
Mira kemudian merapikan bajunya, sudah satu jam mereka berdua berada dalam ruang kerja Lian. Sampai ada seorang yang sabar menunggu di luar pintu, siapa lagi kalau bukan anaknya.
Raka pulang dari sekolah langsung menuju ke kantor Lian, ia ingin belajar menjadi karyawan kantor Papahnya. Lian sengaja menaruh anaknya sebagai cleaning servis di kantornya, Raka harus belajar dari yang paling rendah jabatannya di kantor itu.
"Sepertinya Raka sudah datang, Sayang," ucap Lian sembari mengusap kepala istrinya.
"Buka saja pintunya, Pah! kasihan dia menunggu dari tadi," kata Mira.
"Papah ingin melihat usaha Raka, Mah. jadi biarkan saja," kata Lian.
Mira tidak tega jika anaknya harus kerja keras, tetapi dulu Lian juga sudah diajarkan untuk berkerja sejak masih sekolah. Keputusan Lian saat ini sudah tidak bisa di ganggu gugat lagi, sikapnya hampir sama dengan Ayah Mira.
Setelah lima menit pintu ruangan kerja Lian baru di buka, padahal dia tadi hanya mengobrol dengan Mira.
"Mamah, ada di sini juga? kenapa lama buka pintunya," ucap Raka kemudian duduk di sofa dekat Mira.
"Tadi berkas Papah ketinggalan, jadi Mamah antar ke sini," kata Lian.
"Sayang, kamu sudah siap untuk kerja?" tanya Mira dengan rasa khawatir.
"Siap, Mah! tapi kenapa harus jadi cleaning servis? ini kan kantor Papah," ucap Raka.
"Kalau kamu ingin sukses, mulailah dari nol. Jangan bergantung pada Papah," kata Lian. Walaupun pada akhirnya apa yang Papah miliki saat ini akan menjadi milik mu," Lanjutnya.
"Pah, apa tidak sebaiknya Raka kerjanya...
"Mah! tolong jangan seperti itu, semua demi kebaikan anak kita. Agar kelak dia bisa menghargai apa yang dia dapatkan," jelas Lian.
Mira hanya ingin posisi kerja Raka bukan sebagai cleaning servis, dia tidak tega dan takut Raka akan di bully oleh temanya.
"Mamah sama Papah jangan khawatir! Raka akan berusaha agar bisa seperti Papah," ucapnya sambil tersenyum.
"Bagus! besok kamu pulang dari sekolah sudah boleh kerja," kata Lian.
Raka sudah bertekad untuk berkerja di kantor Lian, tidak ada yang tau kalau Raka adalah anak pemilik perusahaan ini. Semua sudah di atur oleh Lian, dan harus segera ia lakukan.
Mira terlihat cemas, dia juga akan pergi ke kantor saat jam makan siang. Tetapi idenya itu di larang oleh suaminya, bahkan dia juga dilarang untuk membawakan makan siang untuk Raka.
"Kenapa kejam gitu, Pah? Raka anak Papah," ucap Mira.
"Mah, biar Raka makan dengan hasil keringatnya sendiri kalau di kantor," kata Lian.
Mira kemudian pamit untuk pulang, dia kesal dengan suaminya karena tidak diperbolehkan untuk mengirimkan makan siang untuk Raka.
"Mah, tunggu! Raka pulang bareng, lagian kerjanya mulai besok," ucap Raka.
Mira menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh ke arah anaknya. "Ayo sayang, kita pulang," anaknya.
Setelah Raka dan Mira keluar dari ruangannya, Lian tersenyum sendiri. Ia ingat dengan istrinya yang marah itu, padahal Raka belum juga kerja.
Di perjalanan Mira mengajak Raka mampir di rumah Ayahnya, dia kangen dengan sosok Ayahnya.
"Mah, kenapa kita tidak tinggal di rumah ini saja! sayang gak ada yang nempatin," kata Raka saat sampai di depan rumah itu.
"Rumah ini penuh dengan kenangan, jadi selamanya akan tetap seperti ini. Kamu mau tinggal di sini," ucap Mira.
Raka hanya tersenyum mendengar tawaran Mamahnya, dia hanya menyayangkan saja rumah besar tanpa ada penghuni kecuali orang yang bertugas menjaga dan membersihkan rumah.
Mira kemudian mengajak Raka masuk ke dalam rumah, seperti biasa ruangan yang di tuju Mira adalah kamar Ayahnya. Ia membersihkan kamar itu, saat hendak menggeser meja tiba-tiba ada pintu terbuka yang menempel pada tembok.
Mira baru mengetahui kalau di kamar Ayahnya ada ruang rahasia, ia kemudian menyuruh Raka untuk menutup pintu kamar Ayahnya.
"Lebih baik tanya Papah dulu, Mah. Jangan sampai kita salah masuk," ucap Raka.
Mira tidak peduli dengan ucapan Raka, ia tetap bersikeras masuk ke dalam ruangan itu. Saat memasuki ruangan itu Mira merasa ada yang aneh, tetapi ia tetap berusaha masuk ke dalam.
Di dalam ruangan itu hanya ada rak buku dan berbagai jenis bunga yang sangat indah, bunga itu sepertinya sangat terawat. Mira kemudian mengambil bunga itu, untuk dia bawa pulang ke rumah.
"Mah, jangan-jangan ada yang merawat bunga ini," kata Raka sembari memegang bunga yang berada dalam pot.
"Tapi siapa yang masuk ke sini? tidak ada yang berani masuk ke dalam," ucap Mira.
Saat hendak keluar dari ruangan itu, Mira melihat secarik kertas yang tergeletak di atas meja. Ia lalu mengambil dan membaca tulisan yang berada di dalam kertas.
Mira meneteskan air matanya, dia kembali teringat dengan Ayahnya. Dulu Ayahnya sangat menginginkan ia menjadi orang yang paling bahagia, tetapi semua itu tidak bisa Ayahnya wujudkan.
Raka kemudian mengajak Mira untuk keluar dari dalam ruangan itu, karena ia tidak tega
Lian ternyata memasang kamera CCTV yang terhubung dengan ponselnya, setelah membuka ponselnya dia menepuk jidatnya.
*
*
Alya mengatakan pada Susi, kalau besok tidak bisa pulang bareng Raka saat pulang dari sekolah.
"Raka mulai besok pulang dari sekolah langsung kerja. Gimana barengnya, Mah," kata Raka.
"Kamu bisa pulang sendiri, Alya," kata Susi.
"Mah, teman-teman Alya semuanya ada yang jemput. Masa iya Alya naik angkot sendiri," ucap Alya.
"Besok minta Papah kamu buat jemput sekolah," kata Susi.
Tak lama kemudian mereka melihat Mira dan Raka pulang, Alya langsung bergegas ke rumah Mira.
"Alya!" teriak Susi ketika melihat Alya berlari ke rumah Mira.
Alya berteriak memanggil Raka, sampai di rumah Mira dia terdiam menatap Raka.
"Ada apa, Al? jangan melotot gitu," kata Raka seraya mengibaskan tangan di depan muka Alya.
"Tidak ada kok! aku kesini mau pinjam buku tugas," kata Alya.
"Kamu tadi di sekolah ngapain aja? kebiasaan tidak memperhatikan," ucap Raka lalu masuk ke dalam rumah.
Alya hanya diam karena merasa bersalah, tidak seharusnya dia meminjam buku Raka. Tadi kebetulan saat di sekolah Alya ketinggalan menulis.
Lian pulang dari kantor terlihat seperti orang marah, ia masuk ke dalam rumah tanpa menyapa Raka dan Alya apalagi saat masuk ke dalam kamarnya melihat bunga yang di bawa oleh Mira.
"Mah, tadi pulang dari kantor kemana saja?" tanya Lian.
Mira menjawab pertanyaan Lian dengan jujur, dia takut suaminya marah. "Papah, kenapa sudah pulang?" tanyanya.
"Jelaskan tadi di sana ngapain aja," kata Lian menatap Mira.
"Membersihkan kamar Ayah," jawab Mira.
Mira yakin kalau suaminya sedang menyembunyikan sesuatu darinya, karena bisa marah hanya karena Mira datang ke rumah Ayahnya.