
Nursiwan dan Kertaji bergantian menyerang Selaq Bunge. Sementara Selaq Bunge sejauh ini mampu mengimbangi gempuran dua kepala desa itu.
Tendangan dan pukulan mereka beradu dan sekali waktu terdengar dentuman hebat akibat pukulan yang dilambari tenaga dalam.
Selaq Bunge berupaya mengarahkan bom airnya ke arah dua kepala desa dengan serangan masif. Tapi Kertaji dengan tangkas menggerakkan angin meniup setiap bulir bom air menjauhi mereka. Bom-bom air itu pun kembali meledak di luar desa.
Pada suatu saat, Nursiwan memiliki kesempatan emas menusukkan tombak ke pinggang Selaq Bunge. Saat itu Raja Selaq, dibuat keteteran oleh kombinasi serangan ilmu Surak Siu yang diikuti pukulan dan tendangan Kertaji.
Tombak Nursiwan yang menebar pamor biru, meluncur deras ke arah pinggang, dan ...
“Taaakk!!!”
Sesosok tubuh berkelebat cepat lalu sekuat tenaga menendang gagang tombak Nursiwan. Nyaris saja tombak pusaka itu terlepas dari tangannya kalau saja Ia tidak buru-buru melenturkan gerakannya mengikuti arah gaya dorongan.
Sosok itu kemudian mendekati Selaq Bunge yang baru saja bisa melepaskan diri dari gempuran maut Kertaji.
“Ampun paduka Raja,” ujarnya sambil menangkupkan tangannya.
“Kau datang tepat waktu Ngeres Koneng,” ujar Selaq Bunge dengan nafas terengah-engah.
“Izinkan saya melaporkan paduka, Mopol Kesur tewas,”
Selaq Bunge memalingkan wajah. Menyiratkan wajah tidak percaya pada laporan Ngeres Koneng.
“Siapa yang membunuhnya?”
“Sang Ratu,” tutur Ngeres Koneng. “Di luar rencana, Jumindri melepaskan energi sang Ratu dan berubah menjadi monster merah,”
“Apa Ia memiliki sayap?”
“Tidak ada paduka,” terang Ngeres Koneng. “Yang aku lihat tubuhnya merah dan menyerupai monster ganas,”
“Darwire," seru Selaq Bunge dengan wajah bingung.
Baloq Darwire tak menjawab tapi mengulum senyum. Sambil menopang badannya menggunakan sepotong ranting kayu Ia mendekati Nursiwan dan Kertaji yang berdiri tak jauh darinya.
“Ceritakan apa yang tidak aku tahu tentang Jumindri. Mengapa Ia tidak berubah menjadi sang Ratu?” ujar Selaq Bunge dengan wajah menyiratkan hasrat ingin tahu.
“Tarumbie sahabatku yang ambisius. Ketahuilah kupu-kupu saja tidak bisa langsung terlahir menawan. Ia mengawali hidupnya dari telur, menetas menjadi ulat, kemudian kepompong, barulah menjadi kupu-kupu,” ujar Baloq Darwire.
“Aku belum paham maksudmu,” tanya Selaq Bunge lagi.
“Kau pasti mengira bila Jumindri lepas kendali dan mengeluarkan kekuatan di dalam dirinya akan berubah menjadi Ratu Daranjani dengan tiga pasang sayap sebagai pertanda kesempurnaan,” ujar Baloq Darwire.
“Bukankah harusnya demikian?” tanya Selaq Bunge lagi.
“Jumindri butuh waktu bermetamorfosis menjadi Ratu Daranjani seperti halnya seekor ulat yang butuh waktu menjadi kupu-kupu. Proses metamorfosis itu harus disempurnakan oleh gerhana bulan darah,” jelas Baloq Darwire.
Kertaji memalingkan wajah menatap Baloq Darwire. Ia tertarik mendengar penjelasan itu dan ingin menanyakan sesuatu.
“Darwire, aku masih bingung. Sebelum masuk desa Bunge tadi suasana masih siang, tapi mengapa setelah ada di dalam desa ini berubah malam dan di sini terjadi Gerhana Bulan Darah?”
“Ini ilmu ilusi tingkat tinggi yang hanya dimiliki siapa saja yang telah mempelajari Kitab Betaljemur Bireng. Ilmu ini dinamai Kale Dunye,” ujar Baloq Darwire.
“Maksudmu Gerhana Bulan Darah itu hanya ilusi dan tidak benar-benar terjadi?”
Baloq Darwire mengangguk pelan.
“Lalu buat apa ilusi semacam ini?” timpal Nursiwan.
“Tentu saja untuk membenarkan alasan memulai pemberontakan!” sorot mata Baloq Darwire tajam menatap Selaq Bunge.
“Dulu, aku memang pernah membuat perjanjian dengan mereka akan menyerahkan Jumindri di saat Gerhana Bulan Darah. Dan sekarang mereka membuat seolah-olah sedang terjadi Gerhana Bulan Darah,”
“Hebat sekali pengguna Ilmu ini bisa membuat satu desa terjebak dalam ilusi?” ujar Kertaji.
“Selain hebat ilmu ini sebenarnya menggunakan trik. Apa yang kalian lihat sebagai gerhana di langit itu adalah gumpalan air yang memadat seperti kristal dan mampu memantulkan cahaya seperti cermin. Kristal itu memantulkan pancaran mata ketiga Selaq Bunge yang dapat membuat siapa saja melihat langit akan terperangkap ilusi dan mengira saat ini tengah terjadi gerhana Bulan Darah,” jelas Baloq Darwire.
"Hanya dia yang tahu di mana menyembunyikan mata ketiganya," jawab Baloq Darwire.
“Luar biasa. Hebat. Aku harus mengakui kau memang jenius. Aku mengira kau sudah pasti tertipu ilusiku. Bahkan kau tidak hanya tahu ini Kale Dunye, tapi paham juga kalau aku menggunakan trik kristal air,” puji Selaq Bunge.
“Aku tahu ini ilusi karena dalam hitungan papan Urige, saat ini bukan waktunya Gerhana Bulan Darah,” sahut Baloq Darwire.
"Wushhh!!!"
"Wushhh!!!"
Tiba-tiba sejumlah bayangan berkelebat ke tempat itu. Satu melompat mendekati Selaq Bunge yang ternyata Mopol Ngeros yang sedang membawa tubuh Ngeres Beaq.
Sedangkan satu lagi mendekati Baloq Darwire yang ternyata Raden Sigar.
“Ampun paduka, Ngeres Beaq pingsan setelah bertarung melawan Panji,” Mopol Ngeros menunjukkan tubuh Ngeres Beaq masih terkulai lemas.
“Berarti semua kepala desa berkumpul di sini?” tanya Selaq Bunge. “Bagaimana kau mengumpulkan mereka?”
“Ilmu Tumbanmu boleh lebih hebat dariku Tarumbie. Tapi sehebat apapun ilmu bila seseorang tidak bisa menggunakan dengan baik, maka kehebatannya sia-sia,” sahut Baloq Darwire.
“Kau menggunakan Tumban meminta pertolongan mereka?” Selaq Bunge mengerutkan dahi.
“Kesombongan membuat siapa saja lengah. Saat kau membanggakan kehebatanmu, tanpa sepengetahuanmu satu tumban aku utus mengamankan desa dan meminta bantuan dari desa sahabat,”
“Jadi begitu,” ujar Selaq Bunge menyadari kelengahannya.
Selaq Bunge tiba-tiba menutup mata. Merapal matra dengan bibir bergetar. Beberapa saat Ia terlihat hening.
Raden Sigar, Kertaji, Nursiwan, dan Baloq Darwire bersiap mewaspadai serangan Selaq Bunge berikutnya.
Namun yang terjadi sebaliknya. “Baiklah, kau menang lagi Darwire. Tapi aku belum sepenuhnya kalah. Kami mundur dan akan kembali ke desa ini setelah Jumindri menjadi Ratu Daranjani,”
Usai berkata, Selaq Bunge melompat terbang diikuti Ngeres Koneng dan Mopol Ngeros yang membawa tubuh Ngeres Beaq.
Raden Sigar dan Kertaji bersiap mengejar. Tapi Nursiwan mencegah dan mengingatkan bahaya bagi dua kepala desa itu melawan Selaq Bunge, Ngeres Koneng, dan Mopol Ngeros.
“Sebaiknya bantu aku memulihkan Darwire, Ia pingsan,” pinta Nursiwan.
***
Di tengah pertarungan sengit yang terjadi antara Kembang Tereng dengan Raden Rumasih, tiba-tiba Kembang Tereng melompat ke belakang.
Matanya terpejam, mendengar pesan suara dikirim secara telepati.
“Mundur, Kembang Tereng. Situasi tidak memungkinkan kita merebut Jumindri saat ini. Biarkan desa Bunge menjaganya sampai waktunya tiba kita menjemput sang Ratu,” bisik suara itu.
Kembang Tereng mengerutkan dahi. Lantas, menyarungkan keris Mirah Adi di tangannya. Wajahnya terlihat belum puas. Tapi perintah suara yang dikirim secara telepati itu datang dari Selaq Bunge, sang Raja.
“Mengapa berhenti Bajilah, apakah sekarang kau ragu dapat mengalahkanku?”
Kembang Tereng tak peduli dengan perkataan Raden Rumasih. Ia melompat pergi, meninggalkan Raden Rumasih sambil berseru,
“Lain waktu kita bertarung lagi. Saat waktu itu datang aku tidak akan mengulur waktu lagi menghabisimu!” serunya.
Kepergian kelompok Selaq itu diikuti alam desa Bunge berangsur pulih. Awan hitam pekat di langit perlahan memudar. Begitu juga ilusi gerhana Bulan Darah lenyap seiring hilangnya awan Kristal.
Udara yang tadinya kering, mulai basah oleh angin pegunungan yang membawa air, khasnya udara saat petang menjelang di lembah Rinjani.
Suasana alam beranjak petang terasa di Desa Bunge. Binatang malam dan serangga mulai berani keluar sarang dan memainkan orkestra petang.
Tapi ketegangan belum sepenuhnya sirna. Pasukan berpakaian hitam-hitam posisinya semakin dekat dengan gerbang Barat. Begitu juga ribuan pasukan dari Desa Tunggak dan Buaq datang dengan senjata lengkap!
***