SELAQ

SELAQ
Episode "Pengadilan untuk Baloq Darwire" (31)



SELAQ


Episode "Pengadilan untuk Baloq Darwire" (32)


***


Seorang murid perguruan melangkah mendekati Gonde. Menjulurkan kepala lalu berbisik, “Kau serius mengubah taruhan dan melepas kesempatan untuk menjadi prajurit?”


Lalu dengan wajah gemas, Gonde balik berbisik. “Aku tidak mau membuat keluargaku menanggung malu sampai tujuh turunan gara-gara taruhan ini!”


“Memang kau yakin dia menguasai ilmu Melebu Bumi?” bisik rekannya itu.


“Antara yakin dan ragu sama besarnya. Kita memang seperguruan dengan si brengsek itu, tapi tak setiap hari bersamanya. Kalau ternyata dia bisa membuktikan punya ilmu Melebu Bumi anak cucuku kelak pasti mengutukku sebagai buyut tergoblok di muka bumi,”


“Coba saja, mana tahu dia cuma gertak saja,” sahut rekannya.


“Enak sekali bicaramu, nasib keluargaku dipertaruhkan hanya untuk kesenangan kalian. Mengapa bukan kau saja yang menggantikanku bertaruh dengannya?” ujar Gonde kesal.


Rekannya itu membisu. Ia setuju permintaan Blokpentes berlebihan. Tapi ilmu langka memang bukan untuk dipertontonkan dengan harga murah. Belum lagi bahasa tubuh Blokpentes, terlihat sangat yakin mampu melakukan ilmu Melebu Bumi.


Kini mereka semua diliputi keraguan, apakah Blokpentes punya ilmu itu atau tidak.


“Selain karena diliputi keberuntungan, saya belum tahu alasan lain Maha Guru Aryadi memilihnya sebagai pemimpin kelompok. Siapa tahu karena menguasai ilmu langka itu. Lihat wajahnya itu, sangat menyebalkan!” Gonde gusar. Tapi tak berani bertindak lebih jauh saat ini.


“Artinya taruhan harus diubah?” tanya rekannya.


“Kita lihat saja dulu apa taruhannya,” lirih Gonde.


“Kalian berdua lama sekali berbisik-bisik. Tinggal memutuskan, ubah taruhan atau lanjut pembuktian,” ujar Blokpentes.


Gonde mendengus jengkel. Ia tak paham, bagaimana sekarang justru dirinya yang terpojok. Setelah tadi begitu sangat yakin dapat mempermalukan Blokpentes.


“Apa taruhan yang lain?” tanya Gonde.


Blokpentes menyelipkan senyum. Ia senang rencananya berjalan sesuai harapan.


Lalu dengan suara lantang berujar, “Mari kita adu kekuatan. Siapa yang bisa mengangkat tubuh lawan dia yang menang,” ujar Blokpentes.


Raut wajah Gonde riang. Tubuhnya tinggi besar dibanding kebanyakan murid lain termasuk Blokpentes. Tentu saja ia sangat yakin bisa mengangkat tubuh Blokpentes.


“Menarik,” ujarnya bersemangat, sambil melebarkan senyumnya.


“Karena ini taruhan yang berbeda maka kau juga harus menyetujui syaratnya,” ujar Blokpentes.


“Apa syaratnya?” ujar Gonde.


“Lupakan rencana membunuh gadis ini,” ujar Blokpentes.


“Kalau aku tidak mau?” tanya Gonde lagi.


“Kalau tidak mau, kau harus bertanggung jawab karena menuduhku berbohong tidak punya ilmu Melebu Bumi. Tuduhanmu membuat nama baikku rusak di hadapan murid yang lain. Maka malam ini kalau aku berhasil masuk ke perut bumi, seluruh keluargamu harus dipermalukan di alun-alun desa!”


Gonde berpikir keras sampai wajahnya berkerut. Sementara semua yang hadir di tempat itu riuh menuntutnya bersikap kesatria mempertanggungjawabkan ucapannya.


Sampai Gonde berkata,


“Aku tetap tidak percaya kau punya ilmu Melebu Bumi. Tapi, taruhan yang kedua memberi peluang lebih besar untuk menang. Jadi aku pilih yang kedua, Adu ketangkasan mengangkat tubuh lawan,” ujar Gonde, disambut teriakan murid yang mencibir.


“Huuu!!!” sorak mereka.


“Lalu apa hadiah bagi yang menang?” tanya Gonde.


“Yang menang, boleh memukul lawannya sebanyak tiga kali!” jawab Blokpentes.


“Naikkan taruhannya menjadi ibu, ayah, nenek, kakek, hingga buyut yang kalah dihajar ramai-ramai satu kampung!” seru Gonde.


Blokpentes tak menjawab. Raut wajahnya berubah sedih.


“Kenapa, kau takut?” Gonde menyeringai senang.


“Aku tidak punya keluarga lagi, selain kalian semua. Jadi aku berharap jangan ungkit keluargaku yang sudah tenang di alam sana,” ujar Blokpentes datar.


Gonde terdiam. Emosinya yang membakar ubun-ubun membuatnya lupa, kalau Blokpentes hanya sebatang kara.


“Baiklah, kalau begitu siapa yang kalah harus bersedia dipukul, semua yang hadir di sini,” ujar Gonde.


Blokpentes tak berkata. Ia hanya mengangguk bersedia. Wajahnya masih menyiratkan kesedihan yang dalam.


Ia melangkah mendekati Gonde. Begitu juga Gonde maju ke depan. Kini dua pemuda dengan perawakan jauh berbeda itu berhadap-hadapan. Berisap adu kekuatan mengangkat tubuh lawan.


“Siapa lebih dulu?” tanya Gonde percaya diri.


“Aku saja,” lirih Blokpentes.


Ia maju lagi, kemudian berjongkok. Tangannya kemudian mendekap erat kaki Gonde. Lalu dengan seluruh tenaga mengangkat tubuh Gonde ke atas.


“Hiyaaaaaa!!!”


Tapi Gonde bergeming. Semakin keras usaha Blokpentes mengangkat tubuh Gonde, badan pria gempal itu semakin kuat tertancap ke bumi.


“Bhahaha...!” Gonde tertawa nyaring. Usaha keras Blokpentes tidak sedikit pun membuatnya beringsut dari tempat berdiri.


Blokpentes terduduk. Nafasnya terengah-engah. Tapi Ia belum menyerah. Sekali lagi tangannya mendekap erat kaki Gonde, kemudian mendorongnya ke atas.


“Urrraaaaa!!!”


Blokpentes memekik. Menghabiskan seluruh tenaga yang tersisa. Tapi masih seperti tadi, semakin kuat ia mengangkat, semakin kokoh pula kaki Gonde tertancap di bumi.


“Bruuuukk!”


Blokpentes terkapar. Tenaganya habis terkuras hingga tak mampu lagi menopang badannya.


Gonde tertawa puas. Perkiraannya tak meleset. Blokpentes gagal mengangkat badannya.


Setelah itu ia gilirannya. Lalu dengan tangan kiri meraih sabuk yang melilit di pinggang Blokpentes.


“Weeetttzzz!”


Sabuk Blokpentes mengencang. Tubuhnya terangkat tinggi. Lalu sekuat tenaga, Gonde membanting Blokpentes di atas tanah.


“Bruaakkk!”


Badan Blokpentes terpelanting, menghantam tanah. Lalu terseret hingga beberapa meter. Pemuda itu mengerang kesakitan. Ia berusaha bangkit, namun tulang punggungnya sakit bukan kepalang. Patah!


Gonde maju lagi. Tangan kirinya segera menarik baju Blokpentes dengan kasar. Sedang tangan kanannya dibentuk bulatan.


“Ukhuk!!” Blokpentes tersedak. Tubuhnya lunglai tak berdaya. Ia melihat dunia berputar kencang, tapi masih bisa melihat tangan Gonde yang terkepal. Bersiap menghantamnya.


“I... itu tinju yang besar,” ujar Blokpentes terbata-bata.


“Brezzkk.. Brezzkk.. Brezzkk!!!”


Tiga hantaman mengenai perut, rahang, dan dagunya hingga membuatnya kembali terjungkal. Pria itu meringis kesakitan. Darah mengalir dari bibirnya yang pecah akibat pukulan keras itu.


Gonde belum puas. Ia bersiap menghajar Blokpentes lagi. Tapi Bolo, melompat dan buru-buru mencegahnya!


“Cukup kau sudah memukulinya tiga kali sesuai perjanjian,” cegahnya.


Gonde tak peduli. Darahnya mendidih. Tenaganya masih tersisa banyak untuk membuat Blokpentes lumpuh selamanya. Setelah menghalau Bolo hingga terdorong ke samping, ia mengepalkan lagi tangan kanan.


Tapi, seseorang berteriak dari arah kerumunan murid perguruan yang menyaksikan taruhan mereka.


“Kalau kau memukul Blokpentes, itu melanggar perjanjian!”


“Persetan dengan perjanjian, kau mau membelanya?!” nada suara Gonde nyaring. Sambil melotot tajam ke pemuda itu.


“Sekali lagi kau memukul Blokpentes , lawanmu tidak hanya dia tapi kami semua,” seru pemuda tadi.


“Kita semua adalah saksi. Wajib menjaga perjanjian yang kalian buat,” seru murid yang lain.


“Betul!” sahut yang lain kompak.


“Lagi pula kami punya hak memukul Blokpentes. Sisakan sedikit kesadarannya agar apa yang menjadi janjinya lunas malam ini juga,” sahut yang lain lagi.


Gonde mendengus keras. Ia melepas dengan kasar cengkeraman tangannya di baju Blokpentes. Setelah itu mundur beberapa tindak ke belakang.


“Seharusnya kalian di pihakku,” sungutnya kesal.


Secara bergiliran murid perguruan mendekati Blokpentes. Mereka membulatkan tangan bersiap mengajar Blokpentes.


“Aku belum makan sejak perang ini pecah, jadi tenagaku hanya tersisa sedikit,” ujar Bolo yang mendapat kesempatan pertama. Ia menaruh tinjunya di perut Blokpentes kemudian menariknya.


“Istriku sedang hamil, aku tak mau kualat,” kata Riangse yang mendapat giliran kedua. Ia juga hanya menaruh tinju di pipi Blokpentes, lalu mendorongnya dengan pelan.


“Gara-gara menjewer telinga anak tetangga yang nakal, burung kesayanganku tiba-tiba mati. Dan aku tidak mau, kerbauku juga mati, gara-gara memukulmu,” timpal yang lain lagi, sambil menaruh tinjunya di perut Blokpentes kemudian menariknya.


Begitulah, puluhan murid dan penjaga pertahanan di gerbang barat tak ada yang benar-benar memukul Blokpentes dengan sungguh-sungguh. Hanya meletakkan tinju di perut pemuda itu, kemudian memberi jalan bagi yang lain melunasi perjanjian.


Hingga giliran yang terakhir. Seorang pemuda, berambut panjang dikuncir di belakang. Berbeda dengan yang lain, ia tak mengepalkan tangannya.


“Plak!”


Pemuda itu menampar pipi Blokpentes dengan sedikit keras.


“Jangan bilang lagi, tidak punya siapa-siapa di dunia. Kami semua adalah saudaramu,” ujarnya.


Murid yang lain menatap haru.


“Bangunlah, kalau kau tidur malas-malasan seperti itu, bagaimana kita bisa membawa gadis ini ke Balai Desa?”


Blokpentes menyelipkan senyum. Ia mengulurkan tangan meminta bantuan untuk bangkit. Pemuda berambut gondrong itu menyambut, diikuti murid yang lain ikut membantunya berdiri.


***