
Tanah lapang yang tersembunyi. Di mana berdiri gubuk kecil menyendiri dari hiruk-pikuk keramaian desa. Terbiasa dalam jantung kesunyian. Kini ramai dijejali prajurit desa yang baru saja usai menjalankan misi pencarian.
Setelah perjalanan panjang. Meraba hutan misterius tanpa arah. Tanpa bimbingan peta ataupun ahli cenayang. Berlintang-pukang menyusuri belantara. Merayap di antara bebatuan licin berlumut. Ataupun bergelantungan di tebing-tebing dengan jurang yang menganga di bawahnya. Perjuangan itu membuahkan hasil: Pancalita ditemukan.
“Maafkan aku, telah membuat kalian semua resah,” lirih Pancalita hampir tak terdengar.
Dari arah bukit yang mengapit. Menikung deras angin pegunungan yang dingin menebus sum-sum tulang. Tersaji pemandangan indah, setelah hampir sepekan Pancalita hanya melihat penderitaan belaka di sekelilingnya.
Samar biru dikibar fatamorgana semakin jauh mata memandang. Tak terbayang letihnya hidup andai saja ia tak ditemukan di tempat itu sampai tak terbilang purnama.
Awan-gemawan mengapung rendah. Terseret angin semaunya. Sekehendaknya. Seperti permadani yang terhampar luas, tetapi amat rapuh, dan hanya dalam hitungan sesaat telah terkoyak angin mendesis-desis.
Masih di lembah itu, dengan hamparan pohon besar berbaris rapi. Disesaki ilalang terserak. Tak jauh dari tempat itu, melintas sungai dengan air teramat jernih. Tersiram cahaya matahari hingga dari dalam terpancar kilau-kilau cahaya ragam warna. Seumpama prisma. Sangat indah!
Tapi, sungai itulah yang nyaris merenggut nyawa Pancalita.
Lalu barisan tumbuhan Rasamala tertiup angin. Melambai-lambai seperti tangan kurcaci. Jumlahnya berlapis-lapis. Berlomba tinggi antara satu tanaman dengan yang lain. Dan gulma yang berserakan, menegaskan kealamian alam, jauh dari sentuhan tangan jahil manusia.
Hutan belantara mengapit lembah, menjadi tempat bersemayam para siluman dan makhluk yang mati penasaran. Mendiami tempat itu dan menjadi hantu penunggu kawasan hutan menjadi keramat.
Sementara di dahan pohon yang meranggas, burung-burung hutan berkejaran tak tentu arah. Berebut makanan untuk bekal makan malam. Lalu bercinta dengan sebangsanya. kemudian jantannya akan menunggu, berjaga, hingga pagi kembali tiba.
“Apakah pemuda ini yang menyekap Dende Pancalita?”
Seorang pria bersuara berat memecah keheningan. Badannya berotot dilamuri keringat, terpapar matahari hingga mengilat.
Tangannya mencengkeram lengan seorang pemuda dengan erat. Menyerupai jemari rajawali yang menangkap ular sawah. Tapi Pemuda yang ditahannya terlihat tenang. Raut wajahnya tak menyimpan takut sekalipun puluhan prajurit menatapnya garang.
Pria bertubuh tinggi besar, berotot, nan tangguh itu adalah Komandan Krame Dese Lolo: Munire.
Sementara, pemuda tampan yang ditahannya itu Artha Prana.
“Saya membawakan Dende Pancalita, makan siangnya,” kata Artha Prana tenang. Di tangannya ia memegang gandek (tas dari anyaman bambu) berisi ubi yang telah direbus.
“Dia tak bersalah paman,” ujar Pancalita lembut.
Ada rasa perih menelusup diam-diam di hatinya. Melihat Artha Prana dicengkeram kasar oleh hulubalangnya. Tapi rona tenang Artha Prana segera menyirnakan kekhawatirannya. Lagi pula tidak mungkin ia harus menjerit meminta Artha Prana segera dilepas. Ia tetap harus terlihat anggun, tenang, dan berwibawa.
Sementara itu, puluhan pasang mata mengintip curiga dan waspada di balik pepohonan lebat. Menyaksikan drama kehidupan anak manusia di bawah mereka.
Lalu dengan lihai berlompatan dari satu dahan ke dahan lain, seperti hendak memulai serangan.
Sayang nyali, tak sebesar aksi piawai berlompatan. Karena kemudian, kawanan kera hutan itu berhamburan menjauh begitu seorang prajurit mengibaskan tombaknya.
“Pemuda itu dan pamannya telah menjagaku dengan sangat baik,” imbuh Pancalita.
Perkataan Pancalita tak begitu saja membuat Munire melepaskan cengkeraman dari lengan Artha Prana. Justru, sang komandan Krame Desa semakin mengencangkan tangannya meremas lengan Atha Prana.
Ia bukan tak mau mematuhi perintah sang kepala desa. Tetapi pemuda itu terlihat angkuh dan tak sedikit pun membungkukkan badan di hadapan para prajurit desa yang terhormat.
Darahnya mendidih.
Kalau saja, Pancalita tak bercerita pemuda itu telah melindunginya, saat itu juga Munire ingin membanting pemuda itu hingga hingga terperosok ke dalam perut bumi.
“Mengapa paman belum melepaskannya?” Pancalita menangkap gelagat tak senang Munire pada Artha Prana.
“Baiklah,” balas Munire dengan nada berat.
Ia melepaskan Artha Prana. Sekalipun di hatinya bercokol dongkol berkarat-karat. Pancalita menyadari gelagat tak senang komandan Krame Desa pada orang yang telah menyematkannya.
Ia melangkah mendekati keduanya. Lalu berdiri di antara Munire dan Artha Prana. Wanita cantik itu menarik nafas dan tersenyum, menyiram bara ketegangan dua pria perkasa itu.
Pandangannya lalu tertuju pada gubuk kecil di depannya. Gubuk yang telah melindunginya selama beberapa hari dan memberinya pengalaman tak terlupakan.
“Gubuk ini menjagaku dengan sangat baik. Dari kengerian dan misteriusnya malam di tengah hutan belantara. Dari serigala yang melolong kelaparan. Aku tak akan pernah melupakannya, bagaimana paman?” ujar Pancalita, melirik ke Munire.
Komandan Krame Desa itu terkesiap. Ia mengangguk dan segera mengibaskan pikirannya yang ingin ******* pemuda angkuh itu.
“Benar Dende. Jika Anda mau, kita akan buka jalan dari desa ke gubuk ini. Dengan begitu, sewaktu-waktu Dende Pancalita bisa mengunjunginya,” ujar Munire.
“Tak baik tanpa meminta izin pada yang punya lahan, paman,” ujar Pancalita, kini lirikannya beralih ke Artha Prana.
“Tak akan ada yang menolak Dende. Wilayah ini sampai batas kabut itu, adalah wilayah Desa Lolo. Anda hanya perlu mengiyakan dan kami prajurit Krame Desa bersama warga akan membuka jalan ke tempat ini,” Munire lalu memalingkan wajahnya pada Artha Prana. “Saya rasa dia juga tak akan menolak, bukankah begitu anak muda?”
“Apa kau tuli?” suara Munire meninggi. Rasa kesalnya menjadi-jadi melihat Artha Prana tak menggubrisnya sama sekali. Lalu dengan suara lantang, berseru “Pimpinan desa meminta bukti kesetiaanmu pada desa Lolo. Gubuk kecil yang reyot ini akan dijadikan pesanggrahan Dende Pancalita dan kami tak akan mengganggu gubuk yang di bawah tebing itu,”
Artha Prana tak langsung menjawab. Ia memalingkan wajah dengan sorot mata tajam ke arah Munire. Pandangan itu cukup membuat darah Munire kembali mendidih.
“Tundukkan pandanganmu saat kau menatapku. Atau saat ini juga kupatahkan tulang-belulangmu seperti ranting kering yang telah lapuk dimakan rayap,” pekik Munire.
“Bukan aku yang punya gubuk ini, Anda tak perlu mengancamku seperti itu tuan. Saya hanya pemuda yang datang dari desa yang jauh untuk mencari pekerjaan. Kebetulan pamanku Puq Amet tinggal di sini dan aku tinggal sementara, sampai tiba nasib lebih baik memanggilku,” jawab Artha Prana.
“Panggil kemari pamanmu itu!” perintah Munire masih dengan suara menggelegar suara tinggi.
“Sudahlah paman. Aku rasa, aku tak tertarik memiliki gubuk tua ini. Tak baik juga memaksakan kehendak,” ujar Pancalita, meredam amarah Munire.
Pada saat suasana tegang itu, sesosok kepala orang tua timbul di balik tebing. Wajahnya menyimpan kepanikan luar biasa. Langkahnya tergopoh-gopoh menaiki akan tangga.
Kakek itu, celingukan ke sana-ke mari melihat puluhan prajurit tiba-tiba telah memenuhi gubuk tersembunyinya.
Cangkul di pundaknya telah ia hempaskan di salah satu sudut tanah lapang. Lalu dengan membungkuk-bungkuk hormat dan wajah panik, memberi salam penghormatan pada prajurit desa yang datang tanpa diundang.
“Rupanya pamanmu lebih paham tata krama anak muda. Kau harusnya belajar banyak padanya agar hidupmu tak sia-sia,” sindir Munire, sambil menatap nanar ke arah Puq Amet yang terus membungkuk-bungkuk hormat.
“Jangan sampai kau serupa binatang di hutan belantara. Tak tahu bagaimana harus bersikap pada raja, akhirnya mati jadi santapan sang singa,” imbuhnya.
Sejurus kemudian Puq Amet telah berlutut di hadapan Pancalita dan Munire. Mengaturkan salam penghormatan rakyat pada sang raja. “Aduh, ampun tuan. Sungguh, hamba tak menyangka hari ini akan kedatangan tamu istimewa dari desa. Mohon maaf jika penyambutan kami, kurang berkenan. Berikan kesempatan pada saya dan keponakan saya, menyiapkan hidangan segelas air dan singkong rebus dari ladang kami tuan,”
“Oh, tidak apa-apa. Bangkitlah, saya yang justru berterima kasih pada Anda, sebab selama ini telah menjaga Dende Pancalita dengan baik,” kata Munire dengan nada suara penuh wibawa.
Puq Amet perlahan bangkit dari berlutut setelah diperintah Munire. Namun badannya masih membungkuk hormat, pada para pejabat desa di depannya.
“Aku juga ingin menyampaikan terima kasih, Puq Amet dan keponakanmu Artha Prana telah menjagaku dengan sangat baik,” timpal Pancalita.
“Artha Prana?” Munire terkejut. Ia seperti tak asing dengan nama itu. Begitu juga, Inaq Bangkol, dan prajurit yang lain.
“Iya, paman. Pemuda ini bernama Artha Prana, saya sudah menduga kau pasti akan terkejut. Saya pun pernah mengalami hal yang sama sepertimu saat baru pertama mengetahui namanya,” ujar Pancalita mengulum senyum.
Munire hanya mengangguk-angguk. Diam-diam ia memperhatikan wajah pemuda itu lekat-lekat. Tapi Munire kali ini memilih menyimpan perasaannya curiganya. Sekalipun nalurinya sebagai seorang prajurit menangkap ada yang tak lazim dari pemuda di depannya itu.
“Puq Amet, saya akan segera pamit meninggalkan gubuk ini. Sekali lagi terima kasih atas kebaikan kalian padaku. Tapi sebelum pergi, sebagai bentuk terima kasih, Anda boleh meminta satu permintaan padaku. Saya akan berusaha memenuhinya,” ujar Pancalita.
“Mohon ampun Dende, kami tulus membantu Anda, tanpa mengharap imbalan apapun. Tugas kami juga sebagai rakyat jelata menjaga pimpinan bila dalam kesulitan,” ujar Puq Amet, menolak halus.
“Lupakan tentang imbalan. Anggap saja, aku tengah mengatasi kesulitan rakyatku yang berada jauh dari jangkauan pelayanan desa. Nah mumpung kami sekarang ada di sini, katakan, apa yang bisa kami bantu, sebagai pimpinan desa?” desak Pancalita lagi.
“Duh apa ya?” ujar Puq Amet dengan wajah kebingungan.
“Katakan saja Puq Amet. Anda ingin apa, kerbau, beras, harta? Atau kau ingin gubukmu ini diperbaiki? Mana tahu suatu ketika Dende Pancalita ingin singgah lagi ke sini. Tentunya bila gubuk ini lebih baik keadaannya, kami juga bisa tenang melihat Dede Pancalita barang semalam dua malam, menginap lagi di sini,” ujar Munire, seraya mengelus pundak Puq Amet.
“Ampun beribu ampun Dende Pancalita dan Tuan Munire. Sesungguhnya hamba lebih tenang melihat gubuk ini seperti apa adanya. Maklum kami orang pinggiran desa. Tidak terbiasa dengan kemewahan. Adapun mengenai tawaran harta benda, kambing-kambing yang sudah kami punya saja mulai tidak terurus karena cukup banyak. Jadi, bisa dibilang apa yang kami punya saat ini sudah lebih dari cukup,”
Pancalita dan Munire bertukar pandang. Lalu tersenyum mendengar jawaban polos dari Puq Amet.
“Tapi kalau sekiranya boleh meminta, barangkali saja di pusat desa masih ada pekerjaan yang membutuhkan tenaga anak muda. Mungkin jadi tukang sapu atau tukang kebun, sekiranya menjadi prajurit mungkin permintaan yang terlalu tinggi dan tak tahu diri,” ujar Puq Amet tersipu malu.
“Maksudmu?” tanya Munire.
“Anu, tuanku. Ampun, tapi kalau tidak boleh juga tidak apa-apa,” ujar Puq Amet gugup bukan kepalang melihat rona wajah komandan Krame Dese berubah.
“Tidak apa-apa paman, katakan saja dengan jelas,” kali ini Pancalita yang menyambung pertanyaan.
“Anu, Dende. Si Artha Prana ini datang dari desa yang jauh. Dia adalah anak dari saudaraku. Tujuannya ke mari mau mencari pekerjaan, sekiranya ada pekerjaan yang lebih baik dari menggembala kambing, mungkin di pusat pemerintahan desa tenaganya bisa diandalkan, begitu maksud saya tuanku,” ujar Puq Amet.
Wajah Munire berubah merah. Ia tak senang dengan permintaan Puq Amet. Tapi menyampaikan penolakan, sebelum Pancalita meminta pendapatnya adalah sebuah kelancangan hulubalang yang sulit dimaafkan.
“Baiklah, permintaanmu aku penuhi,” ujar Pancalita di luar dugaan Munire.
Jantung Munire memompa darah dengan cepat. Kepalanya panas, membayangkan pria tak tahu adab dan tata krama itu kini akan ada di lingkaran desa.
“Terima kasih Dende, terima kasih. Artha Prana memang sedikit bermasalah pada tata krama, maklum anak kampung, tapi dia pekerja keras. Saya jamin dia bisa diandalkan,” kata Puq Amet seraya membungkuk-bungkuk mengaturkan hormat pada Pancalita.
Sementara itu, jauh di dalam hati Pancalita, menyelusup rasa yang tak terbahasakan kata. “Oh berikan aku secawan anggur yang paling memabukkan di bumi, biar kuteguk bersamanya,” racaunya di relung hatinya yang terdalam.