
"Kenapa ular ini muncul lagi! Raka, aku takut," ucap Alya dengan wajah paniknya.
"Di mana munculnya, Al?" tanya Edo.
Alya menceritakan kalau kemarin dia bertemu dengan ular di dekat jurang, waktu ia mencari kayu bakar.
"Kalian jangan ngobrol saja! ayo kita segera pergi dari tempat ini," ucap Raka.
Edo menyuruh Raka untuk membunuh ular itu, karena menghalangi jalan mereka. Tetapi tidak dengan Alya, ia justru melarang Raka membunuh ular tadi. Raka juga tidak berani membunuh, ia takut teman ular itu akan bermunculan. Raka kemudian mengambil kayu dan mengusir ular tadi, setelah ular pergi mereka baru lewat jalan itu.
"Akhirnya kita sampai juga di sini," ucap Alya dengan tersenyum.
Raka dan Edo kemudian membawa Alya ke guru pembimbing lebih dulu, untuk memberikan keterangan.
Di tenda teman-teman Alya menunggu kedatangannya, mereka senang mendengar kabar kalau Alya sudah kembali.
"Untung saja Alya ketemu dengan keadaan selamat," kata Melisa.
"Beneran, Mel? mana dia, kok belum datang kesini," kata Hilda.
"Mungkin baru di bawa kesini sama yang menemukan," ucap Melisa.
Hanya Dania yang terlihat tidak suka kalau Alya sudah ditemukan, rasa iri muncul di hati Dania. Banyak teman-teman yang sedih saat Alya hilang, bahkan panitia banyak yang ikut mencarinya.
"Alya kok bisa selamat! padahal hutan ini angker," ucapnya dalam hati.
"Dania!" teriak Vila.
"Ada apa, Vila? jangan teriak gitu, aku masih dengar," ucap Dania.
"Kamu bisa masak tidak! itu nanti gosong kalau kamu melamun terus," kata Vila.
Dania kemudian menghentikan masaknya, lalu ia pergi meninggalkan Vila yang masih memasak sendiri. Vila melanjutkan memasaknya, untung saja tidak gosong.
Selesai memasak mereka bertiga hendak sarapan bersama, tiba-tiba Alya datang kemudian mereka memeluk Alya.
"Alya, kamu kenapa bisa hilang? untung saja ada yang menolong kamu," kata Melisa.
"Kalian tau tidak, aku tadi malam tidur di gubuk," kata Alya.
Mereka semua terdiam, karena di perbatasan hutan adanya jurang kenapa Alya bisa menemukan gubug. Hilda kemudian meminta Alya untuk menceritakan semua yang dia alami.
Malam hari telah tiba, kini semua siswa sedang menyaksikan api unggun yang sudah dipersiapkan oleh panitia.
Raka mendatangi Alya, ia duduk di sebelah Alya untuk memberikan pengertian ke Alya agar tidak ceroboh lagi.
"Raka, ngapain kamu kesini? sana jauh-jauh dari aku," kata Alya sembari mengibaskan tangannya.
Raka kesal mendengar ucapan Alya, kemudian menarik rambutnya hingga membuat Alya berteriak meminta agar dilepaskan.
"Sakit, Raka!" teriak Alya. Lepaskan," Lanjutnya.
"Makanya kalau dibilangin jangan bandel! mau tidur di hutan lagi," kata Raka.
Alya rasanya sudah kapok mengikuti acara seperti ini, apalagi pengalaman tadi malam sungguh sangat berkesan.
*
*
Lisa sedang sarapan pagi bersama Fandy dan Linda, mereka tampak akur sekali. Tetapi kenyataannya tidak begitu, Lisa sangat kesal melihat Fandy dan Linda.
"Lisa, mau sampai kapan kamu tinggal di sini?" tanya Fandy.
"Aku ingin menemani Dania di sini, sampai kapan pun," jawab Lisa menghentikan makannya.
"Terserah kamu saja, asal jangan pernah mengganggu Linda," kata Fandy melirik ke arah istrinya.
"Papah, jangan begitu! selama ini Mbak Lisa baik sama aku," sahut Linda lalu tersenyum tipis.
Fandy kemudian menghentikan sarapan paginya, karena harus segera berangkat ke kantor. Dia juga berpesan kalau nanti siang Linda di minta untuk mengantarkan makan siang.
Beberapa jam kemudian Linda memulai memasak, ia memasak makanan kesukaan Fandy. Tiba-tiba Lisa datang, ia membantu Linda menyiapkan semua.
"Biar aku saja yang masak! aku masih ingat kok makanan kesukaan Fandy," kata Lisa.
"Mbk, lebih baik istirahat saja! nanti kotor lho," kata Linda menolak bantuan Lisa.
"Kamu tenang saja! Linda, aku saja yang mengantarkan makanan buat Fandy," kata Lisa.
"Jangan, Mbak! nanti Fandy bisa marah," larang Linda.
Lisa tidak mempedulikan ucapan Linda, ia justru menata makanan itu ke tempat makan. Linda hanya pasrah melihat ulah Lusi, sudah diperingatkan masih saja ngeyel. Ia kemudian membiarkan Lisa pergi, dengan membawa kotak makanan itu.
Lisa sekarang sudah berada di kantor Fandy, ia menanyakan keberadaan Fandy pada sekretarisnya. Lisa diperbolehkan masuk ke ruangan Fandy, tanpa mengetuk pintu Lisa langsung nyelonong begitu saja.
"Lisa!" kaget Fandy.
"Kenapa kok kaget gitu?" ucap Lisa menatap Fandy dengan senyum tipis.
"Apa yang kamu lakukan di kantor ku?" tanya Fandy.
"Mengantarkan makan siang untuk mu! kamu pasti menyukainya," kata Lisa sembari menaruh kotak makanan di meja.
Fandy memijat kepalanya yang tidak pusing, ingin rasanya dia mengumpat menahan kekesalannya pada Lisa. Dia menyuruh istrinya untuk mengantarkan makanan tetapi malah Lisa yang datang.
"Fandy, kamu makan dulu," ucap Lisa.
"Makan saja, Lisa! aku tidak lapar," tolak Fandy.
Lisa marah pada Fandy, karena tidak mau memakan makanan yang dia bawa. "Aku sudah capek masak, kamu gak mau makan," ucapnya.
"Lisa! aku sudah bilang kenyang, jangan maksa terus," ucap Fandy dengan sedikit keras.
Lisa kemudian meninggalkan kantor Fandy, kedatangannya ternyata tidak diinginkan.
Setelah Lisa pergi Fandy menelpon istrinya, dia menanyakan kenapa bukan dia yang mengantarkan makan siang untuknya.
*
*
Hari ini anak-anak sudah pulang dari camping, Raka dan Alya juga sudah berada di rumah. Mira sangat bahagia menyambut kedatangan mereka, bahkan ia sudah memasak makanan kesukaan mereka.
"Alya, kamu makan dulu! ayo kita masuk rumah," ajak Mira saat menyambut kedatangan Raka dan Alya.
Alya langsung mengikuti Mira dari belakang, tetapi Susi datang dan mengajak pulang. Susi tidak berhasil mengajak anaknya pulang, lalu Mira yang mengajak Susi makan bersama.
"Bagaimana pengalaman kalian ikut camping?" tanya Mira setelah mereka selesai makan.
"Udah kapok, Mah! gak mau lagi ikut," kata Alya.
"Semua gara-gara kamu juga! pakai acara ngilang," sahut Raka.
"Hilang? kok bisa? bagaimana ceritanya," kata Susi.
Raka kemudian di minta untuk menjelaskan semuanya oleh Susi, dia kesal dengan anaknya yang bikin masalah. Raka juga mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, karena kalau bertanya pada Alya kemungkinan tidak akan berkata jujur.
"Sayang, tapi kamu baik-baik saja kan?" tanya Mira.
"Alya baik kok, Mah! ada Raka yang selalu menjaga Alya," ucap Alya. .
Mira dan Susi lega mendengar perkataan Alya, mereka senang melihat anak-anak bisa akur. Raka melotot ke arah Alya, ia tidak setuju dengan ucapan Alya.
"Alya, kamu kalau cerita yang benar kenapa?" tanya Raka.