
Hari minggu anak-anak libur sekolah, Mira berencana mengajak Raka dan Alya pergi ke taman bunga miliknya. Raka tidak mau karena ada tugas yang belum dia selesaikan, sedangkan Alya sangat bersemangat karena ingin memetik bunga untuk di gunakan foto-foto.
Susi juga akan ikut ke taman, sudah lama dia juga tidak mengunjungi taman itu. Biasanya Mira selalu mengajaknya tiap pekan sekali, saat ini dia sudah bersiap-siap.
"Raka, kamu beneran tidak ikut? di rumah sendiri berani," ucap Mira berdiri di depan pintu kamar Raka.
"Tugas Raka banyak, Mah. Takutnya tidak selesai," kata Raka sembari mengerjakan tugas.
"Alya kok tidak mengerjakan? kalian kan satu kelas," kata Mira lagi melihat apa yang Raka kerjakan.
"Mamah, kenal Alya berapa tahun? kaya gak hafal aja," ucapnya dengan ketus.
Yang diucapkan Raka memang benar, Alya kadang di hukum karena tidak mengerjakan tugas. Dulu Raka yang selalu membantunya, tetapi Alya di bantu bukanya berusaha malah seenaknya.
Mira kemudian berpamitan pada Raka, ia hendak berangkat ke taman bersama Susi dan Alya. Kebetulan mereka juga sudah menunggu di teras depan rumahnya.
"Mira, mana Raka? kok belum siap?" tanya Susi sembari melihat ke arah Mira mencari Raka.
"Tidak mau ikut tugas sekolahnya banyak, dia takut tidak selesai," jelas Mira.
Susi melirik ke arah Alya yang sedang menunduk, anaknya itu pasti belum mengerjakan tugas juga. "Alya, tugas kamu sudah selesai belum?" tanyanya.
"Gak ada tugas, Mah. Raka mungkin mengerjakan untuk besok mungkin," kata Alya.
"Jangan bohong kamu," kata Susi melotot ke arah Alya.
Susi kemudian melarang Alya ikut ke taman, dia menyuruh anaknya ikut Raka mengerjakan tugas. Mira seperti biasa dia justru membela Alya, tetap mengajaknya untuk ikut karena tidak tega.
Mira kemudian meminta Raka agar mengerjakan tugas di ruang tengah, agar Alya bisa ikut mengerjakan. Alya lalu mengambil bukunya, dan ikut Raka mengerjakan tugas. Mira dan Susi kemudian meninggalkan mereka berdua.
"Raka, halaman berapa yang dikerjakan?" tanya Alya karena disekolah tidak memperhatikan jadi dia lupa.
Raka tidak menjawab pertanyaan Alya, dia tetap fokus dengan bukunya. Kesal karena Raka tidak menjawab Alya merebut buku tugas milik Raka, lalu mengancam Raka akan membuang bukunya.
"Kembalikan, Alya!" ucap Raka dengan kesal. Raka paling tidak suka bercanda di saat sedang belajar ataupun mengerjakan sesuatu.
"Jawab dulu pertanyaan ku, nanti aku kembalikan," kata Alya tak kalah galaknya.
"Sini balikin! jangan seperti anak kecil, harusnya kamu lihat di buku yang aku kerjakan dari pada banyak bicara," kata Raka mulai kesal dengan kelakuan Alya.
Alya menjulurkan lidah ke arah Raka, Raka membentak Alya sampai menangis. Raka sudah tidak tahan lagi dengan ulah Alya yang membuat orang emosi, untung Raka termasuk orang yang sabar.
"Jangan nangis lagi! gak malu apa, bikin orang marah di bentak gitu aja nangis. Dasar cengeng," kata Raka seraya menghapus air mata Alya dengan tisu.
Raka masih peduli dengan Alya, walaupun selalu membuat kesal dan marah. Bukan hanya sekali dua kali Alya seperti ini, saat di nasehati hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Alya melempar buku Raka, untung saja tidak rusak. Kemudian ia mulu ikut mengerjakan tetapi masih diam tidak mau berbicara dengan Raka.
"Alya, mau kamu apa? kamu tadi di suruh mengerjakan tugas kan," kata Raka menatap Alya kesal.
"Raka, aku minta maaf. Selalu merepotkan kamu, membuat kamu soal terus," ucapnya kemudian menangis.
Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia memberi nasehat pada Alya agar mengerjakan tugas.
*
*
Bunga anggrek putih milik ayah Mira masih bermekaran dan sangat indah. Mira ingin membawa pulang bunga itu, tetapi di larang oleh Susi.
"Mira, jangan merusak keindahan bunga ini. Gak usah bawa pulang, entar berkurang," kata Susi.
"Ambil satu pot kok gak banyak," jawab Mira sembari melihat bunga yang dia pegang.
"Dasar kamu bandel seperti Alya," kata Susi menyamakan Mira dengan anaknya.
"Dia seperti aku waktu masih kecil, bedanya aku rajin mengerjakan tugas," terang Mira.
"Mungkin seperti Tio sifat dia, malas mengerjakan tugas," kata Susi memang Tio pernah bercerita tentang dirinya.
Kalau Alya jadi ikut pasti bunga yang mekar sudah di petiknya semua, karena Alya memang sangat menyukai bunga. Kesukaan Alya adalah bunga melati, dia suka warna putihnya dan harum.
Mira mengurungkan niatnya membawa pulang bunga itu, karena Susi tidak memperbolehkan walaupun miliknya.
"Ayo kita ke cafe bentar!" ajak Susi yang merindukan waktu masih kerja di cafe.
"Boleh, tapi jangan lama-lama! aku khawatir, Raka berantem dengan Alya," kata Mira yang tau betul bagaimana mereka kalau sedang berantem.
Mungkin karena dari kecil selalu bersama jadi mereka sering berantem, apalagi dulu waktu masih kecil mereka sering sekali berebut mainan.
"Padahal kita akur, kenapa anak kita berantem terus ya," ucap Susi.
"Mungkin mereka kalau di sekolah tidak seperti di rumah, yang selalu ribut," kata Mira.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan cafe, lalu masuk ke dalam dan menemui orang yang mengurus, saat ini yang mengelola cafe adalah orang kepercayaan Lian.
Banyak sekali pengunjung yang berdatangan saat ini, mereka berdua ikut membantu sebentar karena kebetulan banyak pesanan.
Siska masih betah berkerja di cafe ini, dia sekarang menjabat sebagai kasir di cafe itu. Setelah selesai membantu Mira dan Susi kemudian pulang ke rumah, mereka khawatir dengan Alya dan Raka.
Di perjalanan mereka asyik mengobrol sampai lupa menghentikan angkot yang mereka naiki, untung saja tidak terlalu jauh.
"Kenapa kamu tidak mengingatkan kalau jalan ke rumah kita sudah dekat," ucap Mira.
"Aku lupa, Mira. Yuk jalan kaki saja, lagian juga sudah dekat," kata Susi.
Untuk sampai di rumah mereka harus jalan lebih dulu, Susi biasanya yang paling ingat kebetulan tadi ia lupa. Mereka jalan dengan terburu-buru, khawatir dengan Raka dan Alya.
Akhirnya mereka sampai juga di rumah, Raka dan Alya juga sudah selesai mengerjakan tugas. Alya sampai tertidur di sofa sedang Raka membereskan buku miliknya.
"Mamah, kok sudah pulang?" tanya Raka.
"Iya, khawatir dengan kalian. Takut berantem," jawab Mira.
Raka kemudian menceritakan kejadian tadi, dia tidak berani berbohong pada Mamahnya.
"Jadi Alya capek nangis aja ini," sahut Susi.