SELAQ

SELAQ
Episode "Jiwa-jiwa Haus Tahta" (36)



***


Sekelompok pasukan misterius bergerak cepat. Memasuki sebuah rumah di ujung barat Desa. Kaki mereka ringan menjejak bumi. Tanpa suara derap yang gaduh.


Gerakannya lincah. Kaki-kaki mereka seperti punya mata yang mampu melihat dalam kegelapan. Sekalipun alam terkunci pekat. Mereka bukanlah sosok manusia biasa!


Rumah yang mereka masuki adalah milik pimpinan pasukan elite: Tambing Muter.


“Ada sekelompok pasukan mengincar Anda,” bisik pimpinan kelompok itu.


Tambing Muter masih terbaring lemah. Fisiknya belum pulih setelah bertarung melawan Selaq Bunge ketika melindungi Baloq Darwire.


“Ikutlah dengan kami,” imbuh pimpinan pasukan.


Tak ada jawaban dari Tambing Muter. Ia cuma melirik sesaat dan mendapati sejumlah pasukan mengenakan cadar atau penutup muka. Lalu kembali memejamkan mata.


Salah satu pasukan berjongkok. Menyediakan punggungnya untuk menggendong Tambing Muter.


Pergerakan kelompok itu sangat cepat. Mereka lalu pergi setelah memadamkan lampu minyak di samping pembaringan.


“Kita mau ke mana?” lirih Tambing Muter.


Pria yang menggendongnya memalingkan wajah sambil terus berlari dalam kegelapan. Nampak olehnya Kepala Tambing Muter berguncang di pundaknya. Sosok itu urung menjawab karena pasukan elite pelindung Kepala Desa itu pingsan di punggungnya.


“Kondisinya belum pulih benar,” ujar salah satu di antara mereka yang menjaga dari arah samping kanan.


Ia kemudian menghunus pedangnya. Diikuti pasukan misterius lain yang berjaga di depan, samping kiri, samping kanan, dan belakang. Sambil terus berlari, mereka tak henti-hentinya menoleh ke semua penjuru. Waspada!


***


Sementara itu, sekelompok pasukan misterius kembali datang ke rumah Tambing Muter. Tangan mereka menggenggam senjata tajam terhunus.


“Cari ke semua sudut!” perintah pimpinan pasukan.


Maka segera, puluhan pasukan berlompatan berpencar ke semua sudut rumah. Mencari ke belakang rumah, naik ke langit-langit, hingga ke atap.


“Mereka baru saja kabur!” kata seseorang, menyodorkan Lampu Minyak di tangannya.


Pimpinan pasukan itu meraba sumbu lampu. Terasa olehnya masih hangat. “Hmm, kita kalah cepat. Teman-temannya sesama pasukan elite telah datang lebih dahulu menyelamatkannya,”


“Berarti ada yang membocorkan rencana ini?” tanya yang lain.


“Aku tak heran rencana ini bocor ke pasukan elite. Bagaimanapun pasukan elite adalah gabungan prajurit terbaik dari semua divisi,” gumam pimpinan pasukan itu. “Mereka terdiri atas prajurit nomor satu di divisi Teliksandi, Krame Desa, Prajurit Pertahanan Desa, dan murid berprestasi perguruan Bunge,”


“Lalu bagaimana sekarang, aku khawatir pemimpin revolusi kecewa,” ujar salah satu sosok pasukan misterius.


“Pemimpin revolusi sudah mengantisipasi kegagalan ini. Kita hanya diminta berusaha menangkap Tambing Muter hidup atau mati, walau beliau tahu menangkapnya tidak akan mudah,” ujar pimpinan pasukan misterius itu. “Pemimpin revolusi telah menyiapkan rencana lain kalau kita gagal menangkapnya,”


Pimpinan kelompok membuka jendela kamar dan menerawang jauh ke luar.


“Tambing Muter pasti di bawa lari ke luar desa. Pasukan elite sudah merasakan gerakan revolusi ini tidak terbendung. Tidak ada tempat yang aman bagi kaki tangan Darwire selain kabur seperti anjing ke luar desa,”


“Lalu bagaimana sekarang?”


“Kembali ke markas komando revolusi,” ujar pimpinan pasukan misterius itu.


“Baik!” jawab mereka kompak.


***


Sudah sepekan Jumindri belum juga sadar. Ia masih terbaring di rumah panggung kawasan Perguruan Bunge.


Jumindri belum dapat dibawa ke hadapan Baloq Darwire. Kepala Desa Bunge itu tak lebih baik kondisinya. Sekalipun luka dalam yang dideritanya telah diobati Kepala Desa Daun Kertaji. Fisiknya masih sangat lemah.


Usianya yang sudah renta membuatnya butuh waktu lebih lama untuk pulih. Luka-luka masih basah dan tulangnya patah di banyak titik.


Maha Guru Raden Aryadi memerintahkan murid-murid perguruan menjaga gadis itu bergantian. Hal ini karena warga banyak yang dendam setelah mengetahui rumahnya rusak oleh Jumindri. Belum lagi korban jiwa sanak saudara hingga orang tua akibat kebuasan perwujudan monsternya.


Malam itu, giliran Blokpentes dan Bolo mendapat tugas berjaga.


“Ohamm!” Blokpentes menguap lebar. Tangannya mengucek dua matanya yang gatal. “Aneh, mataku sebenarnya ngantuk sekali tapi sulit sekali rasanya terlelap. Udara terasa panas,”


Bolo yang duduk di samping Blokpentes menjawab dengan dengkuran. “Groook!!”


“Cepat sekali,” sungut Blokpentes. Padahal ia cuma menyela obrolan dengan mengunyah sepotong ubi rebus. Tapi Bolo sudah ke alam mimpi.


“Lo ... Bolo ... Bolo!”


Blokpentes mengguncang-guncang bahu sahabatnya itu. Usahanya sia-sia. Dengkuran Bolo semakin kencang.


“Groook! Groook!”


Blokpentes buru-buru menyumpal telinganya. Suara dengkuran itu seperti meninju gendang telinga.


“Sial!” makinya. Ia menggerutu dongkol, “Mengapa ada manusia seburuk ini dengkurannya?”


Blokpentes bangkit. Masih dengan dua telunjuk menyumpal telinga. Setelah berputar-putar di sekitar rumah ia mendapat ide.


“Srek-srek!”


Dengan menarik kakinya, tubuh Bolo diseret ke luar rumah panggung.


“Berat sekali,” gerutunya lalu menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Blokpentes istirahat sejenak mengembalikan tenaga yang terkuras.


Setelah tenaganya pulih, ia kembali menyeretnya keluar.


Tapi saat menuruni anak tangga, tubuh Blokpentes oleng. Kakinya tersangkut anak tangga. Tak ayal badannya terpelanting lalu terjerembab jatuh.


Badan Bolo lebih parah lagi. Pemuda bertubuh bulat itu tak hanya terbanting dari anak tangga, tapi juga menggelinding seperti botol.


“Bruuukkk ... Pletaaaak!”


Kepala Bolo terbentur batu besar. Pemuda itu terbangun dan merasakan kepalanya pusing. Blokpentes buru-buru bangkit menghampiri.


“Ssss ... sss ... tenanglah pemuda tampan. Tidurlah. Yang nyenyak, yang lelap,” ujarnya, sambil menepuk-nepuk paha Bolo supaya tidur.


“Kepalaku sakit,” ringis Bolo sambil mengelus-elus benjolan di kepalanya.


“Oh, itu cuma bekas nyamuk. Tidurlah pemuda tampan, tidur yang lelap,”


“Tapi kok benjolnya besar sekali?” gumam Bolo setengah sadar.


“Oh itu. Anu, tadi preman nyamuk yang menggigit. Jadi agak besar. Tapi aku sudah mengejarnya hingga ke dalam hutan. Tidurlah, aku akan menjagamu kali ini,” kata Blokpentes gugup.


Benar saja, setelah mengelus-elus benjol di kepalanya, Bolo kembali terlelap. “Ohamm... Zzzzz....”


Blokpentes tersenyum senang. Pelan-pelan ia meletakkan kepala Bolo di atas tanah. Setelah itu ia beranjak mengambil cangkul.


“Muhehehe...” Blokpentes tersenyum sendiri. Ia berniat memberi pelajaran pada temannya itu dengan menguburnya. “Biar kapok!” gerutunya kesal.


“Fyuh!” ia menyeka keringat setelah selesai menutup tubuh Bolo dengan papan.


Murid perguruan Bunge itu kembali tersenyum. Membayangkan keesokan harinya, Maha Guru Raden Aryadi dan murid lainnya, menyidang Bolo karena lalai menjalankan tugas.


“Sreek!”


Blokpentes baru saja melempar tanah terakhir ke atas kuburan Bolo. Namun suara dengkuran Bolo masih terdengar kencang.


“Setidaknya aku tahu dia masih hidup,” gumamnya lalu terkekeh.


Ia kembali menaiki rumah panggung. Menghempaskan pantatnya di depan pintu. Dari tempat itu dengkuran Bolo masih juga terdengar.


“Layak dijuluki dewa Dengkuran,” gumamnya.


Tangannya meraih kendi berisi air dan meneguknya. Setelah itu mencomot potongan ubi rebus yang tersisa.


Ia memperhatikan Jumindri yang terbaring di atas dipan. Posisinya tak berubah sedikit pun sejak diletakan di tempat itu tujuh hari yang lalu. Maha Guru Raden Aryadi memasangkan jeruji besi di sekitar dipan. Berjaga-jaga Jumindri berubah menjadi monster dan sulit dikendalikan.


“Kau pasti kesepian,” lirihnya.


Saat merenung sendirian itulah, tiba-tiba dari arah kegelapan sekelompok orang datang. Mereka berjalan tergesa-gesa dengan nafas memburu tegang.


Blokpentes menyambar obor lalu melompat turun. Berdiri menghadang di lorong masuk. Matanya memicing memperhatikan siapa yang datang.


“Mana iblis itu?!” seru pemimpin kelompok itu. Seorang pria berumur. Sisanya anak muda. Mereka datang dengan membawa senjata tajam.


“Iblis?” Blokpentes menatap bingung. “Sepertinya kalian salah arah. Di sini perguruan Bunge. Maksudku kalau kalian hendak mencari iblis, aku rasa Ia tinggal di neraka,”


“Jangan pura-pura bodoh. Maksud kami anak perempuan jelmaan iblis itu!” sahut seorang pemuda di antara mereka.


“Oh, Jumindri,” Blokpentes mengangguk paham arah pembicaraan orang-orang kalut yang datang dengan nafas memburu.


“Kalau gurumu tidak berani membunuh iblis itu, biar kami yang melakukannya!” seru yang lain.


“Mumpung dia masih berbentuk manusia. Kalau suatu saat kembali ke bentuk iblis, kita tidak akan bisa berbuat apa-apa dan desa ini akan dihancurkannya lagi!” ujar yang lain.


“Kau siapa?” tanya yang paling tua.


“Saya, Blokpentes paman,”


“Blokpentes?” pria itu mengulangi jawaban yang didengarnya. Seperti ingin memastikan apa yang didengar tak salah. “Berarti kau pemuda yang disebut-sebut mengalahkan monster itu ya?”


Blokpentes tak menjawab. Ia cuma tersenyum di bawah sinar obor yang dipegangnya dengan erat.


“Senang sekali saya bisa bertemu denganmu nak. Ternyata ini pahlawan desa kita,” ujarnya bangga pada teman-temannya yang lain.


“Tapi kata yang lain dia bukan pahlawan. Hanya kebetulan menang karena monster itu kelelahan setelah mengamuk!” sahut yang lain.


“Aku mendengar cerita kalau dia telah membohongi satu perguruan,” sahut yang lain lagi. “Ketika pertama kali datang ke perguruan ini dia memperkenalkan diri dengan nama Jayengrana padahal nama aslinya Blokpentes,”


Blokpentes masih terdiam. Ia bingung harus mulai menjawab dari mana. Orang-orang itu sibuk dengan pikirannya masing-masing dan tidak memberinya kesempatan sedikitpun membela diri.


“Tapi aku yakin anak ini hebat," cetus pria tua. Ia kesal sedikit yang mendukungnya. “Bagaimanapun dialah yang merobohkan monster itu,"


“Apanya yang hebat paman, kalau hanya melawan monster yang kelelahan aku juga bisa!" tepis pemuda yang lain.


“Aku juga mendengar dia melindungi Jumindri dari teman-temannya yang mau menghabisinya,” timpal yang lain lagi. "Tapi malam ini kita harus berhasil membunuh iblis itu!"


Raut wajah pemuda itu terlihat menantang. Tak sedikitpun gentar pada Blokpentes. Ia yakin kemenangan Blokpentes cuma keberuntungan belaka.


Blokpentes menyilangkan tangannya di di depan dada. Matanya terpejam.


“Apa yang dilakukannya?” tanya seseorang memperhatikan Blokpentes.


Belum saja ada yang menjawab, Blokpentes telah membuka mata. Tapi raut wajahnya berubah tegang dengan dahi berkeringat.


“Ada apa nak?” tanya si orang tua.


Blokpentes tak menjawab. Ia semakin terlihat gugup.


“Katakan apa yang terjadi, mengapa kau terlihat tegang?” imbuh orang tua itu.


“Alah, paling cuma nakut-nakuti agar kita tak jadi membunuh iblis itu!” seorang pemuda menepis ketegangan karena perubahan raut wajah Blokpentes.


“Bener kata kalian. Aku pikir sekaranglah saatnya membunuh anak itu,” ujar Blokpentes.


Sekelompok orang itu berpandangan. Mereka tak mengerti apa yang terjadi. Juga tidak tahu apa yang membuat Blokpentes berubah tegang.


“Katakan pada kami apa yang tidak kami ketahui. Mengapa wajahmu panik sampai berkeringat seperti itu?” ujar orang tua.


“Sebelum kalian datang, aku baru saja bertarung melawan monster itu. Kalian mungkin tidak percaya tapi aku tak akan memaksa,” jawab Blokpentes.


“Lalu?” tanya yang lain.


“Mana bukti kau bertarung dengannya?” timpal yang lain lagi.


“Tentu saja aku punya kesaktian dan terjadilah pertarungan maut antara kami berdua. Lalu dengan ilmu pamungkas Melebu Bumi, monster itu aku tarik masuk ke dalam perut bumi!” ujar Blokpentes dengan wajah serius.


“Omong kosong!” ujar salah seorang pemuda. “Mana mungkin ada manusia bisa masuk ke dalam bumi!”


“Sekali lagi, aku tak memaksa kalian percaya. Tapi situasinya saat ini benar-benar berbahaya. Dan aku sangat butuh bantuan kalian semua!”


“Maksudmu?” tanya yang lain lagi.


“Ketika aku bertarung tadi, Jumindri masih berwujud manusia. Tapi baru saja melalui pendengaran mata batinku yang sangat tajam, anak itu telah berubah di dalam tanah menjadi monster!”


Wajah mereka berubah tegang. Tak terbayang cerita mengerikan amukan monster itu, sesaat lagi akan terjadi di depan mata mereka. Beberapa orang di antaranya gemetaran. Ada juga yang terkencing-kencing di celana.


“Aku tak percaya. Paling cuma bualanmu saja!” kata pemuda yang tadinya terus menolak takut. Sekalipun kini raut wajahnya mulai terlihat garis-garis ketegangan.


“Bagus!” ujar Blokpentes lalu menarik tangan pemuda itu.


“Buat apa?” pemuda itu menepis tangan Blokpentes dengan ekspresi gugup.


“Bantu aku melawan monster itu!” kata Blokpentes kemudian.


Ia menarik lengan pemuda itu masuk ke halaman rumah. Diikuti yang lain dengan takut-takut. Tapi pemuda tadi rupanya cukup bernyali. Sekalipun jantungnya sudah seperti hendak meletus berdentam-dentam di dada.


“Groookk.... Groookk!!!”


Telinga pemuda itu menempel di atas tanah. Ia mendengar suara itu datang dari perut bumi. Darahnya tersedot ke ubun-ubun. Mukanya pucat, tangan dan kakinya dingin.


Lalu melesat bagai anak panah yang lepas dari busurnya. “Monster!!!! Selamatkan diri kalian!!!!” pekiknya.


Di kepekatan malam. Di bawah sinar bintang-bintang. Orang-orang itu berhamburan menyelamatkan diri dengan rasa takut yang menyayat nyali!


***