melirik pada Nursiwan dan Kertaji.


“Bagaimana kondisi desa?” tanya Baloq Darwire segera.


“Itu yang ingin aku laporkan. Di gerbang Timur dan Utara pasukan pertahanan bertempur melawan prajurit Desa Buaq dan Desa Tunggak,” kata Raden Aryadi.


“Artha Prana baru saja memberitakan hal itu. Sekarang aku tengah mempertimbangkan apakah perlu memveto ekonomi dua desa itu,” ujar Baloq Darwire.


Raden Aryadi, meletakkan punggung tangan kanannya di kening Baloq Darwire. Mengecek suhu tubuhnya. “Luka harus segera dirawat,” ujarnya, sambil memperhatikan sekujur tubuh Baloq Darwire.


“Kertaji telah mengobati luka dalamku. Rasanya sudah lebih baik. Aku pikir, luka luar ini akan segera sembuh,” jawab Baloq Darwire. “Sekarang aku lebih khawatir kondisi desa daripada kondisiku sendiri,”


“Istirahat saja dulu Darwire. Kondisi desa sudah terkendali,” jawab Raden Aryadi. Ia lalu mengatakan, “Panji dan Sigar sudah menarik mundur seluruh pasukannya dari gerbang Timur dan Utara,"


Baloq Darwire, Kertaji, Nursiwan, dan Baloq Selasih menarik nafas lega.


“Badai telah berlalu,” ujar Baloq Darwire, bersyukur.  


Dua tangan Artha Prana terkepal erat. Bergetar menahan amarah tiada tara di balik jubahnya. Namun wajahnya pandai menyembunyikan kegusarannya. Justru yang terlihat senyum polos Artha Prana.


“Aku pikir, pasukan perdamaian tidak diperlukan," ujarnya dengan senyum terkembang.


“Terima kasih Artha Prana, Kertaji, Nursiwan, kalian sahabat yang baik. Aku sampai kehabisan kata-kata mengucapkan rasa terima kasih tak terhingga. Kita akan bertemu lagi di pemakaman Rawilih,”


Tiga kepala desa itu, pamit undur diri. Kepergian mereka diikuti pasukan elite yang menunggu dengan setia di luar balai desa.


Langit desa Bunge perlahan menggulita. Awan hitam berarak, menandai sesaat lagi turun hujan. Membasuh darah yang tercecer di pelosok desa akibat perang mengerikan.


Awan itu juga selimut yang membentang. Membawa Desa Bunge sesaat lagi terlelap dalam istirahat yang tertunda.


***