SECOND LIFE FROM HALF LIVE

SECOND LIFE FROM HALF LIVE
SERANGAN MENDADAK



Kembali ke sudut pandang Hare Yasu


Keesokan harinya entah kenapa aku bangun sangat pagi tidak lama dari itu aku merasakan perasaan yang tidak enak.


[TUAN BANGUNKAN YANG LAIN!!!].


[Hah memangnya kenapa?].


[3 menit dari sekarang bangunan ini akan terkena bola api yang sangat besar!!!].


Karena peringatan itu aku langsung menggunakan skill telepati dan memperingati semua orang yang ada di penginapan ini.


'Skill telepati aktif'


{Untuk semua orang yang ada di tempat ini aku mau kalian meninggal tempat ini sejauh mungkin akan ada bola api yang sangat besar menuju ke penginapan ini}.


Setelah peringatan itu aku ucapkan aku langsung menuju kamar Hanabi untuk membantuku membangunkan dan mengevakuasi tamu yang lain. Setelah itu aku langsung ke lantai yang ada di atas untuk membangunkan tamu yang ada di atas. Setelah membangunkan mereka ternyata setengah penghuni kamar atas adalah prajurit kerajaan yang memang di tugaskan untuk membunuh ku. Kemudian aku langsung di todong kan tombak dan pedang oleh mereka.


"Kalo kamu tidak ingin mati kamu diam di sini!!!" Salah satu prajurit yang menodongkan tompak.


"Ya kalo aku diam di sini aku akan tetap mati juga dong?".


"Eh iya juga tapi mau apa pun yang terjadi kamu harus diam di sini!" Salah satu prajurit yang menodongkan pedang.


Aku tidak berbuat apa-apa karena aku melihat wajah mereka seperti mempunyai masalah yang sangat gawat. Kemudian aku di ikat oleh mereka di sebuah bangku yang sudah mereka siapkan ketika mereka sedang mengikatku aku mengajak mereka berbicara.


"Aku boleh bicara ga?".


"Sudah kamu diam!".


"Ya kan ini tempat akan menjadi kuburan kita ya walaupun aku tidak yakin aku akan mati, tapi kalian sudah bisa di pastika akan mati jadi sebelum kita berpisah aku ingin berbicara dengan kalian".


Karena aku mengatakan aku tidak akan mati mereka semua tertawa dengan lepas.


"Nah gitu dong kalian semua ketawa dengan sangat lepas".


"Bagaimana kita ga ketawa kamu tidak mungkin bisa selamat malahan untuk seorang pahlawan jika dia terkena oleh ledakan bola sihir ini sang pahlawan itu akan terluka sangat parah".


"Lah terus kalo gitu kenapa kalian tidak pergi saja dari sini. Kalian yang ada disini pasti punya keluarga kan?".


Setelah aku menyangkut soal keluarga mereka semua langsung menangis dan berharap bisa selamat dari bola api.


"Kami juga maunya begitu tapi apa daya keluarga kita semua di culik oleh pihak kerajaan dan jika misi ini gagal keluarga kamu akan di hukum mati di hadapan kita dan setelah itu kita akan di penjara dan tidak diberi makan sampai kita mati" salah satu prajurit menangis menceritakan semua ini.


"Oh dengan kata lain kalian dijadikan tumbal untuk keselamatan keluarga kalian?"


"Iya".


"Terus jika kalian mati disini belum menjamin bahwa keluarga kalian akan selamat. Bisa saja setelah kalian mati keluarga kalian bisa aja ikut mati di bunuh oleh pihak kerajaan?".


"Hahaha itu tidak mungkin".


"Terus apa yang membuat kalian yakin akan hal itu?".


"Soalnya ayah kami dulu melakukan hal yang sama seperti kami sekarang malahan ayah kami di beri penghormatan yang sangat tinggi di kerajaan Tjima".


Duh kalo udah gini sulit juga yah aku melepaskan diri dari mereka.


[Tuan sebenarnya tidak ada gunanya untuk bernegosiasi dengan mereka?].


[Hah memangnya kenapa?].


[Karena kemungkinan keluarga mereka sudah tidak ada dan otak mereka sudah di cuci oleh pihak kerajaan dengan sihir ilusi].


[Kenapa kamu punya pikiran seperti itu?].


[Soalnya ketika kita menjadi eiden aku kan menghilang untuk beberapa menit].


[Nah ketika aku menghilang aku tidak sengaja masuk ke salah satu ruangan para penyihir yang ada di kerajaan itu dan para penyihir itu sedang melakukan ritual aneh, di tengah-tengah lingkaran sihir itu ada sekumpulan orang dan entah orang-orang itu sedang di apakan tapi ketika aku liat lebih dekat ternyata orang-orang itu sebagian kecilnya adalah mereka. Bagaimana aku yakin karena tuan tadi liat mereka menangis].


[Iya aku ingat].


[Nah penyebabnya adalah alam bawah sadar mereka masih tidak terima akan semua ini dan dalam waktu yang singkat mereka sadar].


[Ya terus kenapa kamu baru bilang Refsi] aku aga marah.


[Maaf tuan soalnya Refsi juga belum yakin 100% bahwa mereka di cuci otak hehehe].


Pindah ke sudut pandang Hanabi.


Ketika malam hari.


Aku tidak percaya bahwa ayahku akan kembali kesini yang aku tau dari bibi Vealdan bahwa ayahku kemungkinan tidak bisa kesini lagi karena kita beda dunia. Dan besok aku harus memanggilnya apa, Ayahanda, Ayah, Bapak, Otosan, Papah, atau Papa aja hmmm. Tapi apa aku pantas memanggilnya seperti itu soalnya aku pernah menodongkan pisau kepadanya. Arg aku harus gimana, karena terlalu banyak pikiran aku pun langsung tidur.


Ke esokan harinya aku mendengar suara tapi aku tidak memperdulikan suara itu kemudian tidak lama aku dibangunkan oleh seseorang dan ternyata yang membangunkan ku adalah orang tuaku dengan wajah panik dia menyuruhku untuk membantunya mengevakuasi para tamu yang ada di lantai bawah.


"Hanabi tolong bantu aku evakuasi semua tau yang ada di sini aku akan evakuasi tamu yang ada di lantai atas dan kamu evakuasi yang ada di bawah" Hare sangat panik.


"Memangnya ada apa Papa" aku keceplosan mengatakan Papa.


"Nanti kamu juga tau yang penting sekarang cepat evakuasi semuanya".


"Aku harus membawa mereka kemana?".


"Yang jauh dari tempat ini"


Singkat cerita aku sudah berhasil mengevakuasi semua tamu yang ada di lantai bawah ketempat yang sangat jauh dari penginapan kemudian paman Maou menanyakan keberadaan Papa ku.


"Hanabi, Hare dimana?" Maou khawatir.


"Maksud paman Papaku?"


"Iya harusnya dia sudah ada disini" Maou menjadi tambah khawatir.


"Hanabi memangnya paman Hare setelah meminta tolong dia kemana?" Shiro penasaran.


"Katanya dia ingin mengevakuasi tamu yang ada di lantai atas?".


"Tapi kan seharusnya dia barengan dengan Ayahku soalnya dilantai atas cuman ditempati 2 kamar yaitu kamar paman Hare dan Ayah ku saja?".


Ketika mendengar itu aku menjadi sangat khawatir tidak lama bola api yang sangat besar melewati ku dan yang lain menuju penginapan.


Oh ternyata ada serangan mendadak untuk saja kita tidak terlambat untuk menjauhi tempat itu.


Tapi tidak lama aku mendengar 3 suara secara bergantian.


{Wahai anakku Hanabi maafkan Papa cuman bisa menemani kamu sebentar}.


{Hanabi terimakasih sudah datang di kehidupan Tante}.


{Hanabi terimakasih sudah mau mendengarkan semua ceritaku dari calon Ibu barumu}.


Karena mendengar suara itu aku langsung berlari menuju penginapan tetapi didepanku langsung ada Paman Maou memeluk ku.


"Paman lepaskan Hanabi".


"Tidak Hanabi aku diperintahkan oleh Papa mu untuk melindungi mu".


"Aku mohon paman" aku menangis sejadi-jadinya.


"PAPA!!!!!!!!".