Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 16



Mira meletakkan lagi kado yang berisi berlian tadi, ia hendak menanyakan pada suaminya ketika sudah pulang dari kerja. Sekarang dia mencari kado dari Alya, karena anak itu merengek agar kadonya segera di buka.


Setelah menemukan Mira membawa kado itu keluar, lalu membukanya di depan Raka dan Alya. Raka sudah mulai menahan tawanya, saat Mamahnya memulai membuka bungkus kado dari Alya.


"Mah, sini aku bantu," kata Raka.


"Tidak boleh! harus Mamah Mira sendiri yang buka," sahut Alya.


"Aku takut Mamah pingsan melihat isi kadonya," kata Raka mengejek Alya.


"Raka, kamu diem napa! ini kado buat Mamah, bukan buat kamu," ucap Alya mulai sewot.


Kado dari Alya akhirnya terbuka juga, Raka tertawa terbahak-bahak sedangkan Alya mengerucutkan bibirnya. Mira tersenyum melihat kado dari Alya, kebetulan wajan yang di gunakan untuk memasak sudah gosong.


"Terimakasih, sayang. Kebetulan wajan di dapur sudah gosong, kamu tau aja yang Mamah butuhkan," kata Mira sembari melihat wajan itu.


"Raka, itu lihat! wajan dari aku ada gunanya kan buat Mamah," kata Alya masih mengerucutkan bibir.


"Tetap aja kadonya lucu," kata Raka sembari mengacak-acak rambut Alya.


"Raka, hentikan sayang! rambut Alya berantakan itu," ucap Mira dengan lembut.


Mira kemudian mengajak anak-anaknya untuk makan, setelah selesai dia akan menyuruh untuk istirahat dulu karena nanti sore mereka akan di ajak ke kebun buah dekat rumah.


*


*


Aldo teringat dengan wanita tua yang tidak sengaja terkena air di jalan dekat rumahnya saat melintas, tetapi dia tidak tahu siapa.


"Seperti pernah melihat orang tadi, tapi dimana," ucapnya dalam hati.


Dia menjadi tidak fokus untuk berkerja, hanya memikirkan orang tadi. Lina datang membawa beberapa berkas ke dalam ruangannya, sehingga membuat dia sadar dari lamunan.


"Pak, ini berkas yang Bapak tadi minta," ucap Lina seraya menyerahkan berkas yang dia bawa pada Aldo.


"Oke, Lina. Terimakasih," ucap Aldo menerima berkas itu lalu membacanya.


Lina berpaling keluar untuk melanjutkan kerjanya lagi, tetapi Aldo memintanya untuk membuat kopi untuknya. Lina pun segera membuatkan kopi yang Aldo minta, tidak terlalu manis dan sedikit pahit seperti hidupnya yang selama bertahun-tahun masih menduda.


"Semoga Mira suka dengan berlian yang aku kirimkan, walaupun dia tidak tahu kalau aku yang membelikan untuknya... " ucapnya lirih.


Aldo tersenyum mengingat kisah cintanya dengan Mira, walaupun tidak bisa memiliki tetapi cintanya untuk Mira masih melekat di hati. Sekuat apapun rasa itu dihilangkan tetapi tetap muncul, itulah cinta yang dimiliki Aldo untuk Mira.


Usianya yang sudah tidak muda lagi tidak menjadi penghalang untuk mempunyai rasa cinta yang tulus untuk wanita yang dia sayangi, hanya karena satu kesalahan dia kehilangan segalanya yaitu Mira.


Lisa nama itu yang selama kurang lebih dua tahun mendampinginya begitu mudah dia lupakan, bahkan saat masih bersama Lisa rasa cintanya kepada Mira tidak pernah pudar.


Hanya mulutnya saja yang mengatakan kalau dia bisa melupakan Mira, tetapi dalam hati sangatlah tidak mudah untuk dihilangkan.


Lina yang selesai membuat kopi kemudian memberikan pada Aldo, dia langsung keluar karena melihat Aldo yang tampak sedang memikirkan sesuatu. "Pasti Mira lagi yang dipikirkan si bos," ucapnya dalam hati. Kemudian melanjutkan pekerjaannya karena harus selesai hari ini juga.


*


*


Mira mengajak Susi untuk pergi ke kebun buah dekat rumah, kebetulan saat ini sedang musim buah mangga. Mereka sudah membawa kantong plastik untuk membawa hasil petik buahnya nanti, kebun buah itu milik semua warga yang tinggal di kompleks tersebut.


Alya jalan paling depan karena sangat bersemangat untuk memanjat pohon. Raka yang laki-laki saja kalah kalau urusan memanjat pohon.


"Alya, tunggu kita! jangan cepat-cepat jalannya," kata Susi.


"Keburu habis dimakan semut buahnya Mah. Alya duluan aja," ucapnya kemudian melanjutkan jalanya.


Raka dan Mira tersenyum melihat tingkah Alya yang kadang menyebalkan seperti anak kecil.


Setelah sampai di tempat Alya langsung memanjat pohon hingga ke pucuk, dia memetik buah yang matang dan besar.


"Raka, ayo naik!" teriak Alya dari atas pohon.


"Tunggu aku ke atas," ucap Raka kemudian naik ke atas pohon.


"Kalian hati-hati ya," ucap Mira yang melihat dari bawah.


Mira dan Susi menunggu anaknya yang sedang memanjat pohon mangga, pohon itu tidak terlalu tinggi jadi mereka memperbolehkan anaknya naik ke atas.


"Raka, kamu petik sebelah sana dong," ucap Alya yang kantong nya sudah penuh.


"Kamu aja yang ke sana," kata Raka sembari memetik buah.


"Itu buah ku, Raka! kamu petik sebelah sana kenapa," ucap Alya mulai mencari keributan.


Raka tidak menimpali ucapan Alya, karena sudah terbiasa sikap Alya seperti itu. Raka turun dari pohon lebih dulu, dia hanya memetik sedikit karena kalau terlalu banyak tidak akan habis.


Alya kesulitan membawa buahnya turun dari pohon, karena kantong plastik yang dia bawa sudah penuh. Kebetulan Susi juga sudah menyuruh Alya untuk turun dari pohon mangga itu.


"Alya, ayo kita pulang," ajak Susi dengan suara agak keras.


"Berat, Mah!" teriak Alya.


"Raka, kamu bantu Alya turun dulu," ucap Mira dengan pelan.


"Biarkan saja, Mah. Nanti juga bisa turun sendiri," jawab Raka lalu tertawa saat kepalanya mendongak ke atas melihat Alya tidak bisa turun dari pohon.


Raka kemudian memanjat pohon itu lagi, untuk membantu Alya membawa buah mangganya turun.


"Makanya jadi orang jangan serakah, begini akibatnya gak bisa turun kan," kata Raka lalu meminta kantong plastik Alya yang belum terisi.


Raka membagi buahnya menjadi dua kantong, kemudian dia membawa satu kantong untuk di bawa turun dari pohon. Alya masih sempat berpesan pada Raka agar tidak mengambil buah miliknya, sehingga membuat Alya di marahi oleh Susi.


"Lain kali kalau di tolong bilang makasih, bukan malah ngomel gitu," kata Susi dengan kesal.


"Gak papa, Susi. Raka juga tidak keberatan," kata Mira.


"Jangan belain Alya terus dong, Mira. Anak itu jadi besar kepala," kata Susi.


Alya kemudian memeluk Mira, dia sambil berucap kalau Mira memang Mamah yang terbaik.


Mereka berempat kemudian pulang dengan membawa buah mangga, yang berada dalam kantong plastik.


"Alya, awas saja nanti kalau tidak di makan," ucap Susi.


Sampai di depan rumah Mira, mereka terkejut melihat seorang perempuan yang sedang mengetuk pintu.


"Mira, wanita itu siapa?" tanya Susi yang juga kaget saat melihat orang itu.


"Aku tidak tau, ayo kita temui," ajak Mira.