Raka & Alya

Raka & Alya
Bab 11



Pagi hari Susi terbangun dari tidurnya, ucapan suaminya semalam masih terngiang di telinganya. Wanita yang mereka bahas, membuat Susi tidak tenang dan bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang mereka sedang sembunyikan, akhir-akhir ini mereka memang sibuk.


"Entar juga ketauan apa yang mereka lakukan," ucapnya dalam hati lalu turun dari ranjangnya.


Susi kemudian membersihkan diri terlebih dahulu, lalu


menuju ke dapur untuk memasak. Selesai menyiapkan sarapan, ia membangunkan Alya agar tidak terlambat masuk sekolah.


*


Di rumah Mira.


Pagi ini Raka sudah selesai sarapan dan hendak berangkat ke sekolah, dia bangun pagi agar tidak terlambat masuk sekolah. Raka termasuk anak yang rajin dan bersemangat dalam belajar, jika dia sakit tetap berangkat ke sekolah.


"Mah, Pah berangkat dulu ya," ucapnya seraya menjabat tangan Mira dan Lian secara bergantian.


"Hati-hati sayang, jangan ngebut bawa motornya," kata Mira.


"Raka, Papah antar aja ya," sahut Lian karena nanti siang dia yang akan menjemput Raka.


Awalnya Raka menolak, tetapi dari pada harus bawa motor sendiri ia mau di antar oleh Papahnya. Mira mengantarkan suami dan anaknya sampai depan rumah, dia juga berpesan agar hati-hati.


"Pah, Alya bareng kita tidak ya? tapi kalau nungguin dia pasti terlambat," kata Raka teringat kalau dia membawa buku tugas milik Alya.


"Coba kamu panggil dulu, nanti kalau masih lama kita tinggal," kata Lian.


Raka turun dari mobil dan menuju ke rumah Alya, dia menanyakan apakah Alya mau berangkat bareng atau tidak. Tetapi Alya belum juga siap, dia masih sarapan. Raka kemudian mengatakan kalau akan berangkat dulu, karena takut Papahnya terlambat masuk kerja.


"Pah, kita duluan aja," kata Raka saat kembali masuk ke dalam mobil.


Mereka kemudian berangkat , di perjalanan Lian mengatakan kalau nanti siang akan menjemputnya dan membawakan ganti baju.


"Ada acara apa, Pah?" tanya Raka. Kenapa harus dari sekolah.


"Kamu lupa ini hari apa? Papah sudah siapkan semuanya," kata Lian sembari tersenyum.


"Hari senin, Pah. Mamah kan ulang tahun, Raka sudah siapin kado kok," ucapnya.


"Kadonya kamu bawa tidak?" tanya Lian.


"Ada di kamar, Pah," jawabannya.


Lian lalu mengatakan rencananya pada Raka, sebenarnya Raka tidak setuju dia kasihan dengan Mamahnya. Tetapi semua sudah terlanjur, bahkan Lian sudah menyewa hotel berbintang untuk merayakan ulang tahun istrinya.


"Dah sampai, Pah," kata Raka kemudian turun dari mobil.


Lian kemudian pergi ke hotel untuk menemui wanita yang di maksud tadi malam, wanita yang usianya tidak muda lagi tapi tetap cantik.


"Lian, maafkan Tante sudah lancang mau ikut merayakan ulang tahun Mira," kata wanita itu yang sampai sekarang masih ingat dengan ulang tahun Mira.


Lian merasa kasihan dengan wanita itu, apalagi mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi membuat hatinya terketuk untuk memperbolehkan dia menemui istrinya.


"Gak papa, Tante. Mira pasti juga senang dengan kejutan yang Tante berikan ini," kata Lian awalnya dia hanya akan merayakan ulang tahun istrinya di pantai sembari berlibur tetapi wanita itu mendatanginya dan mengatakan kalau ingin merayakan ulang tahun Mira di hotel.


Wanita itu sudah menyiapkan tempatnya, di hotel milik keluarga wanita itu sendiri. Lian juga menyiapkan segala fasilitas dan perlengkapan untuk ulang tahun istrinya, jadi lebih tepatnya Lian dan wanita cantik itu yang membuat acara ini.


*


*


*


"Buku Alya hilang, Bu," jawabannya matanya berkaca-kaca hendak menangis.


Hari ini tidak mungkin bagi Alya untuk mengerjakan lagi, karena harus ganti materi. Bu guru kemudian mengatakan kalau buku Alya tidak ketemu maka nilai tugas Alya nol, sudah di kasih kesempatan dua hari untuk mengerjakan.


Jam pelajaran sudah habis, Ibu guru juga sudah keluar dari dalam kelas, sekarang waktunya mereka beristirahat tetapi Alya masih duduk di kursinya.


"Alya, kantin yuk," ajak Dania yang ada di sebelah Alya.


Alya menolak dengan halus ajakan Dania, karena dia masih sedih karena bukunya hilang. Dania kemudian mengajak Melisa pergi ke kantin.


Raka yang masih berada di dalam kelas tersenyum melihat wajah sedih Alya, ia kemudian mendekati Alya. "Kenapa kok sedih gitu?" tanyanya.


"Buku tugas ku gak ada, ketinggalan di rumah kamu gak ya," ucap Alya sembari mengingat-ingat waktu dia berada di rumah Raka.


"Kamu masa gak ingat taruh di mana, makanya lain kali yang bener kalau taruh," kata Raka sembari tersenyum.


"Buku ku ilang kok kamu malah seneng! jangan-jangan kamu sembunyikan ya," kata Alya menatap Raka kesal.


Raka akhirnya mengakui kalau bukunya sudah dia kumpulkan tadi, dia kasihan dengan Alya yang sedih. Alya memukul lengan Raka dengan tangan, Raka pun juga membalas perbuatan Alya.


"Sakit, Raka!" teriak Alya memegang bekas pukulan Raka.


"Sebagai tanda permintaan maaf, aku traktir makan di kantin," kata Raka.


Alya tidak mau makan di kantin, dia meminta makan di warung yang mereka lewati saat pulang sekolah. Raka mengatakan kalau nanti tidak bisa, karena dia harus ikut dengan Papahnya.


"Aku gak di ajak? kenapa Papah gak adil gitu," ucap Alya mengerucutkan bibirnya.


*


*


Setelah suami dan anaknya pergi Susi datang ke rumah Mira, dia mengatakan kalau suami mereka tidak pergi ke luar kota. Susi yang tidak sengaja mendengar percakapan Lian dan Tio tadi malam, mengatakannya pada Mira.


"Tidak mungkin Lian membohongi aku... " ucapnya lirih.


"Aku dengar sendiri, Mira," kata Susi.


Mira menjadi sangat sedih, tak terasa air matanya menetes membasahi kedua pipinya. Bertahun-tahun mereka hidup bersama tidak pernah ada kebohongan dalam hubungan mereka, tetapi setelah mendengar cerita dari Susi hatinya terasa sakit seperti tertusuk pisau.


"Tidak mungkin," ucap Mira dengan pelan. Kemudian dia memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing, susi membantu Mira duduk dan segera mengambilkan air putih.


"Mira, kamu tidak kenapa-napa kan? ayo minum dulu," kata Susi membantu Mira meminum air dalam gelas.


"Aku mau istirahat saja, tolong bantu aku, Susi," kata Mira minta untuk di antar ke dalam kamarnya.


Susi menjadi khawatir dengan keadaan Mira, badannya menjadi panas. Dia mengompresnya beberapa kali tetapi suhu badannya tetap panas, Susi membujuk Mira agar mau ke dokter.


Mira hanya kaget dengan perkataan Susi, saat ini yang dia pikirkan antara iya dan tidak. Rasanya tidak mungkin suaminya akan berbohong.


Tak lama kemudian ada orang yang datang mengatakan kalau Lian sedang bersama seseorang perempuan cantik di sebuah hotel, hal itu membuat Mira semakin syok.


Mira lalu mengajak Susi untuk pergi ke hotel di mana suaminya berada, dia ingin tau siapa wanita yang sedang bersama suaminya.