Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 40



Mira dan Lian saat ini sudah sampai di rumah, mereka duduk santai berdua di taman belakang. Keduanya sangat menikmati hari libur, walaupun ada yang kurang karena Raka malah pergi.


"Pah, apa sebaiknya kita pindah ke rumah Ayah saja," ucap Mira.


"Rumah itu banyak kenangan dan rasanya berat untuk tinggal di sana lagi," jelas Lian menatap wajah istrinya.


Mira tau bagaimana rasanya menjadi suaminya, pasti sangat berat dan sedih. Mengambil keputusan yang berat harus dia pertimbangkan lagi, ia langsung memeluk suaminya.


Raka yang baru pulang dari futsal langsung ikut duduk bersama Papah dan Mamahnya, tak sengaja dia mendengar pembicaraan orang tuanya.


"Sayang, kamu sudah pulang?" tanya Mira.


"Iya, Mah. Raka juga sudah memberikan kado untuk Alya," kata Raka.


Mira baru ingat kalau hari ini ulang tahun Alya, padahal dia kemarin memberitahu Raka. Mira lalu bergegas pergi ke dapur, ia akan membuat kue dan memasak hidangan untuk makan malam.


Lian mengajak Raka bermain catur, mumpung ada waktu untuk keluarga. Beberapa saat kemudian Mira berteriak memanggil Raka, ia meminta Raka untuk mengambil kopi dan camilan buatannya.


"Mamah, ganggu aja! nanti Raka kalah sama Papah," ucap Raka saat mengambil kopi dan camilan.


"Bisa di ulang, sayang," ucap Mira sembari memotong buah untuk menghias kue.


"Raka keluar dulu, Mah," kata Raka.


Kue buatan Mira akhirnya sudah jadi, ia meminta bantuan Raka dan Lian untuk menghiasnya tadi. Karena sudah malam pergi ke rumah Alya dengan membawa kue dan kado.


Mereka bertiga menyanyikan lagu ulang tahun, Susi dan Tio keluar rumah karena mendengar orang bernyanyi.


Susi dan Tio menyambut mereka dengan bahagia, tak lupa mereka juga mengucapkan terimakasih.


"Alya sudah tidur di kamar, sebentar aku bangunin ya," ucap Susi.


"Jangan, Tante! kita bangunin bareng-bareng aja," kata Raka.


Mereka kemudian masuk ke dalam kamar Alya, Raka meniup terompet yang dia bawa. Alya pun kaget, sehingga terbangun dari tidurnya.


"Selamat ulang tahun, Al," kata Raka sembari memberikan kado yang dia bawa.


"Terimakasih, Raka," ucapnya singkat. Alya masih teringat saat berada di mall tadi siang dengan Mira. Kebetulan selesai makan soto, Lian mengajak Mira dan Alya mampir ke mall untuk menemui temannya. Tak di sengaja Alya melihat Raka dengan seorang wanita sedang berjalan, Alya hendak memberitahu Mira tetapi ia mengurungkan niatnya.


Satu persatu mereka mengucapkan selamat ulang tahun pada Alya, kemudian Mira mengajak mereka semua untuk makan malam di rumahnya.


"Mah, Alya ngantuk! gak usah ikut ya," ucap Alya.


"Kenapa, sayang? kita mau merayakan ulang tahun mu," ucap Mira.


"Tau gitu gak usah di rayain tadi," kata Susi.


"Mamah, aja gak kasih kado," kata Alya.


Tio kemudian membujuk Alya agar mau ikut ke rumah Mira, Alya pun nurut dengan Papahnya. Di rumah Mira berbagai hidangan sudah di siapkan.


"Enak nih! Mah, boleh nambah ya," ucap Alya.


"Habisin dulu! baru nanti tambah," kata Susi menghentikan makannya.


Alya makan dengan lahap, karena tadi sore belum makan. Tadi Alya sibuk memikirkan siapa gadis yang bersama Raka tadi, tetapi mau bertanya engan.


"Alya, kamu kenapa? kelihatannya kurang bahagia," tanya Lian yang dari tadi memperhatikan Alya.


"Gak papa, Om! cuma Mamah gak beliin kado aja," ucap Alya berbohong.


Selesai acara makan-makan, Lian mengajak Tio ke ruang kerjanya. Mereka akan membahas soal kado untuk Alya, Tio hendak meminta pendapat Lian. Mira dan Susi berasa di ruang televisi, mereka juga mengobrol seperti biasanya.


Raka dan Alya berada di ruang tamu, Alya memperhatikan Raka yang sedang bermain game di ponselnya.


"Lian, menurut kamu bagaimana kalau Alya aku kado mobil? Susi kurang setuju sih," ucap Tio.


"Aku sudah terlanjur mengatakan kalau akan membelikannya, gimana ini," kata Tio kebingungan.


"Alya belum bisa menyetir mobil kan? kamu beri pengertian dengan pelan, Alya pasti mengerti," kata Lian.


Tio kemudian berfikir lagi, padahal kunci mobil sudah ia bungkus dengan kertas kado. Ia mengeluarkan bungkusan kado itu dari dalam sakunya, lalu ia berikan pada Lian.


"Anakku pasti akan kecewa dan marah, Lian," kata Tio.


"Kalau sudah terlanjur gini berikan saja! tapi kasih syarat kapan dia bisa menggunakan." kata Lian.


Tio sangat lega karena sudah mendapatkan solusi terbaik, di rumahnya nanti ia akan memberikan kado itu.


*


"Raka, aku boleh tanya tidak?" ucap Alya.


"Tanya apa," ucap Raka singkat.


"Kamu tadi ke mall ngapain?" tanya Alya.


"Mau tau aja kamu," kata Raka.


Alya mengerucutkan bibirnya, ia kemudian berpamitan pulang pada Raka.


"Ngambek kamu, Al?" tanya Raka.


"Engga! ngapain harus ngambek," ucap Alya tanpa rasa malu langsung tidur di sofa.


Tak terasa saat ini sudah larut malam, keluarga Susi masih berada di rumah. Mereka kemudian tidur di rumah Mira, kebetulan ada kamar kosong.


"Alya tidur di sofa, Tante," kata Raka memberitahu Susi.


Susi dan Tio membangunkan Alya dengan pelan, Alya terbangun dari tidurnya. Kemudian ia menuju ke kamar tamu rumah Mira


*


*


Gadis yang malang ini harus kehilangan masa sekolah, ia berkerja keras demi keluarganya. Setiap melihat anak seusianya berseragam sekolah, ia merasa iri. Ingin rasanya ia berhenti dari pekerjaannya, tetapi keluarganya mau makan apa.


Pagi-pagi Tania sudah bersiap untuk berangkat berkerja, ia sangat bersemangat sekali walaupun berangkat sendiri.


Lian sangat kagum dengan kinerja Tania, anaknya rajin selalu berangkat lebih awal dari waktu yang sudah ditentukan oleh tempat kerjanya.


"Tania, ini masih pagi? kantor masih tutup," kata satpam di kantor.


"Pak, ini sudah siang! ini jam tujuh," ucap gadis cantik itu sembari menunjukkan jam yang melingkar di tangan kirinya.


"Ngeyel sekali kamu! ya udah masuk," kata satpam.


Tania kemudian berlari sembari menjulurkan lidah pada satpam, karena tadi tidak mau membukakan pintu untuknya.


Di dalam kantor Tania membersihkan ruangan yang telah menjadi tugasnya, dia membersihkan sambil bernyanyi-nyanyi.


"Tania, bersihkan ruangan ku dong! sekarang ya," kata seorang karyawan kantor bagian keuangan.


"Maaf, Bu. Tania tidak berani membersihkan ruangan, Ibu. Lagian itu tugas Nando," tolak Tania.


"Jangan membantah ya kamu! cepat bersihkan," kata orang itu lagi.


Tania tetap menolak perintah orang itu, karena memang bukan tugasnya. Ia lalu membersihkan kembali ruangan lain.


"Foto apa ini?" tanya Tania dalam hati, ia menemukan sebuah foto di lantai.


Tania memandangi foto itu, lalu ia simpan di dalam sakunya karena harus menyelesaikan pekerjaannya.