
***
“WajahMu, menyiratkan cemas,
Tak mengira, karyamu perlahan mengikis keagunganMu, bukan?
Mendekatlah,
Biar kubisikkan arti kefanaan padaMu,
Setelah itu masihkah Engkau angkuh menganggap dirimu Maha Segala?
Kemarilah,
Akan ku ukir sesal di secawan kesempurnanMu yang menggelapkan mata!
Dengarlah bait syair kegelapan ini,
Dan cecaplah, sedikit saja, setetes saja. Apa kau takut?” Ngeres Koneng mengakhiri syairnya dengan menuding ke arah langit.
“Ngoceh terus,” celetuk Mopol Ngeros yang tengah leyeh-leyeh di atas batu besar. Ususnya terburai ke mana-mana.
“Diam kau makhluk tanpa ********!” sungut Ngeres Koneng kesal. Ia melotot sambil menunjuk ke Mopol Ngeros.
“Heleh, brrrfffhh!” Mopol Ngeros menjulurkan lidah, meledek balik.
“Urus saja badanmu yang digondol anjing. Apa pedulimu dengan maha karyaku?” nada suara Ngeres Koneng makin nyaring.
“Brrrfffhh!” lagi-lagi Mopol Ngeres menjulurkan lidah.
“Sekali lagi kau ulangi akan kucabut lidah menjijikkan itu sampai ke akar-akarnya!” di kulit tubuh Ngeres Koneng menyembul urat-urat berwarna merah. Telinganya seperti dijejali bara api hingga terasa panas.
Tapi baru saja, Mopol Ngeros hendak menjulurkan lidah, Ngeres Beaq melerai. “Cukup. Bisakah sehari saja, telingaku berdamai dengan suara kalian yang berisik?”
“Aku rindu,” lirih, Ngeres Koneng. Matanya semudah itu berkaca-kaca. Lalu berujar lirih, “Rindu Mopol Kesur,”
Mopol Ngeros dan Ngeres Beaq memperhatikannya. Sementara Ngeres Koneng masih berkacang pinggang menatap langit. Dadanya kembang-kempis mengikuti deru nafas yang memburu cepat.
Lalu dengan suara mengentak, Ngeres Koneng berseru, “Kelak aku akan menantangMu. Tunggu saja, sampai kekuatanku sempurna, dan saat Kau kukalahkan, suka atau terpaksa, aku akan menuntutMu mengembalikan nyawa Mopol Kesur!”
“Ambisi yang serupa fatamorgana,” celetuk Mopol Ngeros, tanpa mencibir. Ia patuh mengikuti permintaan Ngeres Beaq.
“Kau selalu bertengkar dengan Mopol Kesur,” kali ini Ngeres Beaq berkata. “Sejak kapan kau menyukainya?”
“Pertengkaran sejatinya romantisme yang tak mampu terbahasakan ungkapan kasih sayang, harusnya kau paham itu,” jawab Ngeres Koneng tanpa memalingkan wajah pada Ngeres Beaq yang bertanya.
“Rumit,” celetuk Ngeres Beaq.
“Bhahaha...” tawa Mopol Ngeros meledak.
“Kalian tak akan paham sampai mengerti apa itu seni,” balas Ngeres Koneng.
“Bhahaha...” tawa Mopol Ngeros kembali meledak. Ucapan Ngeres Koneng mengesankan Ngeres Beaq terlihat bodoh.
“Aku tak tertarik belajar seni kalau akhirnya akan membuatku ingin bertarung melawan tuhan,” cetus Ngeres Beaq. “Atau kau tertarik, menjadi umat agama Boro?”
“Bhahaha ...” lagi-lagi Mopol Ngeros, tertawa terpingkal-pingkal. Air seninya muncrat dari salah satu ujung usulnya yang terburai.
“Brrrrrrrrrhhh!!!” sekelebat bayangan terbang mendekati mereka. Namun tiga sosok Selaq bergeming dari tempatnya masing-masing. Mereka sudah tahu siapa yang datang.
“Sesosok tubuh perkasa, melayang lunglai ke sarang. Adakah ia datang kembali bersama kehampaan?” seru Ngeres Koneng puitis. “Tegakkan badanmu tuanku, janganlah serupa anak unggas yang kehilangan induknya,”
“Sekali lagi menyair, ku robek mulutmu!” bentak Selaq Bunge marah.
“Bhahaha... brukkk!!!” Mopol Ngeros yang tertawa guling-guling, hilang keseimbangan lalu terperosok jatuh ke bawah batu dengan sisi cukup dalam.
“Aw...!” jeritnya.
Selaq Bunge menyilangkan tangan di depan dada. Wajahnya menatap jauh ke luar mulut goa. Menatap bintang berkerlipan saling menggoda.
“Harus berapa lama lagi kita menunggu?” gumamnya. Tak jelas kepada siapa Raja Selaq itu bertanya.
Ia masih enggan memalingkan wajah dari kanvas langit tempat gemintang berkerlipan. Tapi jelas dari garis wajah menyiratkan kebingungan teramat dalam.
“Mengapa Mopol Kesur yang mati?” gumamnya lagi.
Ia memalingkan wajah. Lalu menatap kesal pada Ngeres Koneng, “Mengapa bukan kau saja yang mati?”
“Bhahaha...” Mopol Ngeros baru saja sampai di atas batu besar di dalam goa, tapi kembali tertawa ngakak mendengar Ngeres Koneng disumpahi mati oleh Selaq Bunge.
“Bruuukkk!!!” Mopol Ngeros kembali terjatuh. “Aw!” jeritnya kesakitan.
“Goblok,” Ngeres Koneng menahan tawa, melihat rekannya terjerembap kedua kalinya.
“Sial batu ini licin,” gerutu Mopol Ngeros yang kembali merangkak naik.
“Kelak rakyatmu akan sangat membutuhkanku paduka. Paling tidak untuk menghadirkan perasaan bahagia dari karya seniku yang agung,” Ngeres Koneng membela diri.
Dalam beberapa saat empat sosok itu terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing.
Sampai Ngeres Beaq maju beberapa langkah ke titik tengah antara Selaq Bunge dan Ngeres Koneng. Raut wajahnya menyiratkan, ia tengah memikirkan gagasan yang sangat menarik. “Mengapa kita tidak mencoba menyerang Desa Bunge sekali lagi paduka?”
“Persoalannya bukan lagi mampu atau tidak Desa Bunge kita taklukkan,” tatapan Selaq Bunge beralih ke Ngeres Beaq. “Tapi mustahil sebuah kerajaan bertahan lama tanpa ditopang ekonomi yang stabil. Aku tidak mau susah payah berperang kala kemudian runtuh dalam sekejap,”
“Benar yang dikatakan paduka Selaq Bunge. Ekonomi adalah kunci,” timpal Mopol Ngeros. Wajahnya terlihat serius dan tidak lagi menertawakan Ngeres Koneng. “Setelah desa Bunge takluk, kita pasti akan menghadapi situasi lebih sulit akibat ketidakstabilan ekonomi. Kerusuhan di mana-mana, penjarahan, perampokan, kekerasan, dan situasi itu akan mengancam stabilitas kerajaan dari dalam, itulah mengapa kematian Mopol Kesur yang ahli ekonomi mengacaukan rencana besar ini,”
“Saya paham tentang itu. Tapi bukankah kalau desa Bunge takluk, itu bisa jadi proposal yang sangat menggiurkan bagi para ahli ekonomi di kalangan manusia bergabung dengan kita?” ujar Ngeres Beaq dengan sorot mata penuh siasat. “Saya tak bermaksud mengesampingkan pentingnya ekonomi. Tapi kalau kita tak bisa menemukan pengganti Mopol Kesur dari bangsa Selaq, mengapa kita tidak bermitra dengan bangsa manusia?”
Selaq Bunge, Mopol Ngeros, dan Ngeres Koneng mulai tertarik. Mereka kompak menatap ke arah Ngeres Beaq.
“Maksudmu?” tanya Selaq Bunge.
“Kita tawari manusia kerja sama dengan kita,” jawab Ngeres Beaq.
“Apa mungkin, manusia bekerja sama dengan Selaq?” tanya Selaq Bunge ragu.
“Mengapa tidak paduka. Kita hanya perlu memberi manusia yang berideologi Selaq,”
“Bicaramu mirip Mopol Kesur,” Ngeres Koneng tersenyum memperlihatkan gigi-giginya yang tajam. Lalu dengan tatapan menerawang, ia berujar, “Aku jadi ingat pada perkataan Mopol Kesur yang menyebut Selaq adalah Ideologi,”
“Ah, ini menarik,” Mopol Ngeros beringsut turun dari batu besar mendekati Ngeres Beaq.
“Manusia berideologi Selaq?” Selaq Bunge mengulangi lagi perkataan Ngeres Beaq.
“Apa yang dikatakan Mopol Kesur ada benarnya paduka. Bila dipikir-pikir Selaq ini memanglah ideologi atau gagasan hidup yang paling harfiah,” ujarnya. Ia kembali berjalan lebih dekat pada Selaq Bunge dan mulai mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya. “Selaq adalah gagasan paling mendasar yang menginspirasi evolusi tak boleh berhenti pada manusia. Nyala ego harus tetap dirawat. Hingga api ego semakin besar dan puncaknya menjadi super-ego yang tak terkalahkan,”
Ngeres Beaq membalikkan badannya dan menatap Ngeres Koneng dan Mopol Ngeros yang mematung di belakangnya. “Dan tahukah kalian kayu terbaik untuk tetap menjadikan nyala ego tak padam bahkan semakin besar?” Ngeres Beaq mencoba diam sejenak, memberi kesempatan pada teman-temannya mencerna ucapannya.
“Ketidakpuasan, itulah kayu terbaik untuk tetap menjaga nyala api ego,” jelasnya.
Ngeres Koneng dan Mopol Ngeros saling berpandangan. Begitu juga Selaq Bunge yang menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tak gatal.
“Eee... maksudku, bisakah to the point, bagaimana kita bisa bekerja sama dengan manusia?” Selaq Bunge, pusing mendengar retorika Ngeres Beaq.
“Melalui sifat manusia yang tidak puas paduka. Sifat tamak, rakus yang ada pada diri manusia itulah yang akan membuat mereka tertarik bekerja sama dengan kita para Selaq,” jawab Ngeres Beaq.