
***
“Artinya kita tidak perlu seleksi jadi prajurit dan bisa dapat gaji dari Desa?” Bolo, pemuda berwajah bulat, dengan mulut kecil dan sedikit lancip mulai tertarik dengan rayuan Gonde.
“Tepat, cerdas!” Wajah Gonde girang. Ia melihat satu pemuda mulai memahami rencananya.
“Aku takut,” Bolo menekuk kepalanya menghadap tanah. Matanya kejap-kejap, tak mampu membayangkan gadis di depan matanya meregang nyawa.
“Kita lakukan bersama-sama," tantang Gonde mengajak rekan yang lain menghabisi nyawa Jumindri. "Bukankah semua ingin jadi prajurit? Sampai kapan kalian mau menjadi murid terus-menerus? Belum tentu juga setelah lulus bisa lolos seleksi. Mana tahu tidak ada yang beruntung di antara kita,” ujarnya.
Suara mereka berdengung seperti tawon. Ide gila Gonde, terdengar keji tapi sangat menarik.
“Tidak adakah cara lain?” Itu yang mereka bicarakan satu sama lainnya.
Jalan menjadi murid yang berjasa ada di depan mata. Hanya perlu membakar sedikit hasrat binatang di dalam diri, setelah itu mereka bisa jadi prajurit desa yang hidupnya mapan.
“Aku tidak setuju,” lirih Jayengrana yang berjongkok di samping tubuh Jumindri.
mendengar perkataan itu, sejumlah murid perguruan Bunge mengerutkan dahi. Terutama yang berdiri di depan mengelilingi Jumindri dan jelas mendengar ucapannya.
“Kau tidak ingin hidup mapan Jayengrana?” ujar Gonde.
“Mau, tapi bukan begini,” jawabnya parau.
“Kadang kita perlu sedikit kasar demi merebut kesuksesan hidup. Jangan pasang idealisme kocak saat situasi tidak memberi kita banyak pilihan,” suara Gonde menekan. Memaksa Jayengrana setuju dengan gagasannya.
Jayengrana bangkit perlahan. Kepalanya sedikit tertekuk. Wajahnya terlihat gugup. Ia bahkan tak berani menatap lama murid lain yang mengelilinginya.
Lalu dengan suara terbata-bata, ia berkata “Sudahlah teman-teman, darah perempuan ini kotor, mengandung belerang, kuman, dan air comberan. Tangan kalian yang kekar dan kokoh, bisa panuan. Aku kira tak pantas kita membunuhnya,”
Ia mendorong tubuh rekan-rekannya yang mengelilingi Jumindri agar menjauh. Tapi, usahanya sia-sia, tak satu pun bergeming. Kaki mereka seperti menancap ke dalam bumi. Setiap kali mendorong justru tubuhnya terseret ke belakang oleh tenaga sendiri.
Reaksi Jayengrana rupanya membuat banyak murid perguruan tidak senang. Tak sedikit yang menepis tangan Jayengrana dengan keras saat mendorong rekannya menjauhi Jumindri.
“Jayengrana sudahi kelakuan konyol itu. Lihatlah wajah teman-teman yang berharap nasibnya berubah malam ini. Tapi kalau kau tidak setuju, silakan pergi dari sini!” suara Gonde meninggi, matanya melotot, mirip patung Togog.
“Aku rasa ide ini tidak akan berhasil,” sahut Jayengrana.
Ia memandangi satu-persatu wajah rekannya berubah masam. Tatapan mereka menyiratkan sorot mata tak senang.
“Jangan pengaruhi keinginan mereka mengubah nasibnya malam ini," timpal Gonde.
Jayengrana bingung. Ia berjalan berputar mencari dukungan. Tangannya bergerak turun-naik mengajak yang lain sependapat dengannya.
Ia membujuk “Rekan-rekan kita tinggalkan saja perempuan ini di sini,”
“Apa keuntungan kami meninggalkan perempuan ini. Jangan hanya mengajak pergi tapi peluang menjadi prajurit sirna begitu saja, tanpa tawaran pengganti yang bagus,” sahut rekannya.
“Membunuh tetaplah perbuatan salah. Tapi aku berjanji membagikan sama-sama lima kepeng untuk kalian semua,” ujarnya.
Tawaran Jayengrana membuat pendirian sejumlah pemuda goyah. Mereka merasa berat juga bila harus membunuh wanita yang tak berdaya. Lebih-lebih Jayengrana menjanjikan lima kepeng, mereka bisa makan dan minum sepuasnya di kedai dengan kepeng sebanyak itu.
Perubahan sikap sejumlah pemuda disadari Gonde. Ia buru-buru berujar, "Jangan percaya omong kosongnya. Mana mungkin pemuda miskin ini punya uang sebanyak itu. Hitung saja, kalau masing-masing dapat lima kepeng berarti dia akan menghabiskan tidak kurang dari 375 kepeng. Kalian percaya dia punya uang sebanyak itu? Utang di Bolo saja belum dibayar!” cetus Gonde dengan nada wajah sengit.
“Aku jamin uangnya ada,” timpal Jayengrana.
“Uang dari mana?” tanya Gonde tersenyum sinis.
Jayengrana gugup. Ia memang tidak punya uang sebanyak itu. Bahkan utang di Bolo sebanyak lima kepeng telah berumur dua minggu.
Kepalanya berputar. Mencari jawaban dari wajah rekan yang mengelilinginya. Dan sekali lagi Jayengrana menemukan jawaban pada remaja berwajah bulat mirip koin itu. Siapa lagi kalau bukan Bolo.
“Mmmhhh...” tangan Jayengrana cepat membekap mulut Bolo agar tak berkata apa-apa. Namun tangan Bolo masih bisa melambai, memberi isyarat uang yang dimaksud tak ada padanya.
Jayengrana mendorong badan Bolo yang bulat menjauhi rekan-rekan lain. Lalu dengan suara berbisik ia berujar "Apa sulitnya mengatakan iya, demi menyelamatkan nyawa manusia!"
“Tapi aku tidak punya uang sebanyak itu, utangmu saja belum lunas!” gusar Bolo dengan suara berbisik pula.
“Utangku pasti aku bayar. Tapi menyelamatkan nyawa manusia saat ini lebih mendesak!" Jayengrana mendekatkan bibirnya ke telinga Bolo, lalu berbisik "Kau paling kaya di antara kita semua. Kau hanya cukup bilang ‘iya’ mereka semua pasti percaya, sekalipun uang itu tidak ada saat ini!" bisik Jayengrana.
“Menyusahkan sekali, harusnya bisa kau atasi sendiri. Kau ini pemimpin kami, tinggal perintah mereka apa susahnya?!” kali ini Bolo tak bisa menahan dongkol. Suaranya meledak dan terdengar jelas oleh murid perguruan yang lain.
Gonde tertawa cekikan berderai-derai. selanjutnya, berseru lantang, “Maukah kalian aku beri tahu sebuah rahasia besar sekarang?"
Jayengrana sadar arah pembicaraan Gonde. Ia melepas tangannya dari mulut Bolo, lalu berbalik meminta Gonde tak melanjutkan lagi perkataan.
“Mengapa persoalan ini melebar. Bukankah kita bersahabat, aku berharap jangan memperumit hubungan baik ini,” Jayengrana menenangkan hati Gonde yang panas. Suaranya merendah.
Namun Gonde tidak peduli. Ubun-ubunnya kadung terbakar.
“Apa peduliku? Kau saja tidak peduli. Kalau kau anggap membunuh itu kesalahan, lalu apa kebaikan menyembunyikan kebohongan tentangmu?” ujarnya mengentak.
Semua yang hadir di tempat itu memalingkan wajah ke Gonde. Menunggu rahasia penting tentang Jayengrana yang diketahuinya.
"Mari kita bicara baik-baik,” Jayengrana terus merendahkan intonasi suaranya. Meredam gairah Gonde membongkar rahasia itu.
“Ketahuilah, pemuda di depan kalian ini nama aslinya bukan Jayengrana,”
“Kita bisa bicara baik-baik, bukan?”
Jayengrana berupaya merangkul pundak Gonde.
"Plakkl!!!"
Gonde menepis tangan Jayengrana dengan kasar. Lalu mundur beberapa langkah menjauh dengan sorot mata asing.
Jayengrana putus asa. Ia tak melangkah lagi mendekati Gonde. Tapi hanya diam mematung dengan kepala tertunduk menatap bayangan sendiri yang terpapar obor jatuh persis di depannya.
“Nama asli pemuda ini Blokpentes!”
Semua yang hadir di tempat itu berpandangan. Antara kaget dan bingung dengan pengakuan Gonde. Lebih-lebih nama asli Jayengrana terdengar aneh.
“Mbokpentes?” ujar salah satu di antara mereka.
“Bukan, tapi Lokpentes!” tukas yang lain.
“Ngawur saja. Bloknaga!” timpal yang lain lagi.
“Kok Naga?” sergah yang lain.
“Bisa kau ulangi?” seru seseorang di antara mereka meminta Gonde menyebut ulang nama asli Jayengrana.
“Blokpentes! Blokpentes!” pekik Gonde.
“Betul kan aku bilang,” ujar yang lain.
“Memang kau bilang apa?” timpal rekan di samping.
Dengan sorot mata meyakinkan dan penuh penjiwaan dia berkata lantang, “Toples!”
***