Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 34



Lian pagi tadi sebenarnya datang ke rumah Ayah Mira, untuk sekedar mengecek kondisi rumah itu. Terutama di kamar Ayahnya karena ada sebuah ruangan rahasia, hanya dia dan Ayahnya yang mengetahui ruangan itu. Ruang itu digunakan untuk menyimpan berbagai berkas penting, termasuk surat wasiat. Ada sebuah surat yang belum saatnya ditunjukkan pada istrinya, itulah yang membuat dia marah saat mengetahui Mira masuk ke ruang itu.


Kebetulan tadi pagi Lian lupa tidak menggeser almari yang menutupi pintu, dia terburu-buru karena harus pergi ke kantor. Ia juga tidak menyangka kalau istrinya akan datang ke rumah itu dengan anaknya.


"Sayang, apa yang kamu sembunyikan dari ku?" tanya Mira dengan lembut.


"Tidak ada! Kenapa tidak bilang kalau mau ke rumah Ayah?" ucap Lian meredakan amarahnya takut istrinya akan curiga.


"Pah, Mah, ada tetangga sebelah datang," kata Raka.


Lian merasa lega karena tidak di minta untuk menjelaskan soal ruang rahasia itu, kemudian ia mengajak Mira untuk menemui tamu yang datang ke rumahnya.


"Ada apa, Bu?" tanya Lian pada Bu Eni tetangganya.


"Sebelumnya saya mau minta maaf, Pak, Bu. Karena anak saya tadi memecahkan pot di depan rumah saat main bola," jelas Bu Eni.


"Saya kira ada apa, Bu. Pot itu sudah retak, gak papa kok," ucap Mira dengan lembut.


"Yang dipecahkan anak saya ada dua, Bu. Saya mau mengganti tapi belum ada uang," jelas Bu Eni seperti ketakutan.


Mira dan Lian tidak meminta ganti rugi pot yang sudah di pecahkan oleh anak Bu Eni, karena mereka tau bagaimana keadaan Ibu Eni tetangganya itu.


Mereka kagum dengan Bu Eni, sudah mau meminta maaf dan mengakui kesalahan anaknya. Bu Eni sangat senang dan berterima kasih pada Mira dan Lian, kemudian dia pulang ke rumahnya karena harus memasak untuk anak-anaknya.


*


*


Aldo pulang dari kantor langsung pergi ke cafe, ia hendak menemui temannya. Saat dia sedang menunggu temannya, ia melihat Lisa baru masuk ke cafe itu.


Lisa yang juga melihat Aldo sedang duduk langsung mendatanginya. "Aldo, apa kabar? lama tidak bertemu, setelah kita cerai sepertinya," ucapnya.


"Lisa!" kaget Aldo.


Aldo tidak menyangka Lisa akan menyapanya, memang benar apa yang diucapkan oleh Lisa mereka jarang bertemu dan ngobrol berdua setelah bercerai.


"Kamu sama siapa, Do? takutnya aku mengganggu," ucap Lisa sembari melihat sekeliling.


"Teman, dia belum datang. Kamu ngapain di sini?" ucap Aldo seperti orang yang tidak suka dengan keberadaan Lisa.


"Aku sudah bercerai dengan Fandy, sekarang aku sendiri," kata Lisa dengan tiba-tiba.


"Terus," kata Aldo singkat.


"Sekarang aku numpang di rumah Fandy, karena kita mempunyai seorang anak. Kebetulan anak ku ikut Fandy, untung saja istrinya mau menerima kita," jelas Lisa.


"Dari dulu kamu tidak punya malu, Lisa! harusnya kamu tidak tinggal sama mereka, kebiasaan menyusahkan orang," ucap Aldo dengan kesal.


"Aku tidak tau lagi, harus tinggal di mana. Aldo, apa kamu mau menerima ku kembali?" ucap Lisa tanpa rasa malu demi ambisinya.


Sikap Lisa benar-benar tidak berubah dari dulu, membuat Aldo muak mendengarkan cerita Lisa. Rasa peduli dengan orang lain saja mungkin Lisa tidak punya, bagaimana mau memikirkan perasaan orang.


"Jangan mimpi!" ucap Aldo dengan tegas sembari memalingkan muka.


"Kamu menolak ku, Do? jawab!" teriak Lisa.


"Pergi dari sini, Lisa! jangan menampakkan diri di hadapan ku lagi," kata Aldo.


Lisa kemudian pergi, ia mengurungkan niatnya untuk makan di cafe itu. Hatinya terasa sakit mendengar ucapan Aldo, kemudian ia berfikir kalau Aldo masih menyukai Mira.


"Kenapa juga harus bertemu Lisa lagi! Dasar wanita tidak punya malu," gerutu Aldo.


Tak lama kemudian teman Aldo datang, mereka akan membicarakan bisnis yang sedang mereka jalankan.


*


*


"Kenapa masih di sin, Alya," kata Tio yang turun dari mobilnya.


"Nunggu Raka, Pah," ucap Alya.


Tio kembali ke mobilnya karena melihat Raka sudah datang, kemudian ia melajukan kendaraannya menuju ke kantor.


"Raka, tunggu!" teriak Alya.


"Ayo kita ke kelas! sudah hampir telat," ajak Raka menoleh ke arah Alya.


"Raka, nanti aku boleh ikut kamu kerja tidak?" tanya Alya.


"Gak boleh! kamu langsung pulang aja," kata Raka.


Kalau sampai Alya tau Raka menjadi cleaning servis di kantor Papahnya, pasti Alya akan meledeknya habis-habisan. Maka dari itu Raka tidak mengizinkan Alya ikut.


Di dalam kelas Alya melamun, ia sama sekali tidak berkonsentrasi saat Ibu guru menerangkan pelajaran. Sampai Alya harus di hukum untuk mengerjakan soal latihan di perpustakaan. Alya pun segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Ibu guru, tapi kali ini dia tidak sendiri ada Hanif yang juga di hukum karena jawabannya tidak ada yang betul.


Alya sangat sedih baru kali ini dia di hukum mengerjakan soal yang banyak, di tambah temannya adalah Hanif yang sama-sama tidak paham.


"Hanif, jawaban nomer sepuluh apa?" tanya Alya dengan pelan.


"Tidak boleh mencontek, Alya! kamu tau tidak," ucap Hanif membuat Alya sangat kesal.


Alya kemudian mencari buku yang berkaitan dengan tugasnya, ternyata ada dan ia bisa mengerjakan tanpa bertanya pada Hanif lagi.


"Alya, bantu aku jawab dong," kata Hanif.


"Bu guru tadi bilang apa? tidak boleh mencontek! ingat jawab sendiri," kata Alya dengan tegas.


Hanif sebenarnya anak yang baik, dia juga selalu membantu teman tetapi tidak dengan Alya. Baginya Alya hanya membuat Raka susah.


Jam istirahat tiba, mereka belum ada yang menyelesaikan tugasnya padahal cacing di perut sudah memberontak.


Raka saat ini menuju ke perpustakaan, ia ingin mengembalikan buku yang kapan hari dia pinjam. Tak sengaja bertemu dengan Alya dan Hanif, mereka berdua meminta bantuan pada Raka.


Raka menolak untuk membantu mereka berdua, karena ini adalah tugas ulangan.


"Belikan kita makan, kalau kamu tidak mau membantu," kata Alya.


"Iya, kamu mau makan apa?" tanya Raka.


"Terserah! asal perut terisi," kata Alya.


"Aku juga mau, Raka! yang bikin kenyang," sahut Hanif.


Raka lalu meninggalkan mereka berdua ke kantin, setelah itu memberikan makanan yang di belinya pada Alya dan Hanif.


Saat mereka akan makan, tiba-tiba petugas perpustakaan datang. Dia mengambil makanan milik Alya dan Hanif.


"Di larang makan di sini!" ucap penjaga perpustakaan dengan tegas.


Terpaksa Alya dan Hanif mengerjakan soal dalam keadaan lapar, sampai Guru datang mengambil tugas mereka.


"Bu, belum selesai! aku lanjutkan dulu, boleh tidak, Bu?" kata Hanif.


Alya sudah pasrah dengan hasil tugasnya, karena tidak bisa menyelesaikan semua.