
***
“Begitulah kejadiannya,” Tumban Baloq Darwire, mengakhiri cerita.
Ia baru selesai menuturkan peristiwa pemberontakan para Selaq di desa Bunge. Di hadapan enam kepala desa yang berkumpul di Paseban Agung Perhimpunan Kepala Desa Lembah Gunung Rinjani.
Enam kepala desa itu antara lain Desa Akah, Tunggak, Lolo, Daun, Buaq, dan Pusuk.
“Darwire kesaksianmu berbahaya sekali. Anda menduga dua Selaq dari Desa Tunggak terlibat. Bagaimana Anda tahu mereka dari desa kami? Bisa saja mereka dari desa lain, tetapi memfitnah desa kami!” kata Kepala Desa Tunggak, Raden Mas Panji dengan suara tinggi.
“Benar yang disampaikan Kakanda Raden Mas Panji, sebenarnya kami prihatin atas musibah yang menimpa desa Bunge, tapi Anda menyebut dua pasukan elite kami terlibat dalam komplotan Selaq itu. Kalau ternyata tuduhan itu salah, maka jadi fitnah besar bagi kami!” timpal Kepala Desa Buaq, Raden Sigar.
“Apa jawabanmu Darwire?” kepala Desa Akah, Nursiwan mencoba memberi kesempatan.
“Teliksandi kami yang terbaik ...,”
Belum selesai Tumban itu bicara, Raden Mas Panji memotong.
“Kami minta bukti, bukan mau mendengar kau memuji pasukan teliksandi desamu!”
“Saya tidak membawa bukti,”
“Nah, harusnya hati-hati bicara Darwire. Tidak langsung tunjuk Selaq itu dari desa ini-desa itu. Kau menyinggung perasaan kami,” sesal Raden Mas Panji sengit.
“Sebaiknya juga, kita tidak menyudutkan paman Darwire. Beliau dalam kesusahan, kita semua diharapkan bisa membantu. Maksudku mungkin bijak kalau kita mendengar apa alasan beliau menyimpulkan ada keterlibatan warga luar desa Bunge dalam persoalan ini,” sela Kepala Desa Lolo, Rawilih.
“Jelas-jelas dia tidak punya bukti,” Raden Mas Panji, masih kesal.
“Saya kira bukti fisik bukan satu-satunya argumentasi, Raden,” balas Rawilih.
“Di mana-mana bukti harus kasat mata!” tepis Raden Mas Panji.
“Apa jawabanmu paman Darwire?” Rawilih mengalihkan pandangan pada Tumban itu.
“Mohon maaf yang sebesar-besarnya, kiranya keterangan tadi menyakiti perasaan yang hadir. Saya katakan tidak membawa, bukan tidak punya. Buktinya ada di desa Bunge. Dan terjaga sangat rahasia. Akan sangat berbahaya bagi saya membawa bukti sepenting itu, menuju Paseban Agung yang jauh dari desa kami, tanpa pengawalan terbaik,”
“Justeru saya datang ke Paseban Agung dengan maksud mengundang Anda semua melihat semua data dan informasi yang telah kami himpun sejak lama,” ujarnya.
Kepala Desa Daun, Kertaji yang sejak tadi menyimak, buka suara.
“Dariwire sudah benar. Dia menduga dan bersedia menunjukkan bukti. Lalu apa yang mau kita perdebatan lagi?”
“Saya hanya tidak terima dia langsung menuduh ada keterlibatan warga desa kami!” sesal Raden Mas Panji.
“Itu hal yang biasa Raden. Anda tidak perlu memperbesar yang bukan pokok persoalan. Penjahat ya ada di mana saja, di semua desa. Darwire menduga, bukan menuduh. Dan Ia mengajak kita melihat bukti yang dikumpulkan teliksandinya. Bukankah ini bagus?”
“Sudah saya katakan, saya tidak mau warga desa Tunggak disebut terlibat, tanpa disodorkan bukti dulu!” suara Raden Mas Panji menggelegar, dengan kasar dia bangkit, hingga kursinya terlempar ke belakang.
“Dulu Anda menuduh sebelas warga desa saya mencuri di desamu, tapi tidak terbukti. Aku tidak semarah Anda saat ini,” celetuk Kepala Desa Pusuk, Arta Prana.
Ucapan itu seperti sodokan keras, tepat mengenai muka Raden Mas Panji.
Ia ingat peristiwa memalukan itu. Menuduh warga desa Pusuk melakukan pencurian di desa Tunggak. Setelah ditelusuri, pelakunya warga desa Tunggak sendiri.
Lebih parahnya, pelaku merupakan keluarga Raden Mas Panji.
“Sudahlah, Panji. Duduk saja. Jangan menganggap desamu paling suci. Kau hanya membuat pembahasan menjadi tidak fokus. Ada desa sahabat tertimpa masalah, Anda malah sibuk urus harga diri. Apa perlu saya ungkap lagi aib desamu? ” ancam Arta Prana.
Raden Mas Panji tidak berkutik. Begitu juga Raden Sigar enggan memperpanjang persoalan.
Artha Prana tersohor dengan nama Kepala Desa ‘Seribu Mata’. Konon Ia memiliki teliksandi di setiap desa tetangga. Aib yang disembunyikan dengan rapi dalam ruang rahasia Desa lain, bisa terbongkar dengan mudah.
“Izinkan saya meminta maaf lagi. Tapi semata-mata karena saya yakin hanya desa terkaitlah yang bisa mengendalikan dengan ilmu rahasianya. Selaq Mopol hanya ada di desa Buaq, begitu juga Selaq Ngeres hanya ada di desa Tunggak. Saya percaya, Tunggak dan Buaq memiliki ilmu rahasia leluhur untuk melawan Selaq,” jelas Darwire.
“Saya pikir persoalannya sudah jelas. Desa Bunge saat ini butuh pengendali Selaq Mopol dan Selaq Ngeres," ujar Rawilih.
"Bagaimana Raden Mas Panji dan Raden Sigar, apa kalian bersedia membantu Desa Bunge?" imbuhnya.
“Kami bersedia dengan syarat empat penjuru gerbang desa Bunge dibuka sebagai jalan masuk pasukan kami,” ujar Raden Mas Panji.
“Gila!” sahut Kertaji.
“Itu tidak mungkin kami penuhi,” ujar Tumban, datar.
Arta Prana menyorot tajam mata Raden Mas Panji.
“Kau mau menolong atau menyerang desa Bunge?”
Pertanyaan menohok itu membuat Raden Mas Panji gelagapan. Tapi dengan segera mampu mengendalikan diri.
“Selaq Ngeres, memiliki ilmu membangkitkan mayat. Tidak mungkin, kami mengutus beberapa orang saja. Itu sangat berisiko bagi pasukan kami,”
“Sama juga. Kami butuh empat penjuru gerbang desa Bunge dibuka,” kata Raden Sigar.
“Kalian berkomplot,” perkataan tajam Arta Prana bagai busur panah menghujam ulu hati dua kepala desa itu.
“Bagaimana Darwire?” pandangan Arta Prana beralih ke kepala Desa Bunge.
“Ini pilihan sulit. Sama-sama berisiko. Tapi saya harus menolak membuka empat penjuru gerbang desa. Pembukaan hanya dapat dilakukan bila dewan desa menyetujui. Sementara aku tidak punya kewenangan,” jawab Darwire.
“Baiklah saya kira sudah jelas, Desa Pusuk, Desa Akah, Desa Lolo, dan Desa Daun yang akan membantu Desa Bunge,” ujar Artha Prana.
Usia rapat empat kepala desa meninggalkan Paseban Agung. Menuju desa masing-masing menyiapkan bala bantuan perwakilan.
Tumban Baloq Darwire kembali ke Desa Bunge. Sementara di Paseban Agung tinggal Raden Mas Panji dan Raden Sigar.
“Kanda Raden Mas Panji apa kau merasa ada yang aneh?”
“Entahlah,”
Raden Mas Panji termangu dengan rapat darurat yang baru saja terjadi. Sementara Raden Sigar gelisah.
“Kanda, aku merasa kita terjebak dalam permainan,”
Raden Mas Panji menatap lekat-lekat Raden Sigar. Dalam beberapa saat Ia mencerna maksud sang adik ipar. Sampai kemudian, sesuatu melintas di kepalanya.
“Kita harus mengejarnya!”
“Apa mungkin terkejar?” kata Raden Sigar ragu.
“Kita tidak akan tahu sebelum mencobanya,” Raden Mas Panji terlihat geram.
Dua kepala desa itu melompat. Bergerak cepat ke arah desa Bunge.
***
Separo Desa Bunge berubah jadi lautan api. Mopol Kesur yang tidak terkawal berhasil masuk ke jantung desa dan mulai menebar angkara murka.
“Di mana kalian!”
Mopol Kesur memekik dahsyat, menyemburkan api dari mulutnya. Ia gusar mendapati Desa Bunge yang kosong tanpa seorang pun warga di sana.
“Segera kalian muncul atau desa ini aku buat rata!” Mopol Kesur mengamuk sejadi-jadinya.
Namun semakin banyak rumah yang dibumi hanguskan, semakin didapati lorong desa hampa tanpa seorang pun.
Hidungnya mengendus aroma tubuh manusia. Setelah dicari yang ditemui hanya kain lusuh yang menyimpan keringat para petani.
“Sialan, ada yang berupaya mengecoh penciumanku,” geramnya.
Mopol Kesur baru sadar, kain lusuh itu sengaja disebar untuk mengarahkannya ke luar desa.
“Aku tidak akan tertipu oleh manusia!” kesalnya.
Namun terlambat, Gerbang Desa yang dibelakanginya sudah ditutup rapat. Di sana berdiri puluhan prajurit Krame Desa pimpinan Raden Sentane bersiap hidup-mati mempertahankan gerbang.
“Tidak aku biarkan kau masuk ke Desa kami!” seru Raden Sentane.
“Kalau begitu ucapkan selamat datang pada kematian!” pekiknya.
Mopol Kesur merapal mantra. Lidahnya tiba-tiba terjulur panjang, setelah itu bercabang.
Awalnya hanya dua cabang, menjadi empat, delapan, enam belas, dan terus berlipat, puluhan, hingga ratusan. Melebihi jumlah pasukan yang berjaga di pintu gerbang.
“Cuma lidah, tebas saja!” seru seorang anggota Krame Desa.
Dugaan mereka meleset. Lidah itu nyatanya kenyal seperti karet. Bahkan senjata setajam apapun tak mempan melukai lidah Mopol Ngeros.
“Menjijikkan!” seru prajurit yang terus mengibaskan pedang mengkilat di bawah cahaya lampu gerbang.
Kepanikan menjadi-jadi, saat di ujung lidah muncul kepala ular berwarna hijau. Dalam sekejap, ular menerkam urat leher para pasukan. Memasukkan racun yang sangat berbahaya.
“Ular itu pedagang ulung. Hanya dengan setitik racun, bisa mendapat nyawa manusia. Bukankah itu keuntungan besar?”
Mopol Kesur mendesis mengerikan. Dalam sekejap, puluhan pasukan Raden Sentane yang terjerat lidah panjang, meregang nyawa.
“Keuntungan besar adalah segalanya dalam berdagang!”
***