SELAQ

SELAQ
Episode "Inikah Cinta?" (49)



Baiklah.


Ini juga mungkin yang sulit di jelaskan. Jumindiri, begitu menyukai pria berwajah raksasa itu. Perasaan suka yang bukan hanya sekadar suka. Jatuh cinta? Ya, semacam itu.


Ia selalu menunggu kedatangan pria buruk rupa itu dengan tak sabar.


Merasa sangat kesepian, bila jauh dengannya. Seperti berada di dasar bumi, terdalam.  Hening, lengang. Kosong!


Tapi bila pria buruk rupa itu datang, semuanya tetiba menjadi dipenuhi cahaya. Bahkan dinding-dinding pun ikut mendendangkan nada-nada cinta.


Seumpama lorong gelap. Hitam dan pekat. Tidak pernah dijamah cahaya berpuluh-puluh tahun. Lalu tetiba, lentera dinyalakan, tahu apa yang terjadi selanjutnya? Dunia baru tercipta. Kegelapan sirna dan semua tiba-tiba tak mau berpisah dengan partikel cahaya.


Sedikit gambaran kekosongan hati yang tiba-tiba menjadi penuh warna di hati Jumindiri. Dinding-dinding berbatu itu, seakan dapat berbicara padanya.


Jumindri terlalu lama, melebur dalam keheningan.


Ia menjadi bagian dari keheningan. Pada akhirnya, ia memahami ‘bahasa’ keheningan. Dan mulai berbicara dengan semua benda mati.


“Kau menyukainya?” suara itu terdengar jelas, terngiang di gendang telinganya.


“Iya,” lirihnya.


“Kau jatuh cinta?”


“Menurutmu, bagaimana?” desaunya.


“Tapi dia punya istri,”


“Apa itu menghalangi cinta?” tukasnya.


Batu dan dinding yang berbicara padanya pun terdiam. Diam sediam-diamnya.


Di ruang bawah tanah sialan itu, Jumindiri tak pernah tahu, hari sedang siang atau malam. Tubuhnya bahkan kalis pada hangatnya pelukan cahaya mentari. Justru dingin yang semakin mesra memeluknya. Mendekapnya. Erat sekali.


“Apakah aku sudah gila?”


“Gila,” suaranya menggema. Terdengar ucapan terakhirnya yang terang menerobos gendang telinganya.


Jumindiri tak peduli pada wajahnya yang buruk rupa. Bahkan sekalipun wajahnya lebih hancur lagi. Atau lebih mengerikan? Ah ... Dua-duanya sama saja. Sama-sama tidak berpengaruh.


“Aku tetap suka padanya!” Jeritnya.


Suaranya menggema. Memantul. Merambat menyusuri lorong yang gelap. Hingga yang tersisa di ujung lorong di mana dua pria gemuk besar dan malas tengah mendengkur, kaget.


“Aaaaaa!”


“Kau mendengar sesuatu?” katanya dengan wajah panik. Matanya melotot. Tangannya singgah di gagang parang yang terselip di pinggangnya.


“Paling monster itu, lapar lagi,” gerutu pria di sebelahnya. Lalu menyenderkan lagi kepalanya di dinding mulut terowongan bawah tanah. Kepalanya miring, helm besinya mencong. Tapi posisi serba nanggung itu sudah cukup, membawanya ke alam mimpi lagi. Seketika itu juga.


Pria di sebelahnya pun segera menyusul. Dan dengkuran keduanya segera saling sahut.


Merdu?


Tentu saja tidak. Lebih mirip geraman singa yang kelaparan.


Kembali ke dalam ruang bawah tanah itu ...


“Wajahnya seperti Raksasa!” suara itu terdengar lagi. Jelas. Sejelas matahari di siang bolong.


“Apa ada pria berwajah menawan di desa ini yang hatinya lebih baik dari Denawa Petak?” bela Jumindiri.


Getar hati rasanya berbeda. Yang ini lebih indah. Sedikit perih. Namun sangat memabukkan!


“Kalau Baloq Darwire bagaimana?” tanya suara dalam keheningan itu lagi.


“Lembut, hangat, dan damai. Tapi tidak ada rasa memabukkan,” lirihnya.


Oke baiklah.


“Jadi cukup sudah perdebatan ini,” sergah Jumindiri menjambak rambutnya sendiri. Lalu setelahnya menutup daun telinganya dengan sangat kencang. Sambil berujar lirih, sedikit pasrah. “Cukup, titik,”


“Tap ... Tap ... Tap!”


Jumindiri melompat girang. Ia mengenal dengan sangat baik langkah itu. Dari ketukan, irama, hingga beratnya tekanan kaki menjejak bumi. Ia sudah sangat hafal. Di luar kepala!


Keyakinannya tak bisa dikacaukan. Sekalipun di antara derap langkah ratusan prajurit lainnya, Jumindiri dapat mengenali derap langkah Denawa Petak. Apalagi selengang ini.


Ia melompat girang!


Menepuk-seluruh badannya, menepis debu. Menyapu wajahnya dengan pakaian, menyekanya dari debu dan keringat. Menyisir rambut dengan jari-jari tangan. Lalu merapikan pakaiannya yang awut-awutan.


Tak lupa, ia menggosok-gosok kakinya yang hitam karena debu dan lumpur. Meniupnya. Menggosok lagi. Menipu lagi. Sampai akhirnya kulitnya yang kuning Langsat, bersinar di terpa lampu minyak.


“Reeeettt!”


Pintu besi itu berderit. Segera setelahnya pria yang membuat Jumindiri bahagia itu masuk ke dalam.


“Kau menungguku?”


Denawa Petak mengulum senyum. Menyapa Jumindri yang duduk bersila dengan  wajah riang. Menyambutnya selayaknya, tamu kehormatan raja.


“Aku tak punya tamu, selain paman. Tentu saja, siapa lagi yang harus aku tunggu?” katanya dengan senyum merekah.


Denawa Petak terkesiap. Takjub. Entah mengapa bocah itu, terlihat lain. Ia dewasa dan matang. Manis dan menyihir, setiap pria akan mudah bertekuk lutut menghamba pada cintanya.


“Kau cantik sekali nak,” lirih Denawa Petak spontan.


Kalau saja, Denawa Petak mau membalikkan badan sebentar saja, Jumindiri ingin sekali melompat girang. Menari. Hingga membanting tubuhnya di atas tanah.


Sayang, Denawa Petak tak berkedip sekian lama memandanginya. Hingga membuatnya tersipu malu.


“Andai saja aku masih muda, ku lamar dirimu sekalipun syaratnya kunci langit harus aku serahkan ke pangkuanmu,” goda Denawa Petak.


“Benarkah paman?” Jumindiri dibuat melayang.


“Apa aku terlihat bercanda?” jawab Denawa Petak


“Mengapa paman tidak melamarku sekarang saja?” celetuk Jumindiri. Mengulum senyum dengan sorot mata meyakinkan.


Denawa Petak kaget. Jawaban Jumindiri sepintas terdengar lelucon. Tapi ia merasakan suara penuh kesungguhan dari bocah pemilik mata seindah Berlian di depannya.


Untuk beberapa saat Denawa Petak membiarkan waktu membeku. Menatapi bocah itu antara keterpanaan dan iba. Lalu kemudian buru-buru mengalihkan pembicaraan, “Lihatlah aku membawakanmu daging rusa, aku telah memasaknya dengan kemampuan terbaikku,”


“Paman,” lirih Jumindiri dengan wajah penuh harap. Lalu dengan suara bergetar, berujar, “Aku serius,”


Kalimat terakhir itu seperti geledek terdengar di telinga Denawa Petak. Tiba-tiba saja, ia tak mampu mendengar suara apapun kecuali  kalimat ‘aku serius’ yang terus terngiang di telinganya.


Tubuhnya kebas. Mati rasa. Tangannya yang membuka tudung saji baki, bergerak di luar kehendaknya.


Ia sudah tak mampu lagi mendengar rintik air yang konstan di sudut ruangan pengap ini. Telinganya sama sekali tak siap mendengar Jumindiri mengucapkan kalimat sakral itu.


Perasaannya diaduk-aduk. Meliuk kiri-kanan, terpental, seperti diamuk angin tornado.


Tawaran bocah itu manis. Terlalu manis!


Bayangkan saja, saat istrinya menjauhinya, keluarga besar tak mau bertemu dengannya. Bahkan anak yang disayanginya tak pernah sekalipun memanggilnya “Ayah,”.


Bidadari kecil datang. Dengan segudang keajaiban di tangannya yang mungil. Menawarkan kehidupan baru untuknya. Memulai kehidupan yang indah tanpa memandang fisik dan rupa.


“Tidak-tidak!” tepisnya dalam hati. Menolak keputusasaan yang berkarat-karat, merintih-rintih memohon jalan kehidupan durjana yang dijalani segera diakhiri saja.


Tapi kemudian, pandangannya liar menggerayangi sekujur tubuh Jumindiri. Bagi anak seusianya, bocah ini terlalu cepat matang. Terlalu cepat pesonanya memancar.


Denawa Petak tak mengira hanya dengan merapikan rambut dan pakaian, pesona Jumindiri memancar menyilaukan. “Tidakkah dalam dirinya menitis Dewi kecantikan?” bisiknya, masih bergulat dalam diamnya.