Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 53



Melisa sengaja mengatakan kalau Nenek Dania orang yang julit, karena waktu ke sana ia menyaksikan sendiri.


Alya mengajak mereka untuk membahas masalah pelajaran saja, dia tidak mau membahas orang tua.


"Kita harus banyak belajar, karena sebentar lagi kita ujian! emang kalian mau gak lulus," kata Alya sok bijak.


"Enak aja gak lulus," sahut Melisa.


Tak lama kemudian bel pulang sekolah sudah berbunyi, semua siswa berbondong-bondong untuk segera pulang ke rumah masing-masing.


Alya sudah lebih dulu menunggu Raka disebelah mobil, sedangkan Raka masih berada di perpustakaan meminjam buku.


"Raka lama sekali, kemana aja sih," ucap Alya dengan pelan sembari melihat ke arah kelasnya.


Kemudian Alya memutuskan untuk pulang dulu, karena menunggu Raka tak kunjung datang. Alya pulang naik taksi online, sampai di rumah Mamahnya yang ia suruh untuk membayar.


Raka keluar dari perpustakaan tetapi tidak melihat Alya, kemudian dia bertanya pada penjaga sekolah. Untung saja penjaga sekolah tau kalau Alya sudah pulang lebih dulu.


"Kumat itu anak! merepotkan saja," gerutu Raka.


Sampai di rumah ternyata Alya sudah berada dirumahnya, dia membantu Mira memasak. Rencananya hari ini teman kantor suaminya hendak makan di rumah.


"Raka, kamu kok baru pulang? Alya udah dari tadi lho," ucap Mira.


"Tadi ke perpustakaan dulu, Mah. Pinjam buku buat belajar," ucap Raka.


"Kok aku gak diajak," sahut Alya.


"Salah sendiri pulang duluan! gak pakai bilang lagi," ucap Raka dengan wajah kesalnya.


"Kalian ngributin apa sih? ayo kita makan dulu," ucap Mira.


Kedua anak itu pun nurut dengan Mira, selesai makan mereka belajar karena sebentar lagi ada ujian kelulusan. Raka sudah menyiapkan beberapa buku untuk belajar, sedangkan Alya satu buku pun dia tidak menyiapkan, ia masih terlihat sangat santai.


***


Seminggu kemudian.


Hari tepat para siswa melaksanakan ujian kelulusan, semua siswa mendadak rajin membaca dan belajar saat sampai di sekolah.


"Alya, kantin yuk!" ajak Dania.


"Tinggal tiga puluh menit lagi, aku mau belajar," tolak Alya tidak mau nilainya jelek.


Dania kemudian pergi ke kantin sendiri, tadi pagi kebetulan tidak sarapan. Linda sedang sakit, dan Lisa bangun kesiangan.


Bel masuk ruang ujian sudah berbunyi, semua siswa memasuki ruang yang telah ditentukan. Satu kelas diisi lima belas siswa agar guru pengawas mudah mengawasinya.


Alya kebetulan duduk di depan guru pengawas, jadi dia tidak bisa bertanya atau menyontek teman yang lain. Kebetulan hari ini materinya adalah pelajaran matematika, jadi mereka harus ekstra dalam berfikir dan hati-hati dalam mengerjakan. Tes kali ini menentukan mereka bisa lulus atau tidak, kalau tidak lulus mereka harus mengulang satu tahun lagi.


Raka kali ini mengerjakan dengan santai, dia sudah belajar materi yang diujikan saat ini. Dia bisa mengerjakan dengan mudah, selain siswa yang pandai dia juga rajin belajar.


Setelah selesai mengerjakan semua siswa diperbolehkan untuk pulang, agar maksimal dalam mengerjakan mereka hanya mengerjakan satu mata pelajaran.


"Raka, aku bareng kamu ya," ucap Alya.


"Udah ku tebak, pasti ngerepotin," kata Raka.


"Kamu kok gitu! aku bilang Mamah entar sampai rumah," ucap Alya mengerucutkan bibirnya.


"Gak usah cari masalah, kita lagi ujian! sebentar lagi aku juga kuliah di luar negeri, kita jarang ketemu," kata Raka.


"Kok kita gak bareng lagi?" tanya Alya menatap Raka dengan wajah kecewanya.


Alya meminta Raka untuk berbuat baik dengannya selama masih ada di rumah, dia tidak ingin ada keributan lagi.


"Aneh kamu, Al! setiap hari aku juga baik sama kamu," kata Raka.


###


Ujian sekolah telah berlalu, mereka tinggal menunggu hasilnya nanti. Seminggu ini Raka menuruti kemauan Alya, mereka berdua sangat akur bahkan nyaris tidak ada pertengkaran.


Raka setiap pagi seperti biasa, mengantar jemput Alya. Mira dan Susi sampai heran dengan mereka berdua, biasanya yang seperti Tom and Jerry sekarang keduanya begitu akrab.


"Alya, aku mau pergi ke rumah Hanif. Kamu di rumah saja, gak usah ikut," kata Raka.


"Kok gitu! aku gak diajak," ucap Alya mengerucutkan bibirnya.


"Aku cuma sebentar, Al," kata Raka.


Alya akhirnya tidak ikut, dia berada di rumah Mira. Sebenarnya dia ingin pergi ke rumah Dania hendak menanyakan soal universitas yang bagus.


"Mah, kenapa Raka tidak kuliah disini saja! kenapa harus ke luar negeri," ucap Alya dengan wajah cemberut.


"Sayang, Raka anak tunggal dan besok harus mengelola perusahaan Papahnya jadi harus berpendidikan tinggi," jelas Mira.


"Mamah, gak adil! masa Raka boleh kuliah di luar negeri sedangkan Alya di kota ini," kata Alya.


"Kalau semua pergi ke luar negeri, Mamah sama siapa dong," kata Raka.


Alya terus mendesak Mamah Mira agar diperbolehkan kuliah di luar negeri, dia ingin seperti Raka.


Malam harinya Mira berkumpul dengan Susi, Tio dan Lian. Mira meminta pendapat mereka semua, bagaimana kalau Alya juga kuliah di luar negeri.


"Aku tidak bisa mengizinkan, karena Alya anak perempuan dan di sana nanti pasti akan banyak merepotkan Raka," ucap Tio.


"Aku juga tidak! tau sendiri tingkah Alya kaya gimana," ujar Tio.


"Kamu gimana, Lian?" tanya Tio.


"Kayaknya juga gak dulu! soalnya Raka juga harus beradaptasi dulu, kalau Alya ikut takutnya ganggu," ucap Lian. Nanti kalau Raka sudah siap boleh," Lanjutnya.


Mereka bertiga tidak ada yang setuju Alya ikut kuliah dengan Raka, apalagi seorang perempuan dan tanpa pengawasan orang tua.


Mira kemudian memberikan pengertian pada Alya dengan pelan, dia sangat hati-hati dalam berucap.


"Sayang, karena kita semua sudah membicarakan soal kamu mau ikut kuliah Raka kita semua belum mengizinkan," ucap Mira dengan pelan.


"Kenapa, Mah? pasti semua sudah gak sayang sama Alya," ucap Alya mengerucutkan bibirnya.


"Di luar negeri nanti tidak ada yang jaga kamu, takutnya ada orang yang jahat," ujar Mira.


Alya tetap tidak terima dengan keputusan semuanya, karena dia mengira sudah tidak disayang apa yang menjadi keinginannya dilarang padahal demi kebaikan Alya juga.


Alya pulang ke rumah, dia meminta izin lagi pada Susi dan Tio.


"Mah, izinkan Alya kuliah di luar negeri ya," ucap Alya.


"Mamah Mira sudah bilang kan sama kamu? jawaban Mamah sama," ucap Susi.


"Tapi Alya juga ingin jadi anak yang mandiri, pokoknya Alya maunya bebas seperti Raka," kata Alya.


Susi tidak bisa mengontrol emosinya, dia memarahi Alya sampai Alya menangis. Kemudian Alya menata bajunya didalam tas, lalu pergi dari rumah saat Susi lengah.


Kini mereka berlima kebingungan mencari keberadaan Alya, sudah dari tadi mereka mencari tapi belum ditemukan.