
***
“Apa monster itu mati?” Salah satu di antara mereka bertanya usai bersorak girang.
“Tidak mungkin,” sahut yang lain.
Kepala mereka menyembul bersamaan di lubang-lubang jebakan. Namun, belum ada yang berani keluar dari persembunyian.
“Mungkinkah monster itu pura-pura pingsan?” tanya yang lain.
"Jangan-jangan sedang mengintip kita keluar dari balik semak belukar?" duga yang lain was-was.
"Bagaimana kita tahu monster itu pingsan atau sedang mengintip?” Seseorang mulai jenuh terus berada di dalam lubang. “Tidak mungkin kita seterusnya seperti tikus sawah di sini sampai pagi,”
“Aku yakin monster itu pingsan. Tenaganya terkuras habis setelah mengamuk di dalam desa dan memburu kita di sini," kata yang lain lagi.
"Harus ada yang pergi melihatnya langsung dari dekat,” ujar Jayengrana yang juga menyembulkan kepala di balik lubang. “Siapa yang bersedia?"
Ia menatap ke sekeliling. Tapi semua rekannya kompak memandang ke arahnya.
“Baiklah, sudah diputuskan. Berarti aku orangnya. Fyuh,” Jayengrana menghela nafas panjang. Menunduk lemas.
Setelah menarik ulur nafas beberapa kali, ia melompat keluar lubang. Lalu mulai berjalan perlahan.
“Srekk ... Srekk ..."
Kakinya jinjit. Badannya membungkuk. Mata dan telinga dipasang waspada. Ia terus bergerak mendekati posisi di mana monster terakhir kali terlihat, sebelum tumbang.
“Tenanglah Jayengrana, aku bersamamu,” kata rekannya setengah berbisik dari dalam lubang. Kepalanya menyembul sebatas dagu.
“Terima kasih, ucapanmu sedikit menolong,” sahut Jayengrana seraya tersenyum kecut.
Kekhawatiran melanda semua murid perguruan di bawah komando Jayengrana. Begitu juga pasukan pertahanan gerbang barat enggan keluar dari persembunyian. Mereka takut kalau-kalau monster itu menyergap dari arah yang tak diduga-duga.
Pada situasi yang tak jelas itu, lubang jebakan adalah tempat yang paling aman.
Seorang lagi mengingatkan Jayengrana. Pemuda itu bertubuh gemuk dengan mata bulat. Tapi bibir dan hidungnya kecil. “Berhati-hatilah, kau masih punya utang lima kepeng padaku,”
Jayengrana menoleh. Mendapati rekannya menatap dengan cemas. “Terima kasih Bolo, kau peduli sekali,” sahurnya.
“Iya sudah kuduga. Itu akan menyemangatimu kawan,” sahut Bolo.
Jayengrana kembali melangkah. Sekarang, keringat dingin keluar dari tangan dan dahinya.
Perlahan ia meraba sesuatu di pinggang. Menarik dengan cepat lalu menggenggam dengan sangat erat.
“Kau yakin menggunakan itu Jayengrana?” tanya seseorang di lubang tak jauh dari tempatnya berjalan mengendap-endap.
“Apa ini terlihat meragukan?” tanya balik Jayengrana dengan wajah risau.
“Teruslah maju kawan. Gunakan pisau itu dengan benar, aku yakin kau pasti bisa mengalahkannya!” sahut yang lain lagi.
“Memang bisa?” tanya di sebelahnya.
“Maksudmu?” dua pria yang berada dalam lubang berdekatan itu saling sahut.
“Bagaimana bisa pisau sekecil itu dapat diandalkan, sementara semua senjata tajam dipatahkan monster itu dengan mudah, seperti mematahkan ranting kering?” balasnya.
“Kalau aku diposisi Jayengrana, aku akan tusuk mata monster dengan pisau!” suaranya meninggi. Ia terlihat yakin dengan ucapannya sambil mengarahkan telunjuk ke matanya sendiri.
“Kalau begitu mengapa bukan kau saja yang maju menggantikan Jayengrana?"
“Kalau saja gigiku tidak sakit aku pasti maju!” balasnya dengan tatapan meyakinkan.
“Lah, kan yang menusuk tangan bukan mulut?” timpal rekannya.
“Aduh, kakiku tiba-tiba sakit,” ujarnya meringis.
Rekannya yang melihat aksi pemuda itu langsung mencibir. Begitu juga yang lain kompak menyoraki.
“Wuuuu!!!”
“Aku serius. Kalau saja kakiku tidak sakit, aku yang akan maju!" balasnya sengit pada yang lain.
“Sudahlah kawan-kawan. Pada situasi seperti ini, jangan sampai hal kecil membuat kita terbelah,” Jayengrana melerai teman-temannya yang memojokkan pemuda tadi. “Aku akan berlari sekencang-kencangnya kalau ada sesuatu yang tak beres nanti,”
Suara mereka yang gaduh kembali tenang. Fokus dan kekompakan mereka dibutuhkan untuk mengantisipasi bahaya.
“Tak salah maha Guru menunjukmu sebagai pemimpin kami,” puji rekannya.
Telinga Jayengrana terasa melebar. Lubang hidungnya membesar. Udara begitu lancar keluar masuk ke paru-parunya, begitu mendapat pujian.
Ia menegakkan badannya. Wajahnya yang tegang berubah tenang dan bernyali. Lalu dengan langkah digagah-gagahkan, Ia kembali berjalan.
Semua rekannya semakin kagum melihat keberaniannya.
Walau sejujurnya jauh di lubuk hatinya terbersit ngeri. Kalau-kalau monster menyerang dengan kalap dari arah tak terduga.
“Benar juga, akan aku colok matanya dengan pisau ini,” ujarnya dalam hati.
Ia tidak sempat membawa pedang, tombak, atau keris. Saat pengumuman desa dalam keadaan darurat, murid perguruan diperintah membantu evakuasi warga melalui lorong rahasia.
Lalu perintah baru muncul, membantu pertahanan di tiga gerbang desa. Senjata di padepokan diperebutkan murid-murid lain yang juga tidak sempat membawa senjata.
Beruntung, Jayengrana selalu menyelipkan sebilah maje atau pisau kecil di pinggangnya.
Saat Jayengrana semakin dekat dengan posisi robohnya monster, tiba-tiba,
“Wusss!”
“Bruakkk!!”
“Aaaaaa!!!” Jayengrana mengaduh kesakitan.
Teman-temannya yang memantau dari jauh tak kalah kaget. Tubuh Jayengrana terlihat jelas tersedot ke dalam bumi.
“Jayengrana.... jayengranaaaa!!!”
Mereka memekik bergantian. Memanggil-manggil namanya. Namun tak ada jawaban. Situasi berubah mencekam. Wajah mereka panik menunggu apa yang akan terjadi berikutnya.
“Kau jangan mati. Bayar dulu utang lima kepeng itu,” sahut Bolo.
“Srekkk!!”
Tangan menyembul, dari dalam tanah. Tidak lama kemudian, kepala Jayengrana nongol. Wajahnya memerah, susah-payah naik ke atas lagi.
“Si... siapa yang menutupi permukaan lubang ini?!” pekik Jayengrana. Tangannya meraba sesuatu di permukaan tanah untuk dijadikan pegangan memanjat.
Rupanya ia terperosok ke salah satu lubang jebakan hewan buruan yang ditutup rapat dedaunan kering.
Rekannya yang lain saling memandang. Beberapa saat tidak ada yang mau mengaku. Sampai salah seorang berteriak pada rekannya yang lain.
“Woi, Riangse. Bukannya kau tadi berputar-putar di lubang itu?” serunya.
Semua orang beralih menatap Riangse. Pemuda yang ada di lubang pojok, salah tingkah. Akhirnya ia pun mengakui perbuatannya.
“Maaf tadi aku berencana menyiapkan lubang jebakan itu untuk monster. Ukurannya lebih lebar dan lebih dalam dibanding yang lain. Tahunya malah Jayengrana yang terperosok,” ujarnya sambil meminta maaf.
Susah payah Jayengrana memanjat lubang. Dalamnya tujuh kali panjang tubuhnya. Diameter lubang bisa muat sepuluh orang dewasa.
Lubang itu lebih mirip sumur daripada jebakan.
Setelah berhasil naik, Jayengrana kembali berjalan. Pinggang dan bokongnya masih terasa sakit. Namun ia tidak bisa menyalahkan Riangse. Semua orang di tempat itu panik dan ingin berbuat terbaik mengalahkan monster.
Setelah mencari ke sana-ke mari, ia kaget melihat sesuatu. Wajahnya terlihat bingung.
“Woi kalian semua cepat kemari!” panggil Jayengrana.
Mereka berlompatan keluar dari lubang dan mendekati Jayengrana. Sesaat kemudian, rekan-rekannya ikut kaget. Ternyata, bukan monster yang didapati. Tetapi sesosok tubuh perempuan tergeletak lemas.
“Jumindri,” kata salah satu di antara mereka yang langsung mengenali perempuan itu.
“Berarti dialah monsternya!” Ujar yang lain geram.
“Pantas anak ini dijauhi. Di balik wajah manisnya, ternyata ada iblis berbahaya bersemayam dalam dirinya!”
“Aku pikir ini kesempatan kita!” kata seseorang lalu memegang pundak Jayengrana. Pria itu bernama Gonde. Perawakannya tinggi kurus dengan rambut keriting.
“Maksudmu?” tanya Jayengrana.
“Anak ini harus kita bunuh!” ujar Gonde, mengagetkan yang lain.
“Kenapa harus dibunuh?” lirih Jayengrana.
“Sudah jelas-jelas perempuan ini sangat berbahaya bagi desa!” kata Gonde. Matanya membesar lalu dengan suara menggebu mempengaruhi rekan-rekannya, “Kalau perempuan ini kita dibunuh, desa akan mengapresiasi kelompok kita. Bahkan, sangat besar kemungkinan kelompok ini akan diangkat bekerja menjadi prajurit desa. Masa depan kita akan cerah. Kita tidak perlu takut lagi menikah karena hidup pasti mapan!”
Semuanya terdiam. Ucapan Gonde tadi terdengar keji dan licik. Tapi sangat menggiurkan.
Mereka sadar, lulus dari perguruan tidak menjamin diterima bekerja sebagai prajurit. Desa akan melakukan seleksi ketat, menyaring yang terbaik di antara mereka. Kelak murid di atas rata-rata yang akan diangkat sebagai prajurit.
“Aku tidak setuju kalau dia dibunuh,” ujar Bolo. Murid bertubuh bulat montok itu.
“Iya aku juga,” sahut yang lain.
Mendapati banyak temannya protes dengan idenya Gonde, berpikir keras. Setelah mendapat jawaban bagus ia berkata, “Baiklah. Kita bisa saja membuang tubuh gadis ini ke jurang dan desa akan selamat dari bencana serangan monster lagi. Namun setelah hari ini, esok, lusa, satu bulan, satu tahun, tidak akan ada lagi yang peduli dengan jasa-jasa kita malam ini. Nyawa yang kita pertaruhkan tidak ada artinya. Jasa akan dilupakan, dan kita akan menjadi salah satu dari lulusan perguruan yang kesulitan masuk menjadi prajurit. Bahkan berpotensi kembali ke pekerjaan orang tua di ladang, pasar, atau sawah. Singkatnya gagal, memperbaiki derajat keluarga,”
Beberapa murid terlihat termangu. Dari wajah mereka terlihat mulai goyah dan tergoda.
Gonde menyadari teman-temannya mulai galau. Dan pemuda itu segera menggunakan kalimat pamungkas untuk mengubah pendirian teman-temannya yang ragu.
“Apa salahnya kita bunuh wanita ini. Bukankah dia sudah membuat banyak kerusakan di desa? Banyak warga yang pasti geram dengan perbuatannya. Maka kalau mau sedikit kasar, kita akan dapat pujian sebagai pahlawan karena berhasil membawa kepala Jumindri ke hadapan warga dan tetua desa. Bagaimana?” ujarnya sambil mengulum senyum.
***