Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 38



Alya, Raka, Melisa, Hanif dan Dania saat ini berada di kantin, mereka makan bersama.


"Raka, tadi pagi kamu ngajakin berhenti di pinggir jalan karena ada wanita itu ya," ucap Alya sembari mengaduk saos dalam mangkok yang berisi bakso.


"Iya, kamu benar! namanya Tania, dia cantik kan," kata Raka. Baik pula, sering bantu aku saat di kantor," Lanjutnya.


"Kamu suka cewek itu, Raka?" sahut Hanif.


"Akhirnya Raka sebentar lagi punya pacar," kata Melisa.


"Kirain yang akan jadi pacar Raka teman sekolah juga, kan kita cantik," kata Dania tak mau kalah ikut meledek Raka.


"Kalian jangan ngeledek ya! dia teman kerja aja," Jelas Raka.


"Pantesan kamu beda sekarang, semangat banget kerjanya," kata Alya dengan muka biasa aja, padahal teman lainnya menertawakan Raka.


Alya terlihat seperti orang yang sedang cemburu, padahal Raka sendiri menganggap Alya sebagai adik, saudara sekaligus tetangga.


Hilda dan Vila datang, mereka bergabung di meja yang Raka dan teman-temannya duduki.


"Kalian dari mana saja? kemana-mana berdua, udah kaya prangko," kata Hanif saat melihat Hilda dan Vila datang.


"Perpustakaan dulu baru kantin, gak kaya kamu makan mulu," ucap Vila.


Hilda memandang Dania dengan wajah sengitnya, ia melihat Hilda yang telah mengganti penanda waktu camping sehingga membuat Alya tersesat. Ia bisa tau karena di beri tahu oleh seorang panitia yang penakut, saat itu ia sedang berjaga sendiri tapi tidak berani mengatakan.


Panitia itu mengira kalau Dania itu hantu, bahkan ia bersembunyi di balik pohon. Niatnya di tugaskan untuk menakuti siswa yang lewat tetapi.


"Kalian semua baik banget ya, orang yang diam-diam ingin mencelakai kalian masih saja di terima jadi teman," kata Hilda.


"Siapa maksudnya?" tanya Dania.


"Yang ngerasa aja," ketus Hilda.


Raka menyuruh mereka untuk makan dan melarang mereka membahas soal yang dikatakan oleh Hilda, karena Raka menganggap mereka semua teman.


Bel masuk kelas sudah berbunyi, mereka semua kemudian masuk ke dalam kelas. Hilda dan Vila membuat mereka semua bertanya-tanya, karena tidak mengatakan dengan jelas siapa yang ia maksud. Alya yang ingin bertanya tidak jadi karena sudah terlanjur bel berbunyi.


Di dalam kelas Raka duduk dengan Alya di belakang, karena Hanif pindah ke depan.


"Kok kamu duduk sini, Raka! sana pindah depan," kata Alya.


"Tuh lihat! Si Hanif main pindah tempat duduk saja," kata Raka sembari menunjukkan di mana Hanif duduk.


"Raka, nanti pulang sekolah aku ikut kamu kerja ya? aku ingin tau aja," ucap Alya.


"Nanti aku gak kerja, Al! ada ekstra basket, minggu depan tanding lawan SMA X," terang Raka.


"Gimana sih! orang kerja baru dua hari sudah libur," kata Alya.


"Kerja ku kan gak ada keharusan, Al! mau masuk atau gak boleh kok," ucap Raka.


"Mentang-mentang kantor punya bokap," kata Alya.


Raka kemudian menyuruh Alya untuk memperhatikan pelajaran, karena dia tidak mau kerepotan mengerjakan tugas Alya lagi. Sudah sering Alya merepotkannya, apalagi kalau ada pelajaran yang dia benci semua menjadi tugas Raka.


*


*


Mira datang ke kantor tanpa sepengetahuan Lian, dia sengaja ingin melihat bagaimana Raka berkerja. Dia lupa kalau tadi malam Raka sudah bilang libur, ia teringat saat sudah sampai di kantor.


"Sayang, kenapa datang tidak bilang dulu? ini Papah mau meeting keluar," kata Lian.


"Kalau bilang pasti tidak boleh kan, Pah?" kata Mira.


"Boleh kok! Malah Papah ajak berangkat bareng, Raka hari ini izin gak kerja, Mah," kata Lian sembari tersenyum.


Lian kemudian mengajak Mira untuk makan di luar lebih dulu, ia memilih menunda jadwal meeting karena baginya istri yang paling utama dari segalanya.


Mira yang selama ini dengan sabar menghadapinya, selalu ada di saat suka maupun duka. Baginya istrinya adalah nafas hidupnya, hanya dia yang bisa membatalkan jadwal meeting Lian.


"Pak Tio, lihat itu Pak Lian masih seperti anak muda saja! sampai membatalkan meeting gara-gara Bu Mira datang," kata karyawan kantor saat melihat Lian dan Mira bergandengan tangan keluar dari kantor.


"Biasa anak muda! bikin iri ya," kata Tio.


"Aku jomblo, Pak! pingin juga diperlakukan seperti itu," kata Karyawan itu.


Tio hanya tersenyum, Susi boro-boro mau datang ke kantor untuk menemui suaminya. Karena kerjaan Susi di rumah sekarang memasak, mencuci dll.


Tio kemudian mengantikan Lian meeting dengan karyawan di kantor, karena dia harus menyelesaikan proyek dengan segera.


"Kenapa Pak Tio yang memimpin meeting," bisik salah satu peserta meeting pada temannya.


"Mungkin Pak Lian sibuk," kata temannya.


"Bisa di mulai belum atau masih mau mengobrol," kata Tio dengan muka datarnya.


"Iya, Pak," kata orang yang berbisik-bisik tadi.


Di sebuah restoran yang tidak jauh dari kantor Lian mengajak Mira, di sana suasananya sangat romantis membuat pengunjung betah makan di sana.


"Seperti anak muda saja, Pah! kenapa tempatnya seperti ini," protes Mira.


"Mah, ini sebagai bentuk syukur kalau Papah mempunyai pendamping yang cantik jadi harus diistimewakan," kata Lian sembari tersenyum.


"Pasti ada maunya," kata Mira.


Karena pelayan sudah datang, mereka lalu memakan apa yang sudah mereka pesan. Hampir satu jam mereka berada di restoran itu, selesai makan mereka masih mengobrol.


*


*


Alya sore ini tidak pulang ke rumah lebih dulu, ia menunggu Raka bermain futsal di sekolah. Alya duduk bersebelahan dengan Vila yang juga menunggu kekasihnya yang bernama Beni.


"Alya, kita duduk di sini saja! kita bisa lebih jelas melihat mereka," kata Vila.


"Ikut saja aku, baru sekali ini aku melihat Raka main futsal. Biasanya Raka menyuruhku untuk pulang dulu," jelas Alya.


"Kalau aku sering di ajak sama Beni," kata Vila.


Mereka berdua bersorak gembira untuk memberikan semangat pada Raka dan Beni, sambil berteriak kencang.


"Ternyata seru juga," kata Alya.


"Iya, lain kali ikut makanya," ucap Vila.


Saat Raka beristirahat Alya memberikan sebotol air mineral untuknya, ia mengikuti apa yang dilakukan oleh Vila pada Beni.


"Sok perhatian kamu, Al! tapi gak papa kebetulan aku haus," kata Raka sembari menerima minuman dari Alya.


"Udah minum aja! gak usah banyak omong," kata Alya.


Raka lalu melanjutkan permainan basketnya lagi, sedangkan Alya kembali berbicara dengan Vila lagi. Kebetulan Vila teringat ucapan Hilda saat berada kantin tadi, ia berencana untuk memberitahu pada Alya siapa yang sudah membuatnya tersesat.


"Alya, kamu tau tidak kenapa kamu bisa tersesat saat di hutan?" tanya Vila.


"Neng Alya!" panggil penjaga sekolah.


Alya lalu menoleh ke arah penjaga sekolah, lalu berjalan ke tempat di mana penjaga sekolah duduk.