
"Nenek, tidak apa-apa kan?" tanya Mira seraya membantu Nenek itu berdiri dari jatuhnya.
"Maafkan saya, Nek. Kita sedang buru-buru, kebetulan jalan juga tidak terlihat dengan jelas," sahut Lian.
Mira dan Lian membantu Nenek itu ke pinggir jalan, sebenarnya Nenek itu tidak terluka sedikit pun. Mungkin hanya syok saja, mobil Lian juga tidak menyentuh kulit Nenek itu.
Nenek itu meminta sejumlah uang pada Lian dan Mira, kemudian menyuruh keduanya pergi. Lian dan Mira menuruti apa kata Nenek itu, karena kebetulan mereka berdua juga sedang buru-buru.
Sampai di rumah Mira baru menyadari kalau mereka tadi di usir oleh Nenek yang hampir tertabrak mobil Lian, mereka takut terjadi apa-apa dengan Nenek tadi.
Di rumah Raka tidak ada, membuat mereka berdua panik. Lian kemudian mencari anaknya ke rumah Susi, tetapi mereka juga tidak ada.
Mira yang berada di rumah kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Susi, tidak ada jawaban sama sekali.
"Pah, ini gimana tidak ada jawaban sama sekali dari Susi," ucap Mira khawatir dengan Raka.
"Mamah tenang dulu ya, semoga ada yang bisa dihubungi," ucap Lian sembari mengirim pesan pada Tio.
Lian menyuruh Mira untuk beristirahat lebih dulu, tetapi Mira masih memikirkan Raka. Mira menyesal tidak mengajak Raka, dulu waktu Raka masih kecil memang sering di ajak ke luar kota.
Tak lama kemudian ponsel Mira berdering, ada panggilan dari Susi yang mengatakan kalau mereka sedang berada di rumah sakit. Mira pun kaget lalu menanyakan siapa yang di rawat. Begitu tau kalau anak kesayangannya di rawat ia bergegas menuju ke rumah sakit, dia sangat khawatir dengan Raka dan Alya.
Sampai di rumah sakit Mira langsung memeluk Raka dan Alya secara bergantian, Mira sangat bersyukur ternyata Raka ada di rumah sakit ikut menjaga Alya.
"Kalian kenapa kesini? harusnya tadi istirahat saja, Alya juga sudah baikan," ucap Susi sembari duduk di sebelah Mira.
"Aku sangat khawatir dengan Raka tadi, biasanya tidak pernah di tinggal," jelas Mira.
"Raka sudah besar, Mah. Bukan anak-anak lagi," sahut Raka.
Harusnya Raka mengirimkan pesan kepada Mamah dan Papahnya, agar tidak kebingungan. Tapi karena panik mencari dan mendengar kalau Alya di rawat, dia sampai tidak kepikiran.
"Ponsel kalian jual aja, dari tadi kita hubungi tidak ada yang angkat atau balas pesan," ketus Lian membuat semua terdiam kecuali Alya.
"Alya sama Raka tadi sudah tidur, Pah," jawab Alya agar tidak terkena marah Lian.
Mira kemudian yang memberikan pembelaan pada semuanya, agar suaminya tidak marah. Dia kemudian mendekati Alya, dan menanyakan keadaan Alya.
"Sayang, bagaimana keadaan kamu? Kenapa bisa terjadi?" tanya Mira sembari mengusap kepala Alya penuh dengan kasih sayang.
Alya menjelaskan apa yang terjadi dengannya, dia juga membawa nama Raka membuat Mira memberikan pertanyaan pada Raka. Raka sendiri juga menjawab dengan santai, karena dia juga tidak bersalah. Susi juga memberikan pembelaan pada Raka, karena kasihan Alya selalu memojokkannya.
Lian tersenyum ke arah Tio melihat anak dan istrinya yang saling berselisih paham, kemudian dia mengajak Tio ke kantin yang ada di rumah sakit tersebut. Kebetulan tadi Lian dan Mira belum sempat makan, karena terburu-buru.
*
*
Keesokan harinya Alya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, keadaannya sudah membaik tinggal pemilihan saja. Susi dan Mira membantu Alya untuk berjalan, karena kakinya masih pincang.
"Alya, besok kita petik mangga lagi ya," ucap Raka meledek Alya saat mereka sudah sampai di rumah.
"Oke! siapa takut, besok kakiku sudah sembuh," kata Alya. Kemudian mencoba berjalan sendiri tanpa meminta bantuan, ia menahan rasa sakitnya.
"Awas jatuh! jangan di paksa kalau masih sakit," kata Raka.
"Alya, kamu dengar tidak? kenapa terus memaksa diri, itu kaki kamu berdarah lagi," kata Raka sembari menunjukkan kaki Alya yang berdarah.
Raka kemudian membantu Alya duduk lalu mengobati lukanya lagi, dan mengganti perban kaki Alya. Walaupun kadang suka meledek, Raka tetap membantu Alya jika dalam kesulitan. Raka menyuruh Alya untuk istirahat, karena dia juga akan pulang ke rumah untuk istirahat juga.
*
*
Di sekolah Dania duduk dengan Melisa karena Raka dan Alya tidak berangkat, mereka tidak tau kalau Alya jatuh.
"Dania, kamu duduk di sini saja! kelihatanya Alya gak berangkat," ucap Melisa menoleh ke arah Dania yang duduk di belakangnya.
Dania kemudian membereskan buku yang sudah dikeluarkan lalu berpindah ke meja sebelah Melisa, tak lama kemudian guru yang mengajar di kelas datang. Semua siswa kemudian merapikan duduknya, bu guru mulai mengamati siswa-siswinya.
"Anak-anak teman kalian yang bernama Alya dan Raka hari ini tidak bisa mengikuti kegiatan belajar, karena kemarin Alya jatuh di depan sekolah.
Hanif sudah tau kalau Alya jatuh disekolah, kemarin dia yang mengantarkan Raka mencari Alya.
Bu guru kemudian memberikan tugas pada semua siswa, hari ini mereka akan pulang lebih awal.
Dania dan Melisa berencana akan pergi ke rumah Alya, mereka ingin melihat dan memastikan keadaan Alya.
"Hanif, kamu taukan di mana rumah Alya?" tanya Melisa.
"Tau, kalian mau kesana? ayo aku antar," ucap Hanif.
Mereka bertiga kemudian pergi ke rumah Alya menggunakan mobil Hanif, setelah sampai Hanif pergi ke rumah Raka lebih dulu.
Alya yang saat ini sedang tiduran mendengar suara temannya, Lalu ia datang menemui temannya.
"Dania, Melisa! kalian datang ke sini? kok tau rumah aku," tanya Alya terkejut melihat temannya yang tiba-tiba datang.
"Kita datang sama Hanif, dia ada di rumah Raka sekarang," kata Dania.
Melisa kemudian menanyakan keadaan Alya, kenapa dia bisa jatuh. Setelah mendengar jawaban dari Alya keduanya terdiam, kemudian Melisa tertawa.
"Kamu malah tertawa, Melisa. ini sakit lho," kata Alya menunjukkan kakinya yang sedang terluka.
"Pasti itu sakit banget, Al," ledek Melisa.
*
*
Hanif yang berada di rumah Raka, mengajak Raka pergi ke rumah Alya. Tetapi Raka tidak mau, karena dia baru saja pulang dari rumah Alya.
Mira yang melihat ada teman Raka mengajak mereka untuk makan siang, tetapi Hanif menolak karena takut di tunggu oleh Melisa dan Dania.
"Ya sudah, aku panggil dulu teman kalian," ucap Mira kemudian datang ke rumah Susi.
Saat dia hendak pergi ke rumah Susi, Mira bertemu dengan Aldo yang hendak ke rumah Susi. Aldo tau dari Tio saat di kantor tadi, kebetulan bertemu dengan Tio.
"Mira!" kaget Aldo.