
Dania menoleh ke belakang, ia mencari tau asal suara itu tetapi tidak ada siapa pun. "Jangan-jangan ada orang yang mengikuti ku, tapi siapa?" ucapnya dalam hati. Kemudian Dania meneruskan jalan kakinya, dia tidak menghiraukan suara itu lagi.
Sudah berjalan mengelilingi kota tetapi ia tidak menemukan Neneknya, rasanya dia sudah lelah. Dania kemudian kembali pulang, sampai di rumah dia merebahkan tubuhnya di ranjang.
Lisa berhenti di sebuah warung makan di pinggir jalan, hampir saja dia ketauan Dania. Karena lapar dan haus dia memesan makan dan minum, baru kali ini dia makan di tempat ini. Biasanya dia akan makan di cafe, atau tempat yang terbilang mewah.
"Bu, berapa semuanya?" tanya Lisa pada penjaga warung itu.
"Lima puluh ribu, Mbak," jawab penjaga warung.
"Kenapa mahal sekali! aku makan nasi sama dua ayam goreng, mie, sama es jeruk," ucap Lisa.
"Tadi tambah nasi kan? saya tidak akan menipu, ini ada daftar harganya," jelas penjaga warung itu.
"Gimana sih Mbak, makan tidak mau ngaku," sahut seorang pembeli.
"Makan di sini paling murah Mbak," sahut pembeli yang ada di dekatnya.
Lisa kemudian membayar makanan itu, lalu pergi meninggalkan warung. "Sial! mereka jeli juga matanya," umpat Lisa.
Lisa menunggu angkot di pinggir jalan, karena uangnya tidak cukup jika harus naik taksi. Dulu dia sering menghina Mira karena naik angkot, sekarang dia bisa merasakan sendiri bagaimana rasanya naik angkot.
*
*
Ane hari ini menemui teman sekolahnya dulu, dia meminta bantuan agar bisa hidup enak lagi. Teman Ane mau membantunya, bahkan dia juga merasa kasihan dengan keadaan Ane.
"Ane, kamu kelihatan jelek! tua lagi, malang sekali hidupmu," kata teman Ane yang bernama Santi.
"Kamu juga tua! jangan menghina orang, semua ini gara-gara Lisa tega menelantarkan aku," jelas Ane.
"Hahaha... kamu jadi orang tua terlalu bodoh! harusnya jangan memanjakan dia dengan harta, karena ambisimu sendiri sekarang hidupmu menjadi hancur," kata Santi.
"Masa lalu adalah kesalahan terbesar ku, sudah lupakan! sekarang kamu mau bantu aku tidak," ucap Ane penuh dengan paksaan.
"Tentu saja bestie, aku akan membantu mu! Hartaku terlalu banyak, anak-anak juga sudah kaya raya," kata Santi dengan sombong.
Santi memberikan sebuah rumah yang lumayan bagus untuk Ane, dia juga memberi sebuah toko berlian untuk Ane. Santi sudah lelah mengurus bisnisnya, dia akan hidup di luar kota bersama anaknya. Karena kondisi fisiknya yang sudah tua, dan sering sakit-sakitan.
Ane yang sudah mendapatkan harta warisan dari Santi, akhirnya merubah penampilannya ke salon. Dia menjadi bersih dan sudah tidak dekil lagi, kemudian dia mengunjungi toko berlian miliknya. Sekarang dia juga sudah bisa menempati rumah di kawasan perumahan elit, hidup Ane berubah dalam sekejap.
Dengan mengendarai mobil mewahnya, dia pergi ke rumah Fandy. Ane menemui Lisa dan juga Dania, ia sengaja karena ingin menunjukkan apa yang dia miliki saat ini.
"Mamah!" kaget Lisa saat membuka pintu.
"Kenapa? kamu terkejut," ucap Ane menerobos masuk rumah Fandy dengan gayanya saat masih muda dulu.
"Dari mana Mamah mendapatkan uang? kenapa bisa memiliki mobil dan berdandan seperti ini," kata Lisa penasaran.
"Bukan urusan kamu! sekarang Mamah yang penting sudah kaya lagi, di mana Dania?" ucap Ane sembari melihat sekeliling rumah mencari keberadaan Dania.
"Dania, kamu keluar juga! masih malu kamu mempunyai Nenek secantik ini," ucap Ane dengan penuh percaya diri.
"Nenek, penampilan seperti ini terlalu berlebihan! kemarin seperti orang gila, sekarang seperti orang mau fashion show," kata Dania. Lebih baik berpenampilan yang pantas, Nek," Lanjutnya.
Ane merasa kesal dengan Dania, kalau bukan anak Lisa sudah dia habiskan dari kemarin. "Aku juga sudah tidak butuh pengakuan kalian! yang penting hidup ku kembali seperti dulu," ucapnya.
Dania kemudian menceritakan kejadian saat mencari Ane, tetapi tidak mengatakan apa tujuannya. Sekarang Dania sudah tidak malu lagi mengakui Ane sebagai Neneknya, tetapi ia masih gengsi untuk mengatakan.
"Kenapa waktu kita bertemu kamu tidak mengajakku pulang?" tanya Ane.
"Papah belum memberikan izin, lagi pula akan beda cerita. Mungkin Nenek tidak akan seperti ini kalau aku ajak pulang," ucap Dania yang sebenarnya berbohong.
Ane hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Dania, memang yang dikatakan anak itu ada benarnya. Untung saja dia segera bertemu dengan Sinta, kalau tidak ia masih berada di jalan.
Lisa meminta maaf pada Ane, dia juga meminta izin untuk tinggal bersama Mamahnya lagi. Ane mau memaafkan Lisa tetapi tidak untuk tinggal bersama lagi, karena Ane tidak mau direpotkan dengan kebutuhan Lisa.
*
*
Hari ini Anak-anak sudah masuk sekolah seperti biasa, Alya yang masih sakit kakinya berangkat di antar oleh Aldo. Raka berangkat dengan naik motornya sendiri, dia berboncengan dengan Hanif.
Sampai di depan sekolah Alya turun dari mobil, dia di bantu oleh Aldo menuju kelasnya. Tidak sengaja Dania melihat semuanya, dia kemudian mendekati Alya untuk membantunya berjalan.
"Om, biar aku saja yang bantu Alya masuk ke kelas," ucap Dania sembari tersenyum ke arah Aldo.
"Boleh, tapi hati-hati! Alya belum benar pulih," kata Aldo.
Aldo masih mematung di tempat itu, dia memperhatikan Dania yang membantu Alya berjalan menuju kelasnya. Setelah benar-benar masuk ke dalam kelas, Aldo kemudian menuju di mana mobilnya berada. Tak sengaja dia bertemu dengan Raka yang baru saja datang, Aldo kemudian menemui Raka.
"Raka, kenapa tadi tidak bareng Om sama Alya? malah bawa motor sendiri," ucap Aldo.
"Raka bawa Hanif, Om! masa iya Hanif di tinggal," kata Raka mencari alasan padahal dia tidak mau membuat Papah dan Mamahnya bertengkar karena masalah Aldo.
Karena bel masuk kelas sudah berbunyi, Raka segera berpamitan dengan Aldo. Dia takut terlambat masuk ke dalam kelas, Aldo pun juga segera pergi.
*
*
Mira datang ke rumah Susi, ia ingin mengajak Susi untuk pergi ke swalayan terdekat. Mereka berdua berangkat dengan berjalan kaki, karena masih pagi.
"Mira, kamu mau beli apa? kenapa kita tidak pergi ke pasar saja," ucap Susi yang sifat perhitungannya mulai muncul.
"Beli camilan kesukaan Raka sama Alya, soalnya sudah habis di kulkas," kata Mira.
Susi melarang Mira untuk membeli camilan kesukaan Raka dan Alya, bahkan mereka berdua sampai berdebat walaupun tidak berantem. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depannya, Mira dan Susi menghentikan langkah mereka.
"Mira, apa kamu masih ingat dengan ku?" tanya seseorang dari dalam mobil, yang hanya membuka kaca jendela mobil itu.