
Lisa mendatangi rumah Mira dengan alasan untuk silahturahmi, padahal dia hanya ingin melihat Aldo. Lisa mempunyai rencana untuk kembali pada Aldo lagi, tetapi Aldo belum tentu mau.
"Lisa!" kaget Mira dan Susi.
"Mira, Susi kalian apa kabar? lama sekali kita tidak pernah bertemu," ucap Lisa sembari memeluk Mira dan Susi secara bergantian.
"Kita baik! kamu gimana?" ucap Susi agak sedikit ketus.
Mira mengajak Lisa untuk masuk ke dalam rumah, mereka meminum teh sembari mengobrol. Alya dan Raka ikut masuk ke dalam rumah, mereka berada di samping Mira.
Mira memperkenalkan mereka berdua pada Lisa, begitu juga dengan Lisa mengatakan kalau mempunyai anak gadis seusia mereka.
"Kapan-kapan ajak main dong, biar mereka juga kenal," ucap Mira yang ingin tahu dengan anak Lisa. Mira mengira kalau yang di ceritakan adalah anak Lisa dengan Aldo, karena sudah sangat lama mereka tidak ada kabar.
Aldo sendiri juga tidak pernah main ke rumah Mira, dia masih takut tidak bisa mengendalikan diri seperti dulu.
"Anak ku mana mau, dia sekarang temannya orang kaya. Sekolahnya saja di sekolah paling bagus di kota ini," ucap Lisa sombong, karena belum tau kalau Dania adalah teman satu kelas Raka dan Alya.
"Aldo saja tidak sombong, masa anaknya begitu," sahut Susi.
"Iya, kenapa anak kamu jarang ke rumah Papahnya," kata Mira.
Lisa menceritakan kisah hidupnya dulu sampai mempunyai seorang anak, dia juga mengatakan kalau Aldo belum pernah menyentuhnya sama sekali. Aldo tidak pernah membuat dia bahagia, hanya luka yang didapatkan ketika hidup dengan Aldo.
"Jadi bukan anak Aldo! terus anak siapa?" tanya Mira penasaran dengan cerita Lisa.
"Fandy! kalian kenal tidak? dia anak rekan kerja Mamah dulu," jawab Lisa.
Mira dan Susi saling berpandangan, mereka berdua pernah mendengar nama itu tetapi belum pernah bertemu.
"Pernah dengar namanya, tapi beda orang mungkin," kata Mira masih ragu karena teman kerja Lian ada yang bernama Fandy.
"Aldo masih punya perasaan sama kamu Mira, tetapi kedatangan ku sekarang ingin merebut dia kembali," ucap Lisa asal berbicara tanpa memperhatikan kalau ada Raka dan Alya.
"Mah, jelaskan! apa maksud Tante itu, kenapa bilang Om Aldo punya perasaan sama Mamah," kata Alya yang penasaran dengan ucapan Lisa.
"Alya!" teriak Susi sembari melotot ke arah Alya.
Mira kemudian melarang Susi untuk memarahi Alya, walaupun di sembunyikan serapat apapun pasti akan ketahuan. Dari pada anak-anak dengar dari mulut orang lain lebih baik mendengar kebenarannya dari Mira sendiri, tanpa ada keraguan Mira menjelaskan tentang masa lalunya dengan Aldo. Raka yang sebenarnya sudah tau pun bisa mengerti, dia tidak marah makanya dia lebih sering menghindari Aldo untuk menjaga perasaan Papahnya.
"Maaf ya aku jadi merusak suasana," ucap Lisa dengan wajah bersalahnya.
"Tidak apa-apa kok, mereka tidak mempermasalahkan soal Aldo," kata Mira tetap tenang.
Karena tidak enak dan merasa bersalah akhirnya Lisa berpamitan untuk pulang, dia juga takut Fandy lebih dulu sampai rumah.
"Mira, kenapa kamu tetap baik sama Lisa? ingat kesalahan dia, sudah membuat kamu kehilangan anak," ucap Susi setelah Lisa meninggalkan rumah Mira.
"Kejadian itu sudah lama, siapa tau sekarang Lisa sudah berubah," kata Mira sembari tersenyum.
Susi menggelengkan kepalanya, dia heran dengan Mira selalu dijahati tetapi masih saja bersikap baik dengan orang yang jahat dengannya.
"Alya, kamu jorok sekali! kupas dulu buahnya, kalau tidak sekalian makan kulitnya," ucap Raka dengan kesal.
"Habis kamu tidak mau ngupasin buat aku," ucapnya seraya memakan buah mangga tanpa di kupas lebih dulu.
"Alya!" teriak Susi melihat anaknya makan buah mangga tanpa di kupas.
"Mamah, berisik tau! jangan teriak napa, kendang telinga Alya bisa jebol ini," kata Alya dengan tangan belepotan.
"Sayang, cuci tangan dulu sana! buahnya taruh," kata Mira dengan lembut.
Alya menurut apa kata Mira, dia mencuci tangan dan kembali duduk di sebelah Raka. Mira kemudian mengupaskan buah untuk mereka berdua. Susi masih kesal melihat Mira yang sangat lembut, walaupun anak itu sudah melakukan kesalahan.
"Mah, ini sudah banyak," ucap Raka sembari membereskan kulit buah, ia hendak membuangnya ke dalam tempat sampah.
"Mamah, perut Alya sakit," sahut Alya seraya memegang perutnya kemudian lari masuk ke kamar mandi.
Mira kemudian menasehati Susi agar tidak terlalu keras dengan Alya, agar anak itu nurut. Karena karakter Alya tidak suka dengan kata-kata sedikit keras.
"Mau sampai kapan kamu memanjakan anak itu? dia sudah besar, jangan di bela terus," protes Susi pada Mira.
"Susi, kamu tau kan aku sangat menyayanginya. Aku sudah menganggap Alya sebagai anak ku sendiri, sikap manjanya aku suka," kata Mira.
"Tapi jangan berlebihan juga, benar kata Raka kalau sedang berantem pasti bilang biar Alya tidak tergantung sama orang," ucap Susi.
Alya keluar dari kamar mandi lalu mengambil buah mangga lagi, kali ini Susi dan Mira membiarkan. Mira akan mencoba seperti yang dikatakan Susi, karena permintaan Susi sendiri.
*
*
Keesokan harinya Raka dan Alya berangkat sekolah di antar oleh Lian, karena tidak diperbolehkan Mira naik motor lantaran cuaca sedang tidak bersahabat dari semalam hujan tiada henti.
Alya sangat senang karena di antar oleh Papahnya. "Pah, nanti jemput lagi ya? Alya gak mau naik angkot, panas soalnya," ucap Alya setelah sampai di depan sekolah.
"Nanti Papah Tio yang jemput kalian, Papah ada kerjaan di luar kota," terang Lian.
"Tidak usah jemput gak papa, Pah! Raka bisa bareng temen nanti," ucap Raka.
Lian kemudian pulang ke rumah lagi, dia akan mengajak Mira untuk menemaninya ke luar kota.
Hari ini Alya mengikuti pelajaran dengan tertib, dia sama sekali tidak membuat ulah. Tadinya sering tidak memperhatikan saat guru sedang mengajar, kali ini dia sangat patuh
Waktu pulang pun tiba, Raka menunggu Alya di depan kelas tetapi Alya minta izin untuk pergi ke toilet dulu. Sudah hampir satu jam Alya tidak terlihat, Raka berfikir kalau Alya hanya mengerjainya. Raka keluar dari lingkungan sekolah lebih dulu.
Alya yang baru keluar dari toilet bingung mencari keberadaan Raka, kemudian dia pergi ke depan sekolah ternyata gerbang sudah di kunci.
Alya memanjat gerbang itu, agar bisa keluar dari sekolah, tetapi belum sampai ke atas dia terjatuh.
Bruukkk....