
Lisa datang ke kota untuk menemui Dania, dia sangat merindukan buah hatinya karena sudah lama tidak bertemu. Lisa datang ke sekolah Dania terlebih dahulu, kebetulan anak-anak sudah pulang. Lisa berdiri di depan gerbang sekolahan, ia mencari-cari Dania. Kemudian dia bertanya pada satpam sekolah, satpam itu juga belum melihat Dania keluar dari sekolahan.
Di dalam kelas Dania dan Alya sedang mengerjakan tugas yang belum mereka selesaikan, dalam waktu beberapa hari ini mereka berdua selalu telat mengerjakan tugas.
"Alya, pulang bareng aku yuk," ajak Hanif kebetulan dia membawa mobil sendiri.
"Minggir! papan tulisnya tidak kelihatan, aku di jemput sama Om Aldo," kata Alya menyuruh Hanif pergi dari depannya.
Raka yang berada di belakang Hanif kesal mendengar ucapan Alya, lalu mengajak Hanif pulang. Mereka berdua kemudian keluar kelas.
Semua teman sekelasnya sudah pulang semua, tinggal Alya dan Dania. Alya mengajak pulang Dania, karena sudah sepi. Dia tidak selesai mengerjakan tugas, rencananya sampai rumah akan meminjam buku pada Raka.
Dania melihat Lisa berdiri di depan gerbang sekolah, ia malu dengan Alya karena penampilan Lisa yang berbeda. Dania bersembunyi di balik tempat satpam berjaga, kebetulan ada bangunan seperti gardu.
"Dania, ayo kita keluar keburu gerbang di tutup," ajak Alya.
"Kamu duluan aja! Kalau di tanya orang itu jawab tidak kenal sama aku," ucapnya sembari menunjukkan Lisa berada.
Alya melihat Lisa justru kasihan, tetapi dia tidak enak dengan temannya kalau jujur. Aldo juga sudah menunggu Alya di sebrang jalan, ia kemudian bergegas untuk meninggalkan Dania.
"Dik, tunggu sebentar! saya boleh tanya," ucap Lisa saat Alya lewat di sebelahnya.
"Maaf Tante, itu Om saya sudah nungguin," kata Alya lalu menuju ke mobil Aldo.
Lisa kemudian pergi dari sekolah Dania, ia mencari alamat rumah Fandy. Kebetulan dia agak ingat rumah Fandy.
Dania keluar dari persembunyiannya, lalu hendak keluar dari dalam sekolah tetapi gerbang sudah di tutup. Dania berusaha untuk memanjat pagar sekolah, satpam yang berjaga menegur Dania.
"Apa yang kamu lakukan? turun," kata satpam itu.
"Pak, saya mau keluar. Tolong buka gerbangnya," kata Dania.
"Tadi ngapain saja? teman kamu sudah pulang semua," kata satpam itu sembari membuka gerbang lagi.
"Aku tadi ke toilet, perut saya sakit," jawabnya.
Dania kemudian berterimakasih pada satpam itu, lalu menuju ke mobil Fandy yang dari tadi sudah menunggu. Fandy tidak melihat Lisa tadi, karena sibuk memainkan ponselnya.
"Lama sekali! kamu kemana aja!" bentak Fandy karena hampir satu jam dia menunggu Dania.
"Maaf, tadi ada buku Dania ketinggalan," bohong Dania agar tidak terkena marah Fandy.
Fandy kemudian mengantarkan Dania ke rumah yang telah dia berikan, dia juga akan membelikan Dania mobil agar tidak menjemput dan mengantarkan ke sekolah.
*
Di perjalanan Aldo mengajak Alya makan terlebih dahulu di sebuah cafe, ia ingin mentraktir Alya karena baru saja mendapatkan keuntungan yang lumayan besar.
"Alya, kamu mau makan apa?" tanya Aldo sembari memberikan buku menu.
"Es krim aja, Om. Alya nanti makan di rumah Mamah Mira aja, dia kalau masak enak banget," jelas Alya seraya memainkan jarinya.
"Mamah kamu kan Susi, kenapa panggil Mira Mamah?" tanya Aldo mengernyitkan dahinya.
Alya menceritakan awal mulai dia memanggil Mira Mamah, dia juga mengatakan bukan hanya sekedar panggilan saja tetapi rasa sayang juga ada.
Aldo menjadi teringat zaman dulu waktu masih berpacaran dengan Mira, dia tersenyum sendiri.
"Tidak Alya! aku teringat sesuatu aja," ucapnya.
Untung saja pelayan sudah datang membawakan mereka makanan, kalau tidak Alya bisa mengupas tuntas kekepoannya.
Aldo lalu menyuruh Alya untuk memakan es krim yang dia pesan, karena kalau terlalu lama di diamkan bisa mencair.
*
Susi datang ke rumah Mira, dia bertanya pada Raka karena Alya belum sampai di rumah. Dia saat ini semakin kesal dengan Alya, selalu menjadi pikiran karena sikapnya yang seenaknya.
"Tante, Mamah di dalam," kata Raka mengira kalau Susi mencari Mira.
"Tante gak nyariin Mamah kamu, mau tanya sama kamu boleh?" ucap Susi kemudian duduk di sebelah Raka.
Raka memperbolehkan Susi bertanya, kalau pun dia bisa jawab pasti akan berkata jujur. Susi menanyakan Alya yang belum sampai rumah, Raka mengatakan kalau Alya di jemput Aldo.
Alya benar-benar menguji kesabaran Mamahnya, sudah berkali-kali diperingatkan masih saja dia ulangi. Bahkan Alya juga tidak peduli walaupun sudah di nasehati.
Tak lama kemudian Aldo dan Alya sampai juga di rumah, Alya langsung pulang ke rumahnya. Susi melihat sendiri kalau Alya turun dari mobil Aldo, kemudian Susi hendak menemui Aldo tetapi Raka melarang.
"Jangan, Tante! Om Aldo tidak salah, dia hanya ingin berusaha menolong Alya saja," jelas Raka.
Susi berfikir sejenak, apa yang dikatakan oleh Raka ada benarnya. Mungkin dia sebagai orang tua juga salah, harusnya mengantarkan atau menjemputnya saat sekolah.
Kemudian Susi pulang ke rumah, dia masuk ke dalam kamar anaknya. " Baru pulang! kemana aja?" tanyanya.
"Tadi Alya ketinggalan pelajaran, Mah. Jadi mengerjakan dulu di kelas," kata Alya sebenarnya dia takut di marahin Mamahnya tetapi ia harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa bisa pulang bareng Aldo?" tanya Susi menginterogasi anak kesayangannya.
Kali ini Alya berkata jujur pada Susi, dia sama sekali tidak berbohong. Alya tau Susi pasti akan sangat marah, tetapi dia tidak punya pilihan lain. Susi yang mendengar penjelasan Alya, menasehati agar tidak merepotkan Aldo lagi.
"Mah, Om Aldo itu baik buktinya mau di minta tolong," kata Alya.
"Tetap saja itu merepotkan, Alya! kamu ngerti gak," kata Susi.
"Ngerti Mah, tapi...
"Tidak ada tapi-tapian atau uang jajan kamu Mamah potong," kata Susi dengan tegas.
Alya kemudian berganti baju setelah Susi keluar dari kamarnya, kemudian dia makan. Di tengah-tengah makan Alya teringat dengan tugas di sekolah tadi, lalu Alya menghabiskan makanannya dengan cepat.
Alya pergi ke rumah Raka, dia akan meminjam buku tugas milik Raka. Raka tidak mau meminjamkan bukunya, ia berbohong kalau bukunya tertinggal di dalam kelas.
"Raka, kasih bukunya sama Alya! Mamah tau kamu bohong kan," bujuk Mira.
"Gak Mah, biar Alya usaha tidak tergantung sama orang lain," terang Raka.
Mira terus membujuk anaknya agar meminjamkan bukunya, ia kasihan dengan Alya kalau sampai tidak mengerjakan pasti akan di hukum oleh gurunya.
Tujuan Raka ada baiknya, tetapi rasa tidak tega yang memaksakan untuk meminjami buku miliknya. Raka akhirnya luluh setelah di paksa oleh Mira.
"Ini bukunya! jangan sampai rusak," kata Raka sembari memberikan bukunya.
Alya kemudian dengan cepat mengerjakan tugasnya tadi dengan cepat.