Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 24



Alya mengerjakan sangat lama sekali, membuat Ibu guru menegurnya. Sebenarnya Alya bisa tetapi ia ragu untuk menuliskan jawaban, tadi dia memang tidak memperhatikan tetapi sempat melihat cara mengerjakan.


"Keburu habis waktunya, Alya. Cepat kerjakan," kata Ibu guru sembari memperhatikan Alya.


Dengan cepat Alya menuliskan jawaban yang ada dalam otaknya, dia sudah pasrah. Ternyata jawaban Alya benar, kemudian Bu guru menyuruh Alya untuk kembali ke tempat duduknya.


"Al, kamu kerasukan setan apa? tumben jawaban kamu benar," kata Raka dengan berbisik pelan.


"Soal seperti itu mudah buat aku, itu buktinya benar semua kan," ucap Alya tersenyum ke arah Raka.


Istirahat telah tiba semua siswa di dalam kelas keluar semua, ada yang ke kantin ada juga yang di perpustakaan dan ada yang duduk di taman sekolah


Alya bersama Melisa dan Dania tentunya berada di kantin, apalagi Alya tadi tidak sarapan pagi. Sedangkan Raka dan Hanif berada di warung depan sekolah, mereka berdua lebih suka jajan di luar.


"Tumben kamu makan banyak? biasanya beli minum aja," ucap Melisa sembari melihat Alya yang sedang makan dengan lahap.


"Aku tadi pagi belum sarapan, ini juga lupa...


Ucapan Alya terhenti ia ingat tidak membawa uang saku, padahal sudah makan.


"Kenapa Alya?" tanya Dania melihat Alya seperti orang bingung.


Alya kemudian meminta tolong melisa untuk membayar makanannya lebih dulu, dia bilang nanti akan meminta Raka untuk mengganti uang Melisa.


"Nafsu makan ku ilang, yuk balik kelas aja," kata Alya lalu meletakkan sendok nya dan mengajak temannya.


Sampai di kelas Alya meminta uang pada Raka, ia di beri lima ribu oleh Raka. Tentu saja kurang karena tadi pinjam Melisa sepuluh ribu. Alya kemudian protes pada Raka.


"Raka, ini uangnya kurang. Lagi dong nanti biar Mamah ku yang ganti kalau sudah pulang," kata Alya menatap Raka.


"Sudah habis! kamu kenapa tidak minta di rumah tadi," ucap Raka sembari mencari uang di dalam tasnya. Biasanya ada uang sisa di dalam tasnya, tetapi kebetulan ini tidak ada.


"Tadi sudah aku berikan ke penjaga sekolah uang ku," ucap Alya.


Alya kemudian memberikan uang itu pada Melisa, dia tidak enak sudah berjanji tadi. Melisa sebenarnya juga tidak mau menerima uang itu, tetapi Alya terus saja memaksa.


Pulang sekolah Dania mengajak Alya dan Melisa pergi ke rumahnya, dia juga bilang akan mengantarkan mereka pulang. Alya menolak dia takut Mamahnya sudah pulang dari kampung, nanti bisa kena omel Mamah Susi.


"Alya, Melisa, aku duluan ya? itu Nenek ku sudah menunggu," ucap Dania sembari menunjukkan mobil mewah yang berada di pinggir jalan depan sekolah.


"Nenek kamu keren, Dania. Mobilnya bagus sekali," kata Melisa.


Penampilan Ane sekarang memang sangat keren, dia seperti anak muda walaupun sudah Nenek. Bahkan Lisa saja kalah saat ini, apalagi hidup Lisa hanya menumpang saat ini.


Melisa juga pulang lebih dulu, jemputan nya sudah datang. Alya masih berdiri menunggu Raka, saat ini sedang rapat OSIS.


"Neng Alya, besok berangkat telat lagi tidak? Bapak siap bukain pintu gerbang," kata penjaga sekolah mendekati Alya.


"Tadi cuma kebetulan, Pak. Besok berangkat pagi, biar gak terlambat," kata Alya.


Penjaga sekolah terus merayu Alya, hingga membuat Alya kesal sendiri kemudian masuk ke dalam sekolahan lagi. Alya menunggu Raka di depan ruang OSIS.


Tak lama kemudian Raka sudah keluar dan menuju di mana Alya berada, ia ikut duduk di sebelah Alya.


"Lama sekali! Gimana hasil rapatnya?" tanya Alya mengerucutkan bibirnya.


"Pasti kamu yang usul ada jurit malam," tuduh Alya padahal Raka hanya mencatat hasil keputusan rapat saja.


Raka kemudian mengajak Alya pulang, di jalan Raka mengendarai motornya dengan pelan sembari menjelaskan tentang hasil keputusan rapat OSIS.


*


*


Saat ini Mira, Susi, Lian dan Tio masih berada di perjalanan menuju ke rumah, mereka mampir dulu ke sebuah toko oleh-oleh. Sambil menunggu Mira dan Susi berbelanja, Lian menghubungi Raka melalui telepon genggamnya.


"Mereka pulang sekolah belum, Lian?" tanya Tio yang menghawatirkan Alya.


"Baru saja sampai rumah katanya, kita di suruh cepat sampai rumah," jelas Lian.


"Pasti Alya yang nyuruh," kata Tio yang sudah hafal dengan kelakuan anaknya.


Setelah Mira dan Susi kembali ke mobil, Lian memberitahukan kalau anaknya meminta untuk pulang lebih cepat. Mira mengajak mereka untuk segera melanjutkan perjalanan, agar tidak terlalu malam sampai di rumah.


"Alya saja diturutin, perjalanan juga masih jauh gimana mau cepat," ucap Susi dengan tiba-tiba.


"Tadi malam dia ketakutan, katanya ada suara orang melemparkan botol tapi Raka tidak dengar," ucap Lian.


Susi dan Tio tertawa mendengar cerita Lian, karena Alya memang sangat takut sendirian. Sejak kecil kalau tidur ia tidak pernah sendiri, sekarang kadang-kadang masih sering menyusul Susi dan Tio.


*


*


Dania saat ini di ajak Ane pulang ke rumah barunya, Ane memperlihatkan isi rumah mewahnya. Dania sangat kagum, rumah baru Ane sangat mewah dibandingkan dengan milik Papahnya.


"Nenek, kenapa tiba-tiba baik sama Dania? biasanya juga selalu menghina," kata Dania heran dengan perubahan sikap Ane.


"Soalnya aku sudah tua, nanti siapa yang akan mewarisi harta ku yang banyak ini kalau bukan kamu," kata Ane meyakinkan Dania.


Dania menjadi berfikir kalau akan mendapatkan banyak warisan, karena Fandy tidak mempunyai keturunan dari Linda. Selesai melihat rumah, Ane mengajak Dania pergi ke toko berlian miliknya. Ane menyuruh Dania untuk membawa berlian yang dia suka, awalnya Dania ragu dengan ucapan Ane.


Kemudian Dania mengambil sebuah cincin berlian yang menurutnya sangat bagus, Dania belum pernah memiliki barang mewah.


"Nenek, kita mau kemana lagi? nanti keburu Papah pulang kerja," kata Dania.


"Kita pulang ke rumah Nenek, tidak usah pulang ke rumah Papah kamu," jelas Ane.


Dania menolak karena besok harus sekolah dan takut kalau Mamah nya mencari, tadi kebetulan lupa tidak berpamitan terlebih dahulu. Akhirnya Ane yang mengalah, dia hendak mengantarkan Dania pulang ke rumah Fandy.


Di perjalanan pulang Dania banyak bertanya pada Ane, dia menanyakan soal Aldo.


"Nek, ada hubungan apa Mamah Lisa dan Om Aldo?" tanya Dania penasaran.


Ane ragu untuk menjawab semua, dia juga belum membicarakan hal ini dengan Lisa. Ane tidak mau salah bicara, karena akan mempersulit rencananya nanti. "Kamu anak kecil jangan banyak tanya! di mana kamu bertemu Aldo?" tanya Ane.


Tiba-tiba terdengar suara ponsel Dania, sehingga membuat Dania tidak menjawab pertanyaan Ane.


"Siapa yang telepon?" tanya Ane ingin tau.