Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 50



"Maaf Bu, saya terlambat," ucap Dania yang baru saja datang. Sontak semua temannya kaget, karena baru saja mereka berencana akan menjenguk Dania.


"Dania! kamu sudah sembuh?" tanya Ibu guru yang juga ikut terkejut.


"Masih sedikit pusing, Bu. Tapi Dania sudah kuat kok," jawab Dania.


Bu guru menyuruh Dania untuk duduk, lalu melanjutkan pelajaran yang akan dia ajarkan sekarang.


"Dania, apa kamu sudah sembuh? maaf aku gak tau kalau kamu sakit," ucap Alya dengan pelan.


"Gak papa, Alya. aku udah baikan," kata Dania sembari mengeluarkan buku dari dalam tas.


"Alya, maju kedepan," kata Ibu guru dari tadi memperhatikan Alya yang ngomong sendiri.


"Baik, Bu," jawab Alya dengan santai.


Bu guru menyuruh Alya menulis di papan tulis, karena akan di tinggal ke kantor. Sedangkan siswa yang lain menyalin di buku, seandainya tadi dia memperhatikan dulu mungkin bukan Alya yang di suruh.


"Nulis yang jelas, Al," kata Raka.


"Kamu aja yang tulis! protes terus," kata Alya.


Hanif ikut membela Raka, ia juga mengatakan kalau tulisan Alya tidak jelas. Alya terlihat kesal lalu membesarkan tulisannya dan mempercepat.


"Gak muat papan tulisannya, cepat kalian salin," kata Alya hendak menghapus papan tulis itu.


Ada yang mengatakan sudah dan ada juga yang belum, karena tulisan Alya tadi kurang jelas jadi mereka harus memahami dulu sebelum menulis.


"Sudah selesai belum, Alya?" tanya Bu Guru yang baru saja dari kantor.


"Belum, Bu. Mereka nulisnya lambat, padahal udah Alya cepetin," kata Alya sembari melihat teman-temannya.


"Yaampun, Alya! gimana gak lambat nulisnya, kamu gak jelas gini. Pasti teman-teman kamu kesulitan," kata Bu guru kemudian membetulkan tulisan Alya.


Alya kemudian di suruh untuk kembali ke tempat duduknya, Ibu guru mulai menerangkan apa yang di tulis Alya.


Bel istirahat pun berbunyi semua siswa meninggalkan kelas dan menuju ke kantin, ada juga yang ke perpustakaan untuk membaca buku. Alya dan teman-temannya seperti biasa, mereka ke kantin terlebih dahulu.


"Dania, kamu mau makan apa?" tanya Alya.


"Aku bawa bekal kok," ucap Dania sembari mengeluarkan kotak makan yang dia bawa.


"Rugi jadi orang jahat! orang yang di jahati saja masih begitu peduli," ucap Hilda dengan tiba-tiba.


"Jaga ucapan kamu! emang kamu juga gak jahat? udah bikin Dania masuk rumah sakit," kata Hanif.


"Sebenarnya ini ada apa? kenapa bisa Hilda yang bikin Dania sakit," ucap Alya kebingungan.


Vila menjelaskan semua permasalahan dari awal, tetapi Dania tetap tidak mengakui perbuatannya. Semua itu membuat Hilda dan Vila menjadi semakin kesal, mereka berdua kemudian meninggalkan kantin.


"Dania, seandainya kamu benar melakukan apa yang mereka katakan aku tidak masalah! yang penting kamu sudah jujur dan mengakui perbuatan mu," kata Alya. Aku juga sudah memaafkan siapapun orangnya, kalau benar aku di kerjain," Lanjutnya.


"Aku tidak melakukan itu semua, tolong percaya," kata Dania berbohong.


Hanif orang yang pertama mendukung Dania, ia juga sempat membela Dania. Raka dari tadi memilih untuk diam, karena sebenarnya Raka sudah mengetahui semua. Melisa nampak bingung, karena Vila dan Hilda yang tidak pernah berbohong.


"Kita lupain kejadian itu, lagian aku sudah selamat," kata Alya sembari tersenyum.


"Emang kamu udah ikhlas? kalau ternyata yang jahatin kamu ada di antara kita gimana," sahut Raka.


"Iya... gak gimana-gimana," kata Alya masih ragu.


Yang ditakutkan Raka kejadian itu terulang lagi, kalau tidak di beri pelajaran. Raka juga berpesan pada Alya agar lebih hati-hati lagi, dan tidak mudah percaya sama orang.


*


*


Lisa dan Linda sedang memasak bersama, untuk menyambut saudara Fandy yang akan datang. Linda begitu senang mendengar kabar kalau saudara Fandy akan datang, lebih tepatnya adalah sepupu.


"Kita masak apalagi, Lin?" tanya Lisa yang berniat ingin mengambil hati Fandy kembali.


"Udah semua, Mbak. Terimakasih ya, sudah mau bantu," kata Linda.


"Aku bantu karena Fandy, jangan kepedean kamu," ketus Lisa.


"Anggap saja saya mewakili suamiku, Mbak," kata Linda lagi sembari tersenyum.


"Terserah kamu! mau mandi dulu," kata Lisa kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Asisten rumah tangga Linda hanya bisa mengelus dada melihat perlakuan Lisa, baru ada ini orang yang sudah numpang hidup tetapi sama sekali tidak tau terimakasih.


"Sabar ya, Bu. Semoga Pak Fandy sadar dan mengusir wanita itu," kata Asisten rumah tangga Linda.


"Aku gak papa, Mbak," ucap Linda sembari tersenyum.


Sikap Lisa memang sudah kelewat batas dan terbilang ngelunjak, walaupun sudah diingatkan tetap saja seperti itu.


Saudara Fandy yang bernama Asma dan Alsen sudah datang, mereka berdua kakak beradik. Alsen seumuran dengan Fandy. Linda sangat antusias menyambut mereka berdua.


Linda juga mempersilahkan untuk masuk untuk kedua tamunya.


"Kalian kok bilang mau ke sini mendadak? Mas Fandy terlanjur berangkat ke kantor," kata Linda.


Mereka datang ke tempat Fandy karena Aslen ada pekerjaan selama tiga bulan di kota ini, kemungkinan akan tinggal di rumah Fandy untuk sementara waktu. Sedangkan Asma hanya mengantarkan kakaknya, besok dia sudah pulang ke rumah.


Kebetulan kamar kosong di rumah Linda tinggal satu, jadi Asma akan tidur bareng Lisa. Kebetulan kamar lain sudah dijadikan gudang.


"Linda, kenapa tamunya tidur bareng aku," protes Lisa.


"Karena tidak ada kamar lagi, Mbak. Besok Asma sudah pulang kok," kata Linda.


"Gak usah berebut, aku bisa tidur di hotel kok," kata Asma


Linda melarang Asma pergi, dia juga meminta maaf karena sikap Lisa.


"Kalau tidur bareng aku, jangan banyak gerak," kata Lisa lagi.


"Mbak, tolong hormati tamu saya!" kata Linda dengan tegas. Ia juga sudah geram dengan tingkah Lisa, makanya berani dengan Lisa. Walaupun akhirnya Linda juga minta maaf pada Lisa.


Selesai makan siang Aslen berpamitan hendak pergi ke taman, dia ada janji dengan teman-temannya.


Lisa yang bertemu dengan Aslen langsung menatap tanpa berkedip, wajah tampan laki-laki itu memang sangat menawan.


Lisa langsung mengajak kenalan, ia juga menawarkan diri menemani Aslen pergi. Karena tidak enak dengan Linda.


Kebetulan Aslen juga seorang duda, tetapi belum juga mempunyai keturunan. Dulu dia di tinggal karena tidak bisa mempunyai keturunan, Aslen sudah lelah menjelaskan pada semua keluarga.


"Aslen, kita mau ke taman mana?" tanya Lisa saat berada di dalam mobil.


"Kamu tidak perlu tau," kata Aslen tetap fokus pada kendaraannya.


Lisa merasa diabaikan oleh Aslen, sampai di taman Aslen menyuruh Lisa untuk turun dari mobil. Lisa terkejut melihat taman ini, dia seperti pernah berkunjung ke tempat ini.