
Aldo pagi ini melihat Mira berada di depan rumah, ia lalu mendatangi Mira karena ingin menyapanya saja. "Aku ingin bertemu Raka, apa dia ada di rumah?" tanyanya.
"Raka sudah berangkat sekolah," jawab Mira sembari menata pot bunganya.
Aldo kemudian pamit pulang, dia juga harus segera pergi ke kantor juga.
Mira menatap kepergian Aldo, jarang juga ia bertegur sapa dengan Aldo. Setelah Aldo sudah tidak kelihatan Mira masuk ke dalam rumah.
Susi yang mengetahui kalau Aldo dari tempat Mira, ia langsung bergegas ke rumah Mira.
"Mira, ngapain Aldo ke sini? dia masih suka ya sama kamu," ucap Susi.
"Kamu ngomong apa, Susi! Aldo tadi ke sini nyariin Raka," jelas Mira sembari membersihkan rumahnya.
"Aneh! Dia tau kalau Raka sekolah, kenapa mencarinya," kata Susi.
Mira kemudian mengajak Susi untuk pergi ke rumah Ayahnya, dia sudah lama tidak pergi ke sana. Setelah sampai di rumah Ayahnya yang di tuju Mira adalah kamar Ayahnya, ia membersihkan kamar yang sudah lama tidak di tempati.
"Mira, kenapa rumah ini tidak di jual saja," kata Susi yang sedang membantu Mira membersihkan kamar itu.
"Rumah ini tidak bakalan di jual sama Lian, rumah ini penuh kenangan semasa dia bersama Ayah," jelas Mira.
Biasanya memang ada yang membersihkan rumah ini, tetapi tidak untuk kamar Ayahnya. Padahal di dalam kamar itu tidak ada apa-apa, hanya ada foto-foto kenangan milik Mira dan Lian.
*
*
Hari ini anak-anak di larang pulang lebih dulu, karena guru pembimbing akan menerangkan tentang kegiatan camping yang akan mereka laksanakan.
Mereka memulai dari pembagian grup, di dalam satu grup ada lima orang. Alya, Melisa, Dania, Hilda dan Vila mereka satu grup, lalu mereka di latih untuk mendirikan tenda.
"Bagaimana ini talinya?" tanya Alya yang belum bisa mendirikan tenda.
Pembimbing kemudian mengajari Alya, waktu di hutan nanti mereka harus bisa mendirikan sendiri. Beruntung teman-teman Alya sangat kompak, jadi mereka cepat bisa.
Setelah semua siswa bisa mendirikan tenda, mereka semua diperbolehkan untuk pulang. Karena sudah hampir sore juga.
"Mereka manja sekali, masa melipat tenda minta bantuan Raka," ucap Alya saat melihat Raka sedang membimbing siswa lain.
"Namanya juga pembimbing, harus bantu siswanya dong," kata Melisa
"Benar kata Alya, kita tadi tidak ada yang bantu," sahut Dania.
Alya dengan kesal mendatangi Raka, dia hendak mengajak Raka untuk pulang. Melisa dan Dania juga ikut menuju di mana Raka berada, mereka berdua berjalan di belakang Alya.
"Raka, ayo kita pulang! ini sudah sore," kata Alya.
"Kamu gak lihat apa? aku masih bantu mereka," ucap Raka.
Alya akhirnya pulang lebih dulu, ia tidak sabar menunggu Raka selesai membimbing. Alya menunggu angkutan umum yang lewat, tetapi tidak ada satu pun. Saat ini Alya masih berdiri mematung di depan sekolah, padahal tadi Dania dan Melisa sudah mengajaknya pulang bareng.
Raka yang hendak pulang menghentikan motornya di depan Alya, Alya langsung naik ke motor Raka.
"Siapa yang nyuruh kamu naik? ayo turun," kata Raka.
Alya justru memeluk erat tubuh Raka, agar tidak di suruh untuk turun. Raka belum juga melajukan motornya, agar Alya melepas pelukannya.
Karena Alya tidak melepas pelukannya, akhirnya Raka melajukan motornya dengan kencang. Alya meminta Raka untuk pelan, dia takut jika jatuh.
Hujan turun sangat deras di sertai angin kencang, membuat Raka menepikan motornya di pinggir jalan. Mereka berdua berteduh di halte, kebetulan ada halte bus di pinggir jalan itu. ?
"Pakai ini!" ucap Raka memberikan jaketnya pada Alya sembari memalingkan muka.
"Tau aja kalau aku kedinginan," kata Alya menerima jaket itu.
"Aku meminjamkan jaket bukan karena kamu kedinginan, tapi lihat saja baju kamu yang basah," ucap Raka membelakangi Alya.
Alya baru sadar ternyata pakaian dalamnya sampai terlihat dari luar, ia dengan cepat langsung memakai jaket punya Raka. Alya sangat malu pada Raka, untung saja tidak ada orang yang melihat karena kebetulan jalanan sangat sepi.
Hujan semakin lebat, angin juga semakin kencang membuat Alya semakin takut. "Raka, aku takut... " ucapnya lirih.
Raka kemudian mengajak Alya duduk di sebelahnya, ia memeluknya karena tidak tega melihat Alya yang sedang kedinginan dan ketakutan.
Beberapa saat kemudian hujan sudah mulai reda, orang sudah mulai berlalu lalang. Raka masih menunggu hujan benar-benar berhenti, orang yang hendak naik bus mulai berdatangan ke halte.
"Raka, ayo kita pulang! aku malu dilihat orang," kata Alya dengan pelan.
"Tunggu hujan berhenti dulu," ucap Raka singkat.
"Jeng lihat! anak jaman sekarang, masih sekolah sudah peluk-pelukan di tempat umum lagi," ucap seorang yang sedang menunggu bus.
"Kok boleh ya sama orang tuanya," kata temanya.
Mendengar ada yang berbicara seperti itu, Raka melepaskan pelukannya kemudian mengajak Alya pulang. Sampai di rumah Alya langsung masuk ke dalam rumah, meninggalkan Raka yang masih berada di luar.
"Raka, masuk dulu yuk! makasih ya sudah mengantarkan Alya," kata Susi yang kebetulan berada di teras rumah.
Raka menolak ajakan Susi karena bajunya basah, ia kemudian berpamitan untuk pulang ke rumah.
"Sayang, kamu kehujanan? kenapa tidak pakai jas hujan," kata Mira saat melihat Raka dalam keadaan basah kuyup.
"Lupa, Mah. Tadi juga sudah berteduh tapi tetap saja basah," jelas Raka.
"Bentar Mamah siapkan air hangat buat mandi," kata Mira.
Setelah menyiapkan air hangat untuk Raka, Mira menyuruh Raka mandi dan membuatkan minuman hangat.
Raka sangat bahagia memiliki seorang Ibu yang perhatian seperti Mira, jarang memarahinya dan selalu menyiapkan kebutuhan anak dan suaminya.
"Mah, terimakasih sudah menyiapkan semua," kata Raka.
Mira tersenyum kearah Raka, lalu mengusap kepala anak semata wayangnya.
Rumah Susi.
Alya saat ini sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur, dia teringat kejadian di halte tadi. Raka yang ternyata sangat perhatian membuat Alya kagum, baru kali ini Raka bersikap manis padanya. Ia membayangkan sambil tersenyum. "Raka ternyata baik banget, dia peduli sama aku," ucapnya dalam hati.
Susi mengagetkan Alya yang sedang senyum-senyum sendiri, ia hendak mengajak anaknya untuk makan malam.
"Alya mau tidur aja, Mah," tolak Alya. Ini juga sudah ngantuk," Lanjutnya.
"Ngantuk kok senyum-senyum," kata Susi lalu keluar dari dalam kamar anaknya.
Keesokan harinya Mira bangun dari tidurnya, dia menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya.
"Raka mana? biasanya sudah siap," kata Lian yang tidak melihat anaknya di meja makan.
Mira baru teringat kalau biasanya Raka sudah bangun dan siap untuk sarapan, tapi pagi ini batang hidungnya belum kelihatan sama sekali. Lian kemudian mengajak Mira ke kamar anaknya, ternyata Raka masih tidur. Mira membangunkan Raka dengan pelan, saat menyentuh tangan anaknya terasa panas.