
"Hanif, ayo kita ke kantin dulu," ajak Alya setelah keluar dari ruang perpustakaan.
"Boleh, tapi kamu yang bayarin ya," ucap Hanif.
"Enak aja! bayar sendiri-sendiri," kata Alya.
"Kan kamu yang ajak! ini jam pelajaran kalau di hukum lagi gimana," kata Hanif.
Alya tidak peduli mau di hukum lagi atau tidak, ia kemudian menggandeng tangan Hanif dan mengajaknya secara paksa di kantin.
Sudah hampir satu jam Alya dan Hanif berada di kantin, untung saja penjaga kantin mengingatkan kalau tidak akan lebih lama lagi. Mereka berdua lalu kembali ke dalam kelasnya, Ibu guru sudah menunggu mereka dari tadi.
"Alya, Hanif, jalan dari perpustakaan sampai kelas lama sekali kalian! sudah satu jam, kemana aja kalian?" tanya Bu guru.
"Tadi Alya ngajakin ke kantin, padahal saya gak mau," jelas Hanif dengan jujur. Alya maksa saya, Bu," Lanjutnya.
"Benar kata Hanif, Alya? tadi jam istirahat kalian ngapain," ucap Bu guru.
"Tadi sebenarnya Raka sudah membelikan kita makanan tapi di minta sama penjaga perpustakaan, karena kelaparan kita ke kantin dulu. Saya tadi memang memaksa Hanif, Bu," jelas Alya.
Bu guru kemudian menyuruh Alya dan Hanif duduk, dia tidak bisa marah lagi karena kalau sampai Alya dan Hanif sakit perut pasti akan terkena masalah. Bu guru kemudian melanjutkan mengajarnya, waktu juga tinggal sedikit lagi.
"Raka, aku boleh ikut kamu ke kantor kan," kata Alya saat berada diparkiran sekolah hendak pulang.
"Tidak boleh, Alya! nanti Papah marah, aku juga baru pertama kali kerja. Lain kali aja," ucap Raka kemudian melajukan motornya.
Alya masih mematung di tempat itu sembari mengerucutkan bibirnya, lalu ia berjalan menuju gerbang sekolah.
"Alya, aku duluan ya," ucap Hilda saat melewati Alya yang saat ini berdiri di depan gerbang sekolah.
Alya hanya menganggukkan kepalanya, ia menunggu angkot karena tidak ada yang menjemputnya.
Semua siswa sudah pulang, tinggal Alya yang masih berdiri di tempat itu. Penjaga sekolah kemudian menghampiri Alya, ia merasa kasihan melihat Alya sendiri.
"Neng Alya, pacarnya mana? kok sendirian," kata penjaga sekolah.
"Pacar apaan, Pak! Alya gak punya pacar," kata Alya dengan ketus.
"Yang tiap hari barengan itu siapa? pacar Neng kan," kata penjaga sekolah lagi.
"Raka! dia tetangga saya," kata Alya masih mengerucutkan bibirnya karena kesal tidak di jemput.
Penjaga sekolah menemani Alya sambil ngobrol, dia juga menawarkan diri untuk mengantarkan Alya pulang tetapi di tolak. Alya kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Papahnya karena sudah lama menunggu. Tio tidak bisa menjemput Alya karena ada meeting, hari ini sial bagi Alya sepertinya.
"Neng, jalan saja ke depan kalau mau naik angkot! dari pada tidak di jemput," kata penjaga sekolah.
"Kenapa tidak bilang dari tadi, kalau angkot gak lewat sini, Pak," ucap Alya.
"Neng, kan gak nanya! mana saya tau," kata penjaga sekolah.
"Ngeselin bener ya," kata Alya lalu pergi meninggalkan penjaga sekolah.
"Tunggu, Neng!" teriak penjaga sekolah.
Alya tidak menghiraukan teriakan penjaga sekolah, ia berjalan ke jalan yang ditunjukkan oleh penjaga sekolah.
*
*
Di kantor Raka di sambut dengan baik oleh rekan kerjanya, tugas pertama Raka adalah membersihkan ruang kerja Lian. Dengan membawa berbagai peralatan kebersihan ia langsung masuk ke dalam ruang kerja Lian, kebetulan saat itu ada Tio yang sedang membicarakan bisnis dengan Lian.
"Raka!" kaget Tio.
"Iya, O... Pak," sahut Raka sedikit kaku karena tidak terbiasa.
"Kenapa kamu jadi cleaning servis? ganti bajumu, Om akan berikan pekerjaan yang lain," kata Tio.
Raka kemudian membersihkan ruang kerja Papahnya, sembari mendengarkan Lian dan Tio berdebat.
"Kamu ini gimana, Lian! kasihan Raka," kata Tio.
Tio tidak terima dengan keputusan Lian, yang memperkerjakan anaknya menjadi cleaning servis. Dia hendak mengajak Raka ke kantornya agar mendapatkan pekerjaan lain, Raka sendiri juga menolak.
Baru beberapa menit berkerja Raka sudah nyaman, karena temannya baik dan saling menolong padahal baru saja mengenal.
Selesai membersihkan ruang kerja Lian, ia kemudian keluar meninggalkan Lian dan Tio yang masih berdebat. Raka mengembalikan peralatan kebersihan yang dibawa tadi ke tempatnya.
Bruuuk...
Karena tidak melihat jalan seorang wanita cantik yang memakai baju seragam sama dengan milik Raka menabraknya, hingga gadis itu terjatuh.
"Kamu gak papa kan?" tanya Raka sembari membantu gadis itu berdiri.
"Maaf tadi gak lihat, aku gak papa! kamu anak baru ya," ucap gadis itu.
Raka memperkenalkan diri pada gadis itu, begitu pula dengan gadis yang bernama Tania. Mereka lalu duduk di dan saling mengobrol. Tania memberitahu pada Raka apa saja yang harus ia kerjakan.
"Kamu sudah lama kerja disini?" tanya Raka.
"Satu tahun yang lalu, setelah lulus SMP. Untung saja Pak Lian mau menerima saya, kalau tidak aku gak tau harus kerja apa," jelas Tania sambil tersenyum.
Raka merasa kagum dengan Tania, ia sudah berkerja dan tidak melanjutkan ke sekolah karena keadaan ekonomi keluarga.
"Kalian kerja sana! jangan ngobrol di sini," kata seorang teman mereka.
"Pekerjaan kita sudah selesai, Nando," ucap Tania.
"Anak baru jangan belagu, kamu! cepat bersihkan ruang meeting," kata Nando.
"Itu bukan pekerjaan dia! harusnya kamu yang membersihkan," kata Tania.
Nando memang seperti itu sikapnya, setiap ada orang baru dia tidak pernah menyukainya. Dia juga sering menyuruh-nyuruh temannya untuk melakukan pekerjaan. Setiap hari Nando juga selalu mengawasi temannya, jika ada yang terlambat ia meminta untuk menggantikan pekerjaannya.
"Gak papa, Tania. Biar aku kerjakan," kata Raka dengan tersenyum.
Tania akhirnya mengikuti Raka ke ruang meeting, dia akan membantu Raka.
*
*
Sampai di rumah Alya langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, Susi yang mengetahui kalau Alya sudah pulang langsung menuju kamar Alya.
"Kok baru pulang, Al?" tanya Susi.
"Mah, besok beliin mobil ya! Alya capek pulang sekolah naik angkot sendiri," kata Alya.
"Emang beli pakai daun? gak pakai uang," ucap Susi.
"Teman-teman Alya gak ada yang naik angkot, Alya malu, Mah," kata Alya.
Susi kemudian menceritakan saat dirinya masih sekolah, ia dulu malah hanya jalan kaki. Alya masih bisa membantah ucapan Susi.
"Jangan dibandingkan zaman dulu sama sekarang, Mah! sekarang sudah modern," kata Alya.
"Kamu ya dibilangin bantah terus!" kata Susi kemudian meninggalkan kamar Alya.
Susi lalu melanjutkan memasaknya, ia sambil menelpon Tio membicarakan soal Alya. Tio berencana akan menuruti permintaan putri tercintanya, walaupun istrinya tidak setuju.
Berbeda dengan Susi dulu, yang sangat menghargai uang. Alya sangat boros seperti Tio, apa keinginannya harus terpenuhi.