
Kepala Desa Pusuk Artha Prana, Kepal Desa Daun Kertaji, dan Tumban Baloq Darwire telah sampai lebih dahulu di dalam desa Bunge.
Artha Prana mendekati Tumban Baloq Darwire. Lalu berkata padanya. “Tugasmu sepertinya sudah selesai sampai di sini Tumban,”
Kertaji yang mendengar ucapan Artha Prana kaget. Tapi tidak dengan Tumban Darwire yang mengulum senyum.
“Pantas saja di usia semuda ini kau telah dipercaya menjadi kepala desa,” ujar Tumban itu.
Dan benar saja, Tumban Baloq Darwire seperti lenyap di sapu angin. Hilang tanpa jejak.
“Eh...?” Kertaji celingukan. “Ke mana Darwire?”
“Itu hanya bayangannya saja,”
Kertaji menatap kagum pada Artha Prana. Baginya, anak kemarin sore itu telah menunjukkan kemampuannya berada satu langkah di depannya.
“Sejak kapan kau tahu itu bayangan?”
“Sejak di Paseban Agung,” jawab Artha Prana ringan.
“Baiklah, itu jawaban yang mengesankan,” sahut Kertaji, lalu menyambungnya dengan pujian, “Kau memang pantas terpilih menjadi Kepala Desa di usia semuda ini,”
Artha Prana berusia 25 tahun. Jauh lebih muda dibanding semua kepala desa. Tetapi kecerdasan dan kehebatannya telah membuat warga desa mendaulatnya sebagai Kepala Desa.
Artha Prana, memiliki tubuh tinggi, tegap, kekar, dan kulit putih jernih. Rambutnya pirang, dicukur pendek. Bola di tengah matanya cenderung biru dan memiliki sorot mata memikat namun tegas.
Bulu mata lentik, alisnya tebal, hidung mancung, serta bibir sedikit kemerahan.
Bentuk wajah oval dengan sedikit tonjolan tulang pipi yang memperlihatkan Ia sering tersenyum.
Ia mengenakan ikat kepala warna hitam dengan ujung lancip di belakang. Menggunakan jubah panjang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Sekali waktu memperlihatkan telapak tangan dengan jari-jari panjang, mengenakan cincin hitam dengan mata berkilauan.
“Baiklah apa rencanamu sekarang?” tanya Kertaji.
Namun pertanyaan itu tidak dijawab Arta Prana. Pria itu malah memincingkan mata ke arah Kertaji. “Kau tidak serius, ingin mengikuti rencanaku, bukan?”
“Oh tentu saja. Aku punya rencana sendiri. Siapa peduli dengan rencana anak kecil sepertimu!” sungutnya.
Kertaji kepala desa dengan penampilan misterius. Tidak pernah ada yang tahu seperti apa wajah dan kulitnya.
Tubuhnya dililit kain hitam dari kepala sampai telapak kaki. Yang terlihat dari luar hanya mata sebelah kanan. Sedangkan sebelah kiri tertutup kain. Sekilas Ia seperti mumi.
Tingginya menyamai Artha Prana. Tapi dari lekuk kain yang membungkus tubuhnya, terlihat badannya kekar dan berotot.
Terlepas dari kekonyolan yang sering dilakukan Kertaji, Ia Kepala Desa yang paling diwaspadai kesaktiannya.
“Apa yang kalian tunggu, serbu!” pekik Kertaji pada pasukan elitenya.
Ia berlari dengan kencang menyusuri lorong di depan. Diikuti sejumlah pasukan elite di belakangnya.
Tapi sebelum jauh berlari, Artha Prana berujar. “Anda bergerak ke arah yang salah. Jalur itu menuju ke luar desa,”
“Siapa bilang?” Kertaji menyahut tanpa menoleh.
“Lihatlah, warna merah di belakangmu. Sepertinya itu api dari rumah warga yang terbakar,”
“Aku sebenarnya sudah melihat api itu,” sahut Kertaji dengan wajah dongkol.
“Maaf,” jawab Artha Prana kalem.
“Sudah lupakan saja. Tadi aku hanya mau buang air kecil, tapi Anda sepertinya meragukan keberanianku bertarung. Jadi aku memutuskan menyimpan air seni untuk aku siram ke wajah para Selaq!”
Artha Prana tak menjawab apapun. Ia hanya memperhatikan dengan lirikan mata, gerakan berbalik Artha Prana yang berlari di depannya menuju cahaya merah.
“Serbu!” pekik Kertaji sekali lagi. Diikuti pekikan yang sama dari sejumlah pasukan elitenya.
“Mereka benar-benar bersemangat,” lirih Artha Prana.
***
“Bruakkk!!!”
Tubuh Ngeres Koneng terpental, menghantam sebuah pohon besar hingga tumbang.
Sosok dengan cahaya kuning di keningnya itu meringis menahan sakit. Memegangi tulang pinggang punggungnya yang seperti remuk.
Jumindri yang telah menjelma menjadi Monster Merah, melompat secepat kilat. Tahu-tahu kini berdiri di depan Ngeres Koneng yang belum berdiri dengan sempurna.
Nampaknya, Ia belum puas melihat Ngeres Koneng masih berkutik. Kemudian menyiapkan serangan berikutnya untuk mencabik dengan kuku yang terhunus.
Namun belum sampai merobek Ngeres Koneng, dua boneka telah mencengkeram kaki dan tangannya. Dengan berutal mulut monster itu, melalap kepala dua boneka.
“Kresszz... kressz ...”
Dua kepala boneka di bawah kekuatan iblis, remuk dalam beberapa kali kunyah.
Kesempatan itu digunakan Ngeres Koneng melarikan diri.
Tapi sebelum menjauh, Ia memekik, “Terimalah persembahan karya seniku yang sangat indah!”
“Dhuarrrr! Dhuarrrr!”
Dua boneka itu tiba-tiba meledak dengan dentuman dahsyat. Menghasilkan bola api besar melalap tubuh Monster. Memicu Bumi ikut bergetar.
Api Ledakan menyapu ilalang dan beberapa pohon bertumbangan. Ledakan itu juga mengenai puluhan pasukan Krame Desa sekalipun telah mengamankan diri di posisi yang cukup jauh.
“Kekuatan yang mengerikan!” kata seorang pasukan dengan tangan bergetar.
Bola api yang melalap tubuh monster perlahan mengecil. Lalu terlihat monster masih berdiri tegak. Tak ada luka bakar di tubuhnya.
Nafasnya kini terdengar lebih menderu kencang, menahan amarah.
“Selamatkan diri kalian!”
Raden Sentane memerintahkan pasukan Krame Desa dan sejumlah murid perguruan menjauhi monster itu.
Mereka berlompatan menjauh. Enggan menoleh, sedikit pun.
Dan benar saja, monster mengamuk sejadi-jadinya. Memekik, meraung dengan suara memekakkan telinga.
Kemarahannya memicu pusaran angin yang teramat deras dan energi tak kasat mata yang menghantam apa saja hingga bertumbangan, terpental ke segala arah.
Sementara, dari kejauhan di tempat tersembunyi yang aman, Ngeres Koneng melihat dengan nafas tersengal.
“Untung aku segera lari. Kalau tidak bisa mampus aku ditangannya. Sang Calon Ratu memang mengerikan!” lirihnya bergidik.
“Suatu saat, kita akan berjumpa lagi. Dan aku berjanji akan membawakan boneka seni yang lebih indah lagi,”
Setelah itu, Ngeres Koneng membalikkan badannya. Dengan tertatih, ia menjauhi tempat di mana monster masih mengamuk sejadi-jadinya.
***
“Aku mohon jangan!” Baloq Darwire bersimpuh tak jauh dari Selaq Bunge. “Kau akan menghancurkan desa ini!”
“Bangunlah Darwire. Tegakkan badanmu. Kau membuatku sangat kecewa malam ini. Perbuatanmu itu menghancurkan kekagumanku dan mungkin guru di alam baka!”
Tapi bukannya berdiri, Baloq Darwire tetap bersimpuh. Ia tahu ilmu yang akan dikeluarkan Selaq Bunge kali ini sangat berbahaya dan dapat menghancurkan desa Bunge dalam sekejap.
“Aku tawarkan nyawaku penggantinya. Tapi tarik ilmu jahanam ini. Desa yang aku bangun susah payah akan hancur dalam seketika. Aku lebih rela, desa ini dikuasai olehmu,” rintih Baloq Darwire.
“Bhahaha... Kau takut Darwire?”
“Iya aku takut,” lirih Baloq Darwire.
“Kalau begitu bersujudlah di depanku,”
Tanpa pikir panjang Baloq Darwire bergerak maju beberapa langkah ke depan. Kemudian langsung bersujud di hadapan Selaq Bunge.
“Bhahaha ... Apa kau tidak malu dengan perbuatanmu saat ini?”
Tidak ada jawaban dari Baloq Darwire. Kepalanya masih ia benamkan dalam sujudnya di hadapan Selaq Bunge.
“Darwire, apa yang kau takutkan? Ini hanya awan yang sebentar lagi mendatangkan derai hujan. Dan kau boleh mencicipinya pertama kali,”
Setelah berkata begitu, beberapa bulir air meluncur deras dari awan hitam yang bergulung di langit Desa Bunge. Lalu begitu sampai menyentuh punggung Baloq Darwire, tiba-tiba,
“Dhar! Dhar! Dhar!”
Bulir air itu meledak di punggung Baloq Darwire. Pria tua itu meringis kesakitan.
“Kau sepertinya tahu banyak tentang ilmu ini!”
Dariwire tidak menjawab. Ia tahu Selaq Bunge tidak membutuhkan jawabannya.
Namun Ia kembali memohon agar Selaq Bunge mengurungkan niat menggunakan ilmu terlarang itu.
Ilmu itu adalah “Tijuh Melekat”. Itu merupakan ilmu purba. Mereka yang menguasai ilmu itu, pasti telah mempelajari Kitab Betaljemur Bireng.
Ilmu itu pernah digunakan Daranjani membumi hanguskan kerajaan jin di mana Desa Bunge saat ini berdiri.
Ilmu ini menyerupai bulir air hujan. Di ukuran mili setiap bulir air mengandung campuran cuka dan air hangat. Bulir kemudian terbungkus plasma yang tak tampak oleh mata. Itulah yang meledak seperti bom!
Menariknya ilmu ini hanya dapat dilakukan pada senja hari. Selaq Bunge rupanya tahu, di balik kegelapan yang ia ciptakan, alam saat itu tengah senja.
Baloq Darwire, tak kuasa menahan tangis. Ia tak bisa membayangkan Desa Bunge akan hancur seperti kerajaan jin dulu.
“Kau takut Tijuh Melekat, menamatkan riwayat desa Bunge?”
“Iya aku takut. Berapa kali harus aku katakan. Aku mohon jangan lakukan itu!” rintihnya.
“Sayangnya aku tak peduli,” ujar Selaq Bunge enteng.
Sesaat kemudian, kilat menyambar di balik awan. Lalu terdengar dentuman keras gemuruh. Menandai hujan yang ditakutkan Darwire turun, meluncur deras mengujam tanah desa Bunge.
***