SELAQ

SELAQ
Episode "Mahkota Berpindah Kepala" (40)



***


(Pembawa Cerita) ~ Gejolak revolusi tak terbendung. Di mana-mana pekikan menuntut Baloq Darwire diadili menggema. Kepala Desa pertama Desa Bunge itu juga dipaksa segera turun tahta.


Sebagian besar rakyat gelap mata. Tak secuil kebaikan diingat walaupun Baloq Darwire telah membawa desa itu menjadi subur makmur. Hanya karena perjanjian dengan Bangsa Selaq, warga menuntut Baloq Darwire dihukum seberat-beratnya.


Tragisnya kematian Baloq Sawiye dan Suriane menabah geger desa Bunge. Berembus kabar Pimpinan Pasukan Elite Tambing Muter otak di balik pembunuhan dua Dewan Desa itu.


Tak ada malam yang dilewati tanpa rasa cemas. Menyusul rumor tiga dewan desa yang tersisa Sinarsih, Menggale, dan Saminggah juga akan dihabisi.


Warga desa semakin gelisah dan marah. Setiap malam mereka keluar rumah menenteng senjata tajam. Menjaga rumah-rumah dewan desa dari gempuran pasukan elite.


Rumor itu semakin dibumbui hasrat haus kuasa. Tambing Muter dituduh ingin membunuh semua Dewan Desa agar terpilih menjadi kepala desa Bunge. Menyusul keadaan Baloq Darwire yang lumpuh.


Di tengah badai fitnah yang membuat warga resah, Komandan Pertahanan Desa Raden Rumasih muncul sebagai pahlawan. Ia mengerahkan pasukan menangkap dan menghabisi para simpatisan Pasukan Elite.


Lalu dengan berapi-api Raden Rumasih berjanji mengorbankan dirinya demi melindungi harkat, martabat, serta tegaknya desa dari para pemburu kekuasaan.


Ia pun meraih simpati rakyat. Dielu-elukan sebagai calon kepala desa. Menggantikan Baloq Darwire yang dianggap berdosa besar!


Hanya sedikit yang tahu, pembunuh Baloq Sawiye dan Suriane bukanlah pasukan elite, melainkan pasukan revolusi yang menyamar menjadi pasukan elite. Mereka semua di bawah perintah Raden Rumasih!


Begitulah hakikat politik. Penuh intrik, strategi, fitnah, dan pengkhianatan. Tapi sejatinya memang politik bukanlah tentang siapa benar, siapa salah. Tapi siapa pemenang dan siapa yang akhirnya menjadi pecundang. ~


Malam itu, ribuan orang tumpah ruah di halaman Balai Desa yang luas. Mereka duduk menunggu dengan tertib di bawah ratusan obor yang tertiup angin.


Sementara di balai tanpa dinding itu duduk para tokoh desa. Mereka akan melakukan sangkep atau rapat. Sekeling Balai Desa dijaga ketat pasukan pertahanan, Krame Desa, dan sejumlah murid perguruan Desa Bunge.


Di tengah duduk dengan wajah tenang Komandan Pertahanan Raden Rumasih. Ia diapit dua petinggi desa lainnya. Sebelah kirinya duduk Sigrah. Dia adalah Ketua Dewan Perwakilan Desa yang baru. Pengganti Baloq Sawiye.


Sedangkan di sebelah kanan Raden Rumasih duduk Komandan Krame Desa Raden Sangkan. Dia adalah pengganti Raden Sentane yang gugur saat pernah melawan iblis titisan Jumindri.


Di hadapan tiga tokoh itu, duduk bersila Tetua Adat Desa Resi Wilahuni. Tak jauh di samping kirinya, duduk Maha Guru Raden Aryadi


Sangkep itu dipimpin langsung Resi Wilahuni. Pria berumur 200 tahun itu, tengah sibuk melipat-lipat daun sirih sebelum sangkep dimulai.


Sedangkan Baloq Darwire tak bisa hadir. Kondisinya yang lumpuh membuat sangkep desa Berlangsung tanpa kehadirannya.


“Resi ini petinggi desa yang baru. Namanya Raden Sangkan, ia menggantikan Raden Sentane di posisi Komandan Krame Desa,” kata Raden Rumasih memperkenalkan pria yang duduk di sebelah kanannya pada Resi Wilahuni.


Resi Wilahuni, manggut-manggut sambil memamerkan giginya yang tinggal satu. Di balik alisnya yang terjuntai panjang ke lantai dan pelupuk matanya yang kusut, ia menyapa Raden Sangkan dengan senyum khasnya.


“Sedangkan ini adalah Sigrah. Ia Ketua Dewan Perwakilan Desa pengganti Baloq Sawiye,” imbuh Raden Rumasih.


“Mmmm,” Resi Wilahuni kembali manggut-manggut. Ia kembali mengulum senyum pada sosok yang duduk di sebelah kiri Raden Rumasih.


(Pembawa Cerita) ~ Raden Rumasih lantas menurunkan situasi desa. Mulai dari pemberontakan para Selaq, sejumlah petinggi yang gugur, kerusakan terjadi di mana-mana, hingga pembunuhan para Dewan Desa yang dituduh pelakunya Tambing Muter.


Komandan Pertahanan Desa itu juga menceritakan gejolak di tengah rakyat desa yang menuntut Baloq Darwire turun tahta dan diadili ~


“Kami pikir sudah saatnya pergantian tampuk Kepala Desa,” sambung Ketua Dewan Perwakilan Sigrah, usai Raden Rumasih mengakhiri ceritanya. “Dan waktu yang tepat adalah malam ini juga Resi,”


“Sungguh tak elok pergantian dilakukan tanpa melibatkan Darwire,” sahut Maha Guru Raden Aryadi.


Raden Sangkan, menyela. “Sampai kapan kita akan menunggu? Situasi desa dalam prahara. Keamanan dan ketertiban desa tengah genting. Kita butuh pemimpin yang mampu mengatasi kekacauan ini,”


“Tidak ada salahnya bersabar, semua demi kebaikan desa,” ujar Maha Guru Aryadi lagi.


“Kebaikan desa adalah saat keputusan diambil dengan cepat dan tepat,” sahut Raden Sangkan dengan suara meninggi. Lalu menyambung, “Bukankah begitu Resi?”


Resi Wilahuni yang ditanya terlihat tak menghiraukan perdebatan mereka. Ia terlihat sibuk membongkar-bongkar lipatan kain putih yang melilit tubuhnya.


Wajahnya terlihat bingung. “Mmmm ... di mana sirihku?”


Maha Guru Raden Aryadi dan semua yang hadir saling melempar pandangan.


“Itu di tanganmu Resi,” sahut Maha Guru Aryadi, lalu menepuk dahinya sendiri.


Resi Wilahuni memperhatikan tangannya. Dan benda yang dicarinya masih tercapit ibu jari dan telunjuknya. Raut wajahnya berubah, riang.


“Bagaimana Resi?” Raden Sangkan tak sabar menunggu pendapat tokoh paling sepuh di desa Bunge.


“Mmm ... kau siapa?” tanya Resi Wilahuni menatap bingung ke Raden Sangkan.


Mereka yang hadir di ruangan itu geleng kepala. Ada juga yang garuk-garuk meski tak gatal.


“Dia Raden Sangkan,” bisik Maha Guru Raden Aryadi. “Komandan Krame Desa yang baru,”


Resi Wilahuni tercenung sesaat. Tapi kemudian tertawa terkekeh lagi. “Oh hahaha, maaf. Ya namanya juga orang tua, sedikit sering lupa,”


“Bukan sedikit, itu namanya pikun parah,” celetuk Maha Guru Aryadi dongkol.


Resi Wilahuni tersenyum. Lalu menepuk pundak Maha Guru Raden Aryadi.


“Oh ya Sangkan, kau tanya apa tadi nak?” Resi Wilahuni mengalihkan pandangan.


Kali ini Raden Sangkan tertunduk lesu. Sambil berujar lirih, “Benarkah segala urusan rumit tentang desa ini akan kita serahkan pada orang tua ini?”


“Aku memang sedikit bermasalah dengan ingatan nak. Tapi percayalah, nasihatku tak akan merugikan hidupmu,” Resi Wilahuni kembali terkekeh. Bibirnya bergetar oleh nafasnya yang menderu.


Raden Rumasih berdehem. Ia terlihat tak sabar. Lalu berkata, “Darwire tidak bisa lagi melanjutkan kepemimpinan Resi. Ia menderita lumpuh setelah bertempur melawan Selaq Bunge. Jadi aku pikir, malam ini kita harus memutuskan siapa kepala desa yang baru,”


“Mengapa buru-buru ingin mengganti pemimpin, anakku?” sahut Resi Wilahuni tersenyum sambil mengunyah sirih.


“Sampai kapan kita akan menunggu? Keamanan desa saat ini sedang bergejolak, dua dewan desa dibunuh oleh pasukan elite. Lalu apa kita akan terus berdiam diri dengan kekacauan ini?” timpal Raden Rumasih.


Resi Wilahuni tak menanggapi. Ia melihat hasrat Raden Rumasih yang tak bisa disembunyikan lagi.


Begitu juga Maha Guru Raden Aryadi yang memilih tak berkata apapun lagi. Ia sudah dapat membaca Raden Sangkan dan Sigrah memang telah disiapkan Raden Rumasih untuk membelanya habis-habisan malam itu.


“Maaf saya terkesan memaksa. Tapi memang sudah tidak ada pilihan lagi. Bila Resi tidak segera mengangkat kepala desa yang baru, maka saya tidak bertanggung jawab lagi atas situasi dan keamanan rakyat. Bagaimanapun saya hanyalah seorang Komandan Pertahanan Desa dan baru bisa bergerak bila ada perintah Kepala Desa,” ujar Raden Rumasih.


Rakyat Desa Bunge yang mendengar pasukan pertahanan angkat tangan dari kekacauan dan pembunuhan misterius bergemuruh. Mereka mulai gusar dan berteriak menuntut Resi Wilahuni bersikap.


Sebagian warga yang marah dan merasa Resi Wilahuni terus mengalir waktu berupaya melompat masuk ke area balai desa.


Tapi untung pasukan keamanan, Krame Desa, dan murid perguruan, sigap menghalau sebelum kekacauan lebih parah lagi. Mereka gusar dan takut bila pasukan keamanan angkat tangan, maka anak, istri, dan keluarga jadi korban berikutnya pembunuhan misterius.


“Ayo Resi segera putuskan!” pekik warga bersahutan.


“Angkat Raden Rumasih jadi kepala desa,” sahut yang lain lagi.


Namun Resi Wilahuni masih terlihat tenang. Ia lalu menggumam membuat para tokoh desa berpikir keras. “Bagaimanapun aku bukan pembuat takdir dan aku tak bisa mengubah takdir,”


Raden Rumasih menangkap ucapan Resi Wilahuni sebagai keengganan tokoh sepuh desa itu mengangkatnya sebagai kepala desa. Lalu dengan kasar ia bangkit, “Baiklah Resi, kalau malam ini sangkep tidak menghasilkan apa-apa, maka aku akan menarik pasukan keamanan dari seluruh pelosok desa,”


Raden Sangkan, ikut berdiri. Ia pun turut berkata yang semakin membuat warga semakin resah dan takut.


“Saya juga demikian Resi. Pasukan Krame Desa akan saya perintahkan tak lagi ikut bertanggung jawab dengan keamanan desa. Biar saja desa ini menjadi kacau balau. Biar pula pencuri, perampok, pembunuh meraja Lela menebar angkara murka di mana-mana!”


“Resi, sebenarnya lima dewan desa telah bermusyawarah dan bersepakat mengangkat Raden Rumasih sebagai kepala desa, jadi tidak ada alasan menunda memutuskannya malam ini. Namun kalau Resi memilih tetap menunda, lebih baik dewan desa dibubarkan saja dan setiap gubuk biarlah merdeka menjadi desa-desa kecil. Mungkin sejarah desa Bunge hanya sampai di sini,” ancam Sigrah.


Warga desa di luar balai desa semakin riuh dan gaduh. Mereka bahkan ada yang nekat memaki-maki Resi Wilahuni dengan kata-kata tak pantas.


“Apa Anda berniat menghancurkan desa, malam ini?”


“Mengapa Anda diam seperti batu?”


“Pikunmu telah merusak akal sehatmu!”


“Tak pantas disebut Resi, lebih pantas orang tua pikun yang tak mampu lagi berpikir sehat!”


Silih berganti warga berteriak memaki-maki. Mereka gusar, orang tua itu belum juga mau mengangkat Raden Rumasih sebagai kepala desa.


***