SELAQ

SELAQ
Episode "Pengadilan untuk Baloq Darwire" (27)



Nursiwan dan Kertaji tiba di balai Desa Bunge. Membawa serta Baloq Darwire yang masih belum sadarkan diri.


Setelah membaringkannya di atas tikar pandan, mereka duduk bersimpuh di samping Baloq Darwire. Tampak seorang wanita tua di antara mereka. Dia adalah Baloq Selasih. Istri Baloq Darwire.


Mata wanita tua itu bengkak, tak hentinya mencucurkan air mata. Hatinya perih menyaksikan sang belahan jiwa terbaring tak berdaya.


Dielusnya rambut sang suami yang memutih dan jarang. wajah keriput itu telah menemani tangis dan tawanya hampir satu abad. Bila malam ini Sang Hyang Kuasa menjemputnya ia berharap diajak bersama.


“Kasihan Darwire. Di usia setua ini, menghadapi persoalan pelik desanya,” lirih Nursiwan memecah keheningan malam. Tatapannya iba melihat sahabatnya.


“Tidak ada yang tahu peristiwa dan takdir apa yang akan dijalani setiap manusia. Tidak ada juga yang dapat memesan takdir agar di masa tua jalan hidup baik-baik saja. Semua atas kehendak-Nya, kita manusia hanya dituntut menyelesaikan setiap persoalan dengan sebaik-baiknya,” ujar Kertaji. Pria berbalut kain hitam sekujur tubuhnya dengan menyisakan mata kanan saja yang terlihat, menjamah tangan Baloq Darwire. Ia merasakan tubuh pria tua itu masih hangat.


“Hidup ini seperti melukis di atas kanvas putih. Setiap goresan yang tidak sengaja dibuat harus bisa diubah menjadi gambar yang memperindah lukisan besar kehidupan yang kita buat masing-masing,” imbuh Kertaji.


Nursiwan memandangi lekat-lekat wajah sahabatnya. Lalu pandangannya beralih turun ke badan sampai kaki.


Warna hitam ke merah-merahan tersebar di tubuh Baloq Darwire. Luka itu bekas pukulan api Selaq Bunge. Lain pula memar dan lembam tersebar dari wajah hingga ujung kaki.


“Kalau saja Darwire tidak memiliki kemampuan olah kanuragan yang tinggi, sulit manusia biasa bertahan selama ini,” ujar Nursiwan.


“Yah... Bagaimanapun Darwire satu dari lima manusia setengah dewa. Ia dan empat adiknya pernah menaklukkan bangsa Jin di lembah ini sampai akhirnya kita semua bisa menikmati membangun desa bersama-sama,” ujar Kertaji. Ia menghentikan sejenak ucapannya. Lalu dengan punggung telapak tangannya, mengecek suhu tubuh Baloq Darwire di keningnya. “Kalau saja dia masih muda, aku yakin kehebatan Selaq Bunge bisa diimbanginya,”


“Kau juga hebat dapat mengimbangi kesaktian Selaq Bunge,” puji Nursiwan pada Kertaji.


Sekali lagi Kepala Desa Daun itu menarik nafas dalam lalu mengembuskan perlahan. Ada sesuatu yang mengganjal dihatinya ketika mengingat pertempurannya melawan pimpinan para Selaq itu.


“Selaq Bunge belum mengeluarkan semua kemampuannya,” ujar Kertaji.


“Mengapa kau berkesimpulan seperti itu, bukankah ilmu Tijuh Melekat yang langka itu bisa kau halau dengan mudah?”


“Mudah? Owh, mata, gigi, tangan, dan kaki rasanya mau copot. Aku harus mengeluarkan seluruh tenaga dalam menghalau bulir hujan bom itu,”


“Kau terlihat sangat menikmati pertempuran melawannya?” celetuk Nursiwan.


“Hanya petarung bodoh yang memperlihatkan kelemahannya pada lawannya,” timpal Kertaji.


“Jadi begitu,” ujar Nursiwan sembari mengulum senyum.


“Saat Selaq Bunge menurunkan ilmu Tijuh Melekat, tenagaku masih segar. Cukup untuk mengendalikan angin mendorongnya ke luar desa. Kalau saja pertarungan itu berlangsung lebih lama dan Selaq Bunge mengombinasi serangan yang dikuasainya antara unsur api dan air, entahlah apa yang akan terjadi pada kita,” ujar Kertaji bergidik ngeri.


Lalu menyambung lagi, “Selaq Bunge semakin tidak fokus saat mendengar kematian Mopol Kesur. Rencana besarnya membangun koloni Selaq buyar sementara waktu,”


Nursiwan menimpali, “Mereka harus mencari ahli ekonomi pengganti Mopol Kesur untuk mewujudkan rencana besarnya membangun kerajaan Selaq,”


“Mencari pengganti Mopol Kesur tidak gampang. Sekalipun Selaq di dalam hutan jumlahnya ratusan, kebanyakan masih ‘baruq jari' atau masih awam. Jangankan berpikir membangun kerajaan, mengendalikan diri saja belum bisa. Mereka masih liar, suka makan kotoran, bangkai, ataupun ayam hutan hidup-hidup. Ratusan Selaq yang bersembunyi di dalam hutan masih takut dengan cahaya matahari. Mereka belum bisa diajak berpikir oleh Selaq Bunge dan kelompoknya,” kata Kertaji.


Tatapan Nursiwan beralih ke Baloq Darwire. Tapi kemudian air mukanya berubah. Alisnya naik. Ia teringat sesuatu. “Di mana Artha Prana, aku tak melihatnya?” tanya.


“Aku tiba di desa ini bersamaan dengan dia. Tapi kemudian kami berpisah jalan. Artha Prana, mungkin membantu mengendalikan perubahan wujud Jumindri,” ujar Kertaji.


“Kalau saja tadi Darwire tidak bercerita pada Selaq Bunge, bahwa Jumindri harus bermetamorfosis sebelum menjadi Sang Ratu, sungguh aku tidak tahu sampai kapanpun,” gumam Nursiwan.


“Sudahlah, kita serahkan saja pada Artha Prana dan Rawilih masalah Jumindri. Sekarang bantu, aku akan coba mengobatinya,” usai berkata, tangannya terjulur memperhatikan lagi, salah satu luka bakar di tangan Baloq Darwire.


“Luka bakar yang dideritanya, tidak terlalu serius. Tidak sampai merusak struktur jaringan syaraf dagingnya,”


“Tapi luka dalam yang dialaminya cukup serius. Pembuluh darah dan uratnya banyak yang terjepit. Kalau tidak segera diperbaiki dapat memicu pembengkakan berbahaya,” ujar Kertaji.


Kertaji meminta Nursiwan mendudukkan Baloq Darwire. Ia di lalu mengambil posisi duduk di belakang Darwire.


Mata Kertaji terpejam. Mulutnya mendesis merapal mantra. Lalu dengan ibu jari menotok aliran darah yang menuju titik luka.


Setelah itu dengan tenaga dalam, Kertaji mengumpulkan sel darah yang rusak di sekujur tubuh Baloq Darwire. Cukup lama Kertaji mengerahkan tenaga dalam, menggeser sel darah yang rusak melewati pembuluh yang telah ditotok alirannya agar tak bercampur dengan darah yang masih bagus.


Punggung lengan kiri Kertaji, melintang di kening. Ia sedang membersihkan peluhnya yang bercucuran karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga dalam.


“Mengapa tidak kau buka saja kain penutup tubuhmu, biar aku bisa membantu menyeka peluhmu,” saran Nursiwan.  Sejujurnya, ia pun penasaran setengah mati, seperti apa wajah kepala desa Daun itu.


“Hehehe...” Kertaji tertawa kecil. Lalu berujar, “Asal kau tahu saja, kain penutup ini, telah membantuku menghadapi Selaq Bunge,”


“Bagaimana bisa?” tanya Nursiwan, terlihat masam sarannya tak diikuti.


“Aku sebenarnya beberapa kali meringis kesakitan saat beradu pukulan. Tenaga Selaq Bunge kuat sekali, tapi ia tidak tahu ekspresi wajahku menahan sakit karena tertutup kain, hehe ...” ia kembali tertawa.


Setelah berusaha keras, sel darah rusak berhasil diarahkan Kertaji ke beberapa titik luka lebam. Darah rusak yang berkumpul membuat luka lebam membenjol semakin besar.


Kertaji mengambil pisau di pinggang, membakar ujungnya, setelah itu,


“Sreett ... Sreett ...”


Ujung pisau membelah benjolan. Lalu darah berwarna ke hitam-hitaman dan kental, mengalir deras.


“Kalau darah ini tidak dikeluarkan, tubuhnya akan membusuk dari dalam. Akibatnya Darwire akan merasakan nyeri luar biasa, panas, sakit-sakitan dan akhirnya bisa meninggal lebih cepat,”


Kertaji membuka totokan di sejumlah titik pembuluh darah. Membuka lagi peredaran darah ke seluruh tubuh Baloq Darwire.


“Syukurlah kau bisa mengobatinya,” ujar Nursiwan.


Kertaji menatap Baloq Selasih yang duduk di depannya. Wanita renta itu masih membisu melihat suaminya tak berdaya.


“Tinggal mengobati luka luarnya dengan madu dicampur lidah buaya. Sedangkan luka dalamnya dapat diobati dengan ramuan rempah-rempah,” ujarnya pada Baloq Selasih.


Wanita tua itu mengangguk lemah. Tak sepatah kata keluar dari mulutnya yang keriput. Air matanya masih mengalir walaupun tak sederas di awal.


Beberapa saat kemudian tubuh Baloq Darwire bergerak-gerak. Lalu perlahan pria sepuh itu membuka mata. Namun saat hendak bangkit untuk duduk, Kertaji melarangnya.


“Jangan banyak bergerak dulu. Biarkan aliran darah mendorong sisa-sisa darah yang rusak,”


“Terima kasih sahabat,” ujar Baloq Darwire lemah.


Saat itulah, sesosok bayangan muncul dari lorong yang gelap. Langkah tenang menyibak keheningan. Semakin dekat ke arah balai desa. Setelah tubuhnya disinari cahaya lampu minyak, barulah terlihat jelas siapa yang datang.


“Aku membawa dua kabar. Kabar baik dan kabar buruk,” ujar Artha Prana.


Kertaji, Nursiwan, Baloq Dariwire dan istrinya kompak memandang ke arah Arta Prana. Menunggu penjelasan lebih lanjut kepala Desa Pusuk itu.


***