
Perlahan Mira mulai membuka bungkus kado itu, ternyata hanya sebuah gulungan kertas yang sangat panjang. Ada secarik kertas di dalam gulungan itu, isinya adalah sebuah kalimat ancaman. Mira kemudian memberikan kertas itu pada Lian, dia sangat ketakutan ada yang mengancam keluarganya.
"Pah, kira-kira siapa yang mengirimkan ini," ucapnya sembari memberikan pada Lian.
"Sayang, kamu jangan khawatir. Aku tidak akan tinggal diam, secepatnya akan aku cari pengirim kado ini," ucap Lian menenangkan padahal dia juga takut anak dan istrinya dalam bahaya.
Mira kemudian berhenti membuka kado, dia menumpuk kembali kado yang masih belum dibuka. Kemudian membuang gulung kertas tadi ke tempat sampah, dia takut akan ada kado yang sama dengan tadi.
*
*
"Apa sudah kamu kirim kado itu?" tanya seorang wanita tua.
"Sudah, Bu. Mana imbalan yang Ibu janjikan?" ucap seseorang yang di suruh.
"Kalau rumah tangga mereka belum hancur, saya tidak akan memberikan uang sepeserpun," ucap wanita tua.
"Dasar Ibu ini! gak punya duit masih berlagak kaya, kalau sampai ketahuan saya bisa di pecat," kata orang itu.
Wanita tua itu kemudian pergi meninggalkan orang suruhannya, yang tak lain adalah seorang pegawai catering yang ada di hotel saat ulang tahun Mira.
"Bu! tunggu dulu, urusan kita belum selesai!" teriak pegawai catering itu.
"Kamu ngapain teriak panggil orang gila," ucap temannya yang kebetulan baru datang.
"Dia tidak gila, jangan sembarangan kalau bicara," kata pegawai catering.
Mereka berdua kemudian berdebat hanya gara-gara orang asing, padahal mereka berdua berteman.
*
*
Susi datang ke rumah Mira, ia memberikan kado untuk Mira karena kemarin belum sempat membeli. Dia datang sendiri karena Alya sedang tidur siang, sedangkan Tio pergi ke rumah saudaranya.
"Mira, maaf ya aku terlambat kasih kado," ucap Susi seraya memberikan kado pada Mira.
"Kenapa kamu ikutan repot, Susi? tiap hari kamu juga kasih aku kado," kata Mira menerima kado pemberian Susi. Terimakasih kadonya," Lanjutnya.
Mira kemudian menceritakan tentang kado misterius yang berisi ancaman, padahal Mira dan Lian tidak pernah merasa punya musuh tetapi ada saja yang meneror keluarga mereka.
Selama ini keluarga Mira terlihat harmonis dan tanpa ada masalah dengan siapapun, kini muncul masalah baru yang membuat mereka tidak tenang.
"Kira-kira siapa yang berani kirim? gak berani muncul lagi," kata Susi.
"Aku juga tidak tau, bikin orang tidak tenang saja," kata Mira.
Bagi Mira yang penting adalah keselamatan anak dan suaminya, karena mereka berdua adalah harta Mira yang paling berharga.
"Ayo kita cari tau! aku tau caranya, agar menemukan siapa pengirimannya," kata Susi.
"Memang bisa kita cari? tamu yang bawa kado banyak, Susi," kata Mira.
Susi kemudian mengajak Mira untuk mencari tau orang yang telah mengirimkan kado itu, tetapi Lian melarang karena dia sudah menyuruh orang untuk menyelidiki.
"Kita harus bertindak cepat, kalau tidak bisa kehilangan bukti," kata Susi.
"Aku sudah menyiapkan semuanya, kalian tenang saja," kata Lian agar Susi dan Mira tidak panik.
Raka yang kebetulan ada di rumah tidak sengaja mendengar percakapan orang tuanya, dia juga ikut sedih. Dia merasa kasihan dengan orang tuanya, karena baru kali ini ada orang yang mengancam ingin menghancurkan keluarga.
*
*
Esok hari Raka dan Alya sudah kembali bersekolah, mereka berangkat bersama lagi. Alya tadi juga sudah tidak bangun siang, Raka pun kaget tadi saat melihat Alya sudah rapi.
"Sudah di rumah tadi, Mamah buatin nasi goreng. Ayo kita masuk kelas," ajaknya.
"Biasanya kamu telat, kenapa sekarang jadi semangat? pasti ada sesuatu," ucap Raka.
"Engga kok! lagi semangat aja," kata Alya.
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam kelas, Alya langsung membuka buku untuk belajar karena ada ulangan lagi. Raka dari tadi memperhatikan Alya sembari tersenyum, dia senang kalau Alya bisa berubah dan mau belajar.
"Melisa, kamu duduk di belakang dong," kata Raka meminta Melisa duduk di sebelah Dania.
"Gak mau! kemarin kamu pindah sendiri kan," ucap Melisa.
"Aku saja yang pindah ke belakang, kalian duduk bareng di sini," sahut Alya lalu memegang tasnya hendak di bawa pindah kursi tetapi Raka melarang.
Raka duduk di belakang Alya sebelah Dania, sedangkan Hanif duduk sendiri karena jumlah murid dalam kelas itu ganjil. Hanif protes dengan Raka yang memilih duduk dengan siswa perempuan, ketimbang dengan dirinya.
"Satu hari saja, Hanif. Besok aku duduk bareng kamu lagi," kata Raka.
"Besok giliran aku yang duduk di sebelah Melisa, kemarin kan gitu," ucap Hanif.
"Dania, besok kamu duduk di depan bareng Hanif ya! aku mau bareng Alya," kata Raka.
"Aku duduk sama siapa aja, terserah kalian," ucap Dania sambil tersenyum.
Bu guru akhirnya datang, mereka semua kemudian d
kembali duduk di tempat masing-masing. Tadi ada yang duduk di atas meja, di lantai sambil mengobrol ada juga yang makan.
Pelajaran pun di mulai, mendadak semua siswa berdiam diri. Mereka semua memperhatikan bu guru yang sedang mengajar, di kelas itu. Selesai menerangkan ada ulangan yang harus meraka kerjakan.
"Siapa yang sudah selesai, boleh langsung istirahat," ucap Bu guru sembari mengelilingi para siswa.
"Baik, Bu," jawab semua siswa secara serempak.
Alya mulai menoleh ke arah Raka, Dania pun juga begitu tetapi Raka tetap fokus dengan selembar kertas yang dia pegang.
"Alya, ngapain kamu menoleh ke Raka?" tanya Bu guru yang tak sengaja melihat Alya.
"Mau pinjam penghapus, Bu," jawab Alya yang tidak masuk akal, dia mengerjakan menggunakan bolpoin bukan pensil.
Bu guru kemudian menghampiri Alya, beliau melihat pekerjaan Alya yang ternyata banyak jawaban yang benar. "Kerjakan lagi," ucapnya.
"Untung saja tidak di suruh mengerjakan di luar," ucap Alya dalam hati. Kemudian Alya melanjutkan mengerjakan lagi, karena kurang beberapa soal yang belum terjawab.
"Alya, aku keluar dulu," ucap Raka secara pelan agar tidak terdengar orang lain.
"Iya," jawab Alya singkat.
Mulai ada rasa iri di dalam diri Dania, dia tidak suka melihat Alya dan Raka seakrab itu.
Semua siswa sudah keluar kelas untuk beristirahat, kini tinggal Dania yang belum.
"Dania, kenapa lama sekali? kamu tadi tidak memperhatikan ya," kata Bu guru.
"Kurang satu soal, Bu," kata Dania tetap fokus dengan kertas ulangannya.
Sebenarnya waktu mengerjakan sudah habis, tetapi Bu guru memberikan kesempatan pada Dania.
"Ini kertas apa, Dania?" tanya Bu guru.
Dania merebut kertas itu dari tangan Bu guru, lalu memasukkan ke dalam tas.
"Ayo ikut ibu ke kantor! Jelaskan semuanya," kata Bu guru.
"Tapi, Bu...