
***
“Anda sahabatnya,” ujar Kertaji menoleh ke Nursiwan. Sorot mata kanan dari penutup wajah menyerupai mumi menyiratkan rasa ingin tahu.
Pria berpakaian serba hitam itu tak langsung menjawab. Ia menarik nafas panjang menghimpun kekuatan berterus terang. Sampai kemudian buka suara, “Situasi desa Bunge usai pemberontakan para Selaq sangat pelik,” ungkap Nursiwan.
“Pelik?” tanya Raden Mas Panji. Kerutan terlihat di keningnya.
“Apa yang terjadi?” timpal Raden Sigar. Wajahnya tegang menunggu penjelasan.
“Pertama, Darwire kemungkinan besar akan lumpuh akibat pertempuran melawan Selaq Bunge,” jawab Nursiwan.
“Saya sudah berusaha mengobatinya,” timpal Kertaji datar. Namun ia bisa mengerti Baloq Darwire kembali sembuh seperti sedia kala. “Usianya sudah tua itu pasti memperlambat regenerasi selnya, apalagi beberapa titik persendian dan tulang keringnya remuk,”
“Usaha Anda tidak sia-sia, Anda telah menyelamatkannya dari kematian,” ujar Nursiwan.
Kertaji tak menimpali. Ia hanya mengangguk pelan membenarkan telah berusaha menyelamatkan nyawa Baloq Darwire setelah bertempur melawan Selaq Bunge.
“Lalu berikutnya?” kali ini sosok menyerupai Artha Prana yang bertanya.
“Muncul gerakan yang sangat besar menuntut revolusi di desa Bunge,” jawab Nursiwan. Ia diam sejenak, lalu melanjutkan, “Mereka ingin menumbangkan rezim Darwire dan mengadilinya,”
“Darwire akan mudah mengatasi itu,” sahut Raden Mas Panji dengan wajah semringah.
“Darwire bukan Anda yang seenaknya membantai para pemberontak,” ujar Artha Prana sambil tertawa kecil.
Raden Mas Panji menoleh pada Nursiwan, meminta pendapatnya.
“Apa yang dikatakan Artha Prana benar. Kelompok revolusi itu menjadikan kesehatan Darwire sebagai alasan mendesak tetua desa menunjuk kepala desa yang baru,”
“Siapa pemimpin revolusi?” tanya Raden Mas Panji penasaran.
“Saya pikir Anda semua sudah tahu jawabannya,” jawab Nursiwan.
“Rumasih,” lirih Raden Sigar.
Nursiwan tak menanggapi. Wajahnya muram, seakan sudah bisa menebak akhir kepemimpinan sahabatnya itu.
“Kudeta terselubung,” gumam Kertaji.
“Apakah ada peluang Darwire sembuh?” tanya Raden Sigar.
Kepala Desa Akah itu menggeleng. Lalu berkata, “Kalaupun Darwire sembuh, tetap akan dianggap tidak layak melanjutkan kepemimpinan,”
“Bukankah di dalam Kitab Agung Undang-Undang Desa Bunge membolehkan pemimpinnya berusia berapapun selama sehat jasmani dan rohani?” sela Raden Sigar.
“Bukan usia penghalangnya. Tapi Belian atau Tabib Desa adalah orang-orang Rumasih. Mereka pasti akan mengeluarkan pendapat, Darwire tak layak memimpin desa lagi dari sisi kesehatan,” ujar Nursiwan. Ia melanjutkan, “Kelompok revolusi telah menyiapkan rencana berlapis menggulingkan Darwire. Rumasih telah memasang orang-orangnya di tim Belian Desa, lalu menangkap Dewan Desa yang pro terhadap Darwire,”
“Jadi strateginya setelah Belian Desa mengeluarkan pendapat kesehatan Darwire tak memungkinkan untuk memimpin lagi, maka lima Dewan Desa akan bersepakat kepemimpinan berikutnya dilanjutkan Rumasih!” ungkap Nursiwan.
“Bagaimana dengan Suriane dan Sawiye?” tanya Raden Mas Panji. “Mereka pasti tidak akan membiarkan Darwire digulingkan begitu saja. Apalagi Sawiye adalah Ketua Dewan Perwakilan Desa,”
Nursiwan menarik nafas panjang. Lalu dengan nada berat ia berujar, “Sudah ada operasi khusus menangkap Sawiye dan Suriane dan kemarin malam mereka dinyatakan tewas,”
Semua yang hadir terperanjat kaget. Mereka tak mengira revolusi di desa Bunge akan menelan korban jiwa sejumlah tokoh kunci.
“Harusnya warga desa Bunge dapat menyimpulkan dengan mudah siapa pelakunya!” seru Raden Mas Panji geram. “Siapa yang naik tahta dialah pelakunya!”
“Justru pelaku pembunuhan terhadap dua dewan desa mengarah pada pasukan elite pelindung Kepala Desa,” sahut Nursiwan. Dengan wajah muram, ia berujar, “Operasi penangkapan Sawiye dan Suriane meninggalkan jejak pelakunya pasukan elite di bawah pimpinan Tambing Muter. Sementara Tambing Muter kabur dan kini dalam pengejaran pasukan pertahanan di bawah pimpinan Rumasih!”
“Licik seperti ular!” maki Raden Mas Panji gusar.
Raden Mas Panji tak menghiraukan ucapan Artha Prana. Lalu dengan nada tinggi bertanya pada Nursiwan, “Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu Darwire?”
Lagi-lagi sosok menyerupai Artha Prana menyela, “Kau harusnya sadar diri. Ingat desa Bunge itu bukan wilayah Desa Tunggak,”
“Memang sebaiknya kita tidak turut campur. Desa Bunge bukan hanya tentang Darwire saja, tapi banyak pembesar di sana yang punya hak atas wilayah desa. Keikutsertaan kita dalam persoalan desa Bunge dapat merusak hubungan persahabatan antar desa. Dan saya yakin Darwire juga tidak ingin kita ikut campur,” ucap Kertaji.
(Pembawa Cerita) ~ Enam kepala desa itu diam sejenak. Sibuk dengan pikirkan masing-masing. Mereka berniat menyudahi membahas kondisi Desa Bunge. Para kepala desa itu sadar, tak bisa berbuat apa-apa menyudahi prahara politik Desa Bunge.
“Lalu apa rencanamu Pancalita?” Nursiwan, mengalihkan pembicaraan.
“Saya belum tahu, sampai saat ini keluarga kami masih diliputi duka,” jawabnya anggun.
“Waktu 40 hari terlalu lama untuk meratapi takdir. Berpikirlah tentang nasib dan masa depan rakyatmu,” timpal Kertaji. Sebagai sahabat ia ingin membesarkan jiwa Pancalita, “Saya tak bermaksud memintamu melupakan Rawilih, tapi rakyat Desa Lolo jauh lebih berhak atas pikiran dan tindakanmu setelah Anda terpilih menjadi kepala desa,”
Pancalita tak menjawab. Kepalanya tertunduk menatap lantai.
“Kalau butuh bantuan, saya kira semua desa siap membantu. Kita bersama-sama mewujudkan kesejahteraan di lembah Rinjani ini,” ujar Nursiwan.
“Terima kasih,” jawab Pancalita pendek.
“Baiklah, saatnya kami pamit undur diri. Tenangkan pikiranmu dan mulailah melihat masa depan desa dan rakyatmu,” timpal Raden Sigar.
Lima kepala desa itu pamit undur diri. Mereka menunjukkan rasa kesetiakawanan dengan hadir di saat Pancalita membutuhkan sahabat.
Sementara para kepala desa kembali ke wilayah masing-masing, Pancalita berjalan-jalan melihat kesibukan warga menyiapkan acara peringatan 40 hari Rawilih meninggal.
Ada yang bekerja di bagian dapur dengan tungku-tungku dan alat memasak besar, lainnya lagi menjamu tamu dari desa tetangga. Sementara pemuda dan sejumlah orang tua di sudut lain menggelar ritual memukul rantok. Selebihnya dipimpin penghulu memanjatkan doa keselamatan Rawilih di alam arwah.
Ketika Pancalita melewati barisan pemuda yang memukul rantok, darahnya berdesir melihat seorang pemuda berkulit bersih. Wajahnya tampan dengan sorot mata teduh. Perawakannya indah di mata setiap gadis desa yang memandangnya.
Pemuda itu berhasil mencuri perhatian para gadis desa yang rupawan. Menjadi pembicaraan tak habis-habisnya.
“Siapa dia?” tanya seorang gadis, malu-malu mencuri pandang.
“Anak kerabat jauh Puq Amet,” sahut gadis lain.
“Sejak kapan Puq Amet si penggembala kambing punya kerabat yang anaknya begitu gagah?” tanya gadis itu lagi.
“Aku tidak tahu. Tapi ia datang sekitar satu bulan lalu dan tinggal di gubuk Puq Amet,”
“Pemuda tampan, aku rela berbagi tempat tidur dengannya daripada ia tidur bersama kambing-kambing Puq Amet,” sahut yang lain disambut gelak tawa mereka.
“Oh betapa sia-sianya hidupku satu bulan terakhir, mengapa aku baru tahu ada pemuda seindah ini di desa kita?” ujar gadis itu nyaris memekik histeris.
“Kalaupun tahu dari awal, aku pikir ia tak akan terpikat padamu,” sahut temannya.
“Kalaupun tak bisa memilikinya paling tidak hariku bisa ceria dengan melihatnya setiap hari. Sempurnalah Sang Hyang Kuasa menciptakannya, tanpa cela sedikitpun,” jawab gadis itu lagi.
Diam-diam Pancalita mendengar perbincangan sekelompok gadis desa itu. Sambil sesekali mencuri pandang ke pemuda dimaksud.
Sekilas Pancalita terkesan dengan pemuda itu. Ia melihat pemuda itu sangat sopan menjaga pandangannya dengan terus menunduk. Namun bajunya yang lusuh dan usang tak sedikitpun membuat pesonanya meredup.
“Siapa dia?” lirih Pancalita dalam hati.
Tapi kemudian Kepala Desa Lolo itu buru-buru beranjak pergi. Ia marah pada hatinya yang berani membuka ruang, walau sedikit untuk mengagumi lelaki selain Rawilih.
“Sekali lagi berani melakukan itu, akan ku congkel dan ku buang ke dalam jurang yang tak berujung,” makinya pada hatinya sendiri. Pancalita lalu membuang jauh-jauh semua pikiran tentang pemuda kampung itu.
***